Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 68


__ADS_3

Maria sungguh tak mengira jika dirinya akan mendapatkan rasa malu yang begitu besar. Penjelasan Mawar tentang kenapa Rega di laporkan membuat Maria dan Gusna tak bisa berkomentar. Keduanya merasa telah di tipu dan sangat marah sekarang.


"Jadi...kamu mantan istri Rega?" Tanya Maria benar-benar tak menyangka jika putrinya telah merebut pria yang merupakan suami dari anak Ibnu dan Rena.


Kenangan di masa lalunya kembali terlintas, entah kenapa Maria merasa jika kesalahannya yang dulu kenapa harus di ulang kembali oleh putrinya. Bahkan lebih parah dari apa yang di lakukannya.


Gusna mengepalkan tangannya, memang sejak lama dia merasa jika ada yang tak benar dengan hubungan Hani dan Rega. Sekarang semuanya telah terjawab.


"apa yang harus kita lakukan mas, Hani bisa sakit hati jika tahu suaminya telah berbuat sangat buruk." Ujar Maria.


Gusna menghela nafas panjang.


"katakan saja, lebih baik dia tahu dan kita secepatnya urus perceraian mereka. lagipula bayi itu telah tiada jadi tak akan ada yang menghalangi Hani untuk berpisah dengan pria licik itu."


Mawar dan Albion langsung saling tatap. Sepertinya ini akan menjadi akhir yang menyedihkan bagi Rega. Sudah mendapatkan hukuman karena melukai Ibnu lalu akan segera di gugat cerai. Pria itu terlalu serakah sehingga harus mendapatkan balasan yang buruk.


Maria meraih tangan Mawar.


"Mawar, bisa antar Tante menemui orangtuamu?"


"tentu saja Tante."


Maria pun meminta izin pada Gusna untuk pergi menemui Rena dan Ibnu. Dia ingin mengucapkan kata maaf yang begitu besar karena ulah putrinya telah membuat Mawar tersakiti.


Gusna dan Albion sementara masih berada di kantor polisi, mereka menemui Rega yang kini telah di tahan.


Rega memalingkan wajahnya tak berani menatap mertuanya. Dia malu juga takut.


"aku pastikan dalam waktu dekat putri ku akan menggugat cerai." Ujar Gusna.


Rega tak menjawab atau mengangkat wajahnya. Rasanya sudah tak ada lagi kekuatan untuk sekedar bicara. Helaan nafas berat terdengar cukup membuat Gusna dan Albion tahu kalau Rega kini tengah menyesal.


"Rega, seharusnya kamu tak serakah. ini lah akibatnya jika kamu tak bisa menerima kenyataan." Albion menambahkan.


Barulah setelah mendengar ucapan Albion, Rega mendongak. Matanya menatap tajam kearah Albion.


"ini semua karena mu. beraninya kamu mengambil mawar dari ku." Geramnya. Rupanya Rega sudah tak bisa lagi menyembunyikan sifat jeleknya di depan Gusna sekarang.


"Seharusnya kamu fokus dengan putri ku karena dia istri mu, tapi nyatanya kamu malah mencoba membuat mantan istri mu kembali. sungguh keterlaluan kamu." Timpal Gusna.


Rega tak menjawab. Hanya melihat kedua pria itu dengan tatapan penuh kebencian.


...****************...

__ADS_1


Rumah sakit tempat Ibnu di rawat terlihat sangat sepi karena memang sudah sangat malam. Untung saja Maria dan Mawar masih di perbolehkan masuk kedalam untuk menjenguk meski jam besuk sudah habis.


Maria masuk kedalam dengan langkah yang begitu kecil. Ia ragu juga malu harus bertemu dengan Rena dan Ibnu. Bagaimana jika mereka tahu kalau wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Mawar adalah putri nya.


"Bu, apa ayah baik-baik saja?" Mawar menghampiri Rena yang tengah duduk di samping ranjang.


Rena tersenyum lalu mengangguk.


"untung saja semua baik-baik saja. Ayah sedang tidur. bagaimana dengan Rega, dia mendapatkan hukumannya kan?"


"iya. Albion masih di kantor polisi sekarang. dan..." Mawar melihat kebelakang di mana Maria berdiri. Rena pun ikut melihatnya.


Wajah Rena langsung menunjukkan rasa tak sukanya.


"kenapa kamu mengajaknya, dia bukan teman dekat ibu atau..."


"Maafkan aku Ren. bisa kita bicara berdua saja." Sela Maria cepat.


Mawar menatap ibunya lalu beralih kearah Maria. Dengan cepat Mawar meminta ibunya untuk menyetujui permintaan Maria. Karena Mawar rasa ibunya dan wanita bernama Maria ini memiliki hubungan yang dekat dulu. Dapat terlihat dari cara keduanya saling menatap. Hanya saja mungkin ada sesuatu yang membuat keduanya bisa menjadi seperti ini.


"Bu, biar aku yang menjaga ayah."


Rena menghela nafas panjang lalu melihat Maria dengan sinis.


Maria tersenyum lalu berujar pelan kepada Mawar.


"terimakasih."


"iya Tante."


Maria dengan ragu mengikuti Rena. Langkahnya begitu pelan.


"Rena..." Panggilnya dengan pelan.


Rena menghentikan langkahnya.


"Katakan, untuk apa kemari? suamiku sedang sakit."


Maria menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan semakin dekat. Rena mengerutkan keningnya saat Maria tiba-tiba menyentuh kedua tangannya lalu bersimpuh di hadapannya.


"Maafkan aku, anakku dan menantuku. aku sangat malu padamu. dulu aku telah menyakitimu dan sekarang...anak dan menantuku melakukan hal yang sama kepada putri mu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan, aku akan menerimanya." Isak Maria.


Dia begitu menyesali segala perbuatannya di masa lalu juga apa yang telah di lakukan anak dan menantunya. Rena masih terdiam, mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan Maria.

__ADS_1


"Apa maksudnya dengan anak dan menantumu?" Rena menarik tangannya.


...**************...


Hani melirik Kulsum yang tengah berjalan mondar-mandir di sebelah ranjangnya. Wanita tua itu nampak cemas karena belum mendapatkan tentang Rega atau pun Helena. Maria pun yang sedari tadi di hubunginya tak mengangkat telpon atau pun membaca pesannya.


Ceklek...


Pintu terbuka, Gusna masuk kedalam dengan wajah dingin. Kulsum langsung menelan ludahnya saat hendak bertanya tiba-tiba Gusna menatapnya tajam. Bibirnya mengatup begitu rapat.


"Aku akan membawa putri ku pulang." Ujar Gusna membuat Hani langsung menatap kearahnya dengan tatapan berembun.


Akhirnya sang ayah mau juga mengakuinya. Matanya tak lepas dari Gusna. Bagaimana pria itu meminta perawat yang bersamanya masuk melepaskan selang infus Hani.


"Tapi pak, besok pagi Bu Hani harus periksa kembali. Karena Bu Hani belum sepenuhnya sembuh." Ujar perawat itu.


Rupanya Gusna meminta paksa pihak rumah sakit untuk memulangkan Hani. Dia rela membayar biaya berapa pun agar Hani bisa keluar malam ini juga.


"Tentu saja." Jawab Gusna. Ia membenarkan baju Hani lalu menuntunnya turun dari ranjangnya.


Hani sungguh tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ia menangis pelan dengan bibir di gigit agar isak nya tak keluar.


Kulsum terkejut melihatnya maka dengan cepat dia menghadang Gusna yang akan keluar. Mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Tunggu... bagaimana dengan putraku Rega?"


Gusna melihat Kulsum dengan tajam.


"Temui saja putramu sendiri. aku dan istriku tak ada urusannya lagi."


"a...apa? maksud Pak Gusna bagaimana?"


Gusna tak menjawab, baginya tak penting lagi berdebat dengan besan nya itu. Dia dengan pelan menuntun Hani.


"Pih?" Hani memanggil dengan suara parau begitu Gusna sudah mendudukkannya di kursi.


Gusna hanya bergumam pelan lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Hani. Setelah itu ia tutup pintu mobilnya.


Hani tak hentinya memperhatikan Gusna. Hingga pria tua itu masuk kedalam mobil.


"Mamih menunggu kita." Hanya kata itu yang di ucapkan Gusna.


Hani mengangguk pelan. Masih ada rasa canggung terhadap sang ayah. Gusna melirik Hani sekilas, meski ragu dengan apa yang di minta Maria tapi dia harus melakukan itu. Hani telah melukai perasaan seorang wanita lain maka putrinya harus bertanggung jawab atas apa yang di perbuatnya. Setidaknya mengucapkan kata maaf atau mengakui kesalahannya.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2