
Mawar menikmati makan malamnya dengan perasaan yang tak biasanya, seperti ada yang hilang didalam dirinya dan setiap makanan yang ia telan entah kenapa rasanya begitu hambar seperti tak berasa. Apa karena dirinya yang masih belum bisa melepaskan Rega sepenuhnya atau karena hal lain.
Rena dan Ibnu sebagai orangtua hanya bisa memberikan nasihat dan beberapa kata penyemangat untuknya. Mereka berharap Mawar bisa menemukan pria yang lebih baik dari Rega.
"Malam ini begitu spesial bukan?" Tanya Rena. Mencoba untuk menarik Mawar dari lamunannya.
Wanita cantik itu hanya berdeham pelan lalu kembali diam. Ibnu menghela nafas panjang.
"sayang, jika ingin pulang kita sudahi saja makan malamnya."
Mawar yang mendengar itu langsung menatap Ibnu. Mata pria yang selalu menyorotkan kesejukan itu nampak sendu, tersimpan sejuta rasa sedih yang di tujukan padanya. Mawar menelan makanannya susah payah.
"maafkan aku, ibu...ayah.." Cicit Mawar. "Pertama kali aku dan mas Rega makan malam di restoran ini untuk merayakan hari jadi kami. jadi..." Mawar menggigit bibirnya.
Jadi itulah sebabnya, kenapa dia begitu gelisah dan nampak tak nyaman dalam acara makan malamnya itu. Kenangan itu terlihat jelas di matanya. Mawar tak bisa melupakan hari itu dengan mudah.
Waktu itu, dia dan Rega baru saja resmi pacaran. Dan malamnya Rega mengajak Mawar makan di restoran ini. Kenangan indah yang mungkin akan menjadi hal paling berharga jika saja tak ada kata penghianatan. Tapi, kenangan itu kini menjadi duri yang paling menyakitkan baginya.
"kalau begitu kenapa kamu tak menolak Mawar. kita bisa makan di tempat lain." Seru Rena, merasa bersalah karena telah memilih tempat ini sebagai hari untuk merayakan kemenangan Mawar.
Ibnu pun dengan cepat membayar semua makanan yang belum habis itu. Ia tak ingin membuat Mawar semakin bersedih.
Sebagai gantinya, Ibnu mengajak Mawar dan Rena ketempat yang biasa dia dan rekan kerjanya kunjungi. Restoran Jepang yang terletak tak jauh dari restoran yang mereka tempati saat ini.
"Apa kalian masih lapar?" Tanya Ibnu, sambil menyetir.
"tentu saja, mas. Mawar, kamu juga kan?" Tanya Rena, karena tadi Mawar hanya memakan beberapa suap saja.
Mawar nampak ragu tapi dia juga memang masih lapar. Mengikuti saran ayahnya sepertinya tak buruk juga. Ia pun setuju untuk makan di Restoran Jepang.
Begitu tiba, mereka langsung memilih tempat yang paling nyaman. Berada di pojok dengan jendela yang bisa melihat langsung keluar. Mawar tak menyia-nyiakan waktunya, ia melahap beberapa sushi begitu pesanannya tiba. Ibnu dan Rena pun menghela nafas lega, akhirnya Mawar bisa kembali tersenyum dan tak nampak bersedih.
"aku mau kekamar kecil dulu, Bu." Tiba-tiba Mawar merasa ingin buang air.
__ADS_1
Cepat-cepat dia pergi. Tak ia sadari jika ada seorang pria yang sedari tadi terus memperhatikannya, bahkan sekarang ia pun ikut beranjak dan berjalan mengekor di belakangnya.
"permisi..."
"i..iya. maaf Pak, saya sudah tak tahan lagi. permisi." Mawar mengabaikan pria yang baru saja menyapanya, melihat jika pria itu akan bertanya banyak membuatnya memilih untuk cepat-cepat pergi.
Pria itu mengerutkan keningnya.
"Pak? dia memanggilku dengan sebutan Pak?" Geramnya.
Padahal dia rasa penampilannya tak setua itu. Lalu kenapa Mawar juga bahkan tak mengenali wajahnya. Dengan kesal dia pun pergi meninggalkan area toilet. Niatnya ingin menyapa malah kecewa seperti ini.
Sementara itu di dalam bilik toilet, Mawar tengah mengingat-ingat sesuatu. Sepertinya dia tak asing dengan pria yang baru menyapanya.
"ah...sudahlah, tak penting." Ujarnya.
...*************...
"Bagus, jadi besok kalian langsung mencari cincin dan baju pernikahan kalian." Maria sungguh senang bisa mendapatkan menantu seperti Rega.
Tentu karena dia mengira Rega seorang lajang jika tidak akan beda ceritanya. Pasti Maria akan sangat kecewa dan menentang hubungan keduanya. Kebohongan yang di lakukan Rega dan Hani di dukung oleh Kulsum juga Helena. Keempat orang itu melakukan semuanya dengan tenang seolah semuanya benar.
Maria dan Gusna hanya meminta Rega untuk tetap menjaga Hani dan calon buah hati mereka. Cucu pertama di keluarga Gusna begitu juga Kulsum.
"aku senang mas, akhirnya kita bisa menikah bulan depan." Hani menyandarkan kepalanya di bahu Rega.
Saat ini keduanya tengah berada di kamar Hani. Sementara Kulsum dan Helena tengah berbincang dengan Maria dan Gusna di ruang keluarga.
"mas...kenapa diam saja?" Hani mengangkat wajahnya lalu menatap Rega dengan alis bertaut.
Rega menghembuskan nafas kasar. Hatinya belum sepenuhnya merasa tenang karena masih memikirkan soal Mawar. Hati terdalamnya masih sangat mencintai Mawar dan ia pun mengakui tak akan bisa ada wanita yang menggantikan posisi itu. Meski Hani sekalipun.
"Hani, kamu tahukan aku baru saja berpisah dengan istri ku." Ujar Rega.
__ADS_1
Hani langsung berwajah masam. Wanita itu membelakangi Rega, kesal dan marah tentu saja.
"sayang, mengertilah." Rega menyentuh pundaknya pelan.
Perlahan dia kecil bahu terbuka Hani karena memang bajunya yang nampak begitu terbuka. Bahu dan bahkan belahan dadanya terlihat jelas.
"Aku juga mencintaimu, sekarang aku milikmu." Bisik Rega.
Lagi-lagi Hani hanyut dalam rayuannya. Wanita itu tak bisa marah dan langsung berbalik menatap Rega. Dengan cepat dia mencium pria itu. Gila rasanya karena sudah beberapa hari tak melakukannya dengan Rega.
"jangan lakukan ini, bagaimana jika ayah atau ibu mu kemari?" Rega menahan tangan Hani yang mencoba membuka kancing kemeja nya.
Hani merenggut, ia sudah tak tahan. Dengan cepat Hani melangkah menuju pintu, menguncinya lalu bergegas mendekati Rega kembali.
Lagi-lagi semua karena nafsunya yang tak bisa terbendung. Hani dan Rega melakukannya tanpa berpikir sedang berada di mana mereka sekarang. Nafsu membuatnya lupa dan hanya memikirkan kenikmatannya saja.
Rega menelan ludahnya saat melihat Hani yang kini tengah berbaring dengan pasrah.
"apa mas ingin aku yang bergerak atau mas lakukan sendiri?" Tanya Hani sensual.
Rega tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia segera berbaring dan meminta Hani untuk naik keatas nya.
Sungguh keduanya terlalu memikirkan kenikmatan duniawi sampai lupa jika saat ini kedua orangtua mereka tengah menunggu di bawah.
"Biar aku panggil Hani dan Rega, Bu Kulsum tunggu disini sebentar." Maria segera naik keatas.
Hari sudah malam, Kulsum ingin segera kembali kerumah untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tapi, Rega dan Hani tak kunjung juga turun kebawah untuk bergabung dengan mereka.
Tok...Tok...
Maria mengetuk pintu kamar Hani dengan tak sabaran karena tak kunjung di buka. Sementara di dalam kamar, Rega dan Hani tengah kalang kabut merapihkan baju mereka. Rega bahkan sampai melupakan ****** ******** saking kagetnya dan buru-buru takut ketahuan oleh calon mertuanya.
...*********...
__ADS_1