
POV MALIK
2 hari perjalanan ke Desa Dusun Mati, seperti sebelumnya aku menggunakan bis, angkot, berjalan kaki dan apa saja yang bisa membuatku lebih dekat dengan lokasi ini.
Aku diantar oleh ojek untuk mendekati Desa ini, begitu sampai lokasi, aku sampai ke sini langsung disuguhi pemandangan tanah yang basah, dengan tekstur tanah yang menanjak. Aku sampai di sini jam 4 sore, setelah aku mencari informasi dari penduduk di dekat sini, dulunya Desa ini sangat ramai, katanya disini, aku sudah menanjak melewati tanah basah tadi, banyak rumah yang dihuni orang-orang terpandang. Tapi dalam hitungan 5 tahun, tiba-tiba terjadi air bah yang tidak diketahui darimana datangnya. Semua rumah yang mereka bangun, semua kekayaan yang mereka kumpulkan dan semua kesombongan yang mereka tunjukan, hilang, tersapu air. Yang tersisa hanya baju di badan, lalu mereka berbondong-bondong pergi dari Desa Dusun Mati ini.
Yang tersisa hanya satu areal, dimana terdiri dari 10 rumah, satu-satunya areal yang tidak terkena musibah air bah itu.
Maka sejak itu, dinamakanlah Desa Dusun Mati, karena tidak ada siapapun yang dijinkan tinggal selain 10 rumah tersebut.
Aku akan mendatangi kepala desanya untuk bertanya tentang Seira.
Berjalan menyusuri rumah-rumah kosong, aku melihat banyak sekal ‘mereka berkeliaran’, rumah kosong dan lembab, sempurna.
Aku terus berjalan, karena 10 rumah yang melegenda itu ada dibagian paling dalam desa ini, saat berjalan tiba-tiba aku tersandung sesuatu hingga jatuh, seperti batu tapi besar sekali, aku menoleh ke arah benda yang membuatku terjatuh. Ah, sebuah kepala. Tentu saja hal-hal seperti ini akan kutemui di sini, aku rasanya ingin menginjak kepala ini, tapi aku tidak bisa menggunakan ilmuku, karena Seira akan menemukan keberadaanku, lalu dia akan berlari lebih jauh lagi.
Aku akhirnya hanya bangun dan berjalan, sementara kepala itu terus mengikutiku, biarlah, walau sebenarnya kesal. Salahku kenapa tetap keras kepala ke sini walau tidak benar-benar yakin apakah dia ada di sini.
Ilmuku tidak bisa kugunakan tapi mataku juga tidak bisa ditutup, aku memang bisa melihat mereka dari aku masih kecil, aku seperti Seira, tapi aku bukan Kharsima Jagat, Karuhunku diturunkan dari kakek, aku bukanlah manusia yang terpilih, makanya kastaku dan Seira sangat berbeda, aku jauh lebih rendah, belum lagi Karuhunku sudah kabur pergi ke kakakku, maka kastaku makin jatuh saja.
Makanya ketika Papi bilang kami tidak sepadan, dia benar, tapi bukan karena kekayaan, secara kasta perkaruhunan, kastaku lah yang terendah, sementara wanita itu, memiliki kasta paling tinggi.
Tidak lama, aku menemukan sebuah rumah yang ada lampu penerangannya, waktu sudah menunjukan pukul setengah 5 sore, ternyata aku berjalan cukup lama, setengah jam untuk mencapai perumahan penduduk.
Aku masuk ke wilayah yang memang berpenghuni, semua rumah memiliki lampu, ada ibu-ibu sedang mengobrol, anak-anak kecil bermain dan para remaja yang nongkrong, keadaannya berbeda 180 derajat, padahal tempat yang tidak berpenghuni itu dekat dengan wilayah ini, tapi keadaannya sangatlah berbeda. Tempat ini ramai dan terlihat lebih damai, aku menoleh kebelakang, kepala yang mengikutiku dengan cara menggelinding itu masih di ujung jalan, sepertinya dia tidak berani masuk ke tempat yang berpenghuni ini.
“Assalamualaikum, saya mencari Kepala Desa, yang mana ya rumahnya?” Aku bertanya pada sekelompok anak muda, tapi anak muda itu tidak menjawabku, mereka asik ngobrol. Apa mungkin mereka tidak menerima orang baru?
“Assalamualaikum bu! Rumah kepala desa di mana ya?” Aku sedikit berteriak, karena jarak ibu-ibu yang kusapa agak jauh, sekitar 2 meter. Mereka juga sama, tidak ada satupun yang mau menjawabku, jangankan menjawab, menolehpun tak mau. Sombong sekali penduduk di sini.
“Mereka tidak akan menjawabmu, karena mereka tidak bisa melihatmu.” Aku menoleh kebelakang, ada seorang perempuan berdiri di sana.
“Apa maksudmu? Kenapa mereka tidak bisa melihatku?” wanita ini manusia, aku tahu itu, tapi apa yang dia bicarakan sunggu sesuatu yang sulit aku cerna, kenapa orang-orang ini tidak bisa melihatku.
Lalu perempuan itu balik badan, dan berjalan kearah wilayah yang sudah kulewati tadi, aku mengikutinya, mau bagaimana lagi, hanya dia satu-satunya yang menyapaku.
__ADS_1
Kami berjalan cukup lama, tidak jauh dari saat aku tersandung kepala tadi, lalu tiba-tiba wanita itu berhenti, dia sekarang menoleh kearahku, sementara tangannya menunjuk sesuatu, aku melihat kearah yang dia tunjuk.
“Oh tidak, itu tubuhku?!” Aku sedikit terkejut karena tidak sadar telah lepas raga. Ada 2 orang laki-laki yang berusaha menyadarkanku, 2 orang lelaki paruh baya.
“Hanum, coba kamu panggil Pak Mantri, kita harus periksa apakah dia masih hidup?” Seorang lelaki yang umurnya sekitar 60 tahun memanggil wanita ini, rupanya namanya Hanum.
“Dia masih hidup Bah, ini orangnya.” Hanum menunjuk kepadaku, sementara lelaki yang dia panggil Abah mengerutkan kening.
“Yaudah, bilang padanya kita akan membawa tubuhnya ketempat Abah, suruh dia ikut ya.” Lelaki yang di panggil Abah, menggotongku dengan pria lain.
“Ikut kami ya, tubuhmu sementara akan kami baringkan di rumah Abahku, tenang, Abahku Kepala Desa, dia akan menjaga tubuhmu dengan baik.”
“Ya.” Aku menurut saja, disini tidak ada Hanif atau Adi untuk membantuku bangun, apa mereka orang baik? Aku tidak tahu, yang aku tahu, aku harus bangun.
…
“Namamu siapa?” Hanum bertanya, setelah mereka membaringkan tubuhku di kamar, entah kamar siapa, kami bertiga duduk di ruang tamu, ada Hanum, aku dan Abahnya.
“Malik.”
“Apa keperluanmu Malik?”
“Aku kesini mencari seseorang, tapi aku tidak bisa tunjukan wajahnya karena ada di ponselku.”
“Aku akan mengambil ponselmu.” Lalu wanita itu masuk ke kamar dimana tubuhku dibaringkan, tak lama dia keluar membawa ponselku.
“Ponselnya di kunci, apa paswordnya?” Wanita itu bertanya.
“090788” Itu adalah tanggal lahir Seira.
“Lihat bagian foto, foto orang yang kucari ada paling atas.”
Hanum membuka media albumku dan memperlihatkan foto pertama, foto Seira.
“Betul, aku mencari wanita ini, apakah kalian pernah melihatnya disini?” Aku bertanya, Hanum memberikan ponselku pada ayahnya.
__ADS_1
“Katakan padanya, wanita itu pernah kesini, dia bahkan beberapa kali kesini, sekitar seminggu sekali, katakana padanya, jika jiwanya sudah kembali, dia bisa bertemu wanita itu, tapi sebelum itu dia harus tinggal untuk beberapa hari memulihkan dirinya.” Abahnya Hanum berkata, aku begitu bahagia, ternyata Seira ada disini, aku akhirnya menemukanmu Ser, aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk kembali ke tubuhku, aku tidak ingin kau mampu mendeteksiku.
Aku akan melakukan apapun yang mereka suruh, asal aku bisa bertemu denganmu.
“Malam ini Abah kan mengembalikan jiwamu pada tubuh itu, jadi bersiaplah.” Hanum dan ayahnya pergi, aku kembali kekamar dimana tubuhku terbaring dan menunggu waktu berganti menjadi malam.
…
Kami berada di sebuah tempat yang cukup luas, lapangan mungkin. Aku melihat tubuhku dibaringkan di tengah lapangan beralaskan tikar, aneh. Kenapa semua orang berkumpul di sini hanya untuk mengembalikan jiwaku,
Aku datang bersama dengan Hanum. Ada abahnya disana dan beberapa lelaki dengan pakaian adat, pakaian Hanum juga terlihat sangat baik. Aku tidak perdulilah, yang penting tubuhku kembali dan aku bisa melihat wanita itu.
“Berdiri di sini Malik.” Hanum menyuruhku berdiri pada sebuah lingkaran yang dibuat ditanah, aku mengikuti perintahnya, sungguh aku tidak dapat mendeteksi apakah ritual ini benar, karena aku tidak bisa menggunakan ilmuku. Aku hanya percaya mereka orang-orang baik, bukankah bencana air bah melewati mereka, orang-orang baik tidak terkena musibah, orang-orang baik ini akan menolongku.
Dari tempat ini aku melihat Hanum dan Abahnya mendekati tubuhku, jarakku dengan tubuh itu sekitar 3 meter.
Aku melihat mereka melakukan sesuatu, mereka membaca mantra bersama, lalu tiba-tiba aku melihat sesosok hitam mendekati mereka, Hanum melihat sosok itu.
Sosok itu dibiarkan saja oleh Hanum, dia melewati Hanum dan juga Abahnya, sosok hitam it uterus berjalan dan mendekati tubuhku, apa yang mereka lakukan, kenapa Hanum membiarkan sosok itu, Hanum melihatnya, seharusnya dia melarang sosok hitam itu mendekatiku, aku harus melakukan sesuatu, aku mencoba berlari, tapi jiwaku seperti terpenjara, setiap aku akan berlari mendekati tubuhku, aku menabrak sesuatu yang tidak berwujud, sial! Mereka membaut pagar agar jiwaku tidak bisa kemana-mana.
Apa sebenarnya maksud mereka melakukan ini, sosok hitam itu sudah hilang, aku melihatnya masuk kedalam tubuhku!!! Sialan, dia menumpang di tubuh kosongku.
Aku melihat tubuh kosong itu mulai duduk, lalu berdiri, sepertinya tubuhku akan digunakan untuk sesuatu yang tidak benar.
“Hanum! Apa yang akan kau lakukan!” Aku berteriak.
Hanum melihat kearahku dan tersenyum. Meraka kemudian duduk pada suatu bangku yang baru saja disediakan, mereka menaruh bangku itu di tengah lapangan, 4 bangku dengan satu meja. Abah dan Hanum duduk berhadapan dipisahkan oleh meja, disamping Abah ada seorang laki-laki yang memegang kertas, entah kertas apa, lalu tubuhku yang sudah ditumpangi duduk bersebelahan dengan Hanum.
Lalu kulihat seorang wanita paruh baya mendekati Hanum dan tubuhku yang duduk bersebelahan, memasang kain putih pada kedua kepala mereka, apa-apaan ini, mereka seperti akan melakukan … IJAB QABUL!!!
________________________________
Catatan Penulis :
Malik jangan pergi terlalu jauh, lihat kau tertipu kan, pecayalah, cintamu masih tetap disana, bertahan pada hati yang sama.
__ADS_1