Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 9


__ADS_3

Sebulan berlalu, Mawar mulai terbiasa dengan sikap ibu mertuanya yang suka memerintah juga sering berkata dengan nada tinggi. Ia maklumi itu, mungkin karena merasa paling tua di rumah ini jadi seenaknya. Bahkan Mawar pun sudah terbiasa pula dengan sikap Helena yang sering meminta ini dan itu.


Wanita berjuluk perawan tua itu selalu meminta uang, baju bahkan perhiasan kepada Rega. Yang tentu saja akan selalu di turuti oleh Rega. Mawar sempat protes awalnya, tapi karena Rega yang nampak tak keberatan dengan permintaan sang kakak membuatnya hanya diam sekarang.


Mawar mulai berpikir cuek. Apapun yang di lakukan mertua dan iparnya sama sekali tak di pedulikan. Dia tak ingin menjadi stress selama tinggal di rumah ini.


Hanya satu yang membuat Mawar aneh akhir-akhir ini. Rega jarang sekali meminta jatahnya sebagai seorang suami. Sebulan ini bahkan baru sekali mereka melakukannya. Itu pun terasa begitu hampa, Rega melakukannya dengan sangat terburu-buru. Belum juga Mawar puas, pria itu sudah menyudahinya. Bahkan dengan entengnya berkata, kalau Mawar tak memuaskan dirinya sehingga miliknya jadi tak bersemangat untuk melakukannya.


Sebagian seorang wanita, tentu saja Mawar menjadi takut. Bagaimana jika Rega mencari kepuasan dari wanita lain, karena dirinya yang tak bisa memuaskan kebutuhannya.


"Mawar, mbak minta uang. seratus ribu saja. ban mobilnya bocor, harus di bawa ke bengkel."


Lamunan Mawar buyar saat tiba-tiba Helena masuk kedalam kamar. Wanita itu menengadahkan tangannya tepat kehadapan Mawar.


"Tak ada mbak. Uangku tinggal tiga ratus saja, gajian mas Rega masih seminggu lagi." Ujar Mawar dengan tegas.


Mawar memang bukan tipe orang yang bisa bicara dengan lembut jika berhadapan dengan seseorang yang menurutnya menyebalkan. Apalagi Helena, ia tak suka ipar nya ini.


"Mbak pinjem kok. besok juga di balikin." Seru Helena tak menyerah.


Mawar menghembuskan nafas kasar. Dengan kesal dia berdiri lalu mengambil uang dari dompetnya.


"benar ya di balikin besok? tapi, mbak besok dapat uang dari mana?" Tanya Mawar sambil memberikan uangnya.


"iya, hitungan banget jadi adik ipar. tak perlu tahu, yang penting besok ada gantinya." Seru Helena, mengambil uang itu lalu keluar dari kamar Mawar.


Sampai saat ini Mawar masih belum tahu apa pekerjaan Helena. Setiap hari wanita itu akan pergi seharian dan pulang tengah malam. Tapi, uang dan juga barang-barang lainnya selalu minta dari Rega ataupun dirinya. Tak pernah sekalipun Mawar melihat Helena mengeluarkan uang dari dompetnya setiap membeli sesuatu.


Mawar berjalan keluar, ia melihat mobil kesayangannya dulu melaju meninggalkan pekarangan rumah. Hatinya berdebar mengingat orangtuanya, bagaimana jika mereka tahu kalau mobil itu sekarang sudah berpindah kepemilikan. Ibu dan ayahnya pasti akan marah jika tahu bagaimana mobil itu bisa menjadi milik kakak iparnya.


"haaaaahh... aku jadi rindu ibu." Gumam Mawar.


Sudah sebulan ini dia tak bertemu dengan keluarganya. Hanya berkirim pesan saja, itu pun sebatas bertanya kabar. Mawar sama sekali tak menceritakan kehidupannya di sini. Ia tak ingin orangtuanya menjadi khawatir nanti. Jika tahu kalau dirinya sudah seperti pembantu di rumah suaminya sendiri.


"Sudah jam 2 siang, aku harus siapkan makanan untuk makan sore ini." Mawar pun bergegas kedapur.


"Tunggu Mawar." Panggil Kulsum dari kamarnya. Mertuanya itu baru bangun tidur siang.


Mawar berbalik lalu mendekati ibu mertuanya dengan malas.


"ada apa Bu?"


"ibu lapar, kamu sudah masak?"


Enak sekali rasanya menjadi ibu mertua di rumah ini. Pekerjaannya hanya tidur, makan dan pergi kumpul bergosip dengan para tetangga. Mawar ingin sekali protes soal perilaku Kulsum dan Helena kepada Rega, tapi setiap ingin mengadu selalu urung. Karena Rega yang nampak malas di ajak bicara. Pria itu berangkat pagi dan pulang malam, lalu tidur. Wajah lelahnya membuat Mawar jadi tak tega untuk mengganggunya dengan segala aduannya nanti.


"aku baru masak Bu."


"ya sudah. Ibu mau teh hangat ya, buatkan cepat dan bawa keruang tengah. ibu mau nonton." Ujarnya dengan nada memerintah.


Mawar mengepalkan tangannya. Seandainya Kulsum bukan ibu dari suaminya sudah dia maki wanita di hadapannya ini. Meski sudah tua tapi selalu bertingkah seenaknya. Kulsum sama sekali tak menganggap Mawar seperti menantu. Wanita itu memperlakukannya seperti pembantu saja.


Tanpa menjawab Mawar pun pergi kedapur. Dia menggerutu sambil mengaduk tehnya.


"kalau tak takut dosa, aku kasih racun teh ini." Gerutunya. "dosa apa aku dapat mertua macam beginian."


...**************...

__ADS_1


Hani bergelayut manja di lengan Rega. Dia sungguh senang karena berhasil membuat pria ini tak bisa jauh dari genggamannya. Bahkan Rega dengan terang-terangan mengatakan jika sekarang miliknya tak lagi bisa berdiri ketika bersama istrinya. Anehnya jika bersama Hani, hanya sentuhan biasa saja sudah membuatnya bergairah.


Di mata Rega, Hani nampak jauh lebih baik di bandingkan Mawar. Penampilannya yang selalu segar, tubuhnya wangi dan jangan lupakan wajahnya yang begitu glowing jauh berbeda dengan Mawar.


Mawar dulu seperti itu, tapi sekarang sudah sangat jauh berbeda. Wanita yang baru di nikahinya sebulan itu sungguh berubah drastis. Wajahnya selalu kusam, tubuhnya bau bumbu dapur dan satu lagi penampilannya tak menarik sama sekali. Hanya mengenakan daster saja seharian. Mawar sudah seperti ibu-ibu beranak 5 lima saja. Sama sekali tak ada menariknya di mata Rega.


"jadi, istri kamu itu tak pandai mengurus dirinya mas?" Tanya Hani menanggapi cerita Rega padanya.


Pria itu memang mengeluhkan segala kekurangan istrinya pada Hani. Tentu saja Hani memanfaatkan itu dengan baik.


"iya, padahal dulu dia itu sangat cantik dan seksi. tapi sekarang...ck, hanya meliriknya saja malas." Keluh Rega.


Ia sendiri heran, kenapa Mawar bisa berubah se drastis itu. Mawar tak lagi peduli dengan penampilannya.


"kalau aku sih tak mungkin begitu mas. penampilan itu nomor satu agar suami betah di rumah." Ujarnya.


"tentu saja, di kantor penat dengan kerjaan. pulang di suguhkan dengan penampilan kumal, mumet otakku. untung saja, ada kamu. yang bisa menghiburku di saat seperti ini." Rega mencubit hidung mancung Hani.


Wanita itu tertawa kecil. Rasanya melayang ke udara di puji seperti itu. Tak perlu repot-repot baginya untuk membuat Rega semakin tergila-gila padanya. Karena sepertinya, Mawar telah memberikan jalan yang begitu mudah.


"kalau begitu, mas nikahi aku saja." Celetuk Hani membuat Rega melepaskan pelukannya.


"nikah?" Tanya Rega. Hani mengangguk semangat. Ia rela jadi istri kedua karena sangat ingin memiliki Rega.


"kenapa? mas tak mau?" Tanya Hani. "aku tak mau jadi pelampiasan nafsu saja, mas nikahi aku. Siri juga tak masalah."


Rega nampak terdiam. Dirinya dan Mawar saja baru menikah sebulan dan sekarang Hani memintanya untuk menikahinya. Bagaimana pun Rega tak mungkin melakukan itu. Jika sampai keluarganya tahu, bisa-bisa orangtunya marah besar nanti. Di tambah lagi, Mawar pasti minta cerai. Meski sekarang Rega merasa tak berselera kepadanya tapi dia pun tak ingin berpisah dengan Mawar.


"mas, kok diem sih. bagaimana?" Hani menggoyangkan lengannya kencang.


"be...begini saja, aku akan menikahimu nanti. pasti. tidak sekarang."


Jujur saja, Rega sebenarnya tak mencintai Hani. Pria ini hanya memanfaatkan kedekatannya untuk memuaskan kebutuhannya. Dia butuh pelampiasan di saat ingin melakukannya dan Hani selalu menjadi pilihan yang tepat. Di hatinya masih tetap Mawar, wanita yang dia cintai.


"bukan begitu, tapi..." Rega bingung harus menjawab apa.


Hani mendengus lalu pergi meninggalkan Rega. Ia marah karena Rega nampak tak ingin menikahinya, padahal dia sudah memberikan segalanya untuk pria itu. Rega mengacak rambutnya kasar, bagaimana pun dia tak mungkin menikah lagi.


...*************...


Semua anggota keluarga minus Rega tengah makan. Mawar bahkan sekarang mulai terbiasa dengan Rega yang selalu pulang telat. Pria itu akan tiba di rumah sekitar jam 9 malam dan tak pernah makan malam karena selalu makan di luar. Entah itu benar atau tidak, yang jelas Mawar tak mau memusingkan akan hal itu.


"Sisain sayurnya untuk Rega."


Mawar menghentikan suapannya mendengar Kulsum bicara. Wanita itu mengambil piring dari lemari lalu mengambil ikan, sayur dan juga goreng tempe. Di simpan dalam satu piring.


"mas Rega pasti sudah makan di luar Bu. Setiap makanan yang aku sisakan tak pernah di makan, paginya selalu di buang." Mawar berkata dengan santai, ia kembali makan dengan tenang.


"istri macam apa kamu? mau di makan atau tidak, tetap harus di pisahkan. tak becus jadi istri." Hardiknya tanpa peduli jika ucapannya begitu menyakitkan.


Marja langsung melihat kearah Mawar. Raut wajah menantunya yang nampak sedih membuat pria itu merasa tak enak hati. Mawar tak menjawab perkataan Kulsum, hanya diam menahan sesak di dadanya.


Helena semakin yakin, jika Rega pasti menyimpan sesuatu di belakang mereka. Karena akhir-akhir ini dia menangkap gelagat aneh dari sang adik. Di tambah lagi soal kepulangannya yang selalu terlambat.


Wanita itu menatap Mawar, lalu menghela nafas panjang.


"Mawar, kamu sudah selesai?" Tanya Marja.

__ADS_1


Mawar yang hendak meninggalkan dapur pun mengangguk pelan. Selera makannya jadi hilang karena ulah Kulsum yang bicara seenaknya.


"iya Pak. Piring kotornya simpan saja. Nanti aku cuci." Ujarnya.


Marja langsung melihat kearah Kulsum yang sama sekali tak merasa bersalah.


"ibu itu harus bisa menjaga perasaan hatinya. Mawar itu jauh dari keluarganya, tak ada tempat mengadu baginya di sini. Kata-kata ibu selalu pedas dan pahit."


"Bapak bela saja terus, ibu tak suka dengannya. bukankah jelas dari sebelum Rega menikahinya ibu katakan kalau ibu tak setuju. Mawar itu bukan menantu pilihan ibu."


"tapi setidaknya hargai keberadaannya saat ini. Rega mencintainya, apa salah Mawar pada mu, Bu?"


Kulsum diam. Tentu saja, tak ada salah apapun. Bahkan selama ini Mawar selalu melakukan apa yang di mintanya. Hanya saja Kulsum selalu merasa jika Mawar tak memenuhi kriteria sebagai menantu di rumah ini. Dia ingin Rega menikahi wanita karir, agar masa depan putranya itu semakin terjamin. Bukankah jika sepasang suami istri sama-sama bekerja maka kehidupannya akan makmur, karena banyak uang. Dan dirinya pun pasti kecipratan.


Helena tak peduli dengan perdebatan kedua orangtuanya. Ia tetap makan dengan santainya seolah tak ada siapapun di dekatnya.


Baginya yang penting bisa makan, jalan-jalan dan bersenang-senang sudah bagus. Tak penting baginya siapa wanita yang dinikahi adiknya. Mau seorang wanita miskin, kaya atau cacat sekalipun. Baginya hanya satu, yang terpenting Rega masih memberikan jatah uang untuknya jalan-jalan.


Berbeda dengan Kulsum, wanita tua itu terlalu tamak dan matre. Baginya memiliki menantu yang berpenghasilan itu sangat luar biasa, seperti temannya. Menantunya seorang model dan putranya bekerja di sebuah perusahaan besar. Setiap kumpul selalu membanggakan keduanya, tentu saja Kulsum iri akan hal itu. Karena menantunya hanya diam di rumah saja. Sama sekali tak ada yang bisa di banggakan.


Padahal jika Rega mengizinkan Mawar untuk bekerja, sudah Mawar lakukan. Lagipula dia merasa sangat penat berada di rumah dan berkutat dengan pekerjaan rumah setiap hari. Tapi, sebagai seorang istri yang baik tentu saja Mawar akan menuruti apa kata suaminya.


Tepat jam 8 lewat beberapa menit, Rega pulang. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Mawar tak banyak bertanya, membuatkannya teh hangat lalu ikut merebahkan tubuhnya.


"Malam ini mas tak ingin melakukannya?" Tanya Mawar, ia bertanya seperti itu karena sudah dua minggu ini Rega tak menyentuhnya.


"mas lelah. kita tidur saja ya?" Ajak Rega.


Mawar mengangguk lalu memeluk tubuh Rega. Bau keringat Rega nampaknya tak masalah bagi Mawar. Padahal Rega masih memakai baju kerjanya, sama sekali tak mencuci muka. Tapi Mawar tak peduli, dia suka bau tubuh suaminya.


Rega pun terlelap begitu juga Mawar. Keduanya tidur dengan posisi berpelukan.


Ting...


Ting...


Ting...


Mawar membuka matanya saat mendengar nada pesan masuk yang berasal dari ponsel Rega. Merasa terganggu dan sedikit penasaran, akhirnya Mawar pun bangun. Ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas itu.


"siapa sih malam-malam begini." Gerutunya kesal karena telah mengganggu tidurnya.


Mawar langsung melihat pesan apa yang di dapatkan suaminya, sampai ada belasan. Matanya melebar dan tangannya bergetar tak percaya begitu melihat isi pesan yang di terima oleh Rega.


Dadanya bergemuruh hebat melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh kontak yang di beri nama Maduku.


"apa-apaan ini?" Mawar hampir pingsan melihat kenyataan yang ada.


Beberapa foto seorang wanita tanpa busana terpampang nyata di layar ponsel suaminya. Bahkan bagian-bagian intim si wanita pun di foto dengan begitu jelas.


Mawar langsung melihat Rega yang tengah tertidur dengan pulas dengan perasaan campur aduk. Dia tahu sekarang, kenapa Rega selalu menolak untuk berhubungan. Pasti semua inilah penyebabnya.


"siapa orang ini, kenapa mas Rega memberikan nama Maduku? apa dia selingkuhan mu mas?" Tanya Mawar dengan suara bergetar. Tentu tak ada jawaban, karena Rega tengah tertidur.


Mawar menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Dia mencoba untuk bersikap tenang. Tak akan bertindak gegabah. Dengan cepat dia menyalin nomor itu di ponselnya. Mungkin dia harus menyelidiki dulu, siapa dan apa hubungannya. Mawar akan berpura-pura tak tahu untuk saat ini. Setelah semuanya jelas, maka jangan salahkan dirinya jika nanti melakukan hal yang buruk.


Dengan cepat Mawar menghapus semua foto itu. Ia pun kembali menyimpan ponselnya. Besok dia harus mulai menyelidiki semuanya.

__ADS_1


...************...


__ADS_2