Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 31


__ADS_3

Raja dan Bagas masuk kedalam cafe kembali begitu melihat Albion keluar. Mereka hanya diam saat melihat Mawar yang nampak tak bersemangat lagi untuk berbicara. Akhirnya Bagas pun menyarankan untuk pulang saja dan mengatur waktu kembali untuk bertemu.


"Lain kali saja aku mengatakannya karena ku rasa setelah di pikir-pikir ini tak penting." Ujarnya.


Mawar pun hanya mengangguk. Semua pikirannya kini telah di penuhi oleh pria bernama Albion. Dalam hidupnya tak pernah dia bayangkan akan bertemu lagi dengannya.


Dulu dia terlalu banyak menyakiti pria itu. Bahkan Mawar masih ingat ekspresi wajah kecewa Albion ketika dirinya menolak cintanya. Wajah itu begitu sedih dengan sorot mata yang sendu di balik kacamata tebalnya. Mawar memang tak pernah memiliki rasa apapun terhadap Albion saat di SMA dulu, karena dia hanya menganggapnya sebagai teman kelas saja.


Tapi, kenapa saat di cafe tadi hatinya begitu bergemuruh kala tangan kekar Albion menyentuh tubuhnya. Bahkan Mawar merasa jika aura yang di pancarkan Albion tadi sungguh mendominasi. Berbeda sekali dengan Albion yang dulu.


Sepanjang perjalanan pulang, Mawar sungguh tak bisa konsentrasi menyetir.


"Albion, kenapa aku merasakan perasaan aneh seperti ini sekarang." Mawar menepikan mobilnya, terlalu berbahaya jika di paksakan menyetir dalam keadaan tak konsen.


Mawar menghela nafas panjang. Ia memilih untuk merefresh otaknya dengan berbelanja sekarang. Kebetulan sekali, mobilnya terparkir tepat di depan sebuah toko baju. Dengan cepat dia pun keluar.


Keningnya mengerut saat langkahnya malah membawa dirinya kesebuah toko perlengkapan untuk prewed. Jelas di sana tertulis jasa prewed. Tapi Mawar malah ingin masuk kedalam seolah ada magnet yang menariknya.


Di dalam, dua sejoli yang tengah bersemangat melihat-lihat konsep untuk prewed untuk mereka.


"aku mau konsep putri kerajaan. Baju yang ku kenakan harus persis seperti Cinderella."


"terserah kamu saja, aku hanya ikut."


Langkah Mawar langsung terhenti ketika mendengar suara Rega. Dia menelan ludahnya begitu melihat keberadaan Rega bersama selingkuhannya atau calon istri barunya.


"aku tunggu di..." Rega terkejut ketika berbalik tepat di belakangnya berdiri Mawar.


Serasa mimpi baginya, hal yang paling di harapkan kini hadir tanpa di minta. Mawar mundur perlahan lalu segera kabur dari hadapan Rega. Rasanya tak sanggup melihat mantan suaminya saat ini.


"Mawar tunggu." Rega mencekal lengan Mawar.


Kedua berdiri tepat di pintu masuk. Mawar menundukkan kepalanya, ia tak ingin matanya yang kini berembun di lihat pria itu. Hani pun langsung berdiri saat mengetahui ada Mawar. Ia bergegas mendekati keduanya dengan wajah tak suka.


"Mbak Mawar? kenapa ada disini? apa Mbak juga akan menikah lagi?" Tanya Hani dengan nada mengejek. Matanya berpendar seolah mencari sesuatu. "dimana calon prianya?"


Rega yang mendengar itu merasa panas. Tak rela jika Mawar di miliki pria lain. Dengan kasar dia menarik tubuh kecil itu keluar, Hani pun ikut dengan kesal. Melihat Rega yang terus memegang tangan Mawar.

__ADS_1


"jadi...kamu sudah mendapatkan pengganti ku? huh...cepat sekali. bagaimana bisa kamu melakukan itu, padahal kita belum lama bercerai?"


Mawar dengan cepat menarik tangannya.


"kenapa bertanya begitu, mas sendiri sudah menghamili seseorang di saat pernikahan kita masih berjalan." Desis Mawar, matanya melirik Hani.


Hani yang merasa tersindir langsung menatap Mawar tak terima.


"Sayang, mas mohon. kita rujuk kembali. mas masih..."


"apaan sih mas, kita akan segera menikah." Sentak Hani menarik tangan Rega hingga pria itu mendekat kearahnya.


Rega menelan ludahnya tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Di hati kecilnya dia masih mengharapkan cinta dari mantan istrinya tapi di sisi lain dia juga tak bisa membatalkan pernikahannya dengan Hani.


Mawar tertawa getir melihat sikap Rega yang begitu pengecut.


"aku tak habis pikir, kenapa dulu begitu mencintai pria seperti mu. mas...kamu sangat pengecut." Desisnya. "kamu ambil saja, aku tak membutuhkan pria sepertinya."


Hani langsung menarik Rega menjauh dari Mawar. Tangannya mengepal kuat mendapatkan penghinaan itu. Ia pikir Mawar akan terpuruk karena Rega kini menjadi miliknya tapi nyatanya wanita itu nampak baik-baik saja.


Mawar kembali masuk kedalam mobil. Sungguh harinya sangat kacau sekarang. Airmata yang di tahannya sedari tadi pun luruh, ia menangis keras di dalam mobil. Sungguh pertemuannya dengan Rega membuka lukanya kembali. Apalagi mengetahui pria itu nampak bersemangat menyambut pernikahan keduanya.


Albion menjabat tangan Gusna. Kerjasama yang sudah di jalin selama 15 tahun ini membuat keduanya setidaknya sedikit lebih dekat. Pria tua itu sangat jujur juga tak pernah mengecewakan Albion.


Sebenarnya Albion tak enak jika harus memanfaatkannya untuk menjadikannya sebagai alas membalas dendam terhadap Rega. Tapi, hanya ini jalan satu-satunya. Gusna akan menjadi batu loncatan yang sangat pas baginya.


"Terimakasih Pak Gusna. lain kali kita bisa makan bersama lagi."


"Iya. Saya sungguh kagum terhadap anda Pak Albion. Masih muda, bersemangat dan sukses di usia muda. ah...iya saya hampir lupa." Gusna mengeluarkan surat undangan dari saku jasnya.


"apa ini?"


"putriku akan menikah dan saya harap anda bisa hadir."


"baiklah, saya janji akan hadir."


Setelahnya kedua pria berbeda usia itu pun berpisah. Albion menatap surat undangan itu, tanggal dan bulannya tertera di sana. Masih ada waktu untuk membujuk Mawar agar ikut dengannya. Pernikahan Rega akan di adakan tiga minggu lagi, itu artinya bulan depan.

__ADS_1


"Hendrik, buatkan gaun dan jas dengan warna senada. Harus siap dalam tiga minggu ini." Perintahnya pada sang asisten kepercayaan.


"iya Pak. tapi..gaun nya?" Kening Hendrik mengerut karena setahunya Albion tak pernah dekat dengan wanita manapun.


Albion tersenyum lalu menuliskan sesuatu di sebuah kertas dan memberikannya pada Hendrik. Hanya dengan membayangkannya saja Albion sudah bisa menebak ukuran yang pas untuk Mawar.


"ini untuk gaunnya dan untukku sang penjahit sudah tahu jelas."


"baik Pak."


Hendrik pun segera menemui desainer khusus yang memang sering di andalkan Albion jika ada acara-acara penting.


"Hanya tinggal menunggu waktu itu tiba." Albion tersenyum miring.


...**************...


Rega menghempaskan tubuhnya di kursi dengan tampang lelah. Seharian menemani Hani berkeliling mencari keperluan buat menikah. Yang membuatnya tampang pusing karena wanita itu tak ingin barang-barang murah, bahkan gaun pengantin yang di inginkannya berkisar 25 juta keatas. Sungguh Hani tak ingin terlihat buruk nanti di hari bahagianya.


Meski semua biaya di tanggung oleh keluarga Hani tapi tetap saja Rega tak mungkin hanya diam. Ia tak ingin di pandang remeh oleh calon mertuanya, makanya dia pun berusaha ikut andil yang memang seharusnya semau biaya pernikahan itu dia yang bertanggung jawab.


"kamu bodoh, Ga." Kulsum berbicara dengan kesal saat tahu jika Rega telah menghabiskan uang lebih dari 50 juta tadi siang.


Itu tabungan untuk masa tua Rega dan sekarang habis terkuras. Kulsum berulang kali mendesah keras.


"Seharusnya kamu tak perlu menawarkan diri untuk membantu. Kan sudah jelas, orangtua Hani itu kaya. Mereka sukarela menanggung semua biaya pesta pernikahan kalian nanti. sok-sokan kamu nawarin buat nambahin." Gerutu Kulsum.


"sudahlah Bu, jangan buat Rega tambah pusing. Bapak belum pulang juga, seharusnya Bapak bujuk ibu dong. masa Rega nikah tanpa ada Bapak." Rega memijat pelipisnya yang berdenyut.


Pikirannya sungguh kacau sekarang, banyak sekali yang dia pikirkan. Soal Mawar, Hani di tambah lagi dengan Marja yang sampai sekarang belum juga kembali.


"Iya, nanti ibu hubungi Bapak mu. sekarang mana jatah ibu, besok ada arisan." Kulsum mengulurkan tangannya.


Rega berdecak. Meski begitu ia tetap merogoh sakunya dan memberikan uang tiga lembar kepada Kulsum.


"Kok cuma segini Ga. Sendal ibu sudah jelek, harus ganti."


"nanti saja Bu. besok pakai yang ada dulu." Sungguh Rega pusing sekarang, ia pun memilih untuk masuk kedalam kamarnya meninggalkan Kulsum yang menggerutu.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2