Karuhun

Karuhun
Bagian 58 : Petapa


__ADS_3

Kami sudah sampai di Rumah Sakit di mana Airina dirawat, Pram membawanya ke Rumah Sakit terdekat, kami langsung masuk, orangtua Airina ikut bersama kami.


“Pram.” Kami sudah sampai di kamar di mana Airina di rawat.


“Airina sudah sadar, dia memiliki semangat yang tinggi, ketika sadar dia tersenyum dan menanyakan orang tuanya.”


“Airina!” Ayah dan ibunya langsung memeluk anak itu.


“Mama, Papa, Ina takut, Mbak Ayu nyiksa aku terus, Mbak Ayu mukul aku, maksa aku makan dagin berdarah, Ina takut bu.” Anak itu akhirnya bisa mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan, tentan Rahayu yang dia panggil Ayu, daging berdarah yang dia maksud adalah daging mentah, yang sebenarnya makanan setan biadab itu, karena setan itu sudah ditumpangi di tubuh anak kecil ini, maka makanan yang diberikan adalah makanan menjijikan, karena setan memang suka makanan yang menjijikan.


“Mama nggak akan pernah ninggalin kamu lagi Nak, mulai saat ini Mama akan selalu sama Airina, jangan takut lagi Nak, kamu sudah sembuh.” Ibunya mencium anaknya dan memeluknya dengan erat, aku duduk di bangku samping kasurnya, anak itu memandangku.


“Kakak, kakak yang tolong aku kan? Tadi aku liat kakak memukul monster itu, sekarang monster itu udah nggak ada lagi ya Kak?” Anak itu bertanya.


Aku duduk di samping Airina, semua orang keluar, aku bilang aku ingin bicara dengannya berdua.


Aku mendekatinya, memegang kepalanya, memotong ujung Karembo Hejo lalu mengambil tangan kanannya.


“Lihat potongan selendang ini sayang, Kakak meletakkannya di tangan kanang, lalu hilang.” Sebenarnya aku mengunci potongan Karembo Hejo pada telapak tangan kanannya.


“Kemana itu Kak? Kok bisa hilang?”


“Potongan selendang tadi adalah tanda sekarang, seperti ini.” Aku menunjuk tahi lalatnya yang ada di dahi, lalu melanjutkan kata-kataku, “tapi tandanya nggak keliatan, kalau ada monster lagi yang Airina lihat, tunjukin telapak tangan Airina ya, monsternya pasti lari ketakutan. Kakak jagain Airina dari jauh, potongan selendang tadi, sebagai perwakilan kakak karena tidak bisa selalu di sisi Airina, tapi kakak nggak akan pernah tinggalin Airina, Mama dan Papa juga, akan selalu sama Airina mulai dari sekarang, Airina tidak akan tidur lagi sendirian, tidak akan main sendirian dan tidak akan takut sama monster lagi, karena kakak udah tendang monster itu, sekarang semua monster udah pergi jauh nggak akan berani lagi datang, kalau monster lain datang Airina udah tau kan mesti ngapain?” Aku bertanya.


“Begini!” Airina membuka telapak tangan kanannya dan menunjukan bagian dalam telapak tangan itu, seperti yang aku contohkan sebelumnya.


“Anak pintar.”


‘Mereka’ yang jahat dan baik akan mengenali bahwa Karembo Hejo milik Ayi Mahogra terkunci di sana, yang artinya Airina adalah anak yang aku jaga, anak yang memiliki hubungan denganku dan tidak akan ada yang berani menumpang lagi pada tubuh anak ini.


Aku memeluk Airin untuk terakhir kalinya, aku menangis.


“Kakak kenapa nangis?”


Aku tersenyum dalam tangisku karena teringat ketika aku dulu masih seusia Airina, lebih tua setahun tepatnya, ketika pertama kali Panglima mendatangiku, keadaan kami sama, aku ketakutan, aku merasa sendirian, semua orang bilang aku gila, hanya 2 hal yang berbeda yang membuat keadaan kami berbanding terbalik.

__ADS_1


Pertama Panglima bukan makhluk yang berniat jahat padaku dan kedua aku punya orang-orang yang menyayangiku dan tidak pernah meninggalkanku, mama tidak pernah sedikitpun takut pada prilakuku yang aneh, dia mengusahakan semua penyembuhan, tidak memasungku di kamar lain dan meninggalkanku sendirian, tidak pernah sekalipun menyerah dan melepaskanku, mama selalu memelukku diantara semua kesulitannya, dia tidak pernah melepaskan kami walau seorang ibu yang single parent. Hingga akhirnya mama menemukan jalan yang menurutnya adalah penyembuhan, yaitu penyegelan, aku tidak pernah menyesal mama memilih jalan itu, karena seharusnya ayahku mendampingi ketika Karuhunku turun, tapi ayah pergi entah kemana.


Apapun yang mama lakukan adalah untuk melindungiku, makanya aku tidak pernah menyalahkannya karena telah menyegelku.


“Kakak pamit ya, Airina harus jadi anak hebat, jangan pernah menyerah, jika Airina merasa berat menjalani hidup, ingat ini, Airina sudah melewati hal yang sangat sulit orang bisa bertahan, tapi Airina bertahan, Airina mampu karena Airina anak perempuan yang luar biasa, kalau Kakak Seira sudah selesai sama urusan Kakak sendiri, aku akan mengunjungimu, kita akan main bersama, Kakak akan ajari Airina ilmu bela diri ya, supaya nggak ada lagi orang yang akan berani kurang ajar sama Airina. Mengerti?”


Dia mengangguk lalu mengambil tanganku untuk salim, anak yang sangat baik, aku bahagia bertemu dengannya, aku merasa apa yang aku miliki tidak sia-sia karena bisa menyelamatkan Airina, gadi kecil yang membuatku melihat refleksi diriku dulu.


...


Airina ditemani lagi oleh ibunya, aku keluar menemui ayahnya, aku akan pamitan.


“Pak, kami sudah selesai ya.”


“Terima kasih sudah datang dan menolong anak kami, aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu, aku akan berubah menjadi lebih baik dan mengajak istriku untuk sama-sama lebih mendekat kepada Tuhan.”


“Aku percaya bahwa kau tidak akan lagi menyentuh dunia yang telah kau tinggalkan, jaga anak dan istrimu dengan baik, bertobatlah dan selalu mendidik keluargamu untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan.”


“Aku akan selalu ingat kata-kamu.” Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya tanda berterima kasih yang dalam.


“Sebentar, aku penasaran kenapa kamu selalu berkata bertiga?” Ayahnya Airina bertanya.


“Ya karena aku, Pram dan wanita ini.” Aku menunjuk kami satu-satu.


“Begitu?” Lelaki itu menerima jawabanku tapi raut wajahnya seperti orang yang kebingungan, bahkan keningnya berkerut.


“Baiklah kami pamit ya.” Aku melihat wanita Petapa itu tersenyum kepada ayahnya Airina.


Kami akan menyebrang kembali ke Hutan Mati, aku harus menagih janji wanita Petapa ini, dia harus mengijinkan Karuhunnya kutaklukan, walau aku bersedia menolong Airina jika itu bukan persyaratan dari wanita Petapa ini.


“Jadi kau harus memberiku ijin menaklukan Karuhunmu ya.” Aku menagih janjinya, saat ini kami sudah di perahu boat untuk menyebrangi sungai.


“Kau lupa aku minta 2 syarat.” Wanita itu menatap ke depan.


“Oh ya, aku lupa ada 2 syarat, apa satu lagi?” Aku bertanya.

__ADS_1


“Aku ingin kau bukan hanya menaklukan Karuhun itu, tapi juga memilikinya, aku ingin kau menjadikan Karuhun itu sebagai milikmu.”


“Apa maksudmu? Lalu bagaimana denganmu? Kau akan kosong, terlalu rawan hidup di Hutan Mati tanpa seorang Karuhun.” Aku bertanya.


“Turun dulu, aku akan mempertemukanmu dengan seseorang.”


Kami ternyata sudah sampai di sebrang, lalu kami semua turun dan kembali ke gubug di mana Petapa tinggal.


“Mana seseorang yang akan kau pertemukan denganku.” Kami sudah sampai gubug.


Dia menggandeng tanganku, Pram mengkutiku juga, kami masuk ke dalam, dulu aku memang pernah masuk ke dalam, tapi begitu masuk aku merasa ada yang berbeda,  ruangan ini lebih besar dan bersih.


“Namanya Nyai Kasih, dia adalah Petapa yang memilikiku.” Wanita Petapa itu berbicara, aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.


“Apa maksudmu?” Aku bertanya.


“Nyai Kasih berumur 80 tahun, dia adalah Petapa yang kau cari, dia sekarat.” Wanita itu berbicara.


“Jadi maksudmu kau bukan Petapa yang kucari? Dan wanita ini adalah Petapa sebenarnya yang aku cari?” Aura wanita ini terlalu terang, hingga aku tidak bisa mengenali dia siapa, dia wanita baik, itu yang pasti.


“Dia sudah sekarat, saat ini dia bertahan karena aku masih jadi miliknya, jika kau bersedia menjadikanku milikmu maka dia bisa pergi dengan tenang.” Wanita itu berkata.


Aku tertawa terbahak-bahak, pantas saja dia menyuruhku memperkenalkan diri kemarin di rumah Airina, lalu ketika aku minta mempersiapkan 4 bangku di kamar Airina untuk aku jaga di lingkaran perlindungan, kedua orangtua Airina aneh menatap kearah wanita yang kukira Petapa, mereka bukan menatap aneh, tapi mereka tidak melihat siapapun, terakhir pada saat kami berpamitan pada ayah Airina, ayahnya bertanya kenapa aku selalu bilang bertiga, tentu saja dia bingung karena da cuma melihat aku dan Pram, , karena wanita ini adalah sesosok Karuhun.


“Jadi kau Karuhunnya? Jasmine?” Nama yang dulu dia perkenalkan padaku.


“Ya, perkenalkan aku Jasmine,  Karuhun tanah pasundan, aku turun pada setiap orang yang kuat dan jujur, aku ingin bersamamu, bolehkah?”


“Kau lupa untuk apa aku ke sini?” Aku tersenyum.


_____________________________


Catatan Penulis :


2 Part ini sedih ya, aku menangis membuatnya, jujur aku buat part ini karena terinspirasi dari beberapa kejadian nyata, dimana anak kecil menjadi korban dari gangguan jin hingga harus menjalani kehidupan yang berat, seharusnya dia bermain, tapi malah harus dipasung, seharusnya dia bersekolah tapi terpaksa harus dikurung, aku sedih melihat tidak ada satupun bantuan yang mampu membuatnya hidup normal, semoga pertolongan Tuhan selalu dapat menjangkau setiap anak cucu Adam yang butuh pertolongan. Amiiiinnnnnn ….

__ADS_1


__ADS_2