Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 29


__ADS_3

Rega gelagapan saat pintu di buka. Wajahnya nampak pias saat sadar ****** ******** kini tergeletak tepat di dekat pintu. Dengan susah payah dia menelan ludahnya. Bagaimana jika Maria menoleh kebawah dan melihatnya. Bisa-bisa dia akan di usir sekarang juga.


"Ada apa dengan kalian?" Maria memicingkan matanya menatap Rega dan Hani bergantian.


"ekhem...I...itu, tadi aku ketiduran Bu." Rega berusaha bersikap tenang meski keadaan hatinya tengah tak bersahabat saat ini.


Maria yang hendak bertanya kembali langsung di tarik Hani dengan cepat.


"Mamih, aku haus." Rengeknya manja.


Maria pun langsung mengikuti Hani turun kebawah. Sementara Rega menghela nafas lega, dapat dia lihat Hani mengerlingkan matanya sambil terus menyeret sang ibu turun. Rega tersenyum kecil, rupanya wanita itu menyadari kecemasannya.


"Hais...bisa gila aku kalau sampai ketahuan." Rega menyeka keringatnya.


Tak lama ia pun segera turun. Kulsum dan Helena sudah tak sabar menunggu. Mereka pun bergegas pamit untuk pulang. Maria menyarankan untuk menginap tapi Kulsum menolaknya dengan alasan tak enak, karena mereka baru saja bertemu. Pertemuan pertama harus berkesan baik menurutnya.


"Rega, kamu sebenarnya melakukan apa di kamar Hani?" Pertanyaan Helena membuat Rega hampir saja menginjak pedal gas.


"Tentu saja tidur." Jawabnya pelan.


Helena berdecih tak yakin. Bagaimana bisa tidur bisa membuat wajah adiknya dan juga penampilan Hani tadi begitu berantakan seperti habis melakukan sesuatu. Kulsum memukul lengan Helena.


"jangan berprasangka buruk. Rega itu pria baik-baik." Cetusnya.


"Baik-baik bagaimana, Hani sampai hamil itu artinya..."


"cukup elen. jika ingin menjelekkan adikmu sebaiknya kamu turun saja." Ketus Kulsum tak suka.


Ia sangat tak suka ada seseorang yang menjelekkan Rega. Termasuk Helena, sang putri. Baginya Rega itu segalanya dan selalu nampak sempurna di matanya. Kesalahan Rega yang berkhianat dan menghamili selingkuhannya seolah bukan hal buruk setelah mendapatkan barang juga uang dari wanita itu. Kulsum menutup mata dan telinganya demi hidup mewah yang selalu di idamkannya.


Rega hanya diam. Tak menghiraukan ibu dan kakaknya yang berdebat di belakang.


Hani membuka barang yang di bawa Rega dan calon mertuanya. Ada banyak kado juga paper bag di atas sofa. Tadi, belum sempat dibuka karena sibuk bermesraan dengan Rega.


"Calon mertuamu baik ya, sayang?" Maria membuka salah satu paper bag, isinya baju juga sepatu.


Ia tersenyum melihatnya. Sungguh tak menyangka jika Hani akan mendapatkan keluarga yang begitu baik dan perhatian. Baju dan sepatu itu begitu pas di tubuh putrinya. Itu artinya Rega dan ibunya sangat peduli terhadap Hani sampai tahu ukuran baju yang di pakainya.


"iya Mih. Aku tak sabar deh ingin segera tinggal bareng mereka." Seru Hani bersemangat.


"kamu juga harus berhenti bekerja karena sedang hamil. sekarang ada Rega yang akan menafkahi mu." Tutur Maria.


Hani tersenyum kaku. Bagaimana bisa dia berhenti, dirinya sudah berjanji pada calon mertuanya kalau dia tak akan menuntun nafkah dari Rega.


Gusna hanya tersenyum saja melihat kedua wanita yang di sayanginya. Maria dan Gusna begitu terkesan dengan pertemuan pertamanya dengan calon besannya. Melihat ibu dari calon menantunya begitu ramah juga bertutur kata lembut itu membuat Gusna yakin jika Hani pasti akan di perlakukan sangat baik nanti oleh mereka.


Tak tahu saja, apa yang telah mereka lakukan di belakang.


"Pokoknya, kalau kamu dan Hani menikah nanti harus tinggal di rumah kita." Seru Kulsum pada Rega.

__ADS_1


"iya Bu."


"jangan lupa juga, uang gajimu milik ibu seutuhnya. Hani sendiri yang bilang dia tak butuh nafkah dari mu. jadi...mulai bulan depan gajimu transfer ke ATM ibu ya?" Pintanya.


Helena pun ikut berbinar mendengarnya. Itu artinya dia pun akan mendapatkan jatahnya lagi. Ketika Rega bersama Mawar, semua keuangan wanita itu yang atur dan di pernikahan Rega kedua ini ibu dan dirinya yang akan mengaturnya. Itu terdengar menyenangkan baginya.


...***************...


Mawar merebahkan tubuhnya. Dia masih mencoba mengingat-ingat pria saat di restoran Jepang tadi. Wajahnya nampak tak asing tak sungguh Mawar tak ingin siapa dia.


"Siapa sih, buat penasaran saja." Keluhnya.


Tring...


Sebuah pesan masuk. Mawar dengan cepat melihatnya. Rupanya Bagas mengirimkan pesan. Pria itu mengajaknya bertemu besok.


Dengan cepat Mawar membalasnya. Tak bertanya untuk apa mengajak bertemu, hanya membalas 'ya' saja lalu segera mengirimkannya.


Selama ini Bagas telah banyak membantunya. Sejak dari zaman SMP, pria itu memang baik. Mawar dekat karena sama-sama mengikuti ekskul Pramuka. Ketika SMA, Mawar memilih sekolah swasta sementara Bagas memilih untuk mengikuti sekolah paket karena kurangnya biaya. Selama itu mereka tak bertemu dan tanpa sengaja di pertemukan lagi setelah dirinya menikah dengan Rega.


Mawar tak mengira jika Bagas akan menjadi penolongnya sampai akhirnya dia bisa berada di titik ini.


Malam terasa sangat begitu panjang. Matanya sulit terpejam karena terlalu banyak bayangan tentang Rega yang tak mudah dia hapus begitu saja. Selama ini dia selalu menghabiskan malam bersama dengan pria itu. Sulit rasanya untuk menghapus kenangan yang tak begitu lama tercipta itu.


Sampai akhirnya Mawar pun baru bisa memejamkan matanya tepat pukul 4 pagi hari dan bangun jam 8.


Dengan lesu Mawar menggigit roti bakar berselai kacang.


"Sepertinya aku terkena insomnia, Bu."


Rena meletakkan piring di depan Ibnu lalu mengambil nasi dan lauknya. Beralih pada Mawar kemudian.


"Coba kamu bebaskan pikiranmu atau sebaiknya kamu pergi berlibur." Saran Rena.


"kalau mau ayah akan belikan tiket ke Bali sore ini juga." Timpal Ibnu.


Mawar menggelengkan kepalanya. Dia tak butuh itu sekarang.


"Aku baik kok. oh...iya, hari ini aku mau keluar."


"keluar? untuk apa?" Rena menarik kursi lalu duduk dan ikut sarapan.


"Bertemu teman Bu."


"yah... sebaiknya kamu memang lakukan itu. siapa tahu dengan berkumpul dengan teman mu, kamu akan merasa lebih baik." Rena dan Ibnu tak akan melarang Mawar selagi itu baik untuknya.


Tepat, jam 10. Mawar pun segera pergi. Dia sudah berjanji pada Bagas akan datang.


Bagas memarkirkan motornya lalu segera masuk kedalam cafe. Dia tak sendiri, ada Raja bersamanya. Pria itu memaksa itu begitu tahu Bagas akan bertemu dengan Mawar.

__ADS_1


"ingat, jangan melakukan hal bodoh." Bagas menatap Raja tajam. "kamu itu terkenal dingin dan kaku tapi kenapa sekarang justru terlihat seperti anak gadis yang pemalu." Decihnya.


Raja mendelik lalu duduk, mengabaikan Bagas yang terus saja memperingatinya ini dan itu.


Mawar pun tiba. Dengan enggan dia duduk di dekat Raja. Bukan masalah baginya duduk bersama pria yang bukan teman atau kenalannya, tapi tingkah Raja saat ini membuatnya ilfill setengah mati. Pemuda berjaket kulit itu terus tersenyum seperti orang bodoh.


"Bagas, apa saudara mu sakit?" Sindir Mawar tak suka.


Bagas langsung menyikut lengah Raja.


"berhenti bertindak bodoh." Bisiknya penuh penekanan.


Raja hanya memutar matanya malas lalu kembali fokus menatap Mawar. Kecantikan Mawar rupanya telah membius pemuda berusia 20 tahun itu. Mawar berdecak lalu menendang kaki Raja keras.


Bugh...


"kenapa menendang kakiku, itu sakit sekali?" Ringis Raja seraya mengusap tulang keringnya yang berdenyut.


Mawar hanya tersenyum mengejek.


"Raja, jangan kacaukan pertemuan kami. aku dan Mawar harus berbicara serius." Tegur Bagas.


Raja langsung memasang wajah dinginnya lalu beranjak dari duduknya. Sungguh hal itu membuat Mawar terkejut, wajahnya yang nampak bodoh itu bisa berubah hanya dalam beberapa detik saja.


"baiklah, aku sebaiknya menunggu di luar saja." Ujar Raja lalu pergi.


Mawar sampai tertegun di buatnya. Bagas pun langsung mengatakan apa tujuannya mengajak Mawar bertemu. Karena dia pikir jika bicara melalui telpon akan kurang pas.


"Tuan, nona Mawar ada di dalam cafe itu?" Lapor seorang pria.


Albion yang tengah duduk di dalam mobil nya langsung melihat kearah cafe. Sejauh ini dia bersabar untuk menunggu. Dia pun segera keluar dari mobil di ikuti beberapa orangnya.


Raja menyilangkan tangannya, matanya tak lepas dari Albion. Seperti ada aura gelap yang ia lihat di sekitar pria itu.


Mata tajam Albion pun melirik Raja sekilas. Keduanya sempat melemparkan tatapan tajam lalu masing-masing dari mereka segera mengalihkan pandangannya.


"Sepertinya dia seorang sultan." Decih Raja, matanya terus memperhatikan Albion yang masuk kedalam cafe.


...************...


Rega menghela nafas panjang. Kepalanya sungguh berdenyut sakit. Semalaman tak bisa tidur karena memikirkan Mawar. Dia tak akan melepaskan wanita itu. Bagaimana pun caranya akan mendapatkan cintanya kembali.


Rasa percaya dirinya begitu besar. Ia yakin, jika Mawar masih menyimpan cinta untuknya. Dulu saja, Mawar menolak cinta seorang pemuda kaya demi dirinya. Bahkan Mawar mengabaikan pria lain yang lebih darinya.


Rega sungguh merasa jika saat ini Mawar hanya tengah marah jadi meminta jalan pintas itu. Perceraian bisa rujuk kembali pikirnya. Ia akan menikahi Hani lalu setelah itu akan mendekati Mawar lagi.


Sungguh, Rega memang terlalu serakah. Bagaimana jika pemuda yang dulu bersaing dengannya kini kembali dan mencoba menarik perhatian Mawar?


...*************...

__ADS_1


__ADS_2