
"jadi...kamu tahu kalau pesta itu..."
"iya Mawar. maafkan aku. aku sengaja tak memberitahu mu karena pasti kamu akan menolak datang." Jelas Albion.
Mawar menghela nafas panjang. Merasa sedikit kecewa dengan apa yang di lakukan Albion. Tapi, wanita yang kini berpenampilan sangat cantik itu hanya bisa meredam rasa kesalnya saja. Lagipula semuanya sudah terjadi.
Pernikahan Rega kacau dan Mawar yakin pasti Hani akan menyalahkannya nanti, namun Mawar tak peduli dengan itu. Lagipula pernikahan itu tak bisa di katakan sah karena surat cerai resmi mereka akan keluar sore ini. Betapa tak sabarnya Rega dan Hani menikah sampai melupakan hal penting seperti ini.
"Bibir mu terluka." Mawar mengambil sapu tangan dari dalam tas kecilnya lalu menghapus noda darah di sudut bibir Albion.
Albion tersenyum mendapatkan perhatian itu.
"Kamu tak marah?" Tanyanya.
"untuk apa aku marah. kita pulang saja."
Albion pun segera melajukan mobilnya. Pria itu menjadi tenang sekarang karena Mawar tak marah dengannya.
Di sisi lain, Rega dan Hani tengah dalam posisi tak menguntungkan. Keduanya tertunduk di hadapan Gusna yang tengah marah besar. Pria tua itu tak mengira jika menantu dan putrinya bersekongkol membohongi dirinya. Gusna sungguh merasa bodoh karena percaya begitu saja. Jika tahu Rega pernah menikah dan bercerai karena putrinya, sudah di pastikan dirinya tak akan pernah menyetujui hubungan tak sehat ini.
"jadi...kamu hamil dan Rega pun menceraikan istrinya begitu?" Tanya Gusna penuh penekanan.
Hani mencengkram lengan Rega erat. Dia takut sekali. Rega pun mengelus lengan Hani lalu mencoba untuk menjelaskan semuanya.
"Maafkan aku, tapi...semua di luar kendali ku. Aku dan Hani berhubungan terlalu jauh sehingga terjadi hal seperti ini."
Gusna mengepalkan tangannya. Tak terima dengan apa yang telah di lakukan Rega terhadap keluarganya.
"Kapan kamu dan istrimu bercerai?" Tanya Gusna mencoba meredam emosinya. Bagaimana juga pernikahan sudah terjadi dan tak mungkin di batalkan.
"baru saja dan surat cerai kami pun baru akan keluar sore ini." Jawab Rega dengan kepala tertunduk.
"apa? itu artinya kalian menikah tak resmi? bagaimana bisa? Hani kamu terlalu banyak membohongi Papih. pantas saja aku tak melihat buku nikah kalian. bodoh sekali." Gusna merasa semakin tak berdaya.
Jika saja dia tak terlalu mempercayai Rega dan Hani maka hal seperti ini tak mungkin terjadi. Saat ijab kabul Gusna tak terlalu memperhatikan itu karena banyak sekali rekan bisnisnya yang datang. Terlalu sibuk dengan urusan-urusan pentingnya menjadi Gusna tak sadar jika tadi kedua orang itu tak berfoto dengan buku nikahnya.
Maria hanya bisa menangis pelan di samping Gusna. Dia tak menyangka putri yang di besarkan dengan penuh kasih sayang itu telah tumbuh dengan sangat buruk. Dia merusak kebahagiaan wanita lain demi kepuasannya.
Sementara Kulsum, wanita tua itu memiliki untuk pulang. Dia tak ingin mendapatkan kemarahan dari besannya.
"Dengar Hani, Papih kecewa denganmu. jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah Papih lagi." Ujarnya dengan tegas.
Hani terbelalak kaget mendengarnya, itu artinya dia telah di usir. Dengan cepat Hani berlutut di kaki Gusna, menangis sangat kencang meminta ampun. Dia tak bisa menerima itu semuanya.
Rega pun sama terkejutnya. Menatap mertuanya tak percaya.
"jangan usir aku, Pih. mamih..." Hani melihat Maria tapi sang ibu malah membuang pandangannya.
...*************...
__ADS_1
Mawar menghempaskan tubuhnya ke sofa, rasanya lelah sekali. Bukan fisiknya tapi mental. Dia sudah berusaha untuk menghindari pertemuan dengan Rega, tapi justru Albion malah menyeretnya. Bahkan karena kehadirannya acara pernikahan Rega dan Hani pun harus berantakan.
"Tapi...itu memang pantas untuk mereka." Desis Mawar merasa jika apa yang terjadi bukanlah sepenuhnya salah dirinya.
Lagipula surat cerai mereka juga baru resmi akan keluar sore nanti. Itu artinya Rega dan Hani telah menikah secara ilegal. Pasti kedua orang itu melakukan hal licik sehingga pernikahannya bisa di gelar.
"Mawar, kamu sudah kembali?" Rena menuruni tangga dengan cepat saat melihat Mawar duduk di sofa.
"iya Bu." Mawar menegakkan tubuhnya. "Ibu tahu, Albion ternyata mengajakku ke pernikahan mas Rega."
"apa?" Rena langsung duduk di samping Mawar. "kamu...tidak apa-apa?" Tanyanya dengan hati-hati.
Mawar menggelengkan kepalanya.
"aku baik kok. lagipula aku sudah tak peduli lagi dengannya. mau menikah dengan siapapun bukan urusan ku."
Jawaban Mawar membuat Rena tersenyum lega.
Mawar pun menceritakan kejadian di pesta tadi. Rena yang mendengarnya merasa puas, ia berharap semoga Rega mendapatkan masalah yang besar.
Tring...
Ponsel Mawar berdering. Nomor baru tertera di layarnya.
"siapa Mawar?"
"tidak tahu. nomor baru."
Mawar pun segera mengangkat telponnya. Ponsel berwarna pink itu ia tempelkan di telinga kirinya. Keningnya mengeryit mendengar suara yang amat ia kenal.
"untuk apa menghubungiku?" Tanya Mawar dingin.
Rena terus memperhatikan dengan cemas. Melihat raut wajah Mawar yang berubah tak bersahabat membuatnya cemas. Tangannya perlahan diangkat, mengelus punggung Mawar pelan.
Trak..
Mawar meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. Kesal dan sangat marah terlihat jelas di wajahnya.
"ada apa? siapa yang menghubungimu?" Tanya Rena.
Mawar menghembuskan nafas kasar.
"Hani, wanita itu memaki bahkan mengatakan aku tak tahu malu."
"apa? berani sekali dia berkata seperti itu."
"aku akan berganti baju dulu." Mawar beranjak dari duduknya lalu segera masuk kedalam kamar.
Di tempat lain, Hani nampak kesal karena orang yang di telponnya sama sekali tak merasa takut dengan kemarahannya. Wanita yang masih memakai gaun pengantin itu melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan marah.
__ADS_1
Saat ini Hani dan Rega sudah pulang. Karena Gusna mengusirnya, terpaksa Hani pun harus tinggal di rumah Rega. Terlebih lagi Kulsum meminta mereka memang untuk tinggal di rumah ini. Wanita itu tak ingin di tinggalkan Rega.
"Ada apa?" Tanya Rega.
"keterlaluan sekali, mantan istri mu itu pasti sengaja datang untuk mengacaukan segalanya. aku tak akan pernah memaafkan dia."
Rega terdiam. Sebenarnya dia merasa jika semua masalah ini terjadi karena ulahnya juga. Jika saja dia tadi tak menghampiri Mawar maka hal ini tak akan terjadi. Mertuanya pun tak akan marah.
"Sudahlah, lagipula semua sudah terjadi. Ganti baju mu, aku akan keluar." Ujar Rega yang telah mengganti bajunya sedari tadi.
Kulsum dan Helena melihat Rega yang nampak lesu.
"Rega, kamu dan Hani tak di marahi oleh mertua mu kan?" Tanya Kulsum.
Helena hanya diam, mencoba mendengarkan saja. Lagipula, percuma berbicara juga karena hanya akan menambah masalah saja.
"Lebih dari itu Bu. Hani di usir orangtuanya dan kami tak di izinkan untuk mengunjungi atau menginjak rumah mereka."
Kulsum terkejut tapi wanita tua itu berusaha bersikap tenang. Lagipula baginya orangtua Hani tak penting yang terpenting adalah Hani sudah menjadi menantunya. Maka ekonomi keluarga ini akan terbantu dengan kehadiran Hani.
"Pelan-pelan kamu lakukan pendekatan dengan mereka. Dan..Hani tak berhenti bekerja bukan?"
"maksud ibu?"
"begini, Hani kan hamil tapi dia tak berhenti bekerja bukan?"
Rega menghembuskan nafas kasar. Tahu sekali kemana arah pembicaraan ibunya. Kulsum begitu menginginkan menantu yang bekerja.
"Hani tak akan berhenti Bu. tapi..jika kandungannya semakin besar dan melahirkan, mau tak mau Hani pasti berhenti."
"tidak boleh." Seru Kulsum dengan keras.
Rega dan Helena sampai terkejut dibuatnya.
"kan ada ibu dan mbak mu yang bisa menjaga anak kalian nanti." Lanjutnya.
"mas..."
Rega yang hendak membalas ucapan ibunya langsung menutup mulutnya. Ia tersenyum melihat Hani yang sudah selesai berganti pakaian.
"Hani, kamu baik-baik saja kan? Rega sudah menceritakan semuanya. kamu tenang saja, ada ibu dan mbak Helena juga Rega." Kulsum dengan cepat menarik Hani untuk duduk di sampingnya.
Helena masih terdiam. Matanya memperhatikan setiap gerakan Kulsum. Entah kenapa, dia merasa jika perbuatan Kulsum terlihat sangat berlebihan. Dulu saja, ibunya itu tak pernah bersikap begitu baik kepada Mawar. Bahkan hanya ada cacian dan juga tatapan sinis yang terlontar kepada Mawar. Berbeda sekali dengan Hani, ia begitu di sambut baik oleh Kulsum.
Helaan nafas berat Helena membuat semuanya menoleh kepadanya.
"Bu, elen masuk kamar dulu." Ujarnya.
Kulsum sama sekali tak peduli dengan Helena. Saat ini dia hanya mementingkan Hani. Karena baginya Hani adalah tambang emas yang harus di jaga dengan baik.
__ADS_1
...*************...