
POV MALIK
Perjalanan menuju Lereng Gunung Barat ternyata sangat jauh, ada beberapa kendala hingga aku harus meninggakjan mobilku, selain karena medannya terlalu terjal, POM bensin yang tidak tersedia di manapun selalu membuatku kerepotan, sisa perjalanan aku lakukan dengan berjalan, atau naik angkutan, bisa bis atau angkot, yang penting sampai ke Lereng Gunung Barat.
Aku sudah tiba di lokasi, aku turun di rumah penduduk, dibawah lereng gunung, setelah ini, harus berjalan kaki, karena memang tidak ada moda angkutan apapun untuk naik ke sana.
Sudah malam, jam 9 malam, desa ini sepi sekali, tidak ada yang ronda, jalanan juga gelap, aku harus mengetuk salah satu pintu untuk bisa bermalam.
Tok, Tok, Tok ….
Aku mengetuk pintu yang terdekat, tapi tidak ada jawaban, lampu rumah merekapun mati, setelah kuperhatika, semua lampu ternyata mati, termasuk lampu rumah di pedesaan ini, gelap gulita, aku menerangi jalan dengan senter.
Aku tahu bahwa rumah penduduk ini semua berpenghuni, melihat dari sandal yang ada di depan rumah dan juga betapa bersihnya rumah mereka, jika tidak ada penghuni, seharusnya rumah ini pasti kotor dan berdebu, tapi semua rumah ini kulihat bersih, tapi benar-benar seperti tidak ada penghuni.
Aku terus berjalan masuk lebih dalam, tidak ada satupun orang di sana, tidak jauh dari rumah penduduk, agak di ujung, aku melihat Pos, mungkin bisa kujadikan tempat beristirahat dulu, paling tidak sampai besok pagi.
Aku ke sana, dan menaruh ranselku, lelah sekali rasanya.
“Hei, kamu orang baru ya?” Aku melihat seseorang datang dari arah hutan, seorang wanita, dengan gaun putih.
“Jadi kamu yang membuat mereka takut?” Aku hanya menebak.
“Hiiiii hiiiii hiiiii.” Dia tertawa dengan suara khasnya.
“Aku lelah sekali, tidak mau bermain. Sudah sana.” Aku menggelar sleeping bag dan masuk kedalamnya.
Walau semua pasukan sudah kuserahkan pada Seira, tapi aku masih memiliki kemampuan itu, aku sudah ngilmu belasan tahun, hantu rendah macam dia, langsung bisa kudeteksi.
“Aku boleh menemanimu?” Dia berdiri diatas kepalaku, posisiku sedang tiduran di pos ini.
“Terserah saja, lagian ini bukan pos ku, kau bebas mau ngapain aja.”
“Kalau aku tidur di sampingmu boleh?”
“Kubilang terserah!!! Aku tidak bisa tidur kalau kau banyak tanya.”
“TAPI AKU INGINKAN KAMU!!!” setan ini mengeluarkan wujud aslinya, wajahnya hancur, bajunya yang semual putih bersih menjadi compang-camping, dan rambutnya berantakan, belum lagi perutnya bolong.
Aku yang sedang tiduran terlentang hanya menoleh melihat perubahan wujudnya. “Kau sedang syuting film? Kalau kau masih tidak diam, aku akan menghajarmu!” Aku menatapnya dengan tajam, dia mundur. Kekurangan setan rendah macam ini adalah, dia tidak mampu mengukur kemampuan lawannya, kesal-kesal kucekik dia sampai musnah.
“Kau sudah tidur?” Setan ini sepertinya memang ingin aku musnahkan. Aku membuka sleeping bag dan duduk, aku menarik lehernya, dia terlihat kesakitan, kan sudah kubilang, aku akan mencekiknya sampai musnah.
Aku ngilmu belasan tahun, bukan hanya ilmu putih, sehingga aku mampu berkamuflase masuk ke dimensi mereka, sehingga menyentuh setan seperti hal mudah bagiku, dia masih kesakitan karena cekikanku.
“Ampun, Ampun, Ampuuunnnn.” Dia berteriak dengan kencang, aku melepasnya karena dia berisik sekali.
“Maafkan aku tuan, aku hanya iseng.” Dia memegangi lehernya.
“Sudah kubilang kan, kalau kau menggangguku, aku akan … sudah berapa lama kau di sini?”
__ADS_1
“Sudah lama, entahlah berapa lama dalam hitungan waktu manusia, tapi seprtinya saat penduduk kampung ini masih kecil, dan sekarang mereka sudah punya cucu.” Setan itu duduk dengan kaki bergoyang di pos, wujudnya sudah kembali normal.
“Apakah kau pernah melihat seorang perempuan dan laki-laki datang ke sini?”
“Banyak sekali orang yang datang untuk melihat Lereng Gunung ini, perempuan dan lelaki seperti apa yang kau tanyakan?”
Aku mengeluarkan foto Seira dari ponselku dan menunjukan padanya.
“Ini, namanya Seira.” Saat aku memperlihatkan wajah Seira, setan itu langsung ketakutan, dan duduk jongkok di pojok.
“Mengerikan sekali wanita itu.” Setan itu terlihat menangis.
‘Maksudmu mengerikan?”
“Di belakangnya banyak makhluk yang menakutkan. Aku tidak ingin melihatnya.” Bahkan untuk setan seperti ini saja, Seira begitu menakutkan, pasti itu karena kemampuannya sudah sangat tinggi, apalagi dia bersama … sulit mengakuinya, tapi memang bersama Pram seharusnya adalah hal yang baik, tapi entah mengapa, hatiku merasa bahwa ada sesuatu yang salah.
“Kalau kau mau mengetahui keberadaan wanita itu, besok pagi, kau harus temui seorang lelaki yang rambutnya berwarna abu-abu, semua orang di sini kalau sudah tua, akan beruban, dna hanya pria tua itu saja yang rambutnya abu-abu, tanyakan padanya, setauku dia bisa melihat masa lalu dan masa depan.
“Baiklah, ternyata kau ada gunanya.” Malik kembali menutup sleeping bagnya dan tertidur, hari ini lelah sekali, tapi besok aku akan menemui lelaki yang setan ini maksud.
…
“Aa, A … “ seseorang mengggoyang bahuku, apa si setan yang semalam, dia tidak bisa membuatku tenang.
Aku bangun dan menarik tangannya, tapi saat aku membuka mata, ternyata salah, dia seorang perempuan biasa, dia manusia bukan si setan sialan semalam, aku buru-buru melepasa tangan itu.
“Aa, ketemu sama perempuan sundal itu?” Wanita itu duduk disampingku, aku membuka sleeping bag, dan keluar dari dalamnya, melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kau tahu seorang lelaki yang rambutnya abu-abu? Umurnya sudha cukup tua.”
“Aku Anih, Aa namanya siapa?” Wanita itu mengulurkan tangannya.
“Aku bukan siapa-siapa, kalau kau tidak tahu aku akan mencari yang tahu.” Aku mengambil ranselku dan membawanya di punggung, kulihat semua penduduk masih menunggu di sekitarku.
“Aku tahu A, dia tinggal di gubuk tua, dekat pintu masuk lereng gunung.” Wanita yang bernama Anih itu mengejarku.
“Tunjukan jalannya, aku akan ke sana.”
“Aku antar ya?” Wanita mendekat dan mencoba meraih lenganku.
“Bisakah kau lepaskan tanganmu? Aku kesini mencari kekasihku, jadi aku tidak ingin jika dia ternyata ada di lereng gunung, dia melihat kita bergandengan.”
Wanita itu memerah, dia malu karena aku langsung to the point.
“Jadi Aa beneran nyari perempuan?” kami berjalan beriringan, aku membiarkannya mengantarkanku.
“Ya, aku memang mencari kekasihku. Jadi jangan banyak tanya dan jaga jarak.” Aku melihat kearah bahunya yang selalu nempel, wanita macam apa yang baru ketemu langsung nempel-nempel gini, berbeda sekali dengan kekasihku, wanita yang menjaga harga dirinya.
“Sudah sampai. Tuh gubuknya.”
__ADS_1
Aku melihat kearah yang dia maksud dan, aku kaget saat melihat sesosok perempuan.
“Ser!!!” Aku berteriak memanggil wanita itu, aku yakin dia Seira.
“A, apa sih tereak-tereak Ser? Nggak ada orang juga.” Wanita itu menepuk bahuku, aku kaget, dan sosok Seira menghilang. Ini kali pertamanya kejadian seperti ini, aku melihat sosoknya.
“Yaudah A, ayo masuk, tapi aku Cuma antar sampai pintu depan, aku abis itu pulang ya, takut sama si Amang, dia orang gila, Aa kerabatnya?” Wanita itu bertanya, aku hanya mengangguk biar dia cepat pergi.
Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tidak lama pintu dibuka, keluar seorang lelaki, dia menggunakan tongkat sebagai alat bantu arahnya, setan sialan, masa dia suruh aku bertanya pada orang buta, sepertinya aku dikerjai karena semalam mencekiknya.
“Maaf Pak, salah alamat.” Aku langsung berbalik dan hendak pergi.
“Malik Rainan, sedang mencari Seira Adam Hanida. Betul?” Lelaki itu berkata, perkataannya membautku urung meninggalkan gubuk ini, bagaimana dia tahu bahwa aku ke sini mencari Seira.
“Iya Pak, saya sedang mencari Seira, apakah dia ada di Lereng Gunung ini?”
“Duduk dulu, kita bicara di dalam.” Lelaki tua itu mengajakku ke rumahnya, aku ikut perintah dan duduk di tempat yang lelaki itu katakan.
“Wanita itu mengawasimu, kau melihatnya dia depan rumahku kan?” Lelaki tua itu bertanya.
“Iya aku sekilas melihatnya.”
“Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya, karena dia akan selalu selangkah di depanmu, dia bisa mendeteksimu saat kau menggunakan ilmumu, dia sudah menaklukan dirimu, hingga dimanapun kau berada saat menggunakan ilmu itu, dia akan langsung tau keberadaanmu. Semalam kau menggunakan ilmu untuk menghajar setan perempuan itu kan?”
“Jadi Seira bisa mendeteksiku jika ilmu kugunakan, jadi kalau aku mau menemukannya, aku tidak boleh menggunakan ilmuku?” Aku bertanya karena ini hal baru bagiku, aku tidak tahu bahwa, Seira sudah setinggi itu.
“Ya, kalau memang tujuan dia menjauh darimu, maka kau tidak akan pernah bertemu dengannya, karena dia jauh lebih kuat darimu, menyerahlah, akan sulit bagi kalian berdua.”
“Aku tidak akan menggunakan lagi ilmuku, aku akan bersembunyi darinya.”
“Maka itu berat, karena wajahmu, wangimu dan sikapmu membuat baik manusia maupun setan ingin berdekatan, kau mampu menghalau mereka tanpa ilmu?” Lelaki ini menyebalkan, apakah dia salah satu utusan Pram?
“Kuberitahu, Ayi tidak ada di sini, dia berada jauh sekali, menyebrang lautan bersama Kharisma Jagat Agung, mereka sedang melakukan hal yang sangat berbahaya, hanya kami para sekutunya yang diperbolehkan tahu, kau orang luar, kau tidak diperkenankan mengetahui apa yang merka berdua rencanakan, pergilah, lupakan Ayi dan hiduplah dengan baik. Itu yang Ayi titipkan pesan padaku barusan.” Lelaki itu lalu pergi ke dalam kamarnya dan tidak lama keluar lagi membawa sesuatu.
“Ayi juga menitipkan ini, katanya dia ingin kau memberikannya pada wanita yang tepat, bukan dia.”
Aku menerima barang tersebut, itu adalah kalung, kalung yang kuberikan padanya saat kami masih SMA, waktu itu dia bilang bahwa ada seorang kakak kelas kami yang berpacaran denganku, dan mengatakan bahwa aku memberikan kakak kelas itu sebuah kalung, tentu saja itu bohong, aku tidak pernah member siapapun kalung selain Seira, untuk menenangkan hatinya, aku membelikannya kalung, yang bertuliskan huruf S, tapi dibalik huruf itu ada namaku.
“Terima kasih sudah memberikan kalung ini, tapi tolong kembalikan kalung ini padanya, dan bilang, aku akan menemukannya.” Lalu aku pamit dan keluar dari gubuk itu.
Seira, bahaya apa yang membuatmu harus melakukan itu? Seira, apakah kau tidak mampu bahagia, kenapa kau harus memilih jalan sulit, jika saja ibumu datang membawa undangan pernikahan, sungguh aku akan datang pada pernikahanmu dan mengancam Pram, jika saja dia berani membuatmu terluka, aku akan menghabisinya, tapi ini berbeda, ibumu menangis sesegukan, aku tahu ada yang tidak beres. Aku harus bertemu denganmu untuk memastikannya.
Aku menarik ranselku, melihat pada catatan Mang Engkus, tempat berikutnya adalah Dusun Mati Barat.
___________________________
Catatan Penulis :
Terkadang kita melakukan hal bodoh bagi kebanyakan orang hanya untuk mellihat dia bahagia, terkadang hal gila yang kita lakukan justru membuat dia marah, terkadang kita terluka karena marahnya sungguh melukai hati, tapi satu hal yang tidak pernah salah, cinta yang tulus
__ADS_1