Karuhun

Karuhun
Bagian 72 : Terjebak


__ADS_3

POV MALIK


Sial aku ketiduran, seharusnya aku terjaga, tapi entah kenapa pagi tadi jam 3 rasanya kantukku tidak tertahankan, aku bahkan tidak sadar sudah tertidur, aku langsung masuk ke dalam, mau menemui Sera, Pram terlihat tidur juga di sampingku.


“Ser! Ser!” Seira tidak menjawabku, di mana dia, aku memberanikan diri membuka pintu kamar, tapi ketika aku buka aku tidak menemukan Seira di sana.


“Ser! Ser!” Aku terus memanggilnya, Pram terbangun dan langsung berdiri di belakangku.


“Dia ilang?” Pram bertanya.


“Iya, gue udah cari ke semua tempat, dia nggak ada, Karuhunnya pun nggak ada, gue tidak bisa mencium bau satupun Karuhunnya.” Aku lemas karena takut dia kenapa-kenapa.


“Kan gue bilang juga apa, dia pasti pergi sendiri, ini pasti ada hubungannya sama Tini, masalahnya kalau dia yang ilang, dan dia nggak ingin kita tahu dia kemana, kita pasti nggak akan bisa temuin dia.” Pram pesimis.


“Salah lu, gue bisa nemuin dia buktinya, kita cari petunjuk, dia pasti ninggalin sesuatu, dia nggak mungkin ninggalin kita tanpa petunjuk.” Pram setuju dan langsung bergegas mencari petunjuk.


Setelah satu jam akhirnya aku dan Pram menemukan sesuatu, Seira menuliskan kata TURUN dengan darahnya pada lantai di bawah kasur, dia suruh kami turun sendiri, aku akan melakukannya, terserah Pram mau apa, tapi aku akan melakukan apa yang Seira mau.


“Aku ikuti yang menurutmu benar Malik.” Pram akhirnya ikut.


Tunggu kami Ser, aku tahu pasti ada alasannya, selalu begitu.


...


POV SEIRA


“Kita akan masuk ke sana.” Aku berbicara kepada Tini, dia ikut aku untuk turun gunung, kami sudah keluar dari gunung sejak pagi, lalu mencari kendaraan yang bisa membawa kami sampai ke pusat kota.


Kami berhasil menyewa kendaraan, aku mendapatkan uang dari Pak Hanif, aku memintanya mentrasnfer uang pada seseorang yang kami temui di bawah gunung, lalu mengambil uang itu cash, aku bilang padanya beritahu Malik 3 hari kemudian, jangan sekarang, tapi dia juga tidak akan bisa menghubungi Malik, karena pasti Malik tidak bisa dihubungi, mengingat pesawat kami jatuh dan tidak menyisakan apapun di tubuhk kami selain pakaian.


Kami sudah di bus, kendaraan sewa sudah kami lunasi, kami akan nyebrang laut untuk ke pusat kota.


“Tini, apa kau pernah minta tolong seseorang selain aku sebelumnya?” Aku bertanya.


Dia menggeleng, beberapa orang di bus melihatku dengan tatapan aneh, aku langsung pura-pura sedang bicara di telepon genggam yang baru saja aku beli, aku takut mereka sangka aku gila karena ngomong sendiri, selain itu aku juga memang membeli 2 tiket bangku, alasanku adalah untuk barang bawaanku, padahal kau hanya bawa tas kecil berisi baju alakadarnya, itu bangku untuk Tini.


“Kenapa?” Aku bertanya.


“Tidak ada yang perduli, aku ingin menghadap ilahi, tapi mereka menahanku di sini.” Tini menangis, dia memang masih anak kecil dulu saat hidup, tapi saat ini dia sudah berumur puluhan tahun, sudah meninggal puluhan tahun yang lalu.


“Aku akan membantumu, aku janji kau akan pulang ke Haribaan Tuhan, aku akan menghajar mereka, sungguh sakit hatiku mendengarnya.”


“Terima kasih Kakak Seira, aku menunggumu, karena aku mendengar penduduk bilang ada seorang Ayi dengan kemampuan tinggi tinggal di Hutan Selatan, aku menunggumu lewat karena aku tidak mampu pergi kemanapun.


Ya, Tini memang menumpang di tubuhku saat ini, karena hanya padakulah dia bisa menumpang, lalu keluar dari gunung. Siapa juga manusia yang mau ditumpangi anak kecil yang sudah berupa arwah.


Belum juga minta numpang orangnya udah lari, kalau Tini maksa, orang itu akan lemas, pingsan bahkan mati karena serangan jantung.


Rupa Tini memang tidak menakutkan, hanya lusuh dan pucat, tapi tetap saja untuk banyak orang dia menakutkan.


“Kita akan keluar dari kapal, sekarang kita akan menuju kota.” Kondektur memberitahu kamlewat i, setelah berlayar cukup lama, hampir 5 jam, kami akan menuju daratan lagi.


“Loh, kok lewat sini Pir?” Seorang penumpang bertanya.


“Iya biar cepet.”


Aneh, bus mau lebih cepet? bukannya trayek panjang keuntungan untuk mereka?


“Tin, duduk di sini jangan kemana-mana ya.” Aku berdiri, Panglima dan Raden kupanggil, aku akan menghajar pembajak ini, ini pasti suruhan mereka atau memang benar perampok, atau jangan-jangan malah keduanya.


“Pak saya mau pipis, bisa minggir dulu nggak ya? Aku bertanya.


” Bentar lagi Bu,bentar, itu depan ada pohonan tinggi kita bisa mampir buat kencing.” Dia panggil aku barusan apa? Ibu! Minta dihajar ni orang.


“Pir kok ke hutan sih, ini mau lewat mana sebenarnya?” Yang lain mulai was-was.


Sesaat kemudian bis berhenti.


“Semuanya jangan berisik! Kalau berisik, gue dor kepala lu.” Benar kan, mereka komplotan. Hebat, membawa senjata api dan senjata tajam.


Aku mengeluarkan Kujang dulu, lalu bersiap untuk menghajar mereka.


“Duduk bu, mau ku dor kepala kau?” Seseorang memanggilku Ibu lagi.


“Sudah 2 kali kau memanggilku begitu, sekali lagi, kuhajar sampai tak berbentuk kau.” Aku memperingatinya.


“Dia tertawa dan mencoba mendekatiku, dia mengacungkan pistolnya kearahku, aku tetap di posisiku, aku ada di bagian tengah bis, aku melebarkan kakiku memegang Kujang di salah satu tangan, bahaya kalau kau menggunakannya dengan kedua tangan, mereka bisa mati.


“Mau ku cium lalu ku telanjangi kau!” Penjahat itu mengancam, aku tersenyum.


“Masih bisa senyum-senyum kau jalag!” Dia menodongkan pistol.


“Yakin bisa menggunakan itu disini?” Aku bertanya.


Dia lalu menekan pelatuknya untuk menembakku, jarinya tidak bisa digerakan seketika, lalu telunjuknya berbalik arah hingga patah, disusul jari tengah, jari manis dan terkahir kelingking, pistolnya jatuh, Raden sedang mematahkan jari-jari penjahat ini.


Aku mengambil pistolnya, membuang pelurunya, mempreteli pistol itu hingga tidak berbentuk, yang lain melihat langsung merubungiku, mereka akan menyerangku.


“Semuanya, merunduk, duduk di bawah bangku dan menghadap belakang, jangan ada yang mengintip, atau kalian akan celaka.” AKu memperingati penumpang, mereka pun nurut.


Aku mulai dari orang yang datang padaku pertama, aku menunduk dia hendak menebas leherku, aku langsung menusuk kakinya, dia kesakitan dan terjatuh, aku menggunakan moment ini untuk menusuk kembali bahu kirinya, lalu setelah itu bahu kanannya, dia menjerit karena melihat daranya muncrat kemana-mana, lelaki yang dibelakangnya ragu untuk menyerangku.


“Maju sini, jangan jadi pengecut, katanya mau ngerampok, masa ngeliat yang kayak gini aja ketakutan, amatir lu.” Aku memprovokasinya.


Dia marah karena ejekanku, dia mau menonjokku, aku menahan tonjokannya, dia terpental kebelakang karena aku menahan pukulannya dengan tenaga dalam, belum sempat dia mendarat karena mentalan tadi, aku menarik leher bajunga dan meninju mukanya dengan sekali pukulan, giginya tanggal beberapa buah.


“Sini maju lagi.” Masih ada 3 orang yang memegang senjata tajam, mereka mendekatiku secara bersamaan, seperti itu bisa membuat mereka menang saja, luar biasa bodoh.


Mereka menyerangku bersamaan, sementara Panglima dan Raden memegang masing-masing satu orang, sedang yang satu kutahan pakai Karembo Heji, mereka tidak bisa bergerak, aku memegan kepala ketiga orang ini dan memberi mereka tipudaya penglihatan, selama sisa hidupnya mereka akan selalu melihat semua yang mereka takuti, mereka akan menjadi gila, sisanya menjadi cacat.


“Semuanya bangun, bantu saya menurunkan 5 perampok ini.” Aku memberi perintah pada para penumpang, penumpang itu pun bangun dan melihat 5 orang sudah di bekuk, mereka lalu bertepuk tangan dan langsung membantu menyeret penjahat ini turun.


“Pak Supir, karena kamu membantu mereka, hukumanmu akan ku tunda sampai mereka semua kembali, tpai percayalah, ini akan menjadi kejahatan terakhirmu.”


“Ma-maafkan saya Ayi.” Dia tahu nama panggilanku, dia pasti disuruh musuhku.

__ADS_1


“Mudha Praya yang menyuruhmu?” AKu bertanya.


“I-iya, keluarga saya ditanggung oleh mereka Ayi, maafkan saya.” Dia memohon.


“Tetap saja kau bodoh, mau saja ditipu oleh Mudha Praya dan tidak perduli orang yang akan celaka, memerintah perampok untuk mencelakaiku, apakah itu tindakan bijak?”


“Bukan mereka Ayi.” Supir itu menunjuk seseorang yang baru saja masuk ke dalam bis.


“Ayi.” Seorang lelaki paruh baya, dengan pakaian serba hitam, memakai ikat kepala Candra Sumirat, rupanya dalam jajaran musuhku dia memiliki kemampuan yang tinggi, aku harus berhati-hati, memang aneh jika mereka mengutus cecunguk perampok tadi.


“Sebutkan namamu, panggil aku dengan benar.” Aku memerintahnya untuk tunduk, karena meski dia memiliki kemampuan diatasku tapi posisinya jauh di bawahku.


“Salam Yang Mulia Ayi Mahogra Kharisma Jagat, Namaku Nurihman, aku datang ke sini untuk menjemputmu, karena kau sudah masuk wilayah perlindungan Tetua.”


“Aku memang mau menemui mereka.” Aku berkata. “berapa lama lagi kita sampai ke tempat perlindungan?”


“Sekitar 2 jam Yang Mulia Ayi.” Dia menjawab.


“Kau bawa kendaraan apa?”


“Aku pakai maung hanca Yang Mulia Ayi.”


“Aku akan menaiki Panglima, kau tunjukan jalan.” Aku memerintahkannya.


Sementara semua penumpang sudah turun, polisi akan segera kesini menjemput mereka, aku sudah memberitahu mereka supaya jangan memberitahu tentang aku, tidak ada yang boleh tahu tentang diriku, katakanlah mereka di bekuk kalian secara bersama, dan penjahat-penjahat itu juga tidak akan ingat aku, karena aku sudah membuat mereka linglung.


Aku nak kepungguh Panglima, sementara lelaki itu naik ke punggun Maung Hanca, aku melihat maung itu terlihat lebih tua dari Panglima dan Raden, tubuhnya bahkan lebih besar.


“Kau bisa mengejarnya?” Aku bertanya pada Panglima.


“Aku usahakan.” Panglima menjawab.


“Seberapa besar presentasemu dan dia jika bertarung?” Aku kembali bertanya.


“Umurku setengah umurnya, tubuhku lebih kecil dan pengetahuanku lebih sedikit, presentase kemenanganku melawannya hanya 30 persen.” Panglima menjawab.


“Bagaimana jika aku menaklukannya?” Aku bertanya lagi, sementara maung kami masih terus berlari menuju tempat perlindungan.


“Sulit Ayi, mereka dijuluki sikembar tak terpisahkan, kalau kau mau Maungnya, kau harus menaklukan pemiliknya.” Panglima menjelaskan.


Tini naik ke punggung Raden dan mengikuti kami dari belakang, Tini masih tidak bisa dilihat oleh orang selain aku, Tini memiliki garis tepat sampingku ternyata, itu yang membuatnya tidak terlihat oleh orang-orang yang berada dia garis bawahku.


Kami terus berkendara menggunakan maung kami masing-masing, perjalanan sudah 1,5 jam, kami menembus hutan yang masih jarang di kunjungi, hutan yang penuh dengan ranting yang menjuntai.


Setelah sudah 2 jam tepat, kami sampai di gerbang perlindungan, kalau dibilang gerbang perlindungan, serasa kurang tepat, tempat ini lebih seperti markas penjahat.


Tempat ini seperti benteng yang kokoh dan kelam, di kanan dan kiri benteng ini menara yang memiliki tinggi lebih dari bentengnya, diatas menara ada sebuah kerucut yang berwarna hitam, dia masing-masing kerucut itu aku melihat sosok buruh hantu yang sama besarnya seperti kerucut itu, burung hantu raksasa, dia terlihat mengawasi hutan dari sana.


Hari sudah malam, aku juga jujur sangat lelah.


“Yang Mulia Ayi Mahogra datang, siapkan kereta kencana dan karpet hijau.”


Ya, mereka memang menjunjung tinggi protokol dan status, bagi mereka aku adalah Ratunya, dan aku akan menggunakan keyakinan mereka dengan sebaik-baiknya malam ini.


“Kereta kencana tiba, sepanjang jalan yang di lewati kereta kencana aku melihat ada karpet berwarna hijau yang dibentangkan, lumayan panjang, karena dari gerbang untuk sampai pintu depan saja menempuh ratusan meter, wah mereka punya banyak uang untuk hal-hal sepele macam ini.


Kami berjalan melewati banyak pintu, entah pintu apa, ruangan ini sangat terang dan terkesan hommy, tiba pada suatu pintu yang berada di kiriku, penjaga berhenti dan mengetuk pintunya.


“Yang Mulia Ayi Mahogra datang.” Penjaga itu berteriak, aku mendengar mereka seperti berlarian di dalam dan tidak langsung menyuruhku masuk.


“Kau membiarkan aku menunggu?” Aku menegur penjaganya, aku akan menggunakan kekuasaanku dengan baik di sini.


“Yang Mulia Ayi Mahogra datang.” Penjaga itu berteriak lebih keras lagi, aku melihat pintu akhirnya di buka.


Saat masuk aku mencium wangi yang khas, wangi pandan, Kesukaan Panglima. Semua orang berdiri di samping kanan kiriku, mereka terlihat sudah tua semua, setelah itu aku diarahkan duduk di singgasana, bangku terbesar di ruangan ini, sementara mereka semua duduk di samping kanan kiriku, tidak ada meja selain meja hias di dekat tembok, mereka semua duduk saling berhadapan di sisi kanan kiriku.


Aku duduk di singgasana, sementara Tini berdiri disampingku, masih tidak ada yang mampu melihat dia.


“Ada apa sekiranya malam-malam begini Ayi datang ke kediaman kami?” Salah satu Tetua bertanya.


“Apa aku terlarang datang kesini?” Aku memandangnya dengan tatapan sinis pria yang sudah tua itu.


“Bukan, bukan seperti itu Ayi, maksudnya, kami seharusnya menyediakan penyambutan yang lebih baik lagi.” Lelaki itu membuat alasan.


“Panggil aku dengan benar.” Aku memerintahkan dia, sementara  dia kaget, karena aku anak kecil yang berani memerintahnya, peduli amat, statusku jauh diatas mereka semua.


Lalu semua orang berdiri dan menunduk serta menyerukan namaku, “Yang Mulia Ayi Mahogra Kharisma Jagat.” Setelahnya mereka duduk kembali.


“Tujuanku tidak datang ke sini, aku tersesat, ada bis yang membelokkan ke hutan, setelah menghajar mereka kalian mengutus seseorang menjemputku bukan?” Aku bertanya, sebenarnya ini adalah alasanku saja, aku memang mau ke sini.


“Yang Mulia, kami fikir anda memang akan ke sini, karena kami merasakan kehadiranmu di dekat sini.” Salah satu Tetua yang lain, yang tidak kalah tuanya berkata.


“Tidak, aku hanya tersesat, apa kalian keberatan atas kedatanganku?” Aku mengejek mereka.


“Tentu saja tidak, markas ini milikmu kelak begitu kau menikah dengan Kharisma Jagat Agung Yang Mulia.” Dia mencoba menyerangku dengan isu itu.


“Lalu kenapa tadi kalian tidak langsung membuka pintunya?” Aku menyecar mereka.


Lalu mereka semua duduk berlutut di bawah dan meminta maaf secara spontan, aku masih duduk dengan anggun di singgasanaku.


“Kami tidak berpakaian dengan layak Yang Mulia, kami tidak menggunakan jubah Tetua, makanya kami berusaha memperbaiki penampilan kami dulu.” Mereka lagi-lagi membuat alasan, aku yakin sebenarnya, mereka menyembunyikan sesuatu.


“Lalu apakah hanya karena penampilan kau membiarkan aku menunggu?” mereka tampak linglung, lalu seseorang datang dari luar dan berjalan dengan sok berani, dia adalah ketua dari seluruh Tetua di sini.


“Mudha Praya .... “ Aku menyapanya, dia menunduk memberi salam padaku.


“Semoga Yang Mulia Ayi Mahogra Kharisma Jagat sehat selalu, maafkan saya yang terlambat datang karena kunjungan Yang Mulia begitu mendadak ini.” Mudha Praya mencoba menyerangku dengan kata-katanya.


“Kau keberatan aku duduk di bangku ini? bukankah ini bangkumu?” Aku mengejek dengan bertanya, mereka sangat mengagung-agungkan status, makanya mereka tidak berani melawanku secara langsung.


“Bangku itu milik siapa saja yang memiliki kekuasaan tertinggi di tanah Pasundan, hanya jika tidak ada dirimulah, maka aku berhak mendudukinya, tapi dari awal itu adalah bangkumu Yang Mulia.” Sok bijak.


“Baiklah, mumpung semua sudah berkumpul, maka aku akan langsung saja, aku mau mampir ke sini saat dijemput tadi adalah karena, aku ingin sesuatu.” Aku berkata.


“Kami akan berikan apapun itu, jika kami sanggup.” Mudha Praya berkata.

__ADS_1


“Aku ingin Mustika Delima, aku ingin itu sekarang juga.” Aku berkata.


“Boleh Yang Mulia kami memang akan memberikannya.” Mudha Praya tersenyum, apakah semudah ini? sepertinya tidak.


“Berikan sekarang, setelahnya aku akan pergi.” Aku mencoba lagi.


“Maaf yang Mulia, kami akan memberinya bersaman dengan beberapa mustika lain, tepat di hari pernikahanmu dengan Yang Mulia Pram, sebagai hadiah, bukan hanya Mustika Delima tapi juga bersama 3 Mustika lainnya.” Seperti yang aku duga, tidak semudah itu, pintar sekali dia menolaknya, dia tahu dengan jelas bahwa pernikahanku dengan Pram tidak akan pernah terjadi.


Aku tidak mungkin memaksanya memberikan itu sekarang, nanti mereka malah akan curiga dan tentu saja menuduhku yang tidak-tidak.


“Apakah seperti itu berkenan untuk Yang Mulia? Kami memang ingin segera memberikannya, tapi secara adat, Mustika hanya boleh diberikan pada saat perayaan pernikahan pada seoran Ayi Yang Mulia.” Lagi-lagi bumbu adat!


“Aku akan mendapatkannya, tenang saja, aku akan berjuang untukmu, aku akan melakukan apapun agar kau kembali ke sisiNya.” Aku berbisik pada Tini, Tini hanya tertunduk saja.


“Baiklah aku hanya ingin Mustika itu saja, tetapi tetap ada protokol bahkan untukku bukan?” Aku mengejek Mudha Praya.


“Maafkan kami yang tidak bisa memberi apapun padamu Yang Mulia Ayi.” Mudha Praya sok bijak lagi.


“Baiklah, aku akan menginap, sediakan kamar untukku.”


“Baik Yang Mulia Ayi, kami akan segera menyiapkannya.” Lalu semua orang bubar dengan badan menghadapku, tidak ada yang boleh memunggungiku, memperlihatkan senjata di depanku dan menatapku dengan tajam, itu semua haram, karena statusku seorang Ayi Mahogra, berbeda jika aku adalah orang yang memberontak dengan tatanan yang sudah Tetua bangun, aku menjadi musuh mereka, sejauh ini mereka masih hanya curiga, belum memastikan langkahku selanjutnya.


Datang ke sini memang berbahaya, bisa saja aku malah menjadi tahanan mereka dengan berbagai alasan karena penjebakan, tapi aku harus mengambil Mustika Delima itu.


...


“Tini, ini sudah malam, kita akan mengambil Mustika Delima itu.”


“Kita akan mencurinya Kak?” Dia bertanya.


“Mereka tidak memberikannya, makanya kita ambil paksa, toh itu milikmu, bukan milik mereka.” Aku mengusap kepalanya yang khawatir.


“Tapi ini bahaya kak, Kakak bisa dalam bahaya, mereka semua jahat.”


“Tenang, kau bersama Ayi Mahogra, aku tidak sendirian, kau pun memilikiku sekarang.” Aku memeluknya, pelukan yang dingin, karena arwahnya memang dingin, tapi merupakan pelukan paling bahagia yang aku rasakan.


Aku mengendap-endap keluar kamar, seperti aku masuk tadi, banyak sekali pintu di sini, ruangan mana yang harus aku masuki.


“Oh ya, kita akan menipu satu penjaga, dia pasti akan memberitahu kita.” Aku mengajak Tini terus mengikutiku.


“Hei kau.” Aku memanggil salah satu penjaga yang lewat.


“Yang Mulia.” Penjaga itu berlari dan tertunduk tanda hormat, saat dia menunduk aku langsung memukul bahunya dan memberinya efek gendam, dia mulai tidak sadarkan diri tapi masih terjaga.


“Dimana Mudha Praya menyimpan Mustika Delima?” Aku bertanya, penjaga itu menunjuk satu pintu yang ada di ujung lorong yang buntu, aku dan Tini berlari ke sana, pintunya dikunci, sial!


“Tini masuk ke sana, lihat apakah Mustika Delima ada.” Aku menyuruhnya, Tini berlari masuk lalu tak lama lagi keluar.


“Ada Kak, ada Mustika ku di sana.” Dia menangis karena senang.


“Kita dobrak, terserah apapun resikonya, kita akan dobrak.” Aku mendobrak pintu itu dibantu Panglima dan Raden, pintunya terbuka, gelap, dan aku melihat semua benda pusaka di taruh di sana walau ruangan ini tanpa lampu tapi ada sedikit cahaya yang masuk, aku berlari kearah Mustika Delima itu, dan langsung mengambilnya, begitu aku berlari keluar pintu, aku mundur lagi.


“Boleh saya tahu kenapa Yang Mulia datang ke tempat ini dan memegang Mustika Delima itu di tanganmu?” Mudha Praya dan para penjaga ternyata sudah ada diluar pintu.


“Aku hanya ingin melihatnya.” Aku mencoba membuat alasan.


“Tapi kenapa pintunya kau dobrak? Bukankah kau bisa membangunkanku jika sebegitu penasarannya?” Mudha Praya mulai menyerangku.


“Kau menuduhku?” Aku bertanya.


“Tidak, mana berani saya, tapi pengadilan akan memutuskannya, pengadilan Tetua. Penjaga, kawal Yang Mulia kembali ke ruangan utama, kita akan mengadakan Pengadilan Tetua dadakan, panggil semua orang.” Mudha Praya memerintah, aku tidak bisa berkutik, aku mengikuti dia.


Saat ini singgasana sudah di singkirkan, aku duduk di samping kanan dan para Tetua duduk di samping kiri, aku diperlakukan seperti pesakitan.


“Jika saja para nenek moyangku tahu bahwa aku diperlakukan seperti ini, mereka akan menghukum kalian!” Aku menakuti.


“Akan lebih buruk lagi jika nenek moyang Yang Mulia tahu bahwa Yang Mulia mencoba untuk mencuri Mustika Delima.” Mudha Praya bersikeras.


“Kau menuduhku Hah?” Aku tak mau kalah.


“Tidak tapi kenyataannya kau mendobrak pintu yang Mulia.” Dia menyeringai.


“Aku tidak mendobraknya, pintu itu memang sudah rusak!” Aku mencoba berbohong.


“Tidak mungkin, pintu itu selalu kami jaga Yang Mulia.” Mudha Praya memimpin persidangan sepertinya, Tetua yang lain seperti tidak berani memandangku.


“Untuk apa aku mencuri, toh aku akan memilikinya juga nanti.”


“Kalau Yang Mulia menikahi Pram, pada kenyataannya terdapat banyak bukti Yang Mulia tidak bersama Pram, kalian tidak akan menikah bukan?” Mudha Praya lantang berbicara, Tetua yang lain begitu mendengar ini langsung memandangku dengan tatapan hina.


“Kalau kau tidak menikahinya, itu berarti kau memberontak!” seseorang berteriak dari belakang kursi Tetua, seorang Tetua yang bodoh tentunya.


“Jaga bicaramu Tetua, dia tetap Yang Mulia.” Mudha Praya mengejekku.


“Kau pembohong!” Aku mencoba menyelamtkan diri.


“Apakah kau akan menikah dengan yang Mulia Pram? Kapan, dimana?” Mudha Praya memukulku dengan keras, melalui kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa kujawab dengan benar.


“A-aku .... “


“Apa perlu aku yang menyiapkan pernikahan itu Yang Mulia? Aku akan membuatnya menjadi pernikahan mewah yang berkelas, soal dana tidak perlu dikhawatirkan, aku akan memberikannya untukmu dan Yang Mulia Pram.” Mudha Praya membuatku semakin terdesak.


“Aku, akan memikirkannya kemudian, kami .... “


“Kalian sudah sangat cukup umur untuk menikah Yang Mulia, tunggu apa lagi? Bagaimana kalau bulan depan, aku akan segera membuat persiapannya ya?” Dia memang busuk!


“Lakukan, lakukan lah!!!” Aku berteriak.


_________________________________________________


Catatan Penulis :


Aku tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkan keadilan, walau itu semua membuatku harus habis terbakar dan terluka, aku ingin keadilan bisa mereka dapatkan, anak cucu kami.


Jangan lupa VOTE, COMENT DAN LIKE ya.

__ADS_1


Salam Peluk Author Muka Kanvas/Rps.


__ADS_2