Karuhun

Karuhun
Bagian 43 : Penantian


__ADS_3

Pram sudah turun, sekarang saatnya aku naik ke atas, jalanan yang akan kulalui sangat terjal, aku sudah membawa peralatan untuk mendaki, mengganti sepatuku dengan sepatu hiking terlebih dahulu, karena selama mendaki sebelumnya aku hanya memakai sepatu gunung biasa, bukan yang khusus untuk mendaki tebinga yang terjal atau climbing.


Sekarang aku sudah berdiri di tebing pertama, ketinggiannya mencapai 100 meter, tebing ini di kenal dengan nama tebing guyuran, dinamakan seperti itu karena pada beberapa bagian jika kita tidak beruntung maka tubuh kita akan diguyur oleh batu dan pasir yang jatuh di atas dalam jumlah yang sangat banyak ketika sedang mendaki, jika kita terjebak dalam situasi seperti itu, maka kita harus diam terlebih dahulu menunggu situasi aman.


Kulihat ada poin panjat dari para pendaki terdahulu, tidak terlihat profesional tapi sepertinya cukup untuk menahan tubuhku. Aku menyiapkan tali paracord yang nantinya akan ku kaitkan pada poin panjat, setidaknya bisa menahanku jika terjatuh, sepertinya point panjat itu sudah disiapkan oleh para petapa yang mendaki keatas, wakau poin ini terlihat usang, tapi aku sungguh takkan berhenti, tinggal selangkah lagi.


Perlahan aku mendaki tebing yang curam dan licin ini, pasti karena embun makanya tebing terasa lembab. Ternyata satu poin ke poin panjat yang lain cukup lebar, kakiku terbilang panjang untuk ukuran wanita, tapi aku harus susah payar meraih point tebing itu, sudah sekitar 15 menit aku memanjat, ku lihat kebawah, sudah setengah jalan, setelah ini aku akan lebih banyak berlatih panjat tebing, ini hanya seratus meter tapi aku sudah kehabisan nafas, Seira kau terlalu amatir.


Aku melanjutkan jalan dengan merangkak dari satu poin ke satu poin, kira-kira sekitar 10 menit lagi mungkin aku akan sampai ke puncak, aku mendengar ada suara gemuruh yang cukup menakutkan, Tuhan apa lagi ini?


Aku melihat keatas, satu persatu kerikil jatuh dari sana, aku mencari poin yang paling aman dari arah jatuhnya kerikil, melakukan gerakan cepat dan tetap menjaga keamanan diri, setelah aku berhasil sampai pada poin yang menjauhi kerikil jatuh, tiba-tiba kerikul itu berubah menjadi puing yang cukup besar dan runtuh dari atas, aku menunduk dan merapatkan tubuhku pada tebingnya.


“Bagus Heulang!” Aku memanggil karuhun baruku, dia tidak keluar. Ada apa ini, kemana dia. Aku tidak mungkin memanggil Panglima karena dia tidak bisa melindungiku dengan cakarnya, kami pasti terjatuh, tepat di detik itu ada bongkahan batu yang berdiameter sekitar 80 centi meter, cukup besar dan arah gelindingnya tepat di posisiku, kalau batu itu mengenaiku, aku pasti jatuh.


“Karembo Hejo.” Aku mengeluarkan karembo hejo dan melilitkan salah satu sisinya pada tangan kananku, sementara tangan kiriku memegang poin, memastikan tubuhku tetap tergantung, lalu sisi lain karembo yang melambai-lambai, kulemparkan kearah batu besar itu, tepatnya aku menyabet batu besar itu dengan karembo hejo, kena! Batu itu terlempar kearah kiri, menjauh dari tubuhku, setelahnya aku terus menyabet batu-batu besar yang berjatuhan sambil masih tergantung di poin panjat dekat puncak ini.

__ADS_1


Keadaan sudah aman, suara gemuruh berhenti, aku buru-buru memasukan karembo hejo dan secapat mungkin memanjat, tanganku penuh dengan luka karena tidak dapat dipungkiri menyabet batu itu tidak membuat seluruh kerikilnya terlempar, tetap ada yang mengenai tangan dan wajahku, pasti aku sekarang seperti monyet karena begitu penuh dengan debu dari kerikil dan luka.


Tanganku sudah menyentuh puncak tebing ini, sekaligus puncak dari gunung ini. Aku menganyukan kakiku agar bisa menyentuh daratan, setelah berhasil aku menarik tubuhku untuk ekpuncak, aku sampai ke puncak dengan keadaan terlentang, karena memang kelelasahan, aku mengatur nafas dan beristirahat sebentar, total 2 jam aku mendaki tebing ini. Lelah sekali, haus dan lapar.


Aku duduk, mengambil air dan biskuit, hanya untuk menahan lapar saja, aku tidak punya waktu buat tenda dan masak mie instant.


Setelah tenagaku terkumpul lagi, aku melihat sekeliling dan aku kaget bukan main, apa aku salah? Apa Ayi Nusia salah? Di puncak gunung ini kosong! Tidak ada apapun, tidak ada perkampungan, hanya sebuh pohon yang berdiri tegak di tengah puncak.


Pohon yang aneh, aku mendekati pohon itu, batang pohon itu seperti pohon pinus, tetapi daunnya seperti daun kelapa, tidak ada buah di pohon ini, tingginya sekitar 10 meter. Aku mengelilingi pohon ini, pohon apa ini sebenarnya? Batangnya coklat pekat, seperti ada getah di batang itu, aku tidak berani memegangnya, aku sendirian di sini, tidak ada Pram, para karuhunku tidak satupun muncul saat kupanggil, pasti karena mereka ditawan, entah ditawan dimana.


Aku memutuskan mendirikan tenda, hari sudah mulai sore, sepertinya aku harus bermalam di sini dan menemukan jalan menuju perkampungan ini, Ayi Nusia tidak mungkin berata bohong, pasti ada cara.


Aku makan dengan memandang pohon ini, aku tersedak seketika, angin bergitu kencang dari atas sini, tapi kenapa dauh pohon itu tidak bergerak sama sekali. Kenapa daunnya tidak tertiup angin, dia berdiri seperti gambar saja, terdiam. Aku buru-buru menyelesaikan makanku, mematikan api dari kompor gas portable mini karena tidak ingin ada kebakaran di sini, dan mendekati lagi pohon ini.


“Sepertinya memang butuh kunci masuk bukan? Kau hanya ilusi bukan?” Aku bicara pada pohon itu, karena rupanya yang buruk aku enggan memegang pohon ini, setelah aku pegang, pohon ini tidak tersentuh sama sekali, seperti hologram. Wah mereka menipu Ayi Mahogra, bodohnya aku!

__ADS_1


Ok setelah mengetahui bahwa ini hanya hologram, pasti ada maksud kenapa mereka menaruh pohon ini. Baiklah, jika sebuah perkampungan besar, pasti ada pintu gerbang, pintu gerbang perkampungan yang di sembunyikan pasti dikunci dengan sesuatu yang kuat, seperti gembok, lalu apa yang aku butuhkan untuk membukanya? Ya, aku butuh kunci! Sesuatu yang orang tidak miliki makanya tidak ada yang berhasil masuk ke perkampungan itu, selain penghuninya atau pertapa yang diijinkan masuk.


Kunci, kunci, kunci ….


“Gunakan ini sebagai kunci untuk masuk ke tanah prajurit di puncak gunung Butir-Butir. Sampaikan salamku pada anak cucuku di sana setelah kau sampai.” Aku teringat kata-kata dari Ayi Nusia.


Bodoh! Kenapa aku lupa, mungkin karena begitu banyaknya hal yang kualami hingga melupakan hal yang paling penting.


Kukeluarkan tusuk konde Ayi Nusia, tusuk konde bunga mawar. Setelah tusuk konde itu keluar, kuarahkan pda pohonnya, entahlah aku merasa, memang seperti ini cara kerjanya, lalu perlahan lahan, kelopak dari tusuk konde itu lepas dan tertempel di batang pohon hologram itu, setelahnya, pohon itu hilang, dan bumi berguncang, aku terjatuh karena guncangan itu begitu hebat, dari guncangan itu keluar puluhan pohon hologram itu tapi ini pohon sungguhan karena daunnya bergoyang-goyang dengan ukuran raksasa, pohonnya begitu rapih berbaris, seperti memberi jalan padaku, pohon itu berdiri gagah di kanan kiriku, aku melihat kedepan, jalanan gelap.


Aku berdiri dan berjalan menyusuri pohon itu kearah gelapnya jalanan, entahlah apakah ada ujung dari jalanan gelap ini, yang pasti aku masih sendirian, tidak ada siapapun bersamaku, ini lebih baik, setidaknya kalau ada apa-apa, hanya aku yang celaka.


Aku berjalan terus tanpa raga, hingga satu titik aku menemukan cahaya diujung sana, aku berlari secepat yang aku mampu, belum sampai pada cahaya itu, seseorang berlari kearahku dengan lebih cepat dan menubruk tubuhku, aku limbung dan jatuh sempurna, lalu setelahna, gelap ….


____________________________

__ADS_1


Catatan Author :


Gelap hidupku untuk memberikanmu cahaya, cahaya yang kau serahkan pada sang pencipta, kau bilang pada-NYA rela hidup dalam kegelapan jika itu satu-satunya cara untuk bersamaku. (Malik)


__ADS_2