
Albion merasa malu karena tak bisa menahan dirinya. Dia begitu panas saat berdua dengan Mawar sehingga pikirannya menjadi sangat kotor. Dia melakukan itu atas dorongan hatinya tanpa di sadari. Dan akibatnya sekarang harus menahan rasa tak nyaman karena hasrat itu tak tersalurkan dengan tuntas. Sebenarnya bisa saja dia memaksa Mawar, tapi Albion bukan pria macam itu.
"Al, sudah sampai. aku akan bawa mobilmu ya? besok pagi aku akan menjemputmu." Ujar Mawar membuat Albion tersadar dari pikirannya.
Pria itu meringis menahan sesuatu saat akan bangkit dari duduknya. Rasanya sungguh sesak sekali bagian bawah sana saat melakukan pergerakan.
Mawar sampai mengigit bibirnya melihat wajah gusar Albion. Wanita itu jadi merasa bersalah, karena dirinya juga Albion seperti sekarang. Dia tahu pasti Albion sangat tersiksa menahannya, tapi mau bagaimana lagi. Mawar tak mungkin menawarkan bantuan untuk melepaskan hasrat itu karena hubungannya dengan Albion belum sah menjadi suami istri. Mawar tak ingin berbuat tak baik sebelum keduanya menjadi pasangan yang sah.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya khawatir.
"tentu saja. hati-hati ya, aku masuk." Albion menutup pintu mobilnya lalu segera masuk kedalam rumah.
Jalannya nampak tergesa-gesa. Mawar tahu apa yang akan pria itu lakukan. Bibirnya tersenyum kecil membayangkan hal itu.
Dengan cepat Mawar pun segera pulang. Dia juga butuh menyegarkan pikirannya. Mawar ingin segera pulang lalu mandi.
Albion merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya perlahan bergerak menuju area bawahnya. Matanya terpejam dan bibirnya dia gigit saat merasakan sensasi luar biasa saat benda itu tersentuh. Sungguh, rasa itu begitu membuatnya bersemangat. Pria dewasa sepertinya pasti sangat menyukai rasa nikmat itu. Hanya saja kenapa Albion merasa ada yang kurang saat ini. Padahal dari dulu dia selalu melakukannya sendiri.
"aneh...kenapa aku merasa ada yang kurang." Ujarnya bingung.
Albion merasa tak puas hanya dengan menggunakan tangannya saja. Kejadian di dalam mobil tadi sungguh membuatnya semakin tersiksa. Sentuhan Mawar terasa lebih enak di bandingkan jemarinya saat ini.
"haaaah... sudahlah, aku sebaiknya dinginkan kepalaku saja." Albion beranjak dari tempat tidur.
Ia pikir mungkin dengan mandi semua akan menjaga baik-baik saja. Hasratnya akan hilang lalu Albion akan tidur dengan nyenyak.
Mawar baru saja tiba di rumahnya. Saat tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti tepat di depan pintu gerbang. Dengan cepat Mawar keluar dari mobil saat sadar jika mobil itu milik Rega.
"Mawar tunggu.." Rega berteriak cukup keras membuat Mawar semakin cepat melangkah.
Rega tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Mawar. Dengan cepat pula dia mengejarnya lalu segera menangkap tangan Mawar.
"Mawar ku mohon." Ujarnya dengan penuh harapan.
Mawar menarik tangannya tapi tak bisa, cengkraman tangan Rega terlalu kuat. Pria itu lalu menarik Mawar mendekat.
__ADS_1
"Aku merindukan mu, aku mencintaimu." Cicitnya tanpa rasa malu sedikitpun. Seolah lupa dengan pengkhianatan yang telah dilakukannya terhadap wanita itu.
"tapi aku tidak. ku mohon lepaskan aku." Pinta Mawar masih berusaha melepaskan genggaman tangan Rega.
Pergelangannya terasa sakit hingga membuatnya meringis. Bagaimana bisa pria ini mengatakan cinta tapi menyakitinya seperti ini.
"aku tak melepaskan mu,ikutlah denganku. aku ingin kita kembali bersama."
"kamu gila. bagaimana dengan Hani."
"aku bisa menceraikannya. Kita bisa kembali lagi seperti dulu."
Rega terus menyeret tubuh Mawar, memaksanya untuk masuk kedalam mobil. Mawar tak habis akal, dengan cepat dia menginjak kaki Rega. Pria itu mengaduh lalu dengan refleks melepaskan genggamannya. Mawar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur, cepat dia berlari lalu berteriak memanggil ayahnya.
"ayah..tolong..."
Rega pun dengan cepat menyusul, dia tak ingin rencananya untuk membawa kabur Mawar gagal.
Ibnu mengeryitkan kening saat mendengar panggilan dari luar. Matanya melirik Rena begitu juga dengan Rena.
"mas, Lepaskan aku." Pekik Mawar karena Rega kembali berhasil menangkapnya.
"hei... lepaskan putri ku. pria tak tahu diri." Pekik Ibnu begitu keluar langsung di hadapkan dengan pemandangan yang tak mengenakkan.
Ia melihat Mawar di seret dengan paksa.
...**************...
Helena kembali menangis saat pria yang telah melakukan hal buruk terhadap dirinya ini malah menatapnya dengan pandangan jijik. Di sampingnya seorang wanita yang amat cantik berdiri dengan angkuh.
"jangan gila, kamu meminta suamiku untuk bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan? sungguh wanita bodoh."
"tapi dia..." Helena tercekat saat tiba-tiba pria berwajah tampan itu menampar wajah nya.
"Malam itu aku mabuk karena jebakan dari mu. Bahkan saat aku bangun, tak hanya kita berdua dia kamar itu. ada pria lain juga di samping mu. kenapa kamu yakin kalau aku yang telah menodai mu?"
__ADS_1
Helena mengigit bibirnya. Ia masih ingat sekali jika pria di hadapannya inilah yang telah merenggut segalanya. Karena pria satunya hanya menyentuh saja tanpa melakukan hal lebih. Tapi bibir Helena terbungkam, ia tak memiliki bukti sama sekali untuk menunjukkan semua itu.
"sudahlah sayang, dia wanita tak waras." Pria itu menggandeng istri nya lalu masuk kedalam meninggalkan Helena dalam keterpurukannya.
Sementara itu Kulsum duduk dengan cemas karena Rega pun belum memberikan kabar apapun. Tanpa dia tahu kalau saat ini Rega bukanlah mencari keberadaan Helena, putranya itu justru malah menemui Mawar.
"tenang saja Bu, semua pasti baik-baik saja." Maria mencoba menenangkan.
"aku takut hal buruk terjadi kepada putriku."
Maria mengelus bahu Kulsum. Sebagai seorang ibu dia tahu bagaimana perasaan Kulsum saat ini.
Hani hanya diam melihat kearah Kulsum dan Maria. Tak ingin berkomentar apapun karena baginya sudah tak penting lagi berkomunikasi dengan mertuanya itu. Gusna melihat Hani yang tengah memandang Kulsum dengan tatapan seolah penuh kebencian. Perasaannya mengatakan jika Hani sepertinya menyembunyikan sesuatu yang begitu besar dari tatapan tak suka nya itu terhadap Kulsum.
"Kita pulang, ini sudah larut." Gusna mencoba menepis pikirannya lalu segera mengajak Maria untuk pulang.
Maria mengangguk pelan. Berat hatinya untuk meninggalkan Hani, tapi dia juga tak bisa melawan sang suami.
"Sayang, mamih akan kembali besok." Maria mencium kening Hani. "jaga diri mu ya?"
"iya Mih." Dengan berat hati Hani melepaskan kepulangan Maria dan Gusna.
Begitu kedua orangtuanya telah pergi. Hani langsung merubah posisi nya yang tengah berbaring menjadi setengah duduk.
"aku akan ingat perlakuan ibu dan mas Rega. Kalian berdua lah yang bertanggung jawab atas kehidupan ku yang pahit ini." Ujarnya dengan penuh rasa benci.
Hani masih tak bisa melupakan perlakuan Rega hari itu sehingga dirinya harus kehilangan buah hatinya.
Kulsum menghapus airmatanya. Wanita tua itu tak kalah sengit memandang Hani.
"Oh begitu, kamu sendiri yang memilih jalan ini. kamu bahkan berusaha menyogok untuk bisa masuk kedalam kehidupan putra ku. kamu lakukan berbagai cara untuk bisa menjadi istri Rega. Jadi... jangan menyalahkan siapapun."
Hani mengepalkan tangannya. Memang benar sekali, demi menjadi istri dari seorang Rega dia telah menghabiskan banyak uang juga waktu berharga bahkan sampai rela kehilangan kesuciannya.
...******************...
__ADS_1