Karuhun

Karuhun
Bagian 62 : Kita


__ADS_3

Kami siap untuk berpindah ke tempat yang lokasinya di selatan hutan ini, tidak membawa apapun yang berat, karena pasti kami mendapatkannya nanti ketika sudah di sana.


“Kau yakin jalan ini sudah tepat?” Malik bertanya dan aku tersenyum.


“Tenang, kalau kita salah jalan bakal ketauan kok. Kalau salah juga nanti ketemu yang nggak benar.”


“Maksudnya?” Malik tersenyum lagi.


“Kamu bisa berhenti senyum nggak sih? Maksudku itu ganggu banget tau!” Aku sungguh merasa terganggu dengan senyumannya yang manis sekali, berdua dengannya berbeda jika aku bersama lelaki mana pun, bersama dengannya membuat hatiku selalu berdesir dengan hebat ketika dia tersenyum.


“Ser.” Malik memanggilku lalu tersenyum, lelaki menyebalkan.


Kami tiba di pinggir pantai, aku jujur tidak tahu di mana kami harus membangun gubuk, dan seperti dugaanku kami sudah sampai pinggir pantai, karena memang lokasi dari hutan ini dekat laut.


Aku menyentuh salah satu pohon yang ada di dekat pantai ini, setelahnya yakin bahwa memang di sinilah lokasi yang paling dekat dengan lokasi yang kutuju.


“Kita dirikan gubuk di sini, Panglima dan Raden cari semua hal yang kita butuhkan seperti biasa, ajak seluruh pasukan biar kelar sehari ya.”


“Aku ngapain?” Malik bertanya masih dengan senyum yang sama.


“Kamu deket aku aja.” Aku bergurau dan ikut tersenyum.


“Bisa kah kalian tidak bersikap menjijikan seperti ini?” Panglima menghilang setelah mengatakannya, dia memang tidak menyukai hubungan ini, kalau difikir-fikir memang Panglima tuh seperti seorang ayah saja, tidak suka lelaki mana pun mendekatiku, dia kan memang Karuhun asliku, yang sebenarnya sudah memilihku dari aku lahir, wajar kalau dia over protektif, persis seperti Malik.


“Aku mancing ya buat makan kita, semua pasukan dan Karuhunmu tidak butuh makan, sementara kita?”


“Oh ya kita belum makan siang ya, sementara ini sudah sore, maafkan aku nggak bisa masakin kamu ya.” Makan adalah hal yang selalu aku lupa akhir-akhir ini.


“Pantas kau begitu kurus, tapi lihat otot tanganmu luar biasa. Sepertinya kau di sini suka sekali workout.” Malik memencet tanganku. Lagi-lagi hatiku berdesir hebat.


“Aku mancing dulu ya.” Dia lalu berlari ke pantai membawa tombak dan pancingan sederhana, aku mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Malik mulai memancing kami duduk di dekat batu besar.


“Berapa lama mereka bisa membangun gubuk seperti yang sebelumnya?” Malik bertanya.


“Hmm, paling lama 3 jam.”


“Wow cepat juga ya.”


“Sudah lama ya tidak bertemu pasukanku? Ingat Roro Jonggrang memerintah Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam waktu satu malam, dan dia akan berhasil jika saja Roro Jonggrang tidak berbuat curang, itu semua karena bantuan Jin. Hanya satu gubuk mah buat mereka seperti mengedip Malik.” Aku protes dia meremehkan kemampuan Pasukanku.


“Oh ya aku lupa. Aku lupa bahwa Seira kecilku sudah tumbuh menjadi gadis hebat.” Ada raut kecewa dan bangga sekaligus dalam wajahnya.


“Aku tidak ingat ketika Pak Hanif bilang bahwa kau takut denganku ketika kecil dulu, kau melihat aku semakin ganas sehingga menyegelku merupakan idemu dan keluargaku setuju, apa yang sebenarnya kau lihat Malik?”


“Aku?” Dia menatapku lalu kembali menatap pantai. “aku melihat seorang anak berumur belasan tahun, memilki kedewasaan puluhan tingkat diatas umurnya, memiliki kemampuan luar biasa, tapi .... “ Malik berhenti.


“Tapi?”


“Tidak perlu minta maaf, kalau saja waktu itu tidak ada kamu di sisiku, mungkin aku berakhir menjadi sapi perah, dimanfaatkan oleh sekelilingku, bisa saja Tetua ataupun yang lainnya, karena dengan kemampuan luar biasa itu, di tubuh seorang anak kecil tanpa pelatih, maka orang bisa saja menggunakanku untuk hal-hal jaha, seperti santet, pelet atau bahkan pembunuh, terima kasih sudah menjagaku, dengan keegoisanmu, karena dalam keegoisanmu terselip rasa khawatir dan perhatian yang tinggi, aku tahu itu. Sekarang aku mengerti kenapa aku begitu condong padamu, karena kau memberikan seluruh hatimu padaku.” Aku menyentuh bahunya dan bersandar, sudah berteman selama belasan tahun, saling mencintai tapi berdekatan begini membuatku merasa deg-degan.


Dia memegang tanganku yang berada di pundaknya, “Aku bukan hanya menyerahkan seluruh hatiku, tapi juga seluruh hidupku.” Dia berkata begitu.


“Oh ya aku lupa, bahkan kau melupakan cita-citamu untuk tetap bersamaku kan? Menjadi pengusaha adalah hal yang paling kau benci, kau tidak ingin berubah menjadi seperti Papimu yang dingin itu, tapi karena aku kau berubah menjadi pengusaha.”


“Darimana kau tau?” Malik kaget karena aku sudah tahu itu, Hani yang cerita, si sekertaris yang menyukai Malik dan dijodohkan itu.


“Hani, dia bilang begitu, sudah aku konfirmasi juga ke kakakmu, aku kaget dan sedikit terpukul, aku orang terdekatmu, tapi aku hanya tahu hal-hal yang kau anggap aku perlu tahu, aku tidak tahu kesukaanmu, aku tidak tahu hobimu, aku tidak tahu apa keinginan terbesarmu, aku .... “ Aku menatapnya, walau kepalaku masih bersandar di pundaknya.


“Semua itu tidak ada artinya, karena kesukaanku ya ... Seira, tidak ada yang lain, tidak lebih dan kurang, aku mampu meninggalkan apapun untuk dia.” Malik tersenyum, dia ingin membuatku tidak kecewa.


“Maaf Malik, aku bahkan sudah mengecewakanmu karean Aqan Asta dan Pram, maaf aku malah pergi bersama mereka, maafkan aku. Tapi setelah aku tinggal berkali-kali, kau masih saja mencariku, menungguku, aku merasa bahwa aku hanya pembawa sial!”

__ADS_1


“Kau memang pembawa sial! Sial, wanita ini membuat aku bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan baik kalau jauh dariku, sial! Wanita itu membuatku kesal karena dekat dengan lelaki lain, sial! Kenapa dia menangis sendirian, sial! Aku mencintainya dengan seluruh hidupku.” Malik bercanda dan mengusap kepalaku, lalu mencium kepalaku dengan lembut.


“Apa kau kesal ketika aku bilang mau menikah dengan Aqan Asta?” Aku bertanya.


“Tidak, aku menonjokmu karena iblis itu menempel di punggungmu, kau masih tersegel jadi tidak merasakan kehadiran iblis itu, sempat sedikit marah karena kau berteriak akan menikahinya, tapi aku fikir keselamatanmu lebih penting Ser, dia bermaksud menguasaimu, aku mengerti, intuisimu tidak setajam saat ini, itu juga karena aku. Makanya aku tidak bisa marah, dan cintaku tidak sedangkal itu, aku yakin bahwa aku mencintaimu, sisanya biar urusan Tuhan, bahkan aku mengejarmu bukan karena ketakutan kau pergi dariku, tapi takut bahwa kau tidak bahagia.” Malik bercerita.


“Kau tidak cemburu aku bersama lelaki lain?” Aku bertanya dan menatapnya, melepas sandaran pundak yang nyaman itu.


“Cemburu? Aku tidak hanya cemburu Seira, aku bahkan rasanya ingin membunuh lelaki itu, aku bahkan kelepasan membunuh Karuhun Aqan Asta karena begitu kesal melihatnya melecehkanmu, tapi kembali lagi, kalau soal Pram, aku tidak bisa marah, karena dia memang jodohmu, kau miliknya sedari awal dan aku yang berusaha merebutmu.” Ada nada menyesal dari perkataannya.


“Dia orang baik Malik, tapi aku tidak bisa, sungguh aku tidak mampu menyerahkan hatiku pada siapapun, kalau Papimu bilang aku yang menggodamu, seharusnya aku bilang bahwa kau yang membuat hatiku porak-poranda.”


“Selain belajar mengendalikan para Karuhun, kau juga belajar menggombal Ser?” Malik meledekku dan memegang kedua pipiku.


“Ayi, Gubuk sudah jadi, oh ya kau, panggil dia dengan sebutan Ayi, ingat kau hanya sekutu saat ini.” Panglima datang dia memberitahukan bahwa gubuk sudah Jadi.


“Ok, ok Panglima, Ayi gubuk kita sudah jadi.” Lalu Malik berdiri, membawa beberapa ikan yang berhasil di pancing, lalu berjalan mendahuluiku.


“Panglima, tidak bisa kah kau sedikit melunak padanya?” Aku bertanya.


“Aku bukan tipikal lembek seperti itu.” Panglima ikut berlalu.


Mereka dua makhluk yang paling menyayangiku, sekaligus yang saling membenci, setidaknya mereka berdua memilih orang yang sama untuk dilindungi.


“Tunggu aku, kalian yang ribut kenapa aku yang ditinggalin.” Aku berlari menyusul mereka.


_____________________________


Catatan Penulis :


Perjalanan ini akan lebih sulit setelah mereka bersama, karena mereka mendobrak adat yang sudah berdiri ratusan tahun, tapi dengan cinta yang besar dan kesetiaan yang tidak pernah pudar, apa yang mampu memisahkan mereka selain takdir Tuhan?

__ADS_1


__ADS_2