Karuhun

Karuhun
Bagian 30 : Cintaku, Seira ....


__ADS_3

“Kamu mau coklat?” Malik kecil memberikanku coklat, ini bukan pertama kalinya dia memberiku makanan dan mainan mahal, mama nggak pernah membelikan, aku juga takut minta, soalnya mau makan aja masih susah, mama bilang yang penting itu masih bisa makan.


“Mau, tapi .... ” Aku ingat mama bilang kalau ada orang yang sering kasih makanan jangan diambil, itu artinya dia kasihan sama kita, nanti lama-lama aku bakal dihina dan mama jadi malu.


“Aku kasih ke semua juga kok.” Malik memanggil teman-teman SD Kami, mereka semua menunjukan coklat yang Malik berikan padaku, seperti mengerti kalau aku enggan menerima karena kasihan.


“Makasih Malik.” Aku tersenyum dan mengambil coklatnya, sementara saat aku berbalik, ada seorang iblis berjubah merah,  memegang tongkat yang memiliki tinggi sama dengan tubuhnya, iblis itu melewatiku dan menangkap Malik, aku berlari mengejar Iblis itu, tapi mereka hilang, kemana perginya iblis itu, kemana teman-teman sekolahku dan ini dimana, penuh dengan kuburan.


“Mbak, Mbak Seira, Mbak!!!” Aku terbangun dari mimpiku, aku keringetan, kudengar seseorang memanggil dari luar, aku masih di rumah Malik, tepatnya Markas Malik. Mungkin mbaknya Malik yang memanggil. kulihat jam, aku kesiangan sudah jam 7 pagi, mungkin karena  semalam aku begitu lelah karena kedatangan para tetua, jadi tertidur cukup lama.


Aku menghampiri pintu dan membuka pintu kamar yang memang 2 hari ini aku tempati.


“Ada apa Mbak?” Benar ternyata memang Mbaknya Malik.


“Pak Malik sudah bangun mbak, sudah sadar.” Dia terengah-engah, sepertinya karena berlari, memang markas ini besar sekali, walau cuma satu lantai.


Aku berlari  secepatnya, aku ingin ketemu dengan lelaki yang sangat aku cintai, Begitu sampai kamar Malik, aku langsung membuka pintu, kulihat Malik sudah duduk di tepi kasurnya, menatap kosong kedepan, aku mendekatinya dengan perlahan, “Malik.” Aku menyapanya, duduk disampingnya. Sementara dia masih menatap kosong kedepan, ku pegang tangan Malik dan menatap wajahnya, dia masih tetap tidak menatapku.


Kami terdiam cukup lama, aku memberinya waktu untuk tenang sejenak.


“Hanif mana?” Malik akhirnya bicara, setelah sekian lama dia terdiam dan aku tetap menggenggam tangannya tanpa Ia balas genggaman itu.


“Pulang semalam, pergi ke pulau itu, tempat Adinda dulu tinggal.”


Malik terdiam mendengar jawabanku, dia masih tidak menatapku, aku ingin memberinya waktu, tapi maaf, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.


“Malik .... ” Malik tiba-tiba memegang perutnya, dia muntah, muntah darah banyak sekali.


“Mbak! Mbak!!” Tak lama Mbak nya Malik datang.


“Saya sudah telp Dokter Adi, saya juga sudah jelaskan kondisi Pak Malik yang muntah darah.” Aku lupa dia cenayang, aku bahkan belum memberitahunya untuk memanggil Dokter Adi, juga belum memberitahunya bahwa Malik muntah darah, mbaknya Malik memang bisa diandalkan.


Tidak lama Dokter Adi datang dengan ambulan, aku ikut di mobil ambulan tersebut bersama Dokter Adi tanpa perawat.


“Ser, ini kemungkinan organ hatinya sudah rusak parah, kemungkinan terburuk transplantasi hati, telepon seluruh keluarganya yang bisa membantu Hanif menjadi pendonor, kita harus bergerak cepat.” Dokter Adi berbicara sementara mobil ambulan masih melaju di tengah kemacetan kota ini.


Begitu sampai rumah sakit, kami langsung membawa Malik ke UGD, disana Dokter Adi membawa Malik sementara aku mencoba menghubungi Pak Hanif, papinya Malik, maminya Malik dan adiknya Malik.


“Jadi, Om nggak bisa pulang cepat?” Aku menangis, papi, mami dan Adiknya Malik memang sedang liburan ke Amerika, mereka sedang liburan, untuk pulang sampai kota ini mereka butuh paling cepat 2 hari mengingat penerbangan saja memakan waktu 24 jam ditambah perjalanan dari tempat mereka ke bandara di Amerika, sampai di Bandara kota ini pun masih harus menunggu beberapa hal baru bisa benar-benar keluar dari bandara, itu pun kalau dapat penerbangan di hari yang sama, sementara Malik butuh transplantasi secepatnya.


“Kami akan pesan tiket penerbangan pertama kalau dapat.” Papinya Malik terdengar khawatir dan takut, dia bahkan tidak memarahiku atau mencoba menyerangku karena Malik sekarang sekarat, kudengar dari belakang ada suara perempuan menangis, sepertinya mami dan Adiknya Malik yang menangis.


“Aku akan telepon Pak Hanif Om, aku juga akan daftar sebagai pendonor, aku akan lakukan apapun yang terbaik untuk bisa menolong Malik, usahakan pulang secepatnya ya Om.”


“Ser... Tolong Om, jaga Malik ya, kami akan pulang secepatnya.” Aku menangis, karena akulah penyebab Malik sakit separah ini, om benar aku hanya membuat hidup Malik menderita.


“Pak Hanif .... ” Aku menangis, aku bercerita keadaan Malik, aku butuh dia disini untuk membantu Malik.


“Ser aku akan kesana secepat aku bisa, tapi saat ini air laut sedang pasang, tidak ada kapal Boat yang mau menyebrang, aku akan lakukan apapun untuk kesana, tunggu aku. Bilang Dokter Adi, jaga Malik dengan baik sampai aku datang.” Aku menangis karena mereka semua keluarga Malik sulit datang kesini semua sulit sampai dengan cepat, aku menelpon Aam, Aam ijin pulang setelah pertarungan kemarin di gunung, dia terluka cukup parah, dia harus menstabilkan kondisinya dan Cula Bagong di daerah asalnya, makanya menunggu dia pun masih agak terlalu sulit.


“Bu Seira, silahkan ikut saya, kita akan tes tubuh Ibu untuk melengkapi syarat pendonoran Hati.”


“Iya Sus.” Aku berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala semoga aku dinyatakan sehat dan bisa menjadi pendonor, karena tidak ada siapapun lagi pendonor selain aku saat ini.


Aku menjalani serangkaian tes, aku tidak putus berdoa, sementara Dokter Adi masih mencoba menstabilkan keadaan Malik, Malik sudah dipindah keruang Intensive Care, di ICU malik lagi-lagi harus dipasang banyak selang, tubuhnya terlihat semakin kurus. Ya Allah ... apakah aku bisa menghadapi semua ini jika dia tidak selamat, apa aku mampu bertahan tanpa Malik disisiku, kenapa setelah aku mengetahui cintanya yang kukejar 20 tahun ini kami harus berpisah kembali, aku tidak ingin apapun lagi Ya Allah, aku hanya ingin Malik sehat dan aku akan menjaganya setelah ini, tidak akan membiarkan dia menanggung semuanya sendirian lagi.


“Ser, Hasilnya akan keluar dalam beberapa Jam, kita sama-sama berdoa ya, semoga organ Hati dan tubuhmu siap untuk menjadi pendonor, aku akan menjaga Malik memantaunya setiap detik, kamu tenang ya, jangan stress, karena kalau kau dinyatakan sehat dan mampu menjadi pendonor, kalian berdua akan lemah, mengerti ya Ser.” Aku mengangguk, karena kalau kondisiku lemah akan banyak ‘mereka’ yang menyerang dan bersiap masuk ke tubuhku.


Aku berada diruang operasi, aku dinyatakan bisa menjadi pendonor, keluarga Malik tidak ada satupun disini, tapi ada aku, mama, Mas Ridho dan Seina, aku terpaksa menelpon Mas Ridho, aku memohon bantuannya untuk menjadi pendonor dan ya, Masku itu pengaduan akhirnya mama dan Seina juga ikut datang, hanya Mas Ridho dan Seina yang sempat di tes tadi. Padahal, mama juga menawarkan diri, tapi aku melarang, mama sudah terlalu tua untuk menjalani operasi dan ternyata mereka terlambat, Malik Kritis, operasi harus segera dilakukan, hanya aku satu-satunya saat ini yang memenuhi syarat untuk mendonorkan Hatiku.


Sebelum kami masuk ruang operasi beberapa jam yang lalu, aku meminta ijin Dokter Adi untuk membawa semua pasukan Malik, Karuhunku dan Cula Bagong, ya Aam memang belum bisa datang tapi Cula Bagong dikirim Aam untuk ukut menjagaku, mengawal operasi ini, mereka semua harus mengelilingi kami, karena akan bahaya sekali kalau sampai ada yang masuk ke tubuhku saat aku terbius, kondisi terlemahku adalah saat aku tertidur, itu sudah dibuktikan dengan 2 kejadian paling menakutkanku, di pulau itu dan di bis saat menuju rumah Ayah dulu, mereka membawaku ke dunia mereka.


Di pintu depan ruang operasi ada Mbaknya Malik, untuk berjaga-jaga, dia bisa melihat kejadian kedepan sebelum terjadi, hanya untuk antisipasi, tenang saja sayangku Malik, aku akan memastikan operasi ini berjalan lancar, kita akan ikhtiar, supaya Tuhan bersama kita.


Aku sekarang berbaring dan bersiap di anastesi, aku menengok kearah lelakiku, lelaki tampan yang hatinya begitu hangat, aku tersenyum kepadanya yang sudah tidak sadarkan diri lagi, aku berkata dalam hati ‘Malik kita akan baik-baik saja.’ Lalu aku mulai mengantuk karena efek pembiusan, sementara semua Dokter dan Suster bersiap melakukan operasi, samar kudengar seorang suster berkata.


“AC nya terasa lebih dingin dari biasanya ya, trus kok bulu kudukku merinding terus.“ Aku tersenyum sebelum benar-benar tertidur pulas karena bius, dia tidak lihat bahwa banyak sekali ‘pasukan’ kami disini mengawal operasi.


....

__ADS_1


“Malik kalau udah besar mau jadi apa?” Aku bertanya pada sahabat SD ku, dia orang kaya yang baik, tampan dan sangat dermawan, kami sering dibelikan mainan atau makanan yang mahal-mahal, saat ini jam istirahat, aku jarang istirahat ke kantin, Malik juga, tapi alasan kami berbeda, kalau aku karena mama nggak kasih uang jajan, sementara Malik bawa bekel dari rumah dan biasanya kami makan berdua, karena dia selalu dibekalkan makanan yang banyak.


“Aku mau jadi Astronot.”


“Wah hebat, nanti kalau udah besar jadi Astronot, ambilin aku bintang ya, biar rumahku nggak selalu gelap, soalnya mama suka lupa bayar listrik.” Kami tertawa.


“Aku mau jadi Astronot biar bisa bawa Seira jauh dari bumi ini, jauh dari ‘mereka’.” Malik berkata.


Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Mereka bukan sesuatu yang harus dijauhi Malik, mereka terkadang hanya butuh bantuan, tapi ada juga yang jahat, kita yang harus pandai menilai, ga semua jahat, kayak manusia aja.”


Aku terbangun, lagi-lagi mimpi kecil kami, aku terbangun dengan infus ditangan, mama, Mas Ridho dan Seina ada di sofa ruangan kami.


“Mah, tolong panggilin Dokter Adi.” Mama seperti tidak sadar aku sudah bangun, mereka langsung menghampiriku.


“Am, panggil Dokter Adi.” Mas Ridho suruh Aam, ternyata dia sudah ada di rumah sakit ini.


Tidak lama Dokter tampan itu datang.


“Dok Malik gimana?”


“Operasi lancar dan berhasil, Malik belum siuman tapi lagi-lagi itu efek Anastesi yang belum habis, kamu nggak mau tanya keadaanmu?” Dokter Adi menggodaku.


“Iya Dok, Anak Mama gimana?” Malah mama yang nanya.


“Baik Mah, semua sudah stabil, hasil observasi juga bagus, nanti Organ hati Seira perlahan-lahan akan regenerasi, sehingga organ hatinya akan kembali sempurna seperti semula, tapi yang penting makan dan jaga kesehatan yang bener ya.”


Mama? Kok Dokter Adi manggil mama, akrab sekali, wah aku curiga sesuatu nih.


“I-iya Dok.” Aku canggung, karena Dokter Adi menjepit hidungku dengan kedua tangannya, persis seperti yang selalu Malik lakukan padaku.


“Ser.”


“Pak Hanif!” Aku berusaha bangkit menyambut Pak Hanif, tapi belum bisa karena bagian perutku masih sakit bekas operasi, Pak Hanif menghampiriku dan memberi isyarat supaya tidak usah bangun.


“Malik belum siuman Ser, Papi dan keluarganya sudah Flight dari Amerika, kemungkinan nanti sore sampai di Kota ini.” Pak Hanif  menyalami semua orang.


“Mah, ini kakaknya Malik.”


“Mah.” Aku menegur mama.


“Ohhhhh, Papinya Malik tuh kayak Ayahmu ya Ser, Istrinya banyak.”


“Mah!” Aku berteriak, “Sorry, Sorry ya, nyokap gue emang gini nih, suka becanda.” Aku menenangkan suasana.


“Iya Tante, Malik sama aku beda Ibu, tapi Papi hanya menikah dua kali.”


“Oh bagus deh, soalnya kalau Ayanya Seira nikahnya berapa kali ya .... ” Mama seperti sedang menghitung.


“Mah, udah kita makan dulu yuk.” Mas Ridho menarik mama dan Seina yang dari tadi hanya diam saja, tapi aku perhatikan, kenapa Seina memandang Pak Hanif terus ya? Bahkan tidak sadar ketika Mas Ridho memanggilnya, wah jangan-jangan adikku itu mulai menjadi wanita, maklum dia itu agak cupu soal laki-laki, dia lebih suka belajar.


Semua orang sudah pergi kecuali Dokter  Adi dan Pak Hanif.


“Ser, terima kasih ya, sudah menjadi penolong Adikku, terima kasih sudah bertindak dengan cepat dan tepat, Ayi.”


“Seharusnya aku yang berterima kasih pada Malik, seperti yang Malik bilang bahwa apapun yang aku berikan tidak akan pernah sepadan dengan apa yang dia berikan padaku.” Aku menangis lagi.


“Ser, ada yang perlu aku ceritakan pada kalian berdua, ini soal operasi, bahwa beberapa gangguan datang saat operasi, salah satu suster kami kesurupan, tepat saat aku akan mengambil bagian organ hatimu, untung yang lain langsung mengeluarkan dia, tidak lama semua orang kesurupan dan akhirnya hanya aku yang tersisa untuk melakukan hoperasi, saat itu, aku lihat pertempuran di ruang operasi, tapi ada satu hal yang membuatku bingung, ada lingkaran tak terlihat yang melindungi kita bertiga, sehingga kita tidak tersentuh, saat itu kami tidak sadar, lalu siapa yang melindungi kita ya?”


“Hah? Aku nggak sadar, aku  nggak tau kejadiannya, parah banget ya emang? Gitu tuh kalau aku tidur, suka pada dateng.” Aku bergumam kesal.


“Di, lu nggak liat sama sekali orang di sekitar situ?” Pak Hanif bertanya.


“Nggak Nif, kalau liat ngapain gue tanya?”


“Harus cukup dekat untuk menciptakan lingkaran perisai dan yang bisa melakukan itu cuma 2 orang, Ayi Mahogra dan .... ”


“Dan siapa pak?” Aku penasaran.


“Mmm. gini Ser, gue coba selidikin dulu ya, baru kalau udah pasti gue bakal kasih tau lo.”

__ADS_1


“Pak, main rahasia-rahasian lagi nih?” Aku manyun


“Enggak, lu bakal tau kok, tapi jangan sekarang ya.”


Aku hanya mengangguk, lalu mereka berdua pergi, mama, Mas Ridho dan Seina belum kembali.


....


“Seira.” Kulihat ada seseorang yang datang ke ruangan rawat ku, ini sudah malam sekali, diruang rawatku hanya ada mama. Mas Ridho sudah pulang, karena Mbak Ayu memang menunggunya, maklum wanita yang sedang hamil muda pasti maunya ditemenin terus, lalu Seina tadi kusuruh makan bareng pak Hanif. ya, aku memang ingin mereka saling kenal.


“Om.” Aku  berusaha bangun untuk menyambut orang itu, Papinya Malik datang sendirian.


“Tidak usah bangun, pasti masih sakit kan.” Papinya Malik duduk disamping ranjang rumah sakitku.


“Nggak om, udah enakan kok, katanya aku nggak boleh kebanyakan bobo biar jahitannya cepet kering.” Aku tersenyum.


“Mbak, Mama solat dulu ya, belum solat Isya.” Mama seperti mengerti bahwa Papinya Malik mau bicara hanya berdua saja, “Mari Pak.” Mama lalu keluar, mama sebenarnya tidak menyukai Papinya Malik karena mama tau Papinya Malik tidak menyukaiku, tapi mungkin mama merasakan perasaan seorang orang tua yang anaknya kristis, pasti Papinya Malik sangat ketakutan Malik celaka.


“Om mau minta maaf sama kamu.” Papinya Malik tercekat dan menunduk, kulihat dia membuka kacamatanya dan mengusap air mata, akupun kaget.


“Om nggak perlu, jangan kayak gini.” Aku pun ikut menangis.


“Terima Kasih Seira, terima kasih kamu sudah mau menyelamatkan hidup anak Om.” Papinya Malik masih menunduk.


“Kalau untuk Om Malik adalah seorang anak, untuk aku dia segalanya, jangankan hati, Jika dia butuh jantungpun akan kuberikan.” Aku bicara sungguh-sungguh.


Papinya Malik melihatku, dia menggenggam tanganku, kami menangis bersama, tangisan yang kami tunda begitu lama karena ketidakmampuan kami saling merapatkan hati.


Malik, inikah jalan jodoh kita.


I


I


I


POV JODOH SEIRA


“Berilah yang kamu bisa berikan saat ini, anggap saja membayar hutang dimasa lalu, setelah hutangmu pada lelaki itu lunas, maka aku akan menjemputmu pengantinku, wanitaku. Kurasa perisai penjagaan yang telah kuciptakan untuk melindungimu di meja operasi cukup membuatmu penasaran, tenang ratuku, aku cukup sabar menunggumu, habiskan cinta monyetmu dulu, baru aku akan menjemputmu, seorang Ayi Mahogra hanya pantas dimiliki oleh Kharisma Jagat Agung Tanah sunda yang paling kuat.”


I


I


I


POV HANIF


Aku sudah tahu kedatangannya pasti akan membuat semua menjadi semakin kacau, cinta yang salah antara Malik dan Seira, sekarang pemilik wanita itu sudah datang dan mungkin akan mengambilnya. Aku melihat lelaki itu mengintip ke kemar Seira, Malik. Aku ingin memberitahumu, hal yang paling kau takutkan akan segera mendatangimu adikku, aku tidak akan selalu ada didekatmu, kuatlah Malik, kuatlah Seira, buktikan bahwa cinta kalian lebih kuat daripada Adat, Aku menjauh dari kamar Seira, aku mengintip lelaki yang sedang mengintip Seira, tepat dugaan kita Malik, dia datang, lebih cepat dari dugaan kita, begitu Seira melepas segelnya, lelaki itu pasti langsung menyadari, bahwa pengantinnya telah ada sejak dulu kala.


 


 


______________________


Catatan Penulis :


Jangan bingung ya, aku ingetin lagi kalau aku akan membuat PoV yang berbeda-beda, tidak ada hanya dilihat dari sisi Seira sebagai narator, atau orang yang bercerita, tapi akan ada sisi lain, semoga nggak bingung ya, maaf kalau aku uploadnya lama.


 


 


Happy Reading.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2