
Kuakui ada ruang hampa setelah begitu lama tidak bertemu Malik.
Aku sudah mengetahui bahwa tujuan Aqan Asta tidak baik walau aku belum benar-benar mengetahui apa motifnya dan keuntungan yang dia dapatkan dengan membuka segelku, tapi aku sudah yakin bahwa dia bukan orang baik, sudah sebulan ini aku tidak ke kantor dan tidak ketemu Malik, soal pekerjaan aku kerjakan di rumah, by email, by WA bahkan interview karyawan by video call, Malik belum memecatku, maka aku pun tidak punya nyali ketemu dia untuk resign, Mita Reseptionis masih saja menggangguku dengan pekerjaan, karena aku masih digaji dan mirisnya masih tinggal di Apartemen Malik, maka aku tetap memenuhi kewajibanku untuk bekerja.
Hari ini aku sudah menyusun rencana untuk bertemu Aqan Asta, aku hanya ingin tahu apa sebenarnya manfaat dari membuka segel, apa yang dia dapatkan. Sebulan ini tak hentinya dia menghubungiku, tapi ku abaikan.
“Aku sudah bilang tidak tertarik lagi membuka segel.” Kami berbicara ditempat makan salah satu mall di Ibukota ini.
“Tidak masalah. hanya, bisakah kamu ikut denganku, ada orang yang membutuhkan bantuan Ayi.” Aqan Asta memelas, benarkah ini? Haruskah aku percaya?
“Siapa? Kenapa dia memerlukan bantuanku?”
“Namanya Anita, dia temanku, penyakitnya misterius, orang tuanya sudah membawa kemana-mana, rumah sakit terbaik di negeri ini dan negeri orang, tapi tidak kunjung sembuh, ada benjolan di pelipis dekat mata kanannya, sudah di biopsi hasilnya nihil tidak diketemukan penyakit.”
Aneh ga sih, dulu dia mengejarku karena ingin membuka segel, sekarang dia minta bantuan untuk teman wanitanya, tiba-tiba dia punya wanita yang sakit, teman atau teman dekat? Aku takut ikut dengannya, Panglima belum pulih, Raden tidak sekuat Panglima, Aam dan Cula Bagong sibuk di Kampus, Perlukah aku meminta bantuan Pak Hanif? Ah, dia pasti masih sibuk mengurus Adinda, katanya mereka pergi ke Pulau itu untuk penyembuhan Adinda, Bagus! aku benar-benar sendirian.
“Maaf ‘A, aku tidak bisa, aku sibuk.”
“Bukankah tujuan hidup Ayi adalah membantu orang-orang yang membutuhkan? Lalu kenapa kau pilih-pilih dalam menolong orang?”
“A, jangan kelewatan, aku bukan pilih-pilih, aku hanya tidak percaya diri, kamu tahu kan tragedi terakhir kamu tidak ada, mana tau kejadiannya sama dan kau beralasan disekap lagi.” Aku tidak tahan dengan hinaannya, kuingatkan dia tentang kejadian dulu.
“Ayi, lihat video ini kalau Ayi tidak percaya.” Dia memperlihatkan video seorang wanita yang sedang kerasukan, benar di pelipis kanan dekat matanya ada benjolan, sialnya aku me-melihat Iblis bertanduk diatas kepalanya sedang jongkok mendekap erat bahu wanita itu, sial!!! Ternyata benar kerasukan.
“A, bisakah kita tunggu sampai Aam tidak sibuk lagi di Kampus, supaya kita punya beberapa bantuan.”
“Aku bisa membantu Ayi, aku akan memanggil Karuhunku.” Dia lalu memanggil nama Karuhunnya ‘Alas Jaran’, lalu muncul lah seorang atau seekor atau entahlah bentuknya aneh, badannya kuda mukanya manusia, telinganya lancip seperti kelelawar, perpaduan yang cukup menakutkan. Tak lama Panglima dan Raden keluar, mereka akan keluar jika mendeteksi ada makhluk yang tidak mereka kenal mendekatiku, Cula Bagong pun keluar, ternyata Aam meninggalkannya disini, lengkap sudah, aku tidak punya alasan untuk menolak lagi.
Aku dan Aqan Asta pergi ke rumah wanita itu, rumahnya ada diperumahan elit selatan Ibukota ini, mereka bahkan memiliki satpam disetiap rumah, pantas orang tuanya mampu berkeliling negeri untuk menyembuhkan anaknya.
Begitu masuk aku bertemu dengan Ibu dan Ayah gadis itu, Ibunya memelukku, kami semua duduk disofa, sofa mahal tentunya.
“Seperti yang saya ceritakan bahwa saya akan membawa Ayi Mahogra, apakah semua sudah disiapkan?”
Apa yang perlu disiapkan, aku tidak pernah meminta apapun untuk disiapkan, ya kita lihat saja, awas kalau si Aqan Asta ini mengambil keuntungan dari orang kaya ini.
“Sudah kami siapkan semua, kita bisa ke kamar yang telah di persiapkan sesuai perintah Aqan." Ayahnya Anita berbicara dengan muka sedih.
Kami semua diantar ke sebuah kamar yang berada tepat dipaling belakang rumah mewah ini, sepertinya ini bangunan baru, apakah bangunan ini sengaja dibangun hanya untuk pengusiran?
Begitu masuk bau anyir begitu pekat, “kenapa bau sekali?” Aku bertanya.
“Itu karena Anak kami hanya mau makan daging kambing mentah, kalau kami menolak memberikan, dia akan mogok makan berhari-hari.”
“Daging Kambing mentah, sumber protein tinggi, setelah tercerna manusia menjadi energi yang kuat, itulah yang diserap oleh iblis bertanduk itu.” Panglima menjelaskan.
“Apakah sehari-hari anak kalian tinggal disini?” Aku bertanya lagi.
“Tidak, ini baru dibangun sesuai perintah Aqan Asta.” Ayahnya menjelaskan.
Dari kejauhan aku melihat wanita itu, Anita diikat dikursi dengan rantai, ruangan ini memang ditujukan untuk pengusiran, begitu kami masuk ternyata tidak langsung masuk kekamar, tapi masuk keruangan kaca disitu kami bisa melihat wanita itu tanpa disadarinya, mirip seperti ruangan interogasi polisi.
“Buka rantainya, setelah itu singkirkan semua sesajian itu, bunga dan lain-lain, kecuali kopi hitamnya.” Aku memerintah.
“Jadi sesaji itu hanya kopi hitam Ayi?” Ayah wanita itu bertanya.
“Tidak, kopi itu untuk aku minum kalau-kalau aku haus didalam, Aqan Asta jangan ajarkan cara-cara musrik pada orang awam, kamu tahukan dosa Syirik tidak termaafkan.” Aqan Asta memerah malu karena membuat tempat pengusiran itu seperti tempat pemujaan atau tempat penumbalan.
Aku masuk keruangan setelah rantainya dibuka, wanita itu langsung menyerangku tapi tertahan, dia tidak bisa menyentuhku. Aku minum kopi dahulu seteguk, haus saja karena nyonya rumah belum memberikan ku minum bahkan air putih.
“Jadi kenapa kau menumpang ditubuhnya?” aku bertanya
Aku berhadapan dengan wanita itu, sementara yang lain masih diruangan kaca, menyaksikan kami.
Wanita itu tertawa dengan suara menggema, persis suara setan, “Aku adalah Karuhunnya.”
“Karuhunnya, Karuhun macam apa yang mencelakai?” Anita langsung memegang leherku, tapi dia kepanasan, tangannya terbakar, Aku sudah melilitkan Karembo Hejo di seluruh tubuhku, Karembo Hejo tidak terlihat untuk Iblis rendah macam dia.
__ADS_1
“Mau keluar sendiri atau aku habisi?”
Dia tertawa lagi, “Apa kau pikir mudah mengusirku dengan kekuatanmu yang tak seberapa itu?” dia melakukan pergerakan lagi, dengan kekuatan yang lebih besar, Raden menyundul badannya, dia terpental.
“Kau pikir siapa kau membuat anak cucu adam menderita?" Iblis itu bertanya,
“Aku adalah Iblis, sang penghuni neraka, aku akan membawa sebanyak mungkin Anak cucu Adam bersamaku kelak.” Wajah Anita menghitam, seluruh urat ditubuhnya muncul dengan warna merah, pupil matanya menghilang, dia merangkak pelan keatas seperti seekor kadal, dia tepat diatasku dan menerkamku dari atas, tubuhnya ambruk diatas tubuhku, gerakannya cepat, aku tertangkap, dia mencakar mukaku, aku berdarah.
“Mati Kau!!!” Dia menyerangku membabi buta.
“Sekarang!!!” Aku memegang kedua tangan Wanita ini, Panglima melilitkan Karembo Hejoku pada tubuh Anita, Anita Ambruk.
Aku memang melepaskan Karembo Hejo tadi dan membiarkan dia menerkamku, karena dengan cara ini maka posisi si Iblis bertanduk itu lengah karena sedang menghajarku. Karembo Hejo melemahkan energinya, Anita tidak bisa bergerak, jika dilihat dengan Mata Manusia, maka Anita terlihat seperti terikat tanpa ikatan, tapi sebenarnya seluruh tubuhnya terlilit Karembo Hejo.
Kududukan Anita ditempat dia dirantai tadi, Jin Bertanduk terikat juga diatas tubuhnya Anita, benjolan di pelipisnya semakin membesar.
Sementara aku mengelap wajahku yang mengeluarkan darah karena cakaran wanita ini, macam anak SMA rebutan pacar aja, main cakar, sakit juga dicakar Iblis, begitu Anita sembuh akan kusuruh dia Meni Pedi, kukunya hitam dan panjang.
Aku duduk bersila, aku menyuruh Karembo Hejo untuk mengikat Anita lebih kencang lagi.
Iblis itu berteriak kesakitan, “Kau Ayi sialan, kau pikir akan membunuhku dengan cara ini?”
“Aku tidak akan membunuhmu, kematian adalah milik Tuhanku, siapa aku yang berani mengatur kematian makhluk yang diciptakan-NYA? Aku hanya memohon pada-NYA memberiku perlindungan dan bala bantuan berikhtiar menolong Anak Cucu Adam, dari lingkaran sepertimu, sekarang katakan padaku siapa kamu? Atau mau ku kencangkan Karembo Hejo sampai membuat tanganmu putus atau kepalamu saja yang kuputus dari badanmu?”
“Aku adalah Karuhun perjanjian, Nenek Moyang Wanita ini berjanji padaku akan memberikan keturunannya jika aku membuat mereka kaya, Aku turun di generasi ganjil setiap keturunannya untuk menumpang dan menghabiskan energi mereka.”
“Pak Bu, Masuk!” Aku menyuruh mereka semua yang hanya melihat dari ruang kaca masuk keruangan ini, semua sudah aman.
“Pak boleh saya tahu, apakah keturunan sebelumnya memilik penyakit aneh seperti ini? Tapi keturunan ganjil ya.”
“Tidak, semua saudara kakek nenek dan ibu bapak dikelaurga saya sehat.” Ayahnya Anita berkata, entahlah dia benar atau sedang berbohong.
“Yakin tidak ada pak?”
“Ada.” Ibunya menjawab, oh, salah dugaanku, ternyata bukan dari Karuhun Ayahnya, ternyata dari Karuhun Ibunya.
“Sudah kubilang.” Suara Anita mendesis, “Mereka berjanji kepadaku, maka harus mereka tepati, aku sudah memberi harta yang bahkan tidak akan pernah habis untuk mereka nikmati, aku memberikan keturunan genap mereka hidup nyaman, aku hanya meminta keturunan ganjil saja.” Suaranya masih mendesis, “Kalau kau mau membatalkan perjanjiannya, buat perjanjian baru denganku, aku akan senang hati menempel padamu.” Dia membujuk.
“Keluar kalian semua, setelah ini tidak boleh ada yang masuk, kalau kalian mendengar dia berteriak meminta tolong, abaikan, percaya padaku, apapun yang terjadi pada Anita, ini yang terbaik, sekalipun kemungkinan terburuk.” Aku mengatakan dengan mata berbinar, kode bahwa si penipu akan kutipu.
Mereka semua keluar ruangan kembali memperhatikan kami lewat ruangan kaca, aku mulai mengencangkan ikatan Karembo Hejo, “Panglima keluarkan senjata itu.” Panglima memberikanku dua buah kujang, senjata ini sudah lama sekali ditawarkan Panglima padaku, ini bukan senjata Ghaib saja, ini senjata nyata yang bisa menjadi senjata untuk manusia maupun ghaib, aku memegangnya, seperti bertemu jodohnya Kujang ini langsung terikat dengan tanganku.
Aku mendekat naik keatas bangku yang diduduki Anita kakiku berada di pegangan kursi, Aku menatap mata Iblis bertanduk yang tersenyum padaku, tubuh iblis ini bau gosong, aku memantapkan pegangan kujangku dan langsung menusuk dua sisi bahu wanita itu dengan kujang, dia berteriak, kudengar kaca digedor-gedor, aku mengerti pasti Ibunya Anita yang tidak kuat melihat ini, padahal sudah kuperingatkan.
“Ibu tolong aku, sakit bu.” Suara asli Anita, dia memohon pertolongan, tidak lama kudengar pintu digedor-gedor, suara Ibunya Anita.
“Lepaskan anakku, lepaskan anakku." Aku sudah menguncinya dari dalam, menghindari kejadian seperti ini.
Darah mengalir dari dua kujang yang kutancapkan di bahunya, aliran darah berkurang mengalir ke otak, tempat dimana si Iblis bertanduk mengambil seluruh energi wanita ini.
Iblis itu mengerang lemah dan melepaskan ikatannya pada gadis itu, seketika gadis itu pingsan, darah masih mengalir, Iblis itu berlari kearahku, dia melihat aku lemah karena Karembo Hejo dan Kujang sedang dipakai Anita, tapi dia lupa....
Brak!!! Iblis itu tersungkur, tertancap di Tanduk Cula Bagong, memang aku tidak mengeluarkannya tadi, hanya untuk membuat Iblis Bertanduk itu kehilangan kewaspadaan, karena dia melihat Panglima dan Raden menjaga Anita.
Aku mendekati Iblis itu, kupegang tanduknya, kuangkat dia dari tanduk Cula Bagong, “Panglima, Karembo Hejo!” Begitu Karembo Hejo ditanganku, si Iblis hendak kembali ketubuh Anita, gerakannya cepat, tapi sudah kuperhitungkan, kulempar ujung Karembo Hejo dan tepat melilit lehernya, kutarik lilitan itu kebelakang tubuhnya, kepalanya tertarik kebelakang, sementara tubuhnya ditahan oleh Cula Bagong, kutarik kencang sampai putus kepalanya, lalu seluruh tubuhnya menghitam, gosong dan hancur lebur.
“Kembali kau ke Neraka!” Aku berteriak.
Langsung kubuka pintu, Ibunya Masuk dan hendak menamparku, kutahan tangannya, “Kau harusnya berterima kasih, Kujang tidak kucabut makanya darah yang mengalir keluar tertahan, itu tidak akan membunuh anakmu, hanya membuat aliran darahnya berkurang, untuk melemahkan energi yang diambil si Iblis, aku tidak meminta apapun bukan? Hanya percaya padaku.” Kulepas peganganku dan kudorong Ibunya. “Ambulan sudah ada didepan? Panggil petugas paramedis tadi dan bawa Anita kedokter, jangan coba lepaskan Kujang dari tubuhnya, setelah dia sampai di Rumah Sakit akan kulepas kujangnya, lagian tidak akan ada yang bisa melepas kujangnya selain aku.”
Anita dibawa ke Rumah sakit dengan Ambulan, aku ikut didalam Ambulan, Ibu dan Ayahnya Anita ikut di Ambulan.
“Kau bilang tidak mendapatkan apapun? Lalu bagaimana dengan uang yang telah kuberikan pada Aqan Asta? Apakah itu masih tidak berarti apapun?” Ibunya masih marah padaku dan berkata begitu, padahal. kami masih di ambulan berusaha menolong anaknya.
Ternyata Aqan Asta sialan telah mengambil keuntungan dari ini semua, sudah kuduga dia lelaki busuk.
“Berapa? Berapa yang kalian berikan padanya?”
__ADS_1
“Cukup untuk membayar kehidupanmu.” Ibunya masih menyerangku.
“Sebutkan berapa yang kalian berikan? Atau kucabut Kujang ini dan dia akan kehabisan darah, mungkin akan terlambat sampai rumah sakit. ” Aku benci dipandang rendah.
“Uang cash satu Setengah Milliar, dan mobil sport seharga hampir 1 Miliar.”
“Wow, pantas saja dia memaksaku menolong kalian, bodohnya kalian bukan minta pertolongan Allah dengan banyak beramal atau beribadah, malah minta tolong manusia, ***** yang tidak pernah sembuh. Aku akan pastikan semua yang kalian berikan akan dikembalikan, hanya aku akan menahan 1 mobil sport, akan kujual dan kubangun pesantren, untuk bekal kalian di kehidupan selanjutnya.” Mereka berdua saling tatap dan merasa malu karena sudah dinasehati oleh anak bau kencur sepertiku, mereka tidak tahu saja, aku ini bau pandan.
Begitu sampai Rumah sakit aku langsung masuk keruang UGD Dokter yang menangani kaget dan langsung membawa pasien ke tempat yang lebih private, dia melarangku untuk ikut masuk, “Dok, kalau Kujangnya tidak bisa dicabut panggil saya ya.” Dokter itu berlalu dengan menatapku penuh dengan sinis. Sementara orang tua Anita masih menunggu disini, Anita dijadwal operasi penutupan luka, semua administrasi sudah diurus, tidak lama Suster keluar dan menyuruhku masuk, sudah kubilang pasti tidak bisa dicabut.
“Hei Dok, sudah kubilangkan kalau mau dicabut panggil aku.”
Dokter itu masih menatapku dengan sinis, mereka semua sudah siap dengan pakaian operasi, aku masuk kelorong ruangan sebelum ruang operasi, aku mendekati Anita, dia belum masuk ruang operasi, Anita ternyata sudah sadar, aku menatapnya, dia menangis, benjolan dipelipis mata kanannya sudah hilang, aku memegang kedua kujangku di bahu Anita, “Ini sakit ya Anita, tapi tidak sesakit menahan ketakutan setiap kali dia menyerap energimu, sakit ini anggap saja penutupan dari rasa sakitmu dari yang kau rasakan sedari kecil, dia tidak akan pernah datang lagi, selagi kau banyak mengingat Allah yang Maha Esa.” Anita mengangguk.
Aku menarik kedua kujangku bersamaan dengan satu tarikan cepat, beberapa suster yang ada di belakangku langsung menutup lukanya dan mendorong Anita ke ruang operasi, aku berjalan keluar, diperjalanan aku bertemu Dokter yang tadi sudah kuperingatkan tentang Kujang.
“Kamu yang menyembuhkan Benjolan di Pelipis Anita?”
“Loh Dokter kenal Anita?”
“Iya dia Pasien saya sebelumnya, saya observasi benjolannya hampir 3 bulan tapi tidak di ketemukan apapun, akhirnya orang tuanya Anita membawa dia keluar negeri.”
“Oh, iya sudah tidak benjol lagi.” Aku tersenyum.
“Terkadang tindakan medis memang tidak bisa menangani hal-hal non-medis, selama dari pihak orang tua tidak melaporkan mengenai kekerasan, maka kasus Kujang menempel dibahu Anita tidak akan jadi masalah.”
“Tidak, orang tuanya ada, waktu aku menancapkannya.” Aku akhirnya memberikan salam untuk pergi dan Dokter itu juga pergi, tapi sebelum kami benar-benar berpisah aku melihat kembali kearah Dokter itu dan kembali tersenyum, bukan pada Dokternya, tapi pada makhluk tampan di belakangnya, sebenarnya Dokter itu sudah menduga Anita tidak mengidap penyakit medis, tapi ilmunya menentang untuk percaya hal-hal diluar medis, Dokter itu pasti menjaga ibadahnya, Makhluk Tampan dibelakangnya penuh cahaya dan sangat ramah.
...
“Kembalikan semua uang yang kau ambil dari orang tua Anita.” Aqan Asta ada diluar Rumah Sakit, aku berjanji uang akan dikembalikan, makanya ku tagih ke lelaki brengsek ini.
“Hei-hei sabar, aku hanya berusaha membantumu, kau ingin lepas dari Malik bukan? Dengan memiliki banyak uang kamu akan bisa membayar apapun yang telah Malik berikan.”
“Memiliki banyak uang dengan cara seperti ini maksudmu? Memanfaatkan orang-orang yang kesulitan hanya untuk memenuhi nafsu manusiamu? Apa bedanya kau dengan iblis-iblis itu?”
Aqan Asta mendekat, dia membuat gerakan tiba-tiba, memegang kepalaku dengan kelima jarinya, gelap... sayup kudengar dia berkata, “tidak ada manusia yang lolos dari kepungan uang berlimpah, setelah ini kamu pasti akan berterima kasih padaku.” Dan semuanya gelap, tubuhku runtuh.
Dimana ini, pengap sekali. Aku membuka mataku, tubuhku di ikat oleh tali, kemana Panglima dan Raden?
“Sudah bangun calon istriku?” Aqan Asta duduk disamping ranjang tempatku terikat.
“Lepaskan aku.” Aku menatap lelaki bejat ini dengan mataku.
“Teriaklah, minta tolonglah, tidak akan ada yang bisa masuk kesini, Panglima, raden dan Cula Bagong tidak akan menemukan kita, Ni Tegrek sudah membuat dunia baru untuk kita, untuk bulan madu, pengantinku, setelah kau jadi pengantinku, aku akan membuka segelmu dan kita akan mengusai seluruh orang kaya di dunia ini, menyembuhkan penyakit mereka, atau kalau perlu menciptakan penyakit yang hanya kita yang bisa menyembuhkannya, kita akan kaya raya, Malik hanya akan menjadi kenangan.”
“Lelaki biadab, lepaskan aku, aku tidak akan pernah menikah denganmu!”
“Tidak masalah, kita akan skip dokumen pernikahan, bukankah kau menolak menikah dengan Malik karena dia hanya memberikan dokumen pernikahan? Sekarang aku akan memberikan cinta yang begitu kau inginkan.” Aqan Asta mulai merobek bajuku.
“Apa kau fikir ini bisa membuatmu memilikiku? Aku tidak akan melepaskanku begitu aku bebas!” Aku mengancam.”
“Tentu saja begitu aku melakukan perkawinan ini dan memastikan kau hamil maka seorang Ayi Mahogra, Ayi yang berbudi baik akan menuruti semua kemauan suaminya, setelah ini kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku karena ikatan garis Karuhun kita memang menakdirkan kita untuk menikah, masalah dokumen kita urus belakangan, bukankah inti dari pernikahan adalah malam pertama?” Wajahnya berubah menghitam, dia Manusia yang menyamar menjadi Iblis, manusia Biadab!
Dia menutup mulutku dengan merapal yang akupun tidak tau apa itu, tubuhku semakin lemas, aku tidak berdaya, dia mulai melucuti bajuku, merobeknya satu persatu, dia berada tepat diatasku, aku menangis sejadi-jadinya, “Tolong aku ya Allah, ya Tuhanku yang Maha Esa, sungguh takdir-Mu lah yang kujunjung tinggi diatas kepalaku, aku memohon ampunan atas dosaku.” Aku mengucap dalam hati dan memejamkan mata, pasrah atas ketentuan Tuhanku.
BUMMMM!!! Aku mendengar suara benda jatuh dari atap, aku langsung membuka mataku lagi, kulihat Aqan Asta sudah terlempar jauh dari badanku, ada Pak Hanif, Aam, Panglima, Raden, Cula Bagong, Adinda dan siapa itu lelaki yang tubuhnya penuh kaca, seluruh tubuhnya tertancap kaca, aku memperhatikan wajahnya, siapa dia, dia... MALIK!!! Malikku yang klimis dan rapih kenapa wajahnya begitu menakutkan, penuh kaca, dia membawa pedang yang lebih tinggi dari badannya, dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jins yang sudah robek di beberapa sisi.
Adinda mendekatiku, merapal dan mengusap tangan dinginnya keseluruh tubuhku, bajuku sudah robek disana sini, Adinda melepas sprei kasur dan menutupi tubuhku, dia memelukku dingin sekali tubuhnya, tapi ini pelukan yang sangat menenangkanku, aku menangis sejadinya, aku berteriak memanggil Malik, “Malik!!!” Dia hanya menoleh dan siap menghajar Aqan Asta, dia bahkan tidak mendekatiku, Malik aku membutuhkanmu.
“Ayi, maaf aku harus menidurkanmu.” Adinda memegang tengkukku dan aku tertidur, gelap ....
---------------------------------------
Catatan Penulis :
Terkadang cinta itu tidak tentang kelembutan, buaian semata atau pernyataan, bagaimana jika cinta lebih jauh dari itu, bagaimana jika cinta adalah tanggung jawab yang selalu diemban bahkan tanpa yang dicintainya tau.
__ADS_1