Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 46


__ADS_3

Albion terus menggenggam tangan kanan Mawar sementara tangan satunya memegang setir. Hatinya terus berdebar merasakan kebahagiaan yang selama ini selalu di nantinya. Mawar kini telah menjadi miliknya dan hanya butuh beberapa bulan lagi untuk mendapatkan hati wanita itu seutuhnya.


Menikahi Mawar adalah impian Albion sedari dulu.


"Hari ini terimakasih sudah menemani ku seharian." Ujar Albion dengan senyum yang begitu lebar.


Mawar mengangguk lalu mencium pipi kiri Albion sekilas.


"Sampai jumpa lagi besok." Serunya sambil buru-buru keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumahnya.


Albion menyentuh pipinya, ciuman tiba-tiba itu sungguh mengejutkan. Rasanya tak percaya jika Mawar benar-benar menciumnya tanpa di minta.


"i love you, Mawar." Desisnya lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mawar.


Mawar tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Wanita itu memeluk Rena dan Ibnu bergantian. Mencium pipi keduanya lalu menarik tangan Rena, mengajaknya berputar beberapa kali.


"eh...eh... hentikan, kepala ibu pusing." Rena memukul lengan Mawar.


Ibnu pun langsung menahan tubuh Rena lalu membantunya untuk duduk di kursi.


"Kamu ini, ibu mu bisa pingsan karena pusing." Tegur Ibnu.


"hehehe...maaf Bu." Mawar memeluk Rena. "aku bahagia sekali." Serunya dengan wajah berseri.


Ibnu dan Rena saling melempar pandangan lalu tersenyum kecil kearah Mawar. Kedua nya bisa menebak apa yang membuat putrinya bahagia seperti ini.


"apa yang Albion lakukan sampai kamu bisa begitu bahagia?" Tanya ibnu.


Mawar mencebikkan bibirnya.


"kok ayah tahu sih, kalau Al yang buat aku bahagia."


"tentu saja, sayang. Kami pasti tahu apapun yang berhubungan denganmu." Rena mencubit pipi Mawar pelan. "ini...baju couple kan?"


"hum... Albion memilih untuk kami. bagus kan Bu?"


"tentu. oh...ya, besok temani ibu ke pesta reunian ya."


"reuni?"


"iya, teman-teman SMA ibu mengadakan reunian. ibu kangen mereka. Kamu ikut ya? teman-teman ibu juga akan membawa semua anaknya."

__ADS_1


"lalu ayah?" Mawar melihat Ibnu yang kini tengah memainkan ponselnya.


"ayah sibuk, kalian berdua saja." Tukas Ibnu tanpa melihat Mawar atau Rena. Matanya terus tertuju pada layar ponsel.


"baiklah. dimana Bu dan jam berapa?"


"Di hotel Alaska jam 10. Kita bisa ke salon dulu besok."


"ide bagus. ibu harus terlihat cantik." Mawar mengecup pipi Rena. "aku ke kamar dulu."


Rena menghela nafas panjang setelah kepergian Mawar. Matanya melirik suaminya lalu berkata dengan sangat pelan.


"Mas, mantan pacarmu juga pasti hadir."


Ibnu menghentikan jarinya yang tengah mengetik sesuatu lalu meletakkan ponselnya. Bibirnya tersenyum tipis.


"kenapa? jangan berpikir aku tak mau menemani mu karena ada wanita itu. aku benar-benar sibuk besok." Jelas Ibnu tak berbohong.


Lagi pula mereka sudah tua, tak sepantasnya mengurus segala sesuatu yang sudah menjadi masa lalu. Rena mengangguk mengerti. Tapi, pikirannya melayang pada saat zaman mereka sekolah. Kisah cinta Ibnu dan dirinya tak jauh berbeda dengan kisah Mawar dan Rega. Mereka berpacaran dari sejak SMA, bedanya kisah cinta mereka bertahan sampai sekarang.


Ibnu dulu sangat di gilai banyak teman wanitanya. Karena bukan hanya tampan tapi juga pintar. Hingga suatu hari datanglah murid baru di kelas mereka. Seorang wanita cantik juga pintar. Ibnu yang sudah menjalin cinta dengan Rena terpincut olehnya hingga berhubungan di belakang Rena.


Perselingkuhan itu terungkap, tapi Ibnu lebih memilih Rena. Dan sampai sekarang pria itu tak pernah lagi mengulang kesalahan yang sama karena tak ingin kehilangan Rena.


"kalau begitu jangan hadir."


"tidak, aku akan hadir dengan mengajak Mawar. aku ingin lihat, seperti apa Maria sekarang. Seperti apa putrinya dan bagaimana kehidupannya saat ini."


Ibnu menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran wanita yang menurut nya sangat rumit.


...****************...


Rega melihat ponselnya lalu mendengus keras saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Hani belum kembali juga dan nomornya masih belum aktif. Pria itu dengan kesal turun dari kasurnya.


"Kemana wanita itu, merepotkan saja. pergi tak bilang dan sampai malam seperti ini belum juga pulang." Gerutunya.


Langkahnya terburu-buru menuju luar. Sepertinya Rega harus mencari Hani, dia tak ingin wanita itu kenapa-kenapa karena bayi di dalam kandungannya bisa ikut terluka.


Kulsum yang baru akan memasuki kamarnya langsung mengikuti Rega begitu melihat putranya nampak tergesa-gesa berjalan kearah luar rumah.


Hanya memperhatikan saja, tak bertanya ataupun menegurnya. Melihat wajahnya yang nampak kesal saja sudah bisa membuat Kulsum menebaknya jika Rega pasti tengah dalam mood yang buruk.

__ADS_1


"pasti Hani belum kembali." Tebaknya.


Deru mesin mobil pun terdengar, Rega telah pergi dengan mengendarai mobilnya. Kulsum pun kembali kedalam.


"Kenapa Bu? Rega terlihat kesal?" Tanya Helena yang juga telah memperhatikan Rega sama seperti dirinya.


"tak tahu. sudahlah, ibu mau tidur. gara-gara istri Rega yang manja badan ibu jadi sakit semua." Keluh nya.


Helena mengendikkan bahunya tak peduli. Meski tahu jika kalimat yang di katanya ibunya adalah kode agar dirinya mau memijat tubuh tuanya. Helena terlalu malas untuk melakukan itu semua. Tahu jika sang ibu mengerjakan semua pekerjaan rumah, wanita berusia 30 lebih itu tak peduli sama sekali. Dia malah masuk kedalam kamarnya tanpa menghiraukan gerutuan Kulsum.


"anak dan mantu sama saja, sama-sama pemalas." Kulsum membanting pintu kamarnya lalu mengunci dari dalam.


Merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sangat hati-hati karena pinggangnya yang terasa mau patah. Wanita tua itu meringis saat ingat waktu Mawar masih menjadi menantunya. Wanita cantik itu selalu memijatnya bahkan tak membiarkan Kulsum memegang sapu sekali pun.


Sedang sakit saja Mawar masih bisa mengurus segalanya. Tapi, Hani jauh sekali berbeda. Wanita itu memang mengerjakan semuanya tapi selalu di akhiri dengan gerutuan. Masakannya pun tak seenak masakan Mawar. Mengingat itu semua membuatnya sedikit menyesal karena telah membiarkan Mawar dan Rega berpisah.


Sementara itu, Rega terus menyusuri jalanan. Dia pikir siapa tahu Hani ada di jalan atau di taman. Tapi, setelah setengah jam mencari hasilnya sia-sia. Hingga pada akhirnya Rega teringat dengan rumah Hani. Mereka sudah lama tak kesana, mungkin saja Hani pulang kerumah itu.


Dengan cepat Rega pun memacu mobilnya. Sangat yakin jika Hani pasti ada di rumahnya saat ini.


Hani menghembuskan nafas kasar. Rumahnya sangat kotor karena memang terlalu lama di tinggalkan. Begitu menikah dengan Rega, Hani memang baru kali ini menginjakkan kakinya lagi di rumah hasil kerja keras nya ini.


Rumah ini tak terlalu besar tapi cukup nyaman. Setelah seharian membersihkan akhirnya dia bisa juga beristirahat. Memesan makanan via online karena merasa lapar.


"Nak, sabar ya. sebentar lagi makanannya pasti datang." Tangannya mengelus perut nya yang kini sudah mulai sedikit terlihat.


Tok...Tok...


Hani langsung beranjak dari duduknya, tak sabar ingin segera makan karena dari siang perutnya belum di isi. Sebelum itu dia mengambil uangnya untuk membayar pesanan nya.


Ceklek...


Pintu terbuka. Hani langsung menyodorkan uangnya begitu saja tanpa melihat siapa yang datang.


"semuanya jadi 45 ribu kan?" Tangan Hani menggantung di udara. "mas Rega?"


Rega tanpa mengatakan apapun langsung menerobos masuk kedalam. Melewati Hani yang masih berdiri di depan pintu.


" Kenapa kamu tak mengangkat telpon?" Tanya Rega.


"untuk apa? mas dan ibu mau memintaku bersekongkol buat membohongi mamih dan Papih?"

__ADS_1


Pertanyaan Hani membuat Rega yang akan mendudukkan tubuhnya di kursi langsung kembali berdiri. Pria itu menatap Hani dengan wajah kakunya.


...****************...


__ADS_2