Karuhun

Karuhun
Bagian 38 : Pengorbanan


__ADS_3

“Pagi Quin, sarapan.” Pram sudah ada di depan kamarku, aku sudah bangun sedari tadi menyiapkan segalanya untuk menyembuhkan tanah di Kitanajoa ini.


“Sarapan di jalan aja ya.” Aku membawa ranselku dan berjalan duluan menuruni tangga, jujur tidurku tidak nyenyak semalam, ada suara derap kaki para jin yang menyerupai tentara penjajah, ada suara-suara perempuan yang merintih menangis dan tertawa, aku sudah terbiasa dengan mereka, yang membuat aku tidak bisa tidur adalah amanat Ayi Tirung untuk membuat tanah ini kembali subur.


“Untung aku kenal kamu, nih rotinya, isi daging sama susu. Aku tau kamu pasti minta sarapan di jalan.” Pram memberikan sarapanku.


Setelah keluar dari penginapan kami berjalan ke arah alun-alun kota, tadi pegawai penginapan memberitahu kami kemana kami harus berjalan.


Sepanjang perjalanan kami melewati pasar, tanah Kitanajoa memang sangat gersang, tidak ada pohon atau sekedar tanaman di pot, katanya tidak akan ada yang bisa tumbuh di tanah ini, mereka percaya bahwa itu adalah hukuman dari Ayi Tirung karena warga di Tanah ini membelot dari ajaran adat dan agama, sampai berdiam ketika Ayi mereka di penggal di alun-alun kota.


Kami sudah sampai di alun-alun kota, lokasinya dekat dengan pemerintahan kota ini, alun-alun ini di kelilingi gedung pemerintah kota tapi tanpa gerbang.


“Pak Hamdan ya?” Aku bertanya dan bersalaman.


“Betul Ayi.” Dia menjawab, ak ucukup terkejut dia memanggilku Ayi.


“Pak Hamdan, boleh saya memegang tangan bapak sekali lagi?” Tadi aku memang hanya sekedar bersalaman tidak mencoba menelusuri dari darah siapa dia berasal.


“Silahkan Ayi.” Dia mengulurkan tangan kanannya, aku memegang tangan kanannya dengan kedua tanganku.


Aku melihat masa lalunya, tempat kelahirannya, lalu mundur ketika orang tuanya muda, mundur lagi ketika kelahiran Ayahnya, dimana kakek neneknya muda dan penglihatan itu terus mundur sampai di mana aku melihat Ayi Nuria di dalam hutan bersama seorang kepercayaannya, seorang wanita pejuang yang sedang hamil.


“Garis darah kharisma jagat penjaga Ayi Nuria.” Aku melepas tangannya.


“Nenek moyangmu ikut menjadi korban penggal di alun-alun kota bersama dengan Ayi Nuria.” Aku memberitahunya.


“Benar Ayi, ketika itu beruntung salah satu warga mau menerima bayi nenek moyangku, sehingga kami bisa tetap hidup setelahnya, tidak ada yang tahu siapa kami, sampai nama Ayi Nuria dibersihkan dan di tuliskan sebagai pahlawan bangsa dari kota ini. Nenek moyangkupun menjadi salah saru pejuang bangsa.


“Karuhunmu turun temurun dari nenek moyangmu itu, kamu bisa membuat apapun yang kamu pegang berubah menjadi api.”


“Ketika kecil aku selalu takut dengan tanganku Ayi, karena beberapa orang menyangka aku iblis, setiap aku marah, tanganku mengeluarkan api, mereka tidak tahu bahwa ada seekor binatang yang serupa dengan naga yang mengikutiku. Dialah sumber api tersebut.


“Bagus Heulang.” Aku menyapa karuhun Hamdan yang bersembunyi, salah satu karuhun yang cukup tua, hingga bisa bersembunyi dariku dan Pram.


“Ayi Mahogra, Kharisma Jagat Agung.” Bagus Heulang yang menyerupai naga menyapa kami dengan suaranya yang berat, karena memang usianya sekitar 200 tahun atau lebih lama dari itu, mengingat ketika 1862 dia sudah menjadi penjaga dari pengikut setia Ayi Nuria.

__ADS_1


“Tunjukan padaku dimana mereka memenggal kepala Ayi Nuria?” Aku bertanya pada Bagus Heulang.


Dia lalu berjalan ke tengah lapangan yang dikelilingi oleh bangunan pemerintahan di kota ini.


“Disini adalah tempat algojo itu menebas leher para tuanku.” Bagus Heulang berkata.


“Dimana tepatnya darah Ayi Nuria tergenang?” Aku kembali bertanya.


“Di sini.” Bagus Heulang menunjuk pada kakinya.


“Mundur semua.” Pram, Hamdan dan Bagus Heulang mundur.


Aku berdiri tepat dimana Bagus Heulang menunjukan lokasi, aku mengeluarkan kujangku, memasang kuda-kuda dengan cara melebarkan kaki dan membungkuk setengah, melebarkan kedua tanganku yang memegang kujang, setelahnya, aku melakukan gerakan menyilang tangan dimana kujang membuat goresan pada kedua pergelangaku, lalu mengalirlah darah dari sana, begitu darahku menyentuh tanah, angin berhembus kencang, perlahan angin tersebut membawa pasir yang membentuk pusaran di sekeliling tubuhku yang merupakan tempat dimana darah Ayi Nuria tergenang.


Pram dan Hamdan duduk bersila, sementara Bagus Heulang terbang diatas pusaran angin di sekeliling tubuhku.


Pusaran angin tersebut membawa tetesan-tetesan darahku terbang dan terpecik keseluruh arah, aku masih dalam posisi memasang kuda-kuda, dan sedikit lemas karena, aku membiarkan pusaran tersebut membawa darahku sebanyak mungkin hingga seluruh tanah di kota ini terkena percikan darahku, seperti kata Ayi Nuria, darahnya adalah penyakit untuk tanah ini sehingga tanah ini menjadi tanah yang tidak subur, lalu darahku adalah obatnya.


Setelah pusaran angin perlahan hilang, diikuti tubuhku yang jatuh tergeletak karena lemas, darahku menetes cukup banyak, aku memang tidak melukai nadiku karena seperti yang Ayi Nuria ajarkan, darah yang melewati nadiku adalah sumber kekuatanku, di sana aku di segel dahulu, dan di sana juga juga terdapat obat untuk menyembuhkan tanah Kitanajoa.


...


“Pram.” Aku memanggil Pram tapi tidak ada jawaban, kulihat aku tidur di ranjang dan ada selang infus di tanganku, gelap sekali di luar sana. Bukankah ini rumah sakit? Lalu kemana semua orang?


Aku membawa tiang infusku bermaksud keluar, karena aku curiga saat pingsan mereka membawa jiwaku, mereka suka sekali ketika aku di posisi terlemahku, yaitu saat aku tidur atau pingsan, tapi aku tidak takut kali ini, karena ini sudah kesekian kalinya, walau tubuhku lemah.


Begitu aku buka pintu, astaga benar saja aku dibawa ‘mereka’ lagi.


Aku berjalan menyusuri lorong, gelap ini, dibelakang aku dengar suara seseorang berjalan dengan menyeret kaki dan nafasnya begitu berat, setan apa ini? mereka biasa menyebutnya setan asma di film bukan? Aku tertawa, lalu berbalik ke belakang dengan cepat. Setan itu terkejut karena aku berbalik.


“Oh ayolah, tidak bisa lebih buruk dari itu?” Aku melihat sosok lelaki yang tidak utuh, kakinya sebelah terpotong, bajunya compang-camping, kepalanya terpotong dibagian atas dan organ pertunya keluar.


“To-to-longgg.” Dia berkata dengan mendesah sembari berjalan dengan diseret karena satu kakinya tidak utuh.


Aku mendekatinya cukup dekat dan menatap matanya, setan ini gugup.

__ADS_1


“Pergi dari rumah sakit ini, karena begitu aku bangun kau dan teman-temanmu akan kuhabisi dengan kujang.” Aku menangancam.


“Kau tidak bisa apa-apa karena kau sendirian.” Setan itu berkata masih sambil mendesah.


“Kata siapa?” Aku berkata dan menoyor kepalanya, ada potongan daging menempel dijariku yang menoyor kepalanya.


“Panglima, pangeran!!!” Aku memanggil karuhunku dan mereka muncul.


“Panglima, ulah siapa ini?” Aku bertanya, sementara setan menjijikan itu diserang oleh Pangeran.


“Ada beberapa keturunan kharisma jagat yang nenek moyangnya pembelot, mereka mengadakan perjanjian dengan iblis untuk membuat dunia ghaib mengunci jiwa Ayi di rumah sakit ini.” Panglima memberikan penjelasan, kami masih di lorong rumah sakit yang gelap.


“Lalu bagaimana dengan tubuhku?”


“Ada di rumah sakit ini, tapi sedang koma, Pram dan Hamdan menjaga tubuh Ayi.”


“Baiklah, kembali dan ajak Jagog ke sini, Pram tidak boleh ikut, dia harus menjaga tubuhku tetap stabil, kita harus mencari dalangnya dulu disini, aku tidak terima dikerjai oleh anak-anak ingusan.”


Aku bisa saja kembali dengan mudah mengikuti Panglima dan Pangeran, tapi aku tidak mau mereka-meraka keturunan pembelot itu selamat, akan kuhabisi karuhun mereka, kalau perlu kuhapus jalur karuhunnya sekalian. Biar jadi buta dan tuli mereka selamanya.


“Baik Ayi.”


Sementara itu kulihat Pangeran sedang mengejar setan menjijikan tadi yang lari tunggang langgang karena meliaht badan pangeran semakin besar seperti raksasa, aku tertawa karena setan yang suka menakuti itu ketakutan lari tunggang langgang dengan kaki tidak utuhnya.


Aku akan berjalan mencari sumber dunia ghaib ini, hanya aku yang bisa memusnahkan jin yang mengadakan perjanjian dengan anak-anak ingusan itu, mungkin mereka terbiasa main-main dengan kharisma jagat yang bermaksud menolong, tapi denganku, mereka akan kapok.


__________________________________


Catatan penulis :


Aku jauh berada di tempat sunyi, aku tidak kecewa karena di keramaianpun tanpa mu rasanya seperti sendiri (Seira Quote)


 


 

__ADS_1


Yang menunggu perkampungan pejuang di puncak gunung Butir-Butir sabar ya, akan di post beberapa part setelah ini, yang kangen Panglima dan Pangeran mereka muncul ya di part ini. yang kangen Author pasti nggak ada.


__ADS_2