Karuhun

Karuhun
Bagian 45 : Cermin


__ADS_3

Aku terkejut karena lelaki ini tiba-tiba sudah di pondok tanah pejuang, siapa yang membawanya ke sini?


“Quin, maafkan aku, tidak bisa menemanimu, seharusnya kau tidak turunkan aku kemarin.” Aku mendekati lelaki hebat yang selalu bersamaku saat ini.


“Pram, bagaimana kau bisa ada di sini? bukankah aku memerintahkan Raden untuk menjagamu di lembah merah, bagaimana kau bisa masuk ke sini?”


“Kami membawanya di pertengahan jalan Ayi. Kondisinya cukup mengkhawatirkan, dia sangat kedinginan, mungkin karena berhari-hari kalian berada di gunung yang area tersebut memiliki suhu sangat rendah, kondisi Tuan Pram biasa dibilang hipotermia, saat itu kondisinya masih dalam keadaan hipotermia sedang,  jika dia telat ditolong, bisa berakibat fatal, karena sudah kehilangan kesadaran.” Mang Nariman ternyata ada di pondok ini juga.


“Quin, maafkan aku, aku tidak seharusnya meninggalkanmu.” Pram masih duduk dengan kaki lurus, dia terlihat masih lemah, aku duduk di depannya.


“Aku yang minta maaf, sudah menyeretmu sejauh ini, seharusnya aku sadar saat kau kedinginan, kau malah memberikan persediaan bajumu untuk membuatku tetap hangat, maafkan aku Pram.” Aku memegang tangannya.


“Sebaiknya Ayi, bersih-bersih lebih dulu, setelah itu silahkan beristirahat dengan Tuan Pram di pondok ini, ada dua kamar yang bisa kalian gunakan terpisah, karena kalian belum menikah makanya kami menyiapkan kamar terpisah, apa kalian keberatan?”


“Tidak!” Kami menjawab bersamaan, pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku tidak keberatan tidur terpisah, disaat seperti ini aku sama sekali tidak memikirkan tentang pernikahan.


“Baik, Pram istirahat ya, aku akan mandi dan bersih-bersih, aku memang cukup lelah setelah mendaki tebing itu, nanti ceritakan padaku detailnya ya, bagaimana kalian bisa cepat naik dan tidak terlihat olehku sama sekali.” Setelah mengatakannya aku langsung masuk kamar yang cukup besar di pondok ini, walau tidak mewah, rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan bilik sebagai dindingnya ini berukuran besar-besar, tidak heran, dengan postur tubuh mereka yang tinggi gede itu, pasti tempat tinggalnya menyesuaikan. tal


Di kamarku ada kasur di lantai, tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis, tanpa tempat tidur, sudah ada selimut, 1 bantal dan 1 guling, pasti udara di tempat ini sangat dingin pada malam hari, melihat selimut yang disiapkan begitu tebal. Aku menaruh ranselku di pinggir kasur dekat pintu masuk, aku bermaksud mengeluarkan baju bersih yang tersisa, ternyata tidak ada, baju bersihku habis, aku melihat sejurus dengan pintu masuk ada lemari 1 pintu yang terbuat dari kayu, tidak ada cermin di lemari tersebut, aku membuka pintu lemari, siapa tau ada baju.


Beruntung! Ada beberapa pakaian disana, ada kebaya dan juga kain jarik, kebaya berwarna ungu gelap, aku mencoba kebaya ini, agak kebesaran, tapi mau gimana lagi, daripada pakai baju kotor, yang terpenting kebayanya tidak transparant, puringnya menutup brukat dengan sempurna dari dalam, kebaya model lama, tapi tidak bau dan tidak kotor, lalu aku mengambil kain jarik dengan warna coklat cerah, motif jariknya padi, seperti tanah ini, tanah subur diantara gersangnya tanah di sekelilingnya, padi adalah tanda kemakmuran, di jawa Dewi Sri adalah lambang dari kesuburan. Aku suka motif kain jariknya, seperti sudah psangannya, kebaya dan kain jarik ini sunggu sangat cocok.


Setelah memilah pakaian, aku menutup pintu masuk dan membuka pintu yang ada di dekat lemari, aku menebak ini pasti kamar mandi, benar saja.


Pintu kamar mandi ini ada 2, 1 bisa dibuka dari kamarku, satunya lagi dari luar, atau sejajar dengan pintu masuk kamarku, di pondok ini cuma ada satu kamar mandi, tapi pintu ini dibuat tembus sepertinya karena ini kamar utama, untuk memudahkan yang tinggal jika ingin pergi ke toilet, aku memastikan sudah mengunci kedua pintu kamar mandi ini.


Pertama aku membuka ikatan rambutku, aku memang selalu mengikat rambutku yang panjang, aku mengikat seperti biasa saja, kuncir kuda. Aku mencari kaca untuk melihat wajahku, lagi-lagi tidak ada kaca, ah sudah lah, aku juga bukan seorang pesolek, lalu aku meneruskan kegiatan bebersihku, aku mulai mandi dengan sangat bersih, sudah 2 hari aku tidak mandi, karena harus mendaki tebing dan setelahnya memikirkan bagaimana masuk ke Tanah Pejuang ini.


Setelah mandi aku keluar dengan kebaya dan kain jarik yang sudah kukenakan, aku agak kurang percaya diri sebenarnya jika keluar dengan kain jarik ini, tapi apa boleh buat, aku tidak punya baju bersih, tapi sepertinya aku benar-benar perlu kaca, hanya untuk memastikan aku tidak terlihat berlebihan, aku mencari telepon genggamku, setidaknya aku bsia mengaca di sana, walau tidak sempurna, saat akan mendekati ranselku, secara tidak sengaja aku melihat ada sesuatu yang diselipkan di samping lemari, aku penasaran apa itu, karena agak berkilauan.


Aku memutuskan untuk mengeluarkan benda yang diselipkan di lemari, sepertinya itu kaca tanpa frame, jika aku benar, setidaknya aku bisa memastikan bahwa aku tidak terlihat berlebihan.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga aku menggeser lemari kaca yang lumayan berat, setelah berjarak sekitar 20 centi, aku bisa melihat dengan baik apa yang diselipkan di samping lemari kayu ini, ternyata aku benar, ini adalah kaca tanpa frame, kita-kita tingginya sedaguku, wah kaca yang cukup besar.


Aku menariknya keluar dengan kedua tanganku, satu tangan memegang bagian samping kaca, tangan lainnya memegang bagian atas kaca, setelah yakin aku memegang dengan tepat, aku menarik kaca itu, hanya dengan satu hentakan, kaca itu sudah bisa kukeluarkan, aku langsung menyenderkannya pada lemari.


Wah, kaca yang cukup bersih, pasti karena baru di taruh di sana, kalau sudah lama diselipkan pasti berdebu. Setelah memposisikan kaca itu agar aman dan tidak jatuh, aku mulai mengaca.


Ternyata kebaya ini sunggu cantik, kain jariknya membuat warna kebaya ini terlihat elegant, aku terus melihat ke arah kaca, aku merasa ... cantik.


Tok, Tok, Tok. Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. “Ayi, kami sudah siapkan kopi dan cemilan di ruang tamu ya.” Sepertinya salah satu penduduk yang mengantarku ke pondok tadi.


“Baik, makasih Teh.” Aku berteriak.


Lalu aku kembali melihat kaca, tepat setelah mataku beralih kearah kaca, aku melihat sosokku berubah, wanita lain di kaca itu, bajunya sama, tapi wajahnya pucat dengan rambut di konde. Aku terdiam, aku mundur pelan, bayangan di kaca itu tetap pada tempatnya, berdiri tegak, siapa wanita itu, wajahnya tidak mirip denganku, dia lebih cantik ... tapi wajahnya pucat sekali.


Aku tetap menatapnya, aku hanya ingin melihat, apa maksudnya melakukan ini. aku manatapnya tajam dan tetap menjaga jarak, dia menatap kosong ke depan.


“Siapa kamu!” Aku bertanya, dia mulai menatapku dengan lembut, pada awalnya. Setelah beberapa detik kemudian dia menatapku dengan tajam dan berbicara dengan suara yang melengking.


“Raga radin angracana rawi!!!” Wanita itu berteriak, suaranya begitu melengking, aku tidak mengerti apa maksud kata-katanya, tapi karena suaranya yang begitu tinggi kaca yang sudah kesandarkan pecah berkeping-keping dengan pecahannya bertebrangan keseluruh penjuru kamar, aku melindungi wajahku agar tidak terkena kepingan kacanya, posisi tubuhku cukup dekat dengan kaca, aku terjatuh karena pecahan kaca itu melesat sangat cepat, tanganku dan kakiku terkena.


Kudengar Pram mulai mendobrak pintunya, dalam tiga kali dobrakan, pintu itu terbuka.


“Awas Pram, kaca!!!” Aku berusaha memberitahunya ada banyak pecahan kaca di kamar ini, tapi aneh, Pram berlari kearahku, dan membantuku berdiri.


Kemana pecahan kaca itu, tidak ada pecahan kaca sama sekali, aku langsung melihat kearah lemari tempat di mana kaca itu kusandarkan, kacanya masih di sana, berdiri dengan tegak.


“Ada apa Quin?” Pram bertanya setelah mendudukanku di pinggir kasur.


“Kaca itu tadi pecah, lalu pecahannya berterbangan keseluruh ruangan, bahkan tangan dan kakiku kena, aku tadi merasakan sakit tertusuk pecahan beling Pram.” Aku memperlihatkan tanganku, tidak ada bekas luka apapun disana, selain baret-baret karena aku memanjat tebing dua hari lalu.


Pram melihat kaca itu, kaca yang kusam, ada beberapa noda hitam pada beberapa bagian, tapi tadi saat kukeluarkan kaca itu begitu bersih.

__ADS_1


“Aku tidak merasakan energi apapun Quin, aku juga tidak bisa melihat apapun.” Pram bingung.


“Berarti dia hanya ingin aku yang melihatnya, tapi jika dia mampu menyembunyikan energinya darimu, berarti dia memiliki ilmu yang tinggi sekali Pram, berhati-hatilah, aku tidak tahu siapa dia.”


“Kau yang harus hati-hati karena targetnya jelas kamu!” Pram terlihat marah.


“Ayi!” Lagi-lagi Mang Nariman, dia sudah ada di depan pintu yang didobrak Pram, bersama dengan beberapa orang. “siapa yang memberikan kebaya dan kain jarik ini pada Ayi?” Mang Nariman bertanya pada orang-orang di luar, semua diam.


“Mang, aku yang ambil dari lemari, persediaan pakaianku habis, makanya aku cari pakaian dari lemari ini. Ada apa? Apa aku tidak boleh pakai ini?” Aku bertanya dan kami semua sudah di ruang tamu saat ini.


“Lihat dulu di gudang, apakah kebaya dan kain jariknya masih ada di sana?” Mang Nariman memerintah salah Behra, perempuan yang sempat berkelahi denganku sebelum masuk ke tanah ini. “Ayi, silahkan duduk dulu, aku akan menceritakan semua, setelah pakaiannya dipastikan ada atau tidak.”


Lalu kami semua duduk, aku dan Pram duduk bersebelahan di dekat dinding, sedang Mang Nariman di hadapan kami.


Tidak lama kemudian Behra berlari masuk ke pondok ini.


“Tidak ada Abah, kebaya sama kainnya nggak ada di gudang.” Behra berbicara sambil ngos-ngosan.


Mang Nariman yang mendengar itu langsng, tertunduk lalu berbicara.


“Sepertinya memang sudah takdirmu Ayi, meneruskan tugas yang dia tidak bisa selesaikan.” Mang Nariman melihat kearahku dengan mata yang memelas, ada rasa sakit di mata itu, rasa sakit yang aku sendiri tidak bisa jabarkan, rasa sakit yang tidak aku bisa jelaskan, tapi bisa kurasakan.


_____________________


Catatan Penulis :


Aku berdiri di balik tembok raksasa, dimana tembok ini adalah penghalang antara keegoisan dan kehormatan, aku tidak akan menghancurkan temboknya hanya dengan satu keyakinan, harus ada ribuan orang dibelakangku untuk memiliki keyakinan yang sama, yang akan menghancurkan tembok penghalang ini.


______________________


Jangan lupa VOTE ya, bantu Authornya dengan mengkontribusikan poinmu supaya Karuhun naik ranking trus semangat deh updateny.

__ADS_1


Untuk yang sudah bantu aku VOTE, makasih banyak, kalian pembaca yang hebat. jgn lupa tetap tinggalkan komentar ya, supaya aku tau apa sih yang kalian rasakan dari membaca cerbung ini.


Terima Kasih.


__ADS_2