Karuhun

Karuhun
Bagian 37 : Ayi Tirung


__ADS_3

“Hari ini hari selasa di tahun 1862, ini adalah hari dimana para tentara penjajah itu bersenang-senang dengan perempuan bodoh tanah Kitanajoa, pulau ini memang terpisah dari pulau Ibukota tapi penduduk asli tanah ini adalah para keturunan pasundan, nenek moyang tanah ini adalah asli dari tanah pasundan yang berani membuka hutan di tanah ini untuk dijadikan tempat tinggal.”


“Maksud Ayi, penduduk tanah Kitanajoa saat itu adalah asli keturunan pasundan? Atau orang menyebut kita keturunan Sunda?” Aku bertanya, kami masih duduk di balkon lantai 3 penginapan ini.


“Betul Ayi Mahogra, kami adalah penduduk asli tanah ini, aku dan suamiku yang seorang Kharims Jagat adalah pemimpin tanah ini karena nenek moyang kami adalah pembuka lahan.”


“Apa yang terjadi padamu dan suamimu?” Aku tahu ada yang ingin dia sampaikan makanya dia menemuiku dalam dimensi yang berbeda, aku tidak gugup lagi menghadapi masalah seperti ini.


“Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Nusia Mulya, orang memanggilku Ayi Nusia karena aku Ayi Tirung, Ayi yang dilahirkan untuk menunggu kelahiranmu.”


Aku merapatkan tanganku dan menaruhnya di atas keningku sebagai penghormatan kepada Ayi Tirung, diapun membalas dengan sikap yang sama.


“Aku dan suamiku bertahan pada keyakinan adat dan agama kami, aku tidak mau menerima tentara-tentara penjajah itu masuk ke Tanah Kitanajoa, tanah yang di wariskan kepada kami anak cucu keturunan tanah pasundan, tapi ternyata mereka lebih pintar dari dugaan kami, mereka mendekati wanita-wanita yang silau akan uang dan emas, mereka memberinya cinta palsu, bunga dan janji-janji palsu, para wanita tersebut akhirnya menjadi pembunuh suami-suami mereka dengan alasan bahwa cinta mereka lebih berharga daripada suami dan anaknya.” Ayi Nusia berhenti sebentar dia menahan amarahnya sekilas matanya memerah, lalu dia melanjutkan ceritanya.


“Setelah wanita-wanita itu berhasil membunuh suami bahkan beberapa dari mereka ada yang menghanyutkan balitanya karena tidak tega membunuh, aku dan suamiku berusaha menyelamatkan yang kami mampu selamatkan, tapi jumlah pengikut tentara penjajah lebih banyak dibanding kami, kami yang teguh pada adat dan agama.”


“Kalian kalah?” Aku menggenggam tangannya.


“Kami kalah, suamiku yang memegang 20 pasukan dan aku 55 pasukan, kalah oleh para wanita yang tertipu rayuan itu. Jumlah wanita kharima jagat itu sangat banyak, masing-masing dari mereka memegang satu atau dua karuhun, kami kalah jumlah. pertama mereka menghabisi suamiku dengan meracunnya, kami bahkan dikhianati oleh budak-budak kami, aku bertahan berperang sendirian dengan orang-orang kepercayaanku, aku berperang berminggu-minggu sampai kami dipukul mundur dan terpaksa harus kabur ke gunung Butir-Butir, disana kami membuat pagar ghaib dan membuat siapapun tersesat setiap kali akan naik, termasuk pasukan wanita bodoh yang telah terbuai rayuan cinta palsu para tentara penjajah itu.”


“Lalu apa yang terjadi setelahnya Ayi?” Aku kembali bertanya.


“Kami masih selamat selama beberapa tahun, lalu aku mendengar bahwa para pasukan tentara penjajah melancarkan apa yang menjadi tujuan utama mereka, menjadikan negeri ini sebagai sumber utama penghasilan para penjajah, mereka menerapkan sistem tanam paksa pada tanah ini, itulah yang mereka incar dari awal, tanah subur Kitanajoa.”


“Tahun 1862, tahun dimana salah satu penjajah mendominasi sistem tanam paksa ini, rupanya tidak hanya tanah Ibukota, tapi tanah Kitanajoa yang jaraknya beribu-ribu meter dari Ibukota menjadi incaran mereka.” Aku geram, karena pada jaman itu memang sistem tanam paksa sangat membuat rakyat negeri ini tersiksa.


“Banyak dari wanita-wanita itu sadar bahwa mereka ditipu dan disiksa karena harus menjadi budak dari tanah mereka sendiri, karena sudah tidak memiliki suami yang sudah mereka bunuh, maka mereka harus menjadi petani untuk menopang hidup dan menyerahkan hasil pertanian mereka pada tentara-tentara busuk itu, sementara mereka dibayar seenaknya tidak memandang harga yang layak. Wanita-wanita itu menyadari mereka dijebak, banyak dari mereka akhirnya bunuh diri karena menyesal telah membunuh suami dan anak mereka. Namun, penyesalan mereka terlambat, mereka hidup hanya dari pertanian peninggalan suami yang mereka khianati dan dibayar rendah oleh para lelaki yang katanya mencintai mereka dengan palsu.”


“Setidaknya para wanita itu mendapatkan balasannya, lalu apa yang terjadi padamu di gunung Butir-Butir?” Aku bertanya.


“Kami bisa bertahan bertahun-tahun kemudian, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa aku hanya sendirian tanpa Kharisma Jagat jodohku, aku pincang, bahkan pengikutku yang sebelumnya setia satu-persatu mulai goyah karena kelaparan.”


“Aku tidak bisa membayangkan apa yang mereka lakukan padamu.” Aku menutup mulutku.

__ADS_1


“Pagar ghaibnya jebol, aku dan 2 anak lelakiku tertangkap. Seluruh karuhunku di bunuh. Lalu aku di masukkan ke penjara, dua anak laki-lakiku pun sama, kami semua dipenjara, tapi atas ijin Tuhan 2 anak lelakiku meminta kutukan penyakit padaku, sebagai Ayi Tirung aku bisa mengutuk anakku sendiri, aku memohon pada Tuhan.” Ayi Nusia menangis sangat pedih.


“Kau mengutuk mereka?”


“Aku mengutuk mereka dengan penyakit yang menular, seluruh tubuh mereka dipenuhi oleh koreng yang bernanah, mereka ikhlas menerima kutukan itu, karena hanya kutukan itu satu-satunya cara mengalahkan pasukan tentara penjajah.”


“Apa seburuk itu mengemban tugas sebagai Ayi? Sampai kau harus mengorbankan anak-anakmu?”


“Pengorbanan adalah intinya Ayi.”


“Lanjutkan.” Aku berkata.


“Penyakit anakku menulari  banyak tentara, lalu tentara lain menulari semua orang yang mereka temui, tidak lama, mereka tumbang, banyak manyat bergelimpangan disini, sementara aku, aku di penggal oleh mereka di depan rakyatku, tanpa ada satupun dari mereka yang membelaku.”


Aku melihat leher Ayi Nusia, pantas ada bekas merah disana.


“Mereka fikir telah menghabisiku dan anakku, dan memutus garis Kharisma Jagat di tanah Kitanajoa ini, ada satu hal yang mereka tidak tau dan akan kuberi tahu padamu.” Ayi Tirung yang sekarang memegang tanganku.


“Katakan aku akan menjaganya dengan hidupku.” Aku berkata dengan penuh keyakinan.


“Apa?” Aku kaget.


“Tidak ada catatan sejarah tentang anak perempuanku, karena aku dan suami sepakat menyembunyikan kelahirannya, ketika aku ditangkap di hutan, aku sudah menyembunyikannya jauh bersama dengan karuhun yang memilihnya dari lahir.”


“Jadi masih ada keturunanmu langsung Ayi?”


“Betul, saat ini anak perempuanku telah tiada tapi dia punya anak cucu, yang tinggal di Gunung Butir-butir, pagar Ghaib itu telah disempurnakan oleh anak cucuku, sehingga tidak ada yang mampu naik sampai ke puncak karena disana, kau akan menemukan perkampungan prajurit kharisma jagat Nusia mulya. Jadikan mereka sekutumu, ajak mereka berjuang denganmu, aku datang hari ini khusus untuk memberitahumu bagaimana naik ke gunung itu dan mencapai puncaknya.”


“Jadi orang yang kucari adalah keturunanmu?”


“Bukan orang, tapi orang-orang, mereka akan memenuhi perintahmu karena mereka memang disiapkan untuk berjuang denganmu. Makanya kenapa kami menyembunyikan anak perempuan kami, karena anak cucunya kelak yang akan menjadi pasukanmu melawan musuh-musuhmu kelak.”


“Ayi terima kasih.”

__ADS_1


“Tapi sebelumnya maukah Ayi Mahogra membantu nenek tua ini?”


“Katakan? Aku akan membantumu, apapun yang kamu butuhkan.” Aku menjawabnya.


“Tanah Kitanajoa menjadi gersang karena mereka memenggal kepalaku, darah dari tubuhku membuat tanah ini menjadi gersang, makanya tentara penjajah akhirnya menyerah dan meninggalkan Kitanajoa, bantu kami dan penduduk yang tersisa untuk bertahan di tanah ini, aku ingin tanah ini tetap terjaga sebagai kampung keturunan Pasundan.”


“Bagaimana caranya?” Aku bertanya.


“Teteskan darahmu di tempat mereka memenggal kepalaku, jika darahku adalah penyakit untuk tanah ini, maka darahmu adalah obatnya.” Ayi Nusia tersenyum.


“Aku akan melakukannya dan memastikan tanah di Kitanajoa menjadi subur kembali.”


“Ini.” Ayi Tirung memberikan tusuk konde bunga mawarnya padaku. “Gunakan ini sebagai kunci untuk masuk ke tanah prajurit di puncak gunung Butir-Butir. Sampaikan salamku pada anak cucuku di sana setelah kau sampai.”


“Aku menerimanya dan .... “


“Seira.” Pram menepuk bahuku.


Ternyata aku sudah kembali di hadapan lukisan Ayi Nusia Mulya, Ayi Tirung Tanah Kitanajoa.


“Kau sudah kembali?” Pram bertanya, sepertinya dia tahu bahwa aku tadi meninggalkan ragaku saja.


“Ya, aku bertemu dengannya.” Aku menunjuk lukisan Ayi Nusia, saat ini lukisannya sudah berubah, tidak ada hiasan tusuk konde bunga mawar lagi  di sana, karena tusuk konde itu telah diberikan padaku.


“Pram sudah dapat kamar?” Aku bertanya.


“Sudah, kenapa?”


“Kita harus istirahat karena besok pagi-pagi sekali harus melakukan sesuatu yang berat.”


Aku tersenyum, sementara Pram bingung. Dia memang tidak bisa melihat apa yang sudah kulewati bersama Ayi Nuria di tahun 1862.


__________________________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Seorang wanita dan kesetiaan adalah satu kesatuan. Maka jika kau tidak setia kau bukan wanita yang mulia, seorang wanita mampu setia tanpa cinta, tanpa pamrih dan dengan tulus, karena wanita menggenggam kesetiaan di tangannya sebagai kemuliaan yang tidak pernah dilepas hingga akhir hayat.


__ADS_2