
Ameena memang tak pernah menuntut apapun pada putranya selagi Albion menyukai segala hal yang dia lakukan. Baginya menjaga perasaan albino dan mengedepankan kepentingannya sesuatu yang harus di utamakan. Maka ketika mendengar kenyataan tentang siapa Mawar dan bagaimana perjalanan wanita itu selama ini membuat Ameena hanya bisa diam.
Lagipula baginya wanita yang telah bercerai atau di ceraikan oleh suaminya tak menentu wanita itu salah atau memiliki sifat yang buruk.
"Lalu apa penyebab perceraian kalian?" Tanya Ameena dengan suara yang begitu lembut.
Mawar melihat Albion meminta izin pada pria itu untuk menceritakan semuanya. Setelah mendapat anggukan, Mawar pun menceritakan segalanya. Ameena mendengarkan dengan seksama. Ada rasa iba di hatinya saat mengetahui betapa sakitnya Mawar dulu. Di khianati seseorang yang paling di cintai adalah rasa sakit yang tak akan bisa di sembuhkan oleh obat apapun.
"Mawar berjuang sendiri merintis usahanya sekarang Bu. meski sempat terpuruk karena mantan suaminya tapi Mawar berhasil bangkit. Itulah kenapa aku begitu menyukainya." Puji Albion. Terlihat sekali dari pandangannya yang begitu mendamba pada Mawar.
Ameena dapat merasakan itu, Albion telah terpikat oleh wanita cantik di depannya. Mendengar bagaimana perjuangan Mawar membuat Ameena merasa jika Mawar sangatlah tepat untuk menjadi pendamping hidup Albion. Wanita yang begitu mandiri dan juga sangat berpendidikan ini memiliki hati yang baik juga rendah diri.
Pertemuan pertama yang memberi segala kejutan ini justru membuat Ameena menyukai Mawar. Baginya bukan masalah soal status yang di sandangnya selagi Albion bahagia dan Mawar pun mencintai putranya. Lagipula kejujuran Mawar membuat Ameena yakin jika calon yang telah di pilih Albion memang wanita baik-baik.
"Semuanya juga berkat dukungan Albion." Timpal Mawar. Ia tak melupakan jasa pria itu yang telah membantunya dari nol hingga sekarang restoran bisa di kenal banyak orang.
"Kalian nampak serasi." Goda Ameena.
Mawar tersenyum kecil dan merasa sangat lega saat melihat raut wajah Ameena yang tak berubah sama sekali. Wanita tua itu tetap tersenyum ramah dengan sorot mata teduhnya.
"Jadi...ibu setuju kan?" Albion meminta jawaban Ameena begitu juga Mawar yang sebenarnya penasaran dengan apa yang akan Ameena katakan.
Ameena menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Ibu setuju dan ibu harap kalian jangan terlalu menunda-nunda pernikahan. Usia Albion sudah pantas untuk menjadi seorang ayah. Mawar, kamu tak keberatan jika ibu ingin kalian menikah bulan depan kan?"
Mawar menelan ludahnya. Dia kira pertemuannya akan menimbulkan kecanggungan dan mungkin mendapatkan penolakan karena status yang di sandangnya. Tapi, pemikiran itu lenyap setelah apa yang di ajukan Ameena padanya.
"soal itu, aku harus membicarakannya dengan orangtuaku dulu Tante."Jawab Mawar hati-hati takut Ameena tersinggung.
"ibu..." Seru Ameena mengklarifikasi. "panggil ibu seperti Albion."
__ADS_1
"ah...i..iya Bu."
Albion sangat bersyukur karena Ameena bisa menerima Mawar tanpa banyak memperhitungkan segalanya. Pemikiran Ameena memang tak agamis tapi juga tak kolot, meski usianya semakin bertambah tapi Ameena selalu mengikuti zaman. Dia tak ingin karena pemikirannya dengan Albion berbeda bisa menimbulkan kerenggangan. Jadi, Ameena berusaha untuk bersikap dan bertindak sebagai ibu yang bisa menyeimbangkan segalanya.
...*************...
Di rumah sakit, Rega nampak kewalahan. Helena baru sadar paska operasi. Dia menangis tak henti meratapi nasibnya yang begitu buruk. Sementara Hani pun mengamuk di ruangannya, wanita itu tak terima dengan bayinya yang tak terselamatkan.
Bahkan Hani melempari perawat dan dokter yang berusaha menenangkannya.
"pergi...aku mau bayiku...mas..kamu membunuh bayi ku..." Pekiknya dengan histeris.
Rambutnya dia jambak menjadi sangat berantakan. Selang infus pun di cabut nya di sangat kasar sehingga darah mengucur dari tangannya.
"Bu, tenanglah." Ujar salah seorang perawat.
Mereka tak kehabisan akal, dua perawat pria berjalan memutari Hani lalu menangkap tangannya. Mengunci pergerakan wanita itu. Sementara yang satunya dan sang dokter berusaha menyuntikkan obat penenang.
Seandainya saja Mawar ada di sana, Rega pastikan akan menyalahkannya langsung. Meski pada kenyataannya Mawar tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang telah menimpa pada Hani dan bayinya karena semua murni kesalahannya.
"Pak sebaiknya anda jangan dulu menemui istri Bapak. dia sangat terguncang hebat karena kehilangan bayinya. lebih baik Bapak hubungi seseorang bisa menenangkannya, mungkin orangtuanya, mertua anda." Seru dokter itu meminta Rega untuk tidak menemui Hani sementara waktu. Karena setiap melihat Rega, Hani akan histeris dan menangis dengan sangat keras.
Rega mengerti tapi bagaimana caranya dia memberitahu mertuanya. Apa mereka akan peduli dengan keadaan Hani saat ini.
Setelah perawat dan dokter keluar, ia pun segera mendekati ranjang Hani. Tangannya bergetar menyentuh perut Hani.
"maafkan aku Hani..." Matanya berembun. "maafkan ayah nak, belum juga melihat wajah mu ayah sudah..." Rega tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menangis dengan suara yang begitu pelan.
Hatinya sakit karena bayi yang telah dia tunggu-tunggu selama ini telah tiada karena ulah nya sendiri.
Rega mengepalkan tangannya, dia akan menemui Mawar dan meminta wanita itu untuk bertanggung jawab. Apa Rega bodoh atau lebih dari bodoh, entahlah. Pria itu tetap menyalahkan orang yang tak ada hubungannya dengan semua masalah ini.
__ADS_1
...***************...
Sekitar jam 7 malam, Mawar dan Albion pun pamit pulang. Seharian di rumah Albion membuat Mawar dan Ameena bisa berbicara dengan sangat banyak. Keduanya begitu cocok. Mawar yang memang menggeluti dunia kuliner sangat cocok dengan Ameena yang memang hobi makan. Ibu Albion memang sangat gemar makan. Mawar bahkan sampai membuatkan beberapa makanan untuk wanita itu.
"Aku senang sekali karena ibu dan kamu begitu cocok. aku yakin kalian menjadi mertua dan menantu yang klop."
"apaan sih kamu ini." Mawar sebenarnya senang mendengar perkataan Albion.
Tak ia pungkiri bahwa sifat Ameena memang jauh berbeda dengan Kulsum. Tak ada sedikitpun sikap ketus atau perkataannya yang menyinggung perasaannya. Ameena bahkan memperlakukannya seperti putrinya sendiri padahal mereka baru saja bertemu.
Albion menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari rumah Mawar. Pria itu melihat ada seseorang yang mencurigakan berdiri di depan gerbang.
"ada apa?" Tanya Mawar.
"lihat pria itu. kenapa dia celingukan melihat kedalam. jangan-jangan mau berbuat tak baik. kita telpon polisi." Seru Albion sembari mengambil ponselnya.
"tunggu dulu." Mawar menahan Albion yang akan menelpon. "itu... seperti mas Rega."
Kening Albion mengerut. Dia menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Setelah jelas, pria itu menghembuskan nafas kasar.
"untuk apa dia kembali lagi. benar-benar."
"jangan bertindak dulu. kita lihat saja dulu apa yang akan mas Rega lakukan." Mawar lagi-lagi menahan Albion untuk tidak berbuat apa-apa.
Mereka tetap berada di dalam mobil, memperhatikan gerak-gerik Rega yang begitu mencurigakan. Tak lama, ada seseorang yang keluar dari.Mawar dan Albion yakin jika itu adalah ayah Mawar.
Tak lama, tubuh Rega di dorong begitu keras oleh Ibnu hingga tersungkur ke aspal.
"apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ayah begitu marah." Ujar Mawar penasaran. Dia hendak keluar tapi Albion menahannya.
"biar aku saja." Ucap Albion.
__ADS_1
...**************...