
Mawar tak menyangka jika rumah orangtua Albion sangatlah besar juga memiliki banyak ART. Dulu, Albion tak pernah terlihat seperti anak orang kaya. Pergi sekolah hanya selalu naik angkutan umum, tampilannya biasa saja. Bahkan Albion selalu di ejek miskin karena sepatu yang di kenakan nya nampak jelek tak bermerk.
Dengan ragu Mawar keluar dari mobil, matanya terus tertuju kedepan.
"ini rumah ibumu?" Tanyanya seolah tak percaya.
Albion tersenyum lalu menggandeng tangan Mawar. Pria itu lalu meminta salah satu satpam nya untuk mengambil barang bawaan mereka di dalam mobil. Mawar hanya diam melihat bagaimana keempat satpam di depan pintu masuk tadi membungkuk hormat pada Albion lalu bergegas melakukan apa yang di perintahkan pria itu.
"Kenapa bengong sih, ayo masuk?"
"ah...iya." Mawar langsung mengikuti langkah Albion.
Begitu masuk kedalam, seorang wanita berpakaian kebaya tengah berdiri di ambang pintu. Senyumnya merekah lalu memeluk Albion. Mawar memperhatikan wanita itu, meski sudah berumur tapi wajahnya masih sangat cantik dan begitu terurus.
"Bu, ini Mawar." Albion menggandeng wanita tersebut, lalu memperkenalkannya pada Mawar. "Ini ibuku."
"Ah...se.. selamat siang Bu." Mawar canggung di tatap begitu intens oleh ibu Albion.
Matanya menyorot tajam dan tak ada senyum sama sekali di bibirnya. Mawar menelan ludahnya, dia berpikir jika ibu Albion lebih menyeramkan di banding mantan mertuanya dulu. Apa dia akan kembali di uji dengan mertua yang tak menerimanya. Sungguh Mawar menjadi takut saat memikirkan itu.
"Mawar? siapa nya kamu?" Tanya Ameena pada Albion.
"pacarku Bu." Jawab Albion. "kami saling mencintai."
Mawar melirik Albion ragu. Menunggu reaksi Ameena seperti apa. Wanita tua berkebaya marun itu tiba-tiba tersenyum lalu memeluk tubuh Mawar. Membuat Mawar langsung mengedipkan matanya berulangkali sementara Albion tersenyum lega.
Wajah jutek Ameena berubah menjadi sangat ramah juga terlihat sangat cantik. Wanita itu menggandeng tangan Mawar, mengajaknya masuk kedalam.
"berapa usiamu? kamu terlihat masih muda."
"itu...aku seusia dengan Albion. kami sekelas waktu SMA dulu."
"oh.. benarkah?" Ameena menatap Mawar tak percaya. Melihat Albion yang hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ameena tak mengira jika Mawar dan Albion seumuran. Wajahnya keduanya nampak jauh berbeda. Mawar terlihat masih sangat muda, mungkin sekitar 20 an sementara Albion putranya nampak dewasa. Memang sesuai dengan usianya. Itu artinya Mawar memiliki wajah yang awet muda.
"Tapi kenapa kalian terlihat berbeda jauh."
Mawar hanya tersenyum kecil sementara Albion langsung duduk di samping ibunya.
"maksud ibu, aku terlihat tua? begitu?" Tanyanya.
Ameena mencubit lengan Albion lalu tersenyum kearah Mawar.
"hampir lupa, tadi kami mampir di toko kue. aku harap, Tante suka." Mawar menyodorkan kue yang di belinya ke arah Ameena.
"wahh...tentu saja. bolu gulung kesukaan Tante." Ameena mengambilnya dengan senang.
"sudah berapa lama kalian berpacaran?" Tanya Ameena lagi. Menatap keduanya bergantian.
"baru beberapa bulan. kami belum lama bersama Tante." Jelas Mawar.
"iya, tapi kami serius dan ingin segera menikah." Sambung Albion. Tak hanya membuat Ameena kaget, Mawar pun terkejut mendengarnya.
"jangan bermain-main dengan pernikahan Al." Ameena menatap Albion. "apa orangtua Mawar sudah setuju? lalu apa Mawar siap menjadi seorang ibu rumah tangga?"
Mawar dan Albion saling melempar pandangan. Dengan ragu Mawar pun mengatakan semuanya. Dia tak ingin ibu Albion kecewa nantinya, lebih baik mengatakan kebenaran di awal dari pada harus terbongkar di akhir.
"se.. sebenarnya..aku.." Mawar menelan ludahnya gugup. Takut apa yang akan dia katakan nanti membuat Ameena kecewa.
Albion tahu dengan apa yang di pikirkan Mawar. Pria itu beranjak dari duduknya lalu mendekati Mawar, ia genggam tangan Mawar yang kini berkeringat dingin. Dengan tatapan matanya ia memberi isyarat pada Mawar untuk tetap tenang.
"ada apa? kamu mau mengatakan apa nak?"
"ibu, Mawar pernah menikah sebelumnya." Ujar Albion. Genggaman tangannya semakin mengerat, Mawar pun menunduk dengan pikirannya yang kalut.
Cukup lama Ameena terdiam. Wanita itu hanya menatap keduanya bergantian lalu menghela nafas panjang.
__ADS_1
...***************...
Kulsum langsung mendelik tajam saat Rega memberi tahunya bahwa Hani sekarang berada di dalam ruang tindakkan. Bayinya tak selamat karena mengalami benturan yang cukup keras. Pendarahan yang hebat pun membuat Hani kehilangan banyak darah, sehingga harus mendapatkan perawatan medis yang lebih intensif.
"Kamu bagaimana sih? Helena saja belum keluar dari rumah sakit. kakak mu keguguran dan baru saja di operasi. biayanya belum terbayar sedikitpun dan sekarang Hani pun harus mengalami hal yang sama."
"apa maksudnya? bagaimana bisa Mbak Helen..."
"seseorang menghamilinya." Potong Kulsum cepat tak ingin mendapatkan pertanyaan lagi dari Rega. "ibu tak mau tahu, kamu urus biaya operasi Mbak mu. soal Hani, kamu beritahu saja orangtuanya."
Rega menatap ibunya tak percaya.
"Hani tanggung jawab ku juga Bu. bagaimana bisa ibu berkata begitu? dia menantu ibu."
Kulsum berdecih kesal. Dia mungkin pernah menerima Hani dulu tapi di saat dia bisa di andalkan. Sekarang Hani tak bisa di andalkan sama sekali. Untuk apa memperdulikannya. Bagi Kulsum bersikap baik pada orang yang tak menguntungkan hanya buang-buang tenaganya.
"ya sudah, kamu urus biaya keduanya. ibu mau pulang. Mbak mu sudah di pindahkan keruangan. jaga dia." Setelah mengatakan dimana ruangan Helena, Kulsum pun pergi dengan begitu tega.
Tak memperdulikan Rega yang tengah kelimpungan. Di harus menunggu Hani tapi Helena juga sangat penting baginya. Di tambah lagi, uang dari mana untuk membayar semuanya. Uang tabungannya hanya tinggal sedikit, untuk melunasi biaya Helena saja tak cukup lalu bagaimana dengan Hani.
Di dalam kekalutannya Rega pun hanya bisa melakukan satu cara. Ia akan meminta Mawar untuk bertemu dengannya, mungkin meminta sedikit uang padanya. Lagipula Rega dulu pernah memberikan uang mahar pada wanita itu, memintanya kembali mungkin tak akan masalah. Karena uang itu murni Rega yang mencarinya dulu.
...***************...
"jadi kamu seorang janda?" Pertanyaan Ameena membuat jantung Mawar berdetak tak karuan.
Seorang wanita yang telah menikah tak pernah di pandang baik oleh masyarakat. Bagaimana jika Ameena pun memiliki pendapat yang sama dengan orang-orang itu. Lalu, apa hubungannya dengan Albion harus kandas begitu saja.
"I...iya. aku dan mantanku bercerai karena beberapa hal."
Ameena melihat tangan Albion dan Mawar yang bertautan. Senyumnya samar tapi dia tak menunjukkannya pada Mawar ataupun Albion.
"ekhemm...aku akan banyak bertanya karena bagaimanapun aku seorang ibu. menginginkan yang terbaik untuk putraku."
__ADS_1
Mawar mengangguk. Apapun keputusan wanita itu, ia akan menerimanya. Lagipula cinta itu tak harus saling bersama.
...*****************...