
“Apa kau fikir kau akan menang dengan menggunakan tubuh anak kecil? Mungkin mereka takut menyakitimu sehingga menghentikan penyembuhan, makhluk menjijikan macam apa yang menggunakan anak kecil sebagai perisainya? Makhluk Biadab.” Aku mengeluarkan Karembo Hejo dan menyabet leher anak kecil yang masih dirasuki itu.
Dia kesakitan dan berusaha melepaskan lilitan Karembo Hejo, aku menarik tubuh kecilnya, dan melempar tubuh itu ke lantai putih, keluar darah dari bibirnya, sejujurnya aku mungkin tidak akan berani melakukan ini jika aku masih di dunia nyata, tapi berhubung ini adalah dunia ghaib yang kubuat, maka semuanya adalah palsu, darah itu palsu dan rasa sakit itu palsu.
Disini semua berjalan seperti yang aku mau, seperti dulu waktu Ni Tegrek menarikku ke dunia yang dia buat, hingga aku harus dijilat oleh makhluk menjijikan dan akhirnya babak belur dikerjai oleh anak-anaknya, aku tidak dapat bergerak bahkan tidak dapat memanggil Karuhunku, karena itu memang dunia Ghaib yang dibuat olehnya, maka peraturan miliknya, kami yang masuk karena ditarik olehnya, seperti seorang tahanan penjara yang bahkan bergerakpun tak mampu.
Seperti saat ini, aku tidak membiarkan setan biadab ini bergerak sedikitpun, aku akan membuatnya terus kesakitan, terus merasa kepanasan karena Karembo Hejo dan juga kujang, takkan kubiarkan dia lolos, dia sudah menyiksa anak ini selama 1 tahun dan juga menghabiskan harta orang tuanya.
Aku menarik rambut anak itu, dia kesakitan, suaranya berubah-berubah, kadang suara berat, kadang suara aslinya, aku tidak melepaskannya sedikitpun.
“Tante, sakit tante, sakit.” Anak itu meronta, cara dia memanggilku semakin membuatku marah, aku membantingnya lagi, aku akan membuat setan ini jera dan meninggalkan tubuh anak ini.
“Panggil aku tante lagi, kuhabisi kau tanpa bersisa, keluar atau kau akan kepanasan sampai mati hancur lebur.” Apa dia fikir aku tante-tante! Aku membantingnya menggunakan Karembo Hejo, tubuhnya terlilit sempurna, hingga ketika aku mengangkat tubuhnya menggunakan Karembo, dan membantingnya ke kanan dan ke kiri, dia berteriak terus, tanpa henti.
“Ampun Ayi, Ampuuunnn.” Dia memohon, tentu saja, aku melilitnya dengan Karembo Hejo yang akan terasa panas bagi jin jahat, lalu aku membantingnya di lantai yang beralaskan busa tebal dimana seluruh sepreinya adalah Karembo Hejo yang ku gelar menutupi busa tebal itu. sehingga ketika anak itu kubanting, dia tidak akan merasa sakit sama sekali, karena jatuh di busa, berbeda dengan jin jahat, dia akan semakin merasa kepanasan, tubuhnya seperti dibakar diatas tungku yang apinya berkobar, sudah dililit ditambah mendarat di Karembo, sempurna untuk menghabisinya.
“Minta ampun padaku? Minta ampun pada Tuhanmu, dasar Jin dungu!” Aku masih saja membantingnya ke kanan dan ke kiri.
Satu jam kemudian, akhirnya jin jahat ini keluar, dia keluar dari tubuh anak manis itu dengan cara merangkak, dia kelelahan, kesakitan dan beberapa bagian tubuhnya yang memas sudah buruk menjadi semakin buruk karena meleleh, berkat Karembo kesayanganku.
Saat jin itu merangkak aku langsung melilitkan Karembo Hejo pada seluruh tubuhnya aku membuat dia terperangkap, dia menyerah karena lemas, harus ada beberepa hal yang aku selesaikan terlebih dahulu.
Aku menggendong anak 6 tahun ini yang tertidur, dengan tubuh kurus, kuku hitam dan wajah begitu lelah, bagaimana tidak, dia disiksa lahir dan batin sendirian, semua orang takut, bahkan orang tuanya mengunci dia sendirian di kamar paling belakang rumah, dia ketakutan sendirian, seharusnya kita sebagai orang tua berada di sisinya, tidak melepaskannya dan membiarkan dia disembuhkan tanpa keyakinan yang besar.
Aku kembali ke kamar anak ini, mereka masih dibangku mereka masing-masing didalam lingkaran. Ibunya berniat bangun tapi aku kmelarangnya.
Aku meletakkan tubuh anak ini di kasurnya, tempat tidur yang tadinya dalam posisi berdiri sekarang sudah kukembalikan lagi, kasur yang kotor, kamar yang pengap, setelah meletakkannya di kasur dengan sempurna, aku menangis memandang wajah anak ini.
“Quin.” Pram menegurku.
“Seandainya aku tidak dalam kondisi seperti ini, sumpah aku akan membawa anak ini untuk hidup bersamaku, Airina yang cantik, tubuhnya lemah dan sangat ketakutan, aku mendengarnya terus meminta tolong tapi ditahan oleh si Jin biadab itu.” Aku masih memandang Airina kecil dan membelakangi lingkaran perlindungan yang aku buat untuk mereka.
“Kalian menyerahkan perlindungan, pengurusan dan penyembuhan Airina pada satu orang di rumah ini bukan?” Aku bertanya dan menatap ayah ibunya.
“Iya, kami takut oleh suaranya, kelakuannya dan kebiasannya, hanya asisten rumah kami yang berani menjaga Airina, makanya kami .... “ Ibunya Airina menjawab.
“Panggil dia, keluar dari lingkaran, Pram dan kau juga keluar dari lingkaran.” Aku minta semua keluar dari lingkaran kecuali ayahnya Airina.
Tidak lama ibunya Airina kembali ke kamar bersama asisten rumah tangga mereka, namanya Rahayu.
“Kalian berdua duduk di sana.” Ibunya Airina duduk di bangku kembali dan Rahayu hanya berdiri saja, dia tidak mau masuk ke lingkaran itu dan duduk di bangku yang kusediakan.
“Maaf bu, Ayu harus memberi makan pada Airina.” Dia lalu secara cepat mendekati Airina berjalan melewatiku, saat itu kakinya kujegal, dan dia terjatuh ke lantai.
Lalu aku berdiri yang semua sedang duduk di kasur Airina, dan menginjak punggungnya, kau mau kuseret ke lingkaran perlindungan atau berjalan sendiri? Aku bukan dukun dan orang-orang yang kau bayar dan membodohi mereka.” Wanita itu menatapku dengan kaget, mungkin bingung karena aku begitu berani terhadapnya, aku tebak, mungkin dia cukup dihormati di sini walau hanya seorang pembantu!
__ADS_1
Dia lalu menatapku dengan tajam dan berdiri, “Bu, aku harus memberi Airina makan, ini sudah waktunya dia makan, dia akan mengamuk kalau tidak kita beri makan.” Pembantu itu memaksa.
“Kau memberi dia daging mentah lagi? Untuk dia atau untuk peliharaanmu?” Aku membentaknya.
“Bicara apa kau?” Dia mau menamparku, aku menahan tangannya, menarik tangan itu ke belakang tubuhnya dan menggeret dia ke lingkarang perlindungan, mendudukannya bersebelahan dengan ibunya Airina. Mereka bertiga duduk di sana, aku ambil salah satu bangku lalu duduk didepan mereka, diluar lingkaran.
“Namanya Bangkung Janabe, dia adalah Jin yang mengabdi padamu.” Aku melihat kearah ayahnya Airina.
“Dulu, aku sudah membuangnya.” Ayahnya Airina menjawabku. “ selain itu aku juga melepas semua hal yang berhubungan dengan jin, makanya aku tidak ikut lagi pemilihan karena aku merasa lelah dengan hal-hal hitam yang aku lakukan untuk memuluskan jalanku, setelahnya anakku malah sakit, seharusnya ketika aku kembali ke jalan yang benar, Tuhan mendukungku, tapi kenapa sekarang malah menjadi seperti ini.” Lelaki itu mengacak-ngacak rambutnya, karena merasa frustasi.
“Kau buang dimana jin itu? kau buang pakai cara apa? Kalau kau buang jin itu di depan rumahmu, dia tentu saja akan kembali lagi.” Aku geram.
“Aku sudah membuangnya di bantu ustad, lalu aku mencoba untuk hidup lebih islami dan sesuai syariat, sampai anakku terkena dampaknya, anakku yang malang.” Lelaki itu membela diri.
“Baik aku ceritakan kronologinya, kau membuang jin yang kau peroleh dari ilmu hitam, kau mencoba hidup dengan lebih baik, tapi dosa masa lalu membuat anakmu kena imbasnya, kau lupa atau pura-pura lupa siapa Rahayu ini?” Lelaki itu kaget dengan kata-kataku, ibunya Airina, langsung menoleh dengan tajam kearah suaminya.
“Aku .... “ Lelaki itu terdiam.
“Pram bawa anak ini ke rumah sakit dia butuh di infus, dia sudah bersih, jinnya sudah kuberi pelajaran dan sekarang giliran sumbernya.”
Pram menggendong anak kecil itu membawanya sesuai dengan perintahku, petapa masih bersamaku, dia berdiri di belakangku.
“Rahayu, kau dulu gundiknya bukan?” Aku melihat tajam kearah pembantu itu, Pram sudah pergi.
“Apa maksudmu?” ibunya Airina bertanya kepadaku.
“Jadi Rahayu adalah ... simpananmu Pah?” Istrinya bertanya dengan nada terguncang.
“Maafkan aku Mah.” Lelaki itu hanya bisa meminta maaf.
“Bodohnya, lelaki ini menerima mantan gundiknya bekerja di rumahnya sendiri, sungguh tindakan yang sangat dermawan.”
“Itu karena aku yang memaksanya .... “ Ibunya Airina menangis, “aku memaksa suamiku menerima Rahayu bekerja, karena aku merasa cocok denganya, aku merasa dia orang baik dan ... “
“Kau ditipu dengan gendam, makanya kau nurut saja semua perkataannya.” Aku berbicara dengan ibunya Airina.
“Kau mengizinkan orang ini,” aku menunjuk Rahayu. “untuk memporak-porandakan hidup keluargamu, pertama dia membuat perjanjian dengan jin buangan yang memiliki dendam pada pemiliknya, setelah perjanjian itu disepakati, Rahayu mulai memasuki rumah ini atas seijinmu, dia mulai membuat jin dendam itu masuk ke raga anakmu, perlahan tapi pasti. Setelahnya Rahayu menguras seluruh hartamu dengan mendatangkan para penyembuh palsu dari berbagai agama dengan biaya yang tidak sedikit, dimana 70 persen biaya tersebut diambil oleh Rahayu, uangmu habis anakmu sekarat.”
“Maafkan Mama Nak.” Wanita itu menyesal karena membiarkan Rahayu masuk ke keluarganya.
“Semua pangkal masalah ini adalah kau!” Aku menunjuk ayahnya Airina. Dia tertunduk dan setuju.
“Aku bersalah.” Lelaki itu memohon maaf dalam perkataannya.
“Kalau mau tobat, jangan tobat sendirian, ajak anak dan istrimu dekat dengam Tuhan, hingga istrimu mampu terlepas dari tipu daya setan, kau tobat tapi jalan sendirian, lihat akibatnya, anakmu jadi korban!”
__ADS_1
“Kau fikir kau siapa? Akan kuhabisi kalian semua!” Rahayu lalu merapal beberapa mantra, kamar ini bergetar, keluar semua makhluk yang menjijikan dari setiap dinding kamar ini, ternyata Rahayu memiliki banyak piaraan, pantas Bangkung Janabe bisa bertahan begitu lama di tubuh anak itu, sekeliling kamarnya penuh setan biadab.
“Apakah ini juga ulahnya membangun kamar di bagian paling belakang untuk Airina?” Aku bertanya dan tidak sedikitpun gentar akan makhluk yang sedang berjaga di belakangku.
“Lihat bagaimana dia mengerjai kalian.” Ayah dan ibu Airina hanya bisa menangis dan ketakutan.
“Hajar wanita sialan ini!” Rahayu berteriak dan memerintahkan mereka.
Sebelum mereka maju untuk menyentuhku, aku menengok kearah meraka, seketika mereka langsung mundur.
“Kenapa kalian? Hajar wanita ini!” Rahayu masih mencoba memerintah para piaraan yang tidak memiliki taring itu.
“Bagaimana kami bisa menghajar seorang Ayi Mahogra tanah Pasundan, yang dengan satu tiupan dia mampu membuat kami binasa!” lalu mereka lari tunggang langgang begitu melihat aku berdiri.
Rahayu kaget karena dia memiliki ilmu yang cetek sehingga tidak mampu mengenaliku. Aku mendekatinya, menjenggut rambutnya dan berkata.
“Habislah kau, aku tidak bisa menghukummu karena tidak ada undang-undang yang mengatur tentang dunia ghaib seperti ini, tidak ada hukum itu di negara kita, karena sulit membuktikannya, tapi aku bisa menghukummu dengan cara lain, kau akan merasakan apa yang Airina rasakan, takutnya, kelaparannya, kesepiannya dan rasa sakitnya! Bangkung Janabe dan seluruh piaraanmu yang lain akan aku kunci di tubuhmu, mereka adalah makhluk menjijikan buruk rupa dan buruk niat akan terjebak di tubuhmu, mereka memiliki nafsu yang berbeda terperangkap dalam satu tubuhmu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau akan kesakitan karena pertengkaran mereka semua di satu tubuhmu.” Aku tertawa terbahak-bahak.
“Aku hanya ingin dia merasakan hal yang aku rasakan!” Rahayu berteriak. “aku ingin dia kehilangan semua orang yang dia sayang karena dia berani membuangku!” Rahayu berteriak dan mencoba berlari kearahku, aku menangkap tubuhnya dibagian perut, lalu membantingnya dengan satu tangan, dia terjatuh.
Lalu aku memanggil Panglima dan Raden yang membawa para tawanan, mereka menangkap semua piaraan Rahayu, termasuk Bangkung Janabe yang aku ikat di dunia ghaib yang kubuat.
Lalu setelah piaraan itu berkumpul aku mengunci mereka dalam satu tubuh Rahayu, dia akan menderita, dia akan kesakitan, dia akan kesepian, kalau dia pintar, dia akan bertobat dan meminta pertolongan Tuhan. Kalau dia bodoh, dia akan tenggelam dan menjadi gila.
Lalu setelah semuanya selesai, Rahayu lari keluar, ibu dan ayahnya Airina langsung berterima kasih dan menawarkan sejumlah uang, aku meminta mereka memberi uang itu untuk panti asuhan, aku minta mereka pindah dari rumah ini, bukan untuk menghindari kejadian ghaib, tapi untuk menyembuhkan Psikologi Airina, mereka harus tinggal di tempat di mana Airina tidak dikenal sehingga Airina bisa hidup dengan mental yang baik kembali tanpa olokan dan ejekan atau pandangan buruk dari orang sekitar.
Aku juga mengatakan pada ibunya Airina untuk selalu menjaga Airina dengan tangannya sendiri, aku tidak perbolehkan Airina di jaga oleh pembantu atau siapapun selain ibunya, karena ketulusan dan kasih sayang ibulah yang bisa menyelamatkan seorang anak.
Aku pamit setelah memberi mereka semua wejangan.
“Kita akan kembali ke Hutan?” Petapa bertanya.
“Tidak, aku ingin menemui Airina, aku ingin memeluknya dan berkata bahwa dia tidak sendirian, dia anak hebat dan akan mejadi luar biasa dengan hati yang besar, aku ingin memeluknya sangat lama, aku ingin dia tahu bahwa dia sudah sembuh, dia akan baik-baik saja dan dia tidak sendirian.”
“Kau yang tidak sendirian Ayi.” Petapa berkata.
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu masa kecilmu.” Lalu Petapa itu berlalu, dan kami bergegas ke Rumah Sakit menemui Airina.
____________________________
Catatan Penulis :
Ibu adalah cahaya bagi kegelapan, tameng bagi bahaya, dan cinta bagi sang penyepi. Maka jika sakit adalah iblis, Ibu adalah dewi kesembuhan.
__ADS_1
Salam cinta dari seorang ibu yang merindu Alm. Ibu.