
“Apa yang kau maksud dengan perang yang utuh dan sempurna?”
Kami masih di berdiri melingkar menghadap peta digital, semua masih personel yang sama, aku menyebut mereka semua dengan sebutan My Man.
“Utuh karena memiliki Panglima hebat dan sempurna karena kepatuhan. Maka dari itu semua perintah akan datang dari Panglima.”
“Panglima memang pemimpin perang, namun perintah selalu datang dari Ayi, itu konsepnya, tidak akan berubah.” Nyai Protes.
“Kau pemilik perang ini, aku hanyalah bidak caturmu.” Raja Bapati ikut protes.
“Jadi, siapa lagi yang mau protes?” Aku menatap mereka tajam.
“Mari kita mulai dengan strategi bertahan.” Aku mulai memberi mereka arahan, aku memang kalah umur, tapi status ke-Ayi-anku merupakan hal yang tidak bisa dilewati.
“Aku mendengarkan.” Raja Bapati berkata.
“Menurut kalian, siapa yang paling diincar oleh mereka untuk dihabisi?” Aku bertanya.
“Kau.” Mereka berkata dengan serentak.
“Untuk itu, mereka akan fokus padaku, mengerahkan semua pasukan terbaiknya untuk menghalauku, berikan aku perlindungan, dari seluruh pasukan terbaikmu Raja, aku dan kawanan terbaik itu akan menahan mereka selama mungkin, kau sebagai Panglima Perang, harus mendapatkan pemimpinnya, tidak perduli apapun yang terjadi, fokuslah pada pemimpinanya.”
“Utuh dan sempurna,” Raja Bapati menanggapi. “jadi kita bertahan sekaligus menyerang dalam waktu yang sama, sebuah strategi tak terduga. Lanjutkan.”
“Aku akan menahan sebanyak mungkin pasukan dengan memilih arena bertarung sebelah Barat, kau akan berlari ke Timur bersama pasukanmu, memilih jalan melingkar untuk berada di punggung lawan, dengan begitu ... “
“Kita mengepung mereka.” Malik menebak.
“Betul! Strategi ini sangat baik, karena digunakan oleh Raja-raja terdahulu dalam menghadapi kolonial, ini adalah strategi yang digunakan karena dulu Raja kita kalah jumlah dan kalah senjata.”
“Tapi resikonya besar, karena fokusmu adalah bertahan, maka korban dari pihak kita akan jauh lebih banyak, saya saya takutkan kita akan kalah bahkan sebelum sampai punggung musuh.” Raja Bapati berkata.
“Itu dia pointnya, kenapa aku harus repot-repot memilih bertahan kalau bagiku menyerang lebih menguntungkan? Tidak ada satu pun orang bisa menyerang orang yang siap berperang, maka dari itu, kita harus menciptakan situasi lengah bagi mereka, yaitu pengelabuan, kita akan kelabui mereka, kita akan membuat mereka seolah-olah mampu memukul mundur kita, lalu setelahnya, kita akan menghajar mereka dari depan dan belakang.
“Aku akan taruh pasukan terbaik di depanmu, mereka yang akan menahan musuh selama mungkin sampai aku dan pasukanku sampai di punggung musuh.” Raja Bapati menanggapi.
“Tidak bisa, mereka akan kelelahan. Begitu kau sampai di tempatmu, mereka sudah kehabisan tenaga, ini sama saja membuat bunuh diri, sekuat apapun pasukanmu, kita kalah jumlah, pasukan mereka 7 kali lipatnya dari pasukan kita!” Ayi bersikeras, karena Raja Bapati menangkap maksud strategi ini.
“Aku tidak akan menempatkanmu di barisan depan, itu bunuh diri, mereka mengincarmu dan kau hanya bertahan, itu bunuh diri.”
“Kalau aku menyerang itu lebih gila lagi, perhatian kita akan terpecah pada setiap pasukan, itu kenapa aku memilih bertahan.”
“Kalau begitu aku yang berada di garismu, kau yang menyerang dari punggung.” Raja Bapati berkata, dia selain tampan dan kaya ternyata dia juga sangat gentle, Nyaiku berhak bahagia dengan pria ini, Astaga! Fokus Ser!
“Tidak bisa! Bukan kau yang diincar, mereka akan tetap mencariku, rencana kita akan gagal bahkan sebelum dimulai, karena mereka akan mencariku bukan kamu, justru karena aku yakin mereka akan menyerangku, maka kita berikan apa yang mereka mau dan aku yakin mereka akan masuk perangkap.”
“Ok, kamu di barisan paling depan, lalu setelah semua pasukan terbaikmu, setidaknya mereka akan menjagamu.”
“Raja Bapati! Kau tidak fokus ya, kan sudah kubilang, orang-orang terbaikku akan aku taruh di paling belakang,” Aku menunjuk peta digital dan menunjuk suatu lokasi. “di garis depan hanya akan ada aku, Malik dan Pram, beberapa baris setelah kami hanya pasukan dengan kemampuan biasa, baru setelahnya semua pasukan terbaik berkumpul di barisan paling akhir.”
“Kau gila! Itu terlalu bahaya, Malik, kau setuju?” Raja Bapati meminta pembelaan.
“Kau tanya hatiku, jelas aku tidak setuju. Tapi jika kau tanya logikaku, tidak ada strategi sebaik ini. aku, Ayi dan Pram, akan sekuat tenaga menahan mereka sampai kau datang dan menghabisi mereka dari belakang. Ini namanya strategi pengelabuan, penyerangan kilat mendadak dan pengepungan tak terlihat, strategi ini dulu digunakan oleh Pangeran Diponegoro pada perang Diponegoro, ingat beliau meraih beberapa kemenangan walau korban perang dari sisi kita lebih banyak, tapi tidak dapat dipungkiri, peperangan ini merupakan perang paling berat yang harus dihadapi Belanda.”
“Aku tidak bisa membayangkan jika aku terlambat, aku .... “
“Kau meragukan aku? Ayinya Kharisma Jagat Tanah Pasundan? Kau meragukan Pram Kharisma Jagat Agung? Kau meragukan Malik yang seorang biasa tapi bisa menaklukan ratusan Karuhun?”
“Aku tidak mungkin meragukanmu, aku meragukan diriku, dan apabila aku terlambat maka taruhannya adalah kami kemungkinan akan kehilanganmu.” Raja Bapati mengkhawatirkan kemungkinan terburuk.
“Jika kalian kehilangan aku, paling tidak kalian tidak akan kehilangan tujuan utama kita berperang, ingat tentang anak cucu kita kelak.” Aku mencoba menguatkan.
“Kami akan mengerahkan semua yang kami miliki, semua yang kami mampu, bahkan nyawa kami Raja, ingat ada Seira, aku dan Pram di garda terdepan, jika kami gugur, semua pasukan terbaik yang berdiri di belakang masih akan tetap bisa memiliki peluang untuk menang, mengingat strategi kita adalah mengelabui dan serangan mendadak bukan? Ayi dan kami bertiga hanyalah umpan. Ingat dalam permainan catur, Queen adalah jenis bidak catur primadona, karena gerakannya yang bebas bergerak ke segala arah, maka tepat sekali jika Seira berada di garda terdepan, sedang Raja Bapati, adalah jenis bidak catur Raja, kau yang paling berkuasa menentukan nasib strategi peperangan, gerakanmu bebas dari arah manapun, tapi ingat kau hanya punya satu kesempatan saja untuk mengelahkan musuh, maka menyerang dari belakang adalah strategi terbaik, menyerang secara tiba-tiba, toh mereka pasti tidak menyangka bahwa kau ikut berperang, mereka pasti berfikir sama seperti Seira, kau adalah bidak terakhir yang akan Seira jaga, tapi mereka ternyata salah, kesalahan ini bisa menjadi suatu kelengahan yang menguntungkan kita.” Malik mendukungku.
“Seperti kau berat menerimaku sebagai Panglima Perang, maka aku akan menerima strategimu walau dengan berat juga, tapi aku punya syarat.” Raja Bapati mengajukan syarat.
“Asal bukan perjanjian, aku akan kabulkan.”
“Aku yang akan menentukan tanggalnya, aku ingin kita semua siap, berlatih dengan sempurna, semua orang yang berperang, harus siap, kita akan kerahkan semua tekhnologi, uang, kekayaaan, dan semua yang kerajaan ini miliki untuk peperangan.”
“Aku tidak tahu lagi, bagaimana caranya berterima kasih padamu Raja, tapi satu hal yang aku yakin, tidak ada teman yang sebaik kau, dan aku benar-benar menunggu kemenangan bersamamu, bersama semua yang ikut peperangan ini, tentu syarat itu akan aku terima, kau pemimpin perang ini.” Aku memberinya mandat sebagai pemimpin perang, maka setiap orang yang bersekutu padaku, harus tunduk pada perintahnya.
...
Malam ini kami berencana makan malam terakhir, karena setelah ini kami akan banyak berlatih dan makan malam akan dilakukan secara giliran.
“Sebelumnya terima kasih kepada semua orang yang ada di sini.”
Kami makan malam di tengah hutan, dengan meja terbuat dari kayu jati yang dibuat begitu panjang menampung sekitar 100 orang pada setiap deretnya, sehingga ada 7 meja yang disediakan berbaris, ada banyak makanan, meja khusus manusia ya tentu di mejaku, meja khusus makhluk lainnya selain manusia semua juga tersedia makanan.
Setiap meja selain mejaku yang manusia, ada makanan jin, jin makan kotoran dan juga tulang, apakah aku tidak jijik? Awalnya tentu saja, tapi setelah bergaul sehari-hari, aku hanya menerima mereka sebagai ciptaannya yang memang memakan itu sebagai makanan utama, seperti kita makan nasi dan lauk pauk, Jin makan kotoran, itu saja.
“Pram, duduk sini.” Pram memang kuundang, dia berada pada list undangan Raja, memang Raja yang menyiapkan makan malam ini untuk kami semua.
“Memang harus sebahagia itu memanggilnya.” Malik komplein.
“Bahagia gimana? Orang biasa aja.” Aku mencoba bersikap tenang dengan kecemburuan lelaki ini.
“Hei Queen, cantik sekali malam ini.” Ada yang menyiram minyak tanah pada api.
“Iya, baju dari Raja Bapati.” Aku suruh dia duduk di sebrangku, tapi dia malah duduk di sampingku, Pram memang suka menggoda Malik.
Kami duduk bertiga, aku di tengah.
“Pram.” Malik menyapa Pram.
“Oh, hei.” Pram menjawab sekenanya dan mulai mengambil makanan.
Mereka terlihat menyebalkan, kenapa udata hutan yang sejuk ini menjadi panas.
“Kau tahu Queen, kau terlihat cantik dengan dress panjang berlengan tangan panjang bermotif Batik Kembang Boled, batik khas Sumedang. Raja memang bagus memilih model dan bahan, tidak heran, dia memang dari kasta tertinggi, seleranya pun tinggi.”
Pram mulai menabuh genderang dengan membicarakan Kasta, kalau di dunia Manusia, aku berkasta rendah di mata keluarga Malik, kalau di sini, justru Malik lah yang memiliki kasta paling rendah, aku benci itu.
“Pram!” Aku melotot.
“Hei Pram, sebagai informasi Raja Bapati memilih baju itu berdasarkan nasihatku, dia bertanya padaku tentang warna dan apa yang disukai Seira, seperti warna merah, warna yang disukai Seira selain hijau dan batik Sumedang yang menjadi favorit Seira.
Ternyata Raja Bapati yang berselera tinggi itu suka dengan pilihanku, sepertinya selera kami selevel.” Malik membalas, mereka berdua seperti anak kecil.
“Oh, gitu.” Pram tampak kesal.
“Ok, kita makan bersama, mari suasana sakral ini kita jadikan suasana yang tenang dan damai, tanpa ada sindiran dan lawakan yang menyakiti hati, setuju?” Aku nengok dengan tajam kepada Malik dan Pram.
__ADS_1
“Malik hanya kembali menatap makanannya, Pram tersenyum terpaksa.
“Panglima, Raden, duduk dekatku.” Aku memanggil mereka, menghindari kalau mereka akhirnya ribut, aku malas memisahkan dua anak bocah ini.
“Sayang, ini enak banget cobain deh.” Malik menyuapiku makanannya.
“Sayang? Standar banget, semua orang bisa manggil dengan sebutan seperti itu, Ayi tuh istimewa, masa dipanggil gitu doang.” Pram mulai lagi.
“Sera memang istimewa, Sera adalah Ayi Mahogra, trus harusnya manggil apa? Queen? Buat orang memang dia ratu, semua Kharisma Jagat memang harusnya manggil Seira Queen karena kan dia ratunya, jadi panggilan itu terlalu umum, sedang sayang? Hanya gue yang bisa panggil, plus akan berbeda, kenapa? Karena Malik yang manggil, bukan lelaki lain.” Malik mulai kepancing.
“Hei!” Pram mulai nunjuk tangan kearah Malik, tubuhnya mendorong tubuhku bergeser.
“Turunkan tanganmu Kharisma Jagat Agung, ada Ayi Mahogra di sini.” Malik membalas.
“Aku tidak menunjuk Ayi, aku menunjukmu!” Pram masih kesal.
“Tapi tetap saja, itu tindakan tidak sopan.” Malik mulai berdiri dan dia mendekat ingin menhajar Pram, tubuh Malik sekarang merapat juga padaku, tubuh mereka berdua membuat aku tergencet diantara mereka, sungguh ini membuatku sebal.
Brak! Aku memukul meja dengan tanganku. Mereka berdua kaget, seketika langsung duduk rapih di tempatnya.
“Perlu aku ulangi kata-kataku? Perlu banget aku marah-marah dulu? Atau kalian mau aku usir dari makan malam ini?” Sekarang aku yang berdiri memarahi mereka.
“Seharusnya kau tidak undang dia.” Malik masih berbicara.
“Dia Kharisma Jagat Agung Malik, jangan lupa itu.”
“Denger itu Malik.” Pram mengoceh.
“Kau juga, hargai Malik, dia adalah lelakiku.” Aku berkata selembut mungkin, agar Pram tidak merasa tersinggung.
“Aku tau, aku tidak berusaha merebut tempat itu.” Pram menoleh kearah lain, dia tidak ingin berpandangan denganku.
“Nggak bisa juga kan?” Malik masih saja menyahut.
“Panglima, Raden, bawa dua lelaki ini ketempat para Jin makan, bawa piring kalian, makan di tengah mereka!” Aku marah dan minta mereka pindah.
“Ser, jangan dong, mereka kan makan kotoran, bau ser.” Malik memelas.
“Queen, kamu tahu kan aku itu ningrat loh, aku pemilik banyak pulau, masa makan bareng ama kotoran, ayolah Queen.”
“Aku kan udah bilang, jangan ribut, tapi kalian masih saja menyebalkan! Pindahkan mereka, mau kasar atau lembut terserah kalian!” Aku memerintah Panglima dan Raden, mereka menuruti, mereka mendorog Malik dan Pram.
Mereka terlihat memelas saat pindah, emang enak, makan tuh ama kotoran, salah sendiri fikirannya kotor, tapi jujur aku sayang mereka berdua dengan cara yang berbeda, Pram seperti kakak bagiku, dan Malik adalah hidupku.
“Kau serius memindahkan mereka makan?” Raja Bapati menegurku, dia juga pindah dari meja utamanya ke mejaku, Nyai sudah di mejaku sejak awal, dia hanya makan kembang dan juga aroma dupa, tidak makan kotoran, kalau bangsa manusia dia dikenal dengan sebutan vegetarian. Nyai memang ningrat sejati.
Selain itu ada Mang Nariman dari Tanah Pejuang dan seluruh warganya, kecuali keluargaku dan keluarga Malik, kami tidak mengundang mereka karena kami tidak memebritahu mereka tentang perang ini.
Aku merindukan kelaurgaku, tapi mereka orang yang terakhir tau tentang ini, apalagi Mama, aku tidak mau melihat ekspresinya ketika tahu aku akan berjuang dengan keistimewaan ini, dia pasti kecewa, karena dari kecil dia paling takut dengan keistimewaanku.
“Ayi, makan malam ini juga aku akan memberimu hadiah.” Raja Bapati berbicara.
“Wow, banyak sekali yang kau berikan Raja, apa ini sogokan untuk seserahan?” Aku meledeknya, Nyai tersipu malu.
“Tidak bukan, ini adalah kehormatan turun temurun keluarga kami untuk anak perempuan, tapi entah kenapa, kami tidak punya anak cucu perempuan, makanya setelah nenekku, barang ini tidak pernah lagi turun pada siapapun. Sementara, aku sudah di gariskan hanya akan memiliki anak lelaki jika aku menikah kelak, makanya, aku akan memberikan ini sebagai hadiah untukmu.” Raja Bapati memberikan kotak berwarna emas kepadaku.
“Nyai, apakah aku bisa menerimanya?” Aku bertanya.
“Harus, kau harus menerimanya.” Nyai tersenyum dan membelai rambutku.
“Raja ini sangat berharga aku merasa bahwa aku tidak pantas menerimanya.”
“Untukku kau adikku, sama seperti seseorang yang kucintai yang menjagamu dengan hatinya seperti adiknya sendiri, maka seperti itulah tempatmu di hatiku, maka tidak ada yang berhak menerima selain dirimu.
Gunakanlah jubah ini saat berperang, kau akan dikenali oleh semua kawananmu karena renda emas ini disulam dengan benang emas hasil kerajaan kami, emas ini akan terus berkilau dimanapun kamu berada, sehingga saat perang aku bisa tahu keberadaanmu, dalam keadaan hidup atau ... sebaliknya, karena kilauan emas ini akan sangat terang benderang jika pemakainya hidup dan akan redup jika pemakaianya tiada, maka dari kejauhan aku tahu keadaanmu.” Raja Bapati mengatakan hal yang sangat indah sekali, aku bahagia memiliki Nyai dan Raja Bapati dipeperangan ini, maka lengkap dan utuh sudah.
“Pakai Ayi.” Nyai mengambilnya dan memakaikannya padaku.
Begitu aku pakai, seluruh renda emasnya berkilau dan mengeluarkan bunyi seperti gemerincing terkena angin, semua menoleh dan tersenyum.
“Kau cantik sekali Ayi.” Nyai membetulkan jubah ini.
“Dengan diterima jubah ini, maka gelar kebangsawanan kerajaan ini menempel juga pada pemakainya, dia adalah Ayi Mahogra Tanah Pasundan, Ratu bagi Kharisma Jagat sekaligus putri dari Kerajaan Hutan Selatan dengan gelar Dewari.”
“Panjang umur Ayi Dewari ... !!!” Semua orang lalu berteriak seperti itu padaku, aku hanya terdiam dan sedikit terharu.
Setelahnya makan malam terasa sangat damai dan tenang, kami semua tertawa, bersuka cita dan melupakan sejenak bahwa sebentar lagi kami akan berperang habis-habisan mengorbankan seluruh tenaga yang kami miliki, untuk satu tujuan, yaitu mengembalikan kehidupan sesuai yang Tuhan takdirkan.
...
“Makan malam yang nikmat ya Queen.” Pram duduk di sebelahku, Malik pamit pulang duluan, aku tahu, dia memberi kami kesempatan untuk bicara.
“Nikmat sekali Pram.” Kami memandang kelangit, duduk di meja makan panjang bersandar pada mejanya, berdua saja, ada beberapa makhluk yang masih di sana, masih menikmati makanan dan minuman kesukaan mereka.
“Kau bahagia Queen?” Pram bertanya.
“Aku bahagia dan juga takut dalam waktu bersamaan, karena peperangan bukanlah sesuatu yang aman, akan ada korban dari kedua belah pihak, baik pihak kita maupun pihak musuh.”
“Namanya perang Queen, mereka tidak datang hanya karena kepentinganmu, mereka adalah musuh dari musuh kita, bahkan jauh sebelum kamu lahir. Jadi kamu dan mereka berbagi keuntungan yang sama saat menang nanti.”
“Ini yang aku suka dari kamu Pram, sangat optimis, mendengarmu berbicara, aku merasa kemenangan seperti sudah di tanganku, itu yang aku sukai darimu Pram.”
“Tapi, setelah suka biasanya jadi cinta dan itu tidak berlaku padamu sepertinya.”
“Pram .... “
“Queen, cintaku besar untukmu dan cukup besar hingga membuatku memiliki hati yang besar untuk ikhlas, tenang saja, aku dan Malik hanya slaing sebal tapi tidak saling membenci. Aku tahu dia berterima kasih karena aku membuka jalan untuk kalian, dan aku berterima kasih karena dia menjagamu selama ini hingga kau tumbuh menjadi gadis baik dan tangguh seperti sekarang ini.”
“Kalian tadi tidak terlihat bijak, tapi aku bersyukur kau tetap pada hatimu yang baik, seandainya ada kehidupan lagi setelah ini, tapi kita tahu bahwa hidup setelah mati adalah kehidupan penghakiman, tapi jika memang ada aku pasti akan meminta Tuhan untuk menggerakkan hatiku untukmu.”
“Itu yang Tuhan atur Ser, bahkan hati milik Tuhan, Dia yang membolak-balikan hati, maka hanay dia yang mampu mengubah atau menetapkan hati seseorang, dari semua hal yang aku benci dari Malik, satu hal yang aku suka darinya, dia sosok setia dan pengorbanannya padamu jauh lebih besar, walau aku pun melakukan yang sama, tapi semua itu serasa tidak sebanding dengan apa yang Malik lakukan.”
“Terima Kasih Pram, terima kasih.”
“Queen, jika saja perang ini telah usai, aku mungkin akan pergi dari Negara ini.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Aku ingin mengejar cita-cita Queen.”
“Cita-cita yang ingin kau kejar harus keluar Negara?” Aku keberatan sebenarnya, aku takut dia melakukan itu karena pelarian.
“Ya, aku ingin menjadi pengusaha besar, pengusaha International di bidang transportasi penerbangan, impianku adalah membangun perusahaan transportasi penerbangan pribadi.”
__ADS_1
“Maksudmu Private Jet gitu?”
“Lebih dari itu Queen, aku ingin semua orang bisa menerbangkan pesawat pribadinya sendiri, setiap orang bisa memiliki pesawat terbang mini di garasi rumahnya, jika ingin terbang tidak perlu ke Bandara, cukup Helipad di pekarangannya saja, karena mini pesawat itu.”
“Apa? Kau gila! Maksudmu semua orang bisa punya pesawat seperti semua orang bisa punya mobil gitu? Wah, itu sih perlu waktu puluhan tahun untuk membangung sistemnya, mengingat penerbangan itu perlu system lalu lintas yang sangat canggih supaya tidak saling tabrakan Pram, kau gila, cita-cita yang sangat tinggi.”
“Semua orang bilang begitu, tapi jujur Queen, aku sudah mendapatkan investor, kami akan coba dalam skala kecil, percobaan.
Percobaan itu adalah semua pusat penelitian di sebuah pulau di dekat amazon, pulau itu sepi, kami akan bangun puluhan rumah yang digarasinya ada pesawat terbang mini berawak 1 dan berpenumpang 3 orang, lalu di pekarangan mereka akan menjadi helipadnya, wilayah pusat penelitian ini akan menjadi moda mini dimana seluruh penduduk akan terbiasa dengan transportasi penerbangan mini, jadi tidak akan ada lagi alasan seorang anak tidak bisa pergi mengunjungi orang tuanya karena jarak Queen, semua orang bisa saling bertemu karena jarak terpangkas habis oleh moda transportasi ini. Loh … kenapa kau menangis?”
Ya, aku menangis karena terharu.
“Sorry, sorry. Aku bener-bener nggak nyangka aja, mimpi gilamu landasannya luar biasa, semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik untukmu Pram, aku dan Malik boleh tinggal di sana bersamamu?”
“Tidak! Kalau kau dan aku saja boleh.” Pram tertawa.
“Rese kau!” Lalu kami tertawa bersama, ditemani bunyi burung hantu dan binatang malam lainnya.
“Pulang sana, nanti dia bisa membakar hutan ini karena kecemburuannya yang besar. Lupa kau, dia menjadi gembel ketika kau tinggal selama dua tahun?”
“Gembel? Salah kau, dia seperti pengemis bukan gembel.”
“Wah kau kejam Queen, masa kau ngatain dia.”
“Biar saja, supaya kau senang.”
Lalu kami berjalan pulang, di tengah kegelapan malam hutan ini.
…
“Hei, belum tidur?” Malik ada di depan pintu bersama Panglima, tumben akur.
“Belum, lagi ngadem aja.”
“Hah, ngadem? Bukannya udara dingin sekali?” Aku bertanya pada Malik.
“Dia kepanasan karena kecemburuan sepertinya." Panglima tertawa dengan suara yg menggelegar, pantas dia di sini, menggunakan moment ini untuj meledek Malik, kasihan sekali cintaku.
"Aku buatkan kopi kesukaan kamu ya." Aku membujuknya.
"Tidak usah, Ayi pasti lelah." Panggilan Ayinya begitu menusuk, dia sedang sebal sepertinya.
"Malik, mau kemana?" Malik masuk kedalam.
"Tidur!"
"Lah, nggak mau kopi dulu atau ngobrol dulu?"
"Udah ngantuk!"
"Panglima! kau pasti ngomong yang enggak-enggak, ngomong apa kamu?"
"Hei kau menuduh namanya, aku tidak ngomong apa-apa, dia aja yang cengeng." Kali ini Panglima yang pergi menghilang gitu aja.
Kenapa sekarang aku yang ditinggalkan, menyebalkan!
Srek ... srek ... srek ....
Ada suara langkah seseorang di luar pagar, aku nengok ke belakang.
"Siapa di sana?!" Aku berteriak memanggil, tidak ada jawaban.
Aku berlari kearah suara, kemana para penjaga, kenapa sepi sekali, apa mereka semua tertidur karena kelelahan? makan malam tadi memang lumayan membuat lelah, kita berpesta, menari, menyanyi dan makan bersama.
"Siapa di sana!"
Masih tidak ada jawaban, aku tifak menciun bau yang lain selain bau sekutuku, tidak ada bau manusia juga.
Aku melihat ke arah tempat kami menaruh sistem strategi perang, perasaanku tidak enak, aku berlari kesana.
Begitu sudah sampai markas strategi aku langsung membuka pintunya.
"Berhenti di situ." Aku melihat sesosok sedang mendekati peta digital kami.
Sosok itu melesat kearahku dan menubrukku, panas, tubuhnya sangat panas.
Dia berlari melesat ke segala arah, aku mengejarnya, sendirian, kemana semua makhluk? Kenapa sepi sekali hutan ini?
Aku masih mengejar, makhluk itu. Karembo Hejo kusabet-sabet hingga menimbulkan suara menggelegar, makhluk itu masih berlari, tidak terbang, tapi berlari sambil loncat-loncat.
Cetar, cetar, aku terus menyabetnya, Karembo Hejo terus mencoba menangkap makhluk itu, kaki tiba di bibir pantai, jauh sekali dia berlari, kena kau!
Karembo Hejo melilitnya, kutarik dia hingga berguling.
Kami sudah di pantai sekarang, sudah keluar dari kerajaan juga, tanpa sadar kaki telah keluar gerbang, aneh aku tidak ketemu satu orang pun selama mengejarnya.
“Ngapain kamu di Markas Strategi tadi?” Makhluk itu masih terlilit Karembo Hejo dalam keadaan terlentang.
“Ayi, apa kabar?”
Aku melihat kedatangan seseorang dari arah laut.
Lalu dua orang, tiga orang, 10 orang, 20 orang, dalam hitungan menit sudah penuh sesak di pantai ini, ada begitu banyak manusia yang mengelilingiku, siap aku tidak merasakan satu pun Karuhunku, aku hanya punya Karembo dan Kujang, tapi sepertinya mereka orang-orang pilihan yang diperintahkan untuk menangkapku.
“Malik! Pram! Panglima, Raden!!!” Tidak ada jawaban, sementara semua orang sudah mulai menyerangku.
Pantai bergejolak sepertinya ombak sedang tinggi, aku tidak mungkin melawan mereka sendirian, aku harus segera menghindar, kalau mereka berhasil menangkapku, habislah semua.
Hanya ini satu-satunya jalan, aku harus segera lepas dari mereka.
Aku berlari mendekati laut dan ....
——————————
Catatan Penulis :
Whoaaaaas 3000an kata. berat banget nih nulis part ini soalnya mesti membuat Malik dan Pram ketemu lagi, hebat Pram bisa menahan sakit, hebat Malik tidk menjadi penvemburu buta.
Oh ya, aku sertakan foto visual jubah hadiah Raja Bapati ya, ini juga akan jadi jubah perang Seira nanti.
Kok ad sih Ayi jubahnya? kan cuma fiksi, ini adalah visual yang lagi2 aku edit sendiri ya, aku tidak asal ambil dari google, aku edit sendiri, sama seperti aku edit setiap visual, kecuali foto visual tokoh.
__ADS_1
Bacanya yg tenang ya jgn skip2.
Jgn lupa like vote dan coment, aku pengen tau kalian suka ga part ini?