
Kami semud duduk bersila di pendopo yang sudah disiapkan Mang Nariman, mereka msih terkejut kenapa aku bisa memakai kebaya dan kain jarik yang konon katanya di kunci di lemari khusus milik seorang wanita bersamaan dengan barang miliknya yang lain di gudang yang berada di rumah Mang Nariman.
Wajah mereka tampak serius dan takut, aku jujur tidak dapat mengenali siapa wanita itu, kau bahkan bingung, kenapa wanita itu bisa mengelabuiku dengan cermin.
“Ayi Mahogra Seira Adam Hanida, lahir pada tahun 1988, Ayi Mahogra sebelumnya lahir pada tahun 1638 karena Ayi Mahogra hanya lahir 350 tahun sekali.” Mang Nariman berbicara, kami semua mendengar, ditengah lingkaran kami duduk sudah ada kopi dan gorengan yang tadinya memang disediakan untukku, Pram yang kondisinya lemah dan terpaksa harus mendobrak pintu kembali bersandar pada dinding bilik duduk disampingku.
“Namanya Ayi Kayas Gandaria, dia suka sekali warna ungu, semua baju dan perhiasannya berwarna ungu, Ayi Kayas memiliki postur yang mirip dengan Ayi Seira, tinggi dan tegap, bukankah Ayi Seira sudah tahu bahwa setiap Ayi, baik Ayi Tirung maupun Ayi Mahogra memiliki tugas masing-masing.”
“Betul kami semua memang memiliki tugas masing-masing. Lalu kenapa Ayi Kayas menampilkan dirinya dalam tampilan yang buruk padaku? Tidak seperti Ayi Nusia yang terlihat cantik.” Aku sebenarnya belum benar-benar yakin tugasku, aku hanya sedang mengikuti kata hatiku, bukankah seorang Ayi dianugerahi intuisi yang tepat.
“Itu karena Ayi Nusia purna tugas, sedang Ayi Kayas, tidak mampu menyelesaikan tugasnya.”
“Apa? Bukankah Ayi Kayas seorang Ayi Mahogra? Kenapa dia tidak mampu?” Aku penasaran apa yang menahan langkahnya hingga tidak mampu meyelesaikan tugasnya?
“Karena nafsu dan keegoisan.” Mang Nariman menghembuskan nafasnya.
“Ceritakan padaku dari awal, siapa dia dan kenapa kau mengunci pakainnhya di tempat khusus, hingga aku dapat menemukan celah kenapa baju ini menjadi pakaianku.”
“Ayi Kayas tidak mampu menyelesaikan tugasnya karena, dia menolak perjodohan adat atau pernikahan adat, karena dia telah mencintai lelaki biasa, lelaki yang bukan seorang Kharisma Jagat Agung maupun Kharisma jagat tanah pasunda.”
Aku tercekat, kenapa kami memiliki masalah yang sama, mencintai orang yang bukan jodoh adat.
“Lalu apa yang terjadi padanya?”
“Pertanyaannya bukan itu Ayi. Tapi, di posisi mana Ayi saat ini?”
“Bukankah dengan aku datang kesini semua sudah jelas?” Aku melihat kearah Mang Nariman dengan tajam karena dia berani menanyai keberpihakanku.
“Sekiranya memang seperti itu? Lalu kenapa datang bersama dengan jodoh adatmu?”
“Apakah dengan datang bersamanya itu berarti aku berpihak pada perjodohan itu? Kalian tidak mengenal yang namanya hubungan persahabatan?” Aku bertanya kembali dengan nada yang tajam.
Aku tahu bahwa Mang Nariman takut kalau Tanah Pejuang ketahuan oleh mereka, karena Tanah ini memang tanah pemberontak, tanah yang tidak percaya akan perjodohan adat, mereka hanya percaya perjodohan Tuhan, banyak sekali orang-orang disini yang berstatus Kharisma Jagat tapi menikah bukan dengan jodohnya atau orang biasa dan mereka baik-baik saja, tapi anehnya hanya orang yang tinggak disini yang baik-baik saja, mereka yang menutup dari dari orang luar, menutup diri dari musuhku.
__ADS_1
Makanya aku kesini, aku mendengar kabar ini dari Pram. Pram dan aku sepakat bahwa kami akan menyelidiki lebih jauh mengenai perjodohan adat ini, jika apa yang kusangka benar, maka mau tidak mau aku harus melawan mereka semua, memperjuangkan apa yang kuyakini benar.
Tapi sepertinya perjalanan kami tidaklah mudah, sekarang saja harus ada Ayi Kayas yang aku tidak pernah bisa melihat siapa dia, pantas saja, dia dan aku memiliki kedudukan sejajar, walau kami berada pada nasib yang sama, tapi bukan berarti kami memiliki takdir yang sama, aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa menyelesaikan tugasku.
“Ceritakan padaku Mang, siapa dia dan apa hubungannya dengan Tanah ini dan kenapa kau begitu menjaga bahkan terkesan menyembunyikan siapa Ayi Kayas?”
“Ayi Kayas yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya, mendatangi setiap Ayi Tirung yang lahir setelahnya, karena memang setelah Ayi Mahogra meninggal perlu waktu sekitar 350 tahun lagi untuk bisa lahir dirimu, Ayi Mahogra.”
“Untuk apa ia mendatangi setiap Ayi Tirung yang lahir? Hanya untuk menyelesaikan tugasnya?”
“Bukan, untuk memilih jalan yang tidak dia pilih.”
“Maksud Mang Nariman, untuk menikah dengan jodoh adatnya?”
“Betul Ayi, betul sekali. Ketika itu, berdasarkan catatan yang ditinggalkan oleh leluhur sebelum Ayi Nusia, bahwa Ayi Kayas akhirnya meninggalkan gelar ke Ayi-annya untuk menikah dengan kekasih yang sangat ia cintai, kekasihnya begitu lemah, sebagai manusia biasa saja kekasihnya itu terlihat lemah, apalagi untuk mendampingi seorang Ayi degan gelar tertinggi. Sulit baginya untuk bertahan dalam pernikahan itu, karena begitu banyak serangan baik dari para Kharis Jagat ataupun dari iblis jahanam.” Mang Nariman menghembuskan nafas dengan berat sebelum akhirnya melanjutkan cerita.
“Ayi Kayas sungguh putus asa saat kekasihnya sekarat, karena orang yang dia sudah meninggalkan segalanya untuk pergi pada kekasihnya, hingga dia merasa bahwa meninggalkan Tuhannya adalah langkah terakhir untuk tetap bersama kekasihnya.”
“Astaga! Dia meninggalkan Tuhannya, apa maksudmu dia bersekutu dengan setan?”
Aku lemas mendengarnya, jalan hidup kami memang sama, tapi aku tidak akan berjalan kearah jalan yang dia lewati, aku tidak akan menggadaikan keimananku pada iblis jahanam.
“Lalu bagaiman akhir hidupnya?” Aku bertanya.
“Kekasihnya sembuh secara ajaib, yang tadinya sudah lumpuh dan tidak mampu berjalan, menjadi kuat dan sehat, bahkan memiliki kemampuan yang luar biasa, bisa mengendalikan karuhun.”
“Tubuh suaminya telah di tumpangi?” Aku mengambil kesimpulan.
“Benar, tubuh suaminya telah ditumpangi, pada awalnya Ayi Mahogra menyangkal hal itu Karena merasa bahagia, kebahagiaannya sempurna, walau imannya telah tergadai, tapi dia bahagia karena dirinya bisa bersama suami tercinta, tapi itu hanya berlangsung sebentar ketika akhirnya, Ayi Kayas melihat bahwa suaminya mulai haus darah, haus wanita dan haus harta, suaminya telah berubah dengan sempurna, menjadi iblis yang dia puja, untuk menariknya kembali tidak bisa, Karen dengan begitu, artinya membuat suaminya sendiri mati dengan tubuh lemahnya, sedang untuk meninggalkannya Ayi Kayas tidak punya tempat kembali karena telah dibuang oleh keluarganya. Maka cara satu-satunya adalah mati bersama suami yang dia ciptakan dari perbudakan iblis jahanam.” Mang Nariman menyeruput kopinya, aku melihat keluar, sudah ada banyak orang, semua berkumpul walau tidak di dalam pondok ini tapi semua khidmat mendengar Mang Nariman.
“Oleh karena itu dia menjadi arwah penasaran dan menghantui seluruh Ayi Tirung yang lahir setelah dia?”
“Betul, dia mendatangi satu persatu Ayi Tirung yang lahir setelahnya, hanya Ayi Nusia yang tidak dia datangi karena meninggal pada saat pemenggalan itu. Sisanya didatangi, dan kebanyakan dari mereka lahir di tanah ini, di puncak gunung ini.”
__ADS_1
“Lalu apa yang terjadi pada Ayi Tirung itu?”
“Ada yang berhasil selamat dari terror Ayi Kayas, ada yang tidak, salah satu yang tidak berhasil selamat adalah, istriku.”
Aku kaget, pantas saja, dia terlihat sedih saat melihatku memakai kebaya ini, karena pasti istrinya juga mengalami seperti yang aku alami sebelumnya.
“Mang, aku tahu sekarang kenapa aku begitu takut kaca saat masih kecil, aku merasa melihat bukan diriku, walau aku tidak ingat persis, karena penyegelan, tapi sepertinya Ayi Kayas telah mendatangiku saat sebelum penyegelan, tapi dia menghilang setelah aku disegel. Sekarang di tanah ini, dia mendatangiku lagi, apa ini alasannya kenapa aku tidak melihat kaca di tempat ini? Kalian takut dia datang melalui kaca dan mengganggu kalian?” Aku bertanya.
“Mungkin. Seperti yang Ayi tahu bahwa di tanah ini adalah tanah yang tidak terpengaruh pada pernikahan adat, makanya selalu menjadi target teror dari Ayi Kayas, karena setelah salah memilih jalan, dia memaksa setiap Ayi Tirung untuk menikah adat, sehingga Ayi Tirung di tanah ini selalu menjadi target terornya.”
“Aku akan menghadapinya, aku akan membuat dia kembali pada Tuhannya, sediakan aku satu ruangan, bawa kaca yang ada di kamarku, senderkan dengan baik, aku akan kesana selepas solat Isya, aku akan menemui wanita itu.”
“Tapi Ayi apakah tidak sebaiknya kita menghadapi bersama?”
“Dia mengincarku, jadi buat apa repot-repot mengajak yang lain? Apakah kau meragukan kemampuanku?”
“Tapi Quin …. “ Pram keberatan.
“Pram, kau berjanji akan terus mendukungku kan?”
Pram tau tidak ada ruang untuk cinta di dalam hidupku.
“Baiklah Ayi, aku akan siapkan semuanya, aku berharap kau mampu membawanya pergi, aku akan selalu berada di dekatmu.”
Mang Nariman dan semua warga akhirnya pergi, dia menyiapkan semua hal yang diperlukan, sementara Ayi aku mempersiapkan dirinya menghadapi wanita yang telah salah jalan, kisah kita mungkin sama, tapi akhir kita akan berbeda.
_________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Pejamkan matamu dan ingat aku selalu menyapamu di setiap nafasku, jika rindumu berat, maka ingat satu hal, aku tidak pernah benar-benar melepasmu (Dari Seira untuk cintanya)