
Helena panik begitu melihat kekamar Rega. Wanita itu langsung berteriak meminta tolong. Rega masih terbaring di lantai, dia tak pingsan. Hanya saja tubuhnya terasa tak bertulang sehingga tak ada kekuatan untuk bangun. Matanya menatap langit-langit kamar dengan sendu. Semua salahnya, jika saja dia bisa menahan nafsunya maka hal buruk ini tak akan terjadi.
"Rega, ayo bangun. keningmu terluka. apa yang Mawar lakukan padamu?" Tanya Helena tak habis pikir jika istri dari adiknya yang terlihat lemah itu bisa menganiaya Rega sampai seperti ini.
"aaww...pelan mbak. ini sakit." Keluh Rega saat Helena mencoba membersihkan darahnya.
Kulsum pun segera mengambil perban dan obat luka. Dia cemas melihat keadaan Rega. Berbeda dengan Marja, pria itu hanya tersenyum kecil. Baginya itu masih belum cukup. Rega pantas mendapatkannya.
"Kamu susul Mawar, elen." Pinta Kulsum. "beraninya dia membuat putraku seperti ini. kita laporkan dia."
Helena menghentikan tangannya yang sedang mengoleskan obat luka di kening Rega.
"ibu, semua salah Rega juga. apa ibu tak ingat saat aku memukuli mantanku dulu? bahkan ibu ikut menampar wajahnya." Ingat Helena.
Kulsum langsung membuang pandangannya. Dia memang sangat marah waktu itu, mengetahui calon suami dari putrinya berselingkuh. Dengan emosi yang tak bisa di tahan, Kulsum menampar wajahnya begitu keras. Tapi sekarang, dia seolah lupa dengan kejadian itu. Melihat Rega seperti ini rasanya tak terima, meski tahu semua salah putranya juga.
Rega bangkit dari duduknya. Dia harus segera menyusul Mawar. Jangan sampai Mawar mengadu kepada kedua orangtuanya. Bisa gawat, posisinya sebagai seorang suami akan terancam.
"aku akan menyusul mawar." Serunya.
"tapi kamu terluka Rega." Cegah Helena.
"aku takut Mawar..."
"mengadu pada ibu dan ayahnya? kamu takut mereka memintamu menceraikannya?" Sela Marja. "kenapa baru sekarang kamu berpikir seperti itu?"
"aku khilaf." Cicit Rega menyangkal segala perbuatannya.
"tak ada kata khilaf, Rega." Timpal Helena. "jika kamu menikmati semuanya."
Rega terdiam. Ucapan Helena memang benar, dia menikmati segala kebersamaannya dengan Hani. Dia jadi teringat dengan wanita itu yang kini tengah mengandung anaknya.
"Bu, sebenarnya..." Rega ragu untuk mengakui semuanya.
"apa?" Kulsum menatap Rega.
"Hani hamil." Cicitnya dengan kepala tertunduk.
Marja dan Kulsum hampir saja tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya mendengar pengakuan Rega. Bagaimana bisa Rega berbuat hal yang begitu tak bisa di maafkan. Dia berselingkuh dan parahnya menghamili wanita lain. Bagaimana mereka nanti membujuk Mawar untuk tetap mempertahankan rumah tangga yang baru berjalan kurang lebih dua bulan ini.
Helena pun langsung terpaku. Dia tak menyangka sama sekali jika Rega bisa berbuat jauh lebih buruk.
"Lalu... bagaimana caranya kamu mempertahankan Mawar?" Tanya Helena.
Rega menelan ludahnya. Dia tahu, pasti akan sulit membujuk Mawar untuk tetap bertahan di sisinya. Tapi, dia tak akan menyerah begitu saja. Mawar adalah cintanya. Mawar adalah segalanya, dia bisa menikahi Hani tapi tetap menomor satukan Mawar dalam kehidupannya. Rega yakin akan itu.
"Itu urusanku. aku akan menyusulnya sekarang." Rega langsung pergi tanpa memikirkan keadaannya yang sangat berantakan.
Keningnya masih mengeluarkan darah karena lukanya cukup dalam. Tapi, dia tak peduli. Bahkan rasa sakitnya di abaikan begitu saja. Saat ini didalam pikirannya hanya satu, menyusul Mawar dan meminta maaf padanya. Rega akan pertahankan rumah tangganya.
Kulsum masih belum bisa berkata apa-apa, ia terlalu shock. Tubuhnya lemas tak berdaya menghadapi kenyataan yang ada.
"Kenapa dia berani berbuat hal menjijikan seperti itu." Desis Marja. "ibu pasti senang karena pada akhirnya Rega dan Mawar pasti akan berpisah."
Helena memeluk sang ibu. "kenapa Bapak bicara begitu. Ibu juga terkejut dengan apa yang terjadi, jangan pojokkan ibu." Belanya.
__ADS_1
Baginya sang ibu sangat berarti. Meski Helena selalu di bandingkan dengan Rega, di anggap tak berguna tapi dia tahu kasih sayang Kulsum padanya sama besarnya kepada Rega.
"Rega menghamili wanita lain sementara statusnya seorang suami. apa nanti kata tetangga, Elen?" Kulsum menutup wajahnya dengan gusar.
Pundaknya bergetar karena tangis. Dia sangat takut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Para tetangga pasti akan bergosip tentang Rega. Rasa kagum mereka akan berubah menjadi cemoohan nanti. Selama ini Rega menjadi panutan para pemuda di sini. Tak hanya memiliki sikap yang baik tapi juga berprestasi. Rega di puji para ibu-ibu.
"jangan pikirkan soal perkataan orang. ibu seharusnya pikirkan bagaimana nasib rumah tangganya. Mawar pasti tidak akan mau menerima kenyataan bahwa selingkuhan Rega hamil. Mawar pasti akan menggugat cerai Rega. Seharusnya ibu pikirkan soal itu." Cerca Marja kesal karena sang istri malah mementingkan reputasinya di banding keadaan rumah tangga Rega yang berantakan saat ini.
"Bapak sudahlah, Elen mohon."
"kamu urus ibumu, Bapak harus menemui orangtua Mawar untuk meluruskan segalanya." Marja pun memilih untuk menyusul Mawar.
...**************...
Mawar sudah sampai setengah jam yang lalu. Dia hanya menangis tanpa mengatakan apapun, membuat kedua orangtuanya bingung. Di tanya hanya diam saja malah tangisnya semakin keras.
"Sebenarnya ada apa, Mawar? cerita pada ibu. apa kamu bertengkar dengan Rega?"
"Bu..." Mawar menangis tersedu-sedu.
Rena menghela nafas panjang lalu meminta salah satu pekerja di rumah ini untuk menyiapkan makan malam. Sebaiknya dia mengajak Mawar untuk makan dulu, setelah tenang baru di ajak bicara kembali.
Ibnu mengelus pundak Mawar. Selama ini dia tak pernah melihat putrinya menangis seperti ini. Hatinya terasa panas dan membuat Ibnu merasa ingin sekali memukul Rega, menantunya. Bagaimana bisa dia membiarkan Mawar pulang dalam keadaan buruk seperti ini.
"Bawa Mawar kekamar, setelah makan malam tiba nanti ayah panggil." Ujar Ibnu pada Rena.
Dengan cepat Rena pun mengajak Mawar kekamar.
Tak lama, setelah Mawar memasuki kamar bersama Rena. Sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah mereka. Ibnu langsung keluar untuk melihat siapa yang datang.
"apa yang kamu lakukan pada putriku?" Hadangnya dengan cepat.
Rega yang baru keluar dari mobil tak siap menghadapi tarikan kuat yang Ibnu lakukan. Ia terhuyung hingga hampir terjatuh. Meski sudah tua tapi kekuatan Ibnu tak bisa di anggap remeh.
"a...ayah...aku bisa jelaskan." Rega menatap takut mertuanya.
"jelaskan? ya... memang seharusnya begitu. aku sudah peringatkan padamu bukan, jangan buat putri kesayangan ku menangis. Apalagi melakukan hal buruk padanya." Tekan Ibnu.
Melihat ayah mertuanya yang begitu marah membuat Rega semakin tak bernyali. Dia merasa akan sangat sulit untuk mendapatkan maaf jika seperti ini. Berharap jika Mawar belum memberi tahu mereka soal perselingkuhannya.
"kami hanya bertengkar biasa saja. aku.."
Grep...
Ibnu menarik kerah baju kemeja Rega. Dari dulu paling tak pernah bisa melihat Mawar menangis dan tadi dia menyaksikan sendiri bagaimana tangisan putrinya yang begitu pilu. Seolah banyak luka di sana.
"A...ayah.. hentikan." Pekik Rena.
Wanita tua itu berlari tergopoh-gopoh. Ia mengelus tangan Ibnu.
"lepaskan, ibu mohon. jangan buat keributan." Mintanya.
Ibnu melepaskan cengkramannya, matanya menatap Rega penuh amarah.
"ibu, dimana Mawar?" Tanya Rega.
__ADS_1
Rena menarik nafas panjang lalu meminta menantunya itu untuk masuk dulu. Sementara Ibnu sama sekali tak peduli dengan Rega, dia berjalan melewatinya begitu saja.
"duduklah dulu Rega."
"tapi mawar..."
"Mawar sedang tidur." Sela Rena. "sebenarnya ada apa? mawar berpesan pada ibu untuk tidak mengizinkan mu masuk kekamarnya. dia bilang tak ingin menemui mu."
Rega menjadi gusar. Jika dia mengatakan semuanya maka Ibnu pasti akan memukulnya habis-habisan. Dan Mawar pun di pastikan akan sulit dia ajak pulang.
"Kami hanya berselisih paham saja, Bu. Biasanya orang menikah seperti itu bukan?" Akhirnya Rega memutuskan untuk berbohong, berharap jika Mawar pun akan menutupi masalahnya ini.
"Mmm...ibu tak yakin akan itu Rega. seperti apa kesalahpahaman itu, tapi Mawar tak pernah menangis seperti itu sebelumnya. Kami sebagai orangtuanya menjadi sangat cemas." Tutur Rena. "Kami harap tak terjadi hal yang buruk." Ujarnya di akhir dengan penuh penekanan.
Rega mengangguk patah-patah, pasalnya dia menjadi ragu dengan kedatangannya kesini. Kenapa hatinya mendadak resah sekarang.
Tring...
Sebuah pesan masuk pada ponselnya membuat Rega terperanjat kaget. Dia ragu untuk melihatnya karena sedang berbicara dengan ibu mertuanya.
"buka saja, ibu akan kedapur. nanti kalian selesaikan masalah kalian setelah makan malam saja. sekarang kamu tunggu di sini saja ya."
"iya Bu."
Rega bersyukur karena Rena tak bersikap seperti Ibnu. Wanita ini lebih baik, mungkin karena dia seorang wanita jadi bisa menahan emosinya pikir Rega.
Dengan cepat Rega merogoh sakunya, mengambil ponsel lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
"oh...tuhan, masalah ku bertambah." Rega mengacak rambutnya frustasi setelah membaca pesan dari Hani.
Pria itu mendesah keras lalu segera mengirimkan pesan balasan.
Hani tersenyum lebar melihat pesan balasan dari Rega. Rasanya tak sabar ingin sekali melangsungkan pernikahan tentunya.
Dia mengirimkan pesan pada pria itu, memberitahu jika orangtuanya telah setuju dan meminta Rega untuk melamarnya secepatnya. Tentu saja jawaban yang di dapatkannya sangat memuaskan.
Entah apa dan bagaimana jalan pikiran pria itu. Rega dengan mudahnya membalas akan melamar Hani minggu depan. Padahal jelas-jelas masalahnya dengan Mawar pun belum selesai.
"silahkan masuk Pak."
Rega melihat kearah pintu saat mendengar salah satu PRT mempersilahkan seseorang masuk. Matanya melotot lebar melihat kedatangan Marja. Pria itu berjalan lalu duduk di dekat Rega.
"Bapak harap kamu jangan per keruh masalah mu dengan Mawar." Seolah tahu apa yang baru saja Rega lakukan.
"untuk apa Bapak kemari, aku bisa selesaikan semuanya." Tegas Rega, merasa jika kehadiran Marja pasti akan membuatnya semakin dalam kesulitan.
"Pak Marja, anda pun kemari." Seru Ibnu.
"ah...iya Pak. Saya merasa harus datang." Matanya melirik Rega. "apa putra saya sudah menjelaskan semuanya?"
Kening Ibnu mengerut lalu menatap Rega dengan tajam meminta penjelasan. Menantunya itu langsung salah tingkah lalu membuang pandangannya kearah lain.
Marja merasa jika apa yang di lakukan Rega tak boleh di tutup-tutupi. Sebagai seorang ayah, dia harus mencari solusinya bagaimana caranya mengatakan semuanya tanpa harus membuat Ibnu maupun Rena, besannya itu marah. Tapi, itu hal yang mustahil. Orangtua mana yang tak akan marah jika mengetahui kenyataan kalau putrinya telah di khianati.
Keadaan ruang tamu jadi sangat menegangkan. Ibnu duduk di depan Rega Marja di sampingnya. Rega merasa di kelilingi oleh malaikat kematian saja. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Di pikirannya hanya ada satu kata, TAMAT.
__ADS_1
...*************...