Karuhun

Karuhun
Bagian 40 : Gunung Butir-Butir


__ADS_3

“Pram.” Aku terbangun sudah di dalam tubuhku, jiwaku sudah kembali dan semua karuhun ikut denganku.


“Quin .... “ Pram terlihat lelah, kantung matanya menghitam, mungkin beberapa hari ini dia tidak tidur. Maaf Pram, andai hatiku bisa berpaling, ngomong-ngomong sudah berapa hari aku koma?


“Pram, sudah berapa hari aku tertidur?”


“5 Hari Quin.” Pantas Pram terlihat kelelahan. Lama sekali aku koma, disana perasaan hanya sekejap.


“Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit Pram?” Aku bertanya.


“Tadi setelah kau sempat terbangun sesaat dan tertidur lagi, Dokter datang dan dia bilang tubuhmu akan dipantau dalam 2 sampai 3 hari ini, setelah itu baru Dokter akan putuskan kapan kau boleh pulang.”


“Terlalu lama Pram, kau bisa atur agar besok aku bisa keluar dari rumah sakit?” Aku tidak bertanya tapi memerintah, aku tidak mau membuang waktu, menunggu 2 sampai 3 hari lagi, padahal aku sudah koma selama 5 hari.


“Quin, ayolah, kamu kehabisan banyak darah, dan terjebak di dunia sialan itu, andai kau memperbolehkanku ke sana, kuhancurkan si Hamdan itu.” Pram terlihat geram.


“Pram aku ke sini bukan untuk bersantai-santai atau liburan, bahkan Ayi Nuria kehilangan kepalanya untuk membela adat dan agama, aku hanya kehilangan darah Pram!” Aku bersikeras, Pram terdiam.


“Kalau kau tidak bisa mengeluarkanku dari rumah sakit, aku akan keluar paksa.” Aku mengancam, Pram terlihat gusar, tapi entah kenapa selama bersamanya aku merasa dia tidak bisa marah padaku dan terlalu lemah atas semua kemauanku.


“Baiklah, aku akan melakukan apapun yang kau mau.” Pram keluar, ada nada kecewa saat dia berbicara.


Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi begitu tegas jika menghadapi Pram, apakah hatiku reflek menjaga jarak? Kenapa hatiku sulit menerima adat ini.


“Kita akan keluar besok pagi kita akan keluar dari rumah sakit.” Pram kembali dan memnaca kabar yang sungguh membuatku lega, karena jika saja ia tidak berhasil mengeluarkanku hari ini, maka aku akan kabur dengan para karuhunku, itu mudah sekali.


“Quin, aku mendengar kabar bahwa di alun-alun tempat kamu mengalirkan tetesan darah, tumbuh bunga mawar disana, ada beberapa orang datang melihat dan ada juga yang berusaha memetik mawarnya, tapi durinya begitu tajam sehingga tidak ada yang bisa memetik mawar satu tangkai itu dengan tangan, bahkan ada yang mencoba memetiknya dengan gunting, satung tangan tebal dan alat lain, mereka semua gagal. Batang mawar itu begitu kokoh.”


“Mawar merah?”


“Ya betul, mawar merah.”


“Mawar kesukaan Ayi Nuria, itu adalah wujud penerimaan maaf Ayi Nuria pada keturunan yang nenek moyangnya membelot. Sungguh indah cara Tuhan memberi berkah, Kitanajoa akan menjadi kampung subur seperti dulu sesuai ijin Tuhan. Sebarkan berita pada penduduk Kitanajoa untuk menjadikan lapangan sebagai ladang beras, ladang gandum, ladang jagung, kota ini akan berubah menjadi kota yang makmur semoga Tuhan mengijinkannya.” Aku bersemangat karena darahku menjadi panawar atas kutukan kemarahan Ayi Nuria.


“Quin, apakah besok kita akan langsung naik ke puncak gunung Butir-Butir?” Pram bertanya.


“Ya, kita akan langsung kesana  Pram, kita tidak punya waktu banyak bukan?”


“Aku akan menyiapkan segala keperluan.”


“Pram, siapkan ransel besar berisi makanan, pastikan cukup untuk satu bulan, kalau bisa lebih tapi tidak begitu membebankan tubuh kita saat membawanya.”


“Apakah akan selama itu kita naik kesana Quin?” Pram bingung karena aku memintanya menyiapkan segala kebutuhan kami untuk naik ke puncak gunung itu.


“Mungkin, bisa lebih cepat bisa lebih lama. Tergantung bagaimana alam membantu kita dan tentu atas ijin Tuhan.”


“Baiklah aku akan menyiapkannya malam ini.”


“Oh ya satu lagi, telepon satelit. Bisakah kau menyediakannya untuk kita? Untuk keadaan darurat Pram.”


“Kenapa kau butuh telepon darurat Quin? Kau punya aku dan para karuhun, ditambah koleksi karuhun barumu yang berumur ratusan tahun.”


“Aku tidak mengkhawatirkan diriku, justru aku mengkhawatirkan kalian. “Aku mencibir.

__ADS_1


“Aku lupa bahwa aku sedang berbicara dengan Ayi Mahogra.” Pram tertawa, dia sungguh manis saat tertawa. Ah, lelaki yang gagah, andai kamu bisa mencintai wanita lain Pram.


...


“Quin, aku sudah mempersiapkan persediaan makanan kita untuk naik ke puncak gunung.” Pagi ini kami sudah keluar rumah sakit, saat ini kami sudah ada di penginapan, Pram sudah menyiapkan segala keperluan kami.


“Pram, kenapa ukuran tas ini lebih kecil dari yang lainnya?” Pram menyiapkan 3 tas untuk persediaan makan kami.


“Itu tas untukmu, sisanya aku yang bawa. Baiklah, sekarang perhatikan ya, aku akan merinci isi seluruh tas, ok.” Aku mengangguk.


“Tas berwarna kuning ini berukuran 100 liter, berisi 90 bungkus mie instant. Kenapa 90 karena rencana terburuknya adalah kita akan sampai di puncak kurang lebih satu bulan, maka kita masing-masing akan makan mie instant sebanyak satu setengah bungkus perhari, total selama 30 hari kita berdua akan makan sebanyak 90 bungkus mie instant. Lalu tas berwarna orange ini berukuran sama 100 liter, isinya adalah kompor gas lipat, aku membawa 2 takut kalau seandainya salah satunya rusak.” Pram menunjukan kompor gas lipatnya.


“Wow sekecil ini Pram, ini kompor bisa untuk memasak?” Aku takjub karena kompor gas lipat ini dilipat didalam box yang ukurannya hanya sepanjang telapak tanganku.


“Yup. Lalu ini adalah tabung gas ulirnya, kemungkinan satu tabung ini bisa untuk 3 hari, karena kita hanya akan masak 2 kali dalam sehari, jadi aku membawa 30 tabung.” Pram menunjukan tabung gas berwarna hitam yang lagi-lagi hanya sebasar telapak tanganku.


“Tenda dan sleeping bag mana Pram?” Aku bertanya.


“Satu menempel di bagian bawah tas berisi mie instant dan satu lagi di tas berisi kompor dan tabung. Oh ya selain kompor dan tabung gas, ada cemilan biskuit dan beberapa makanan kaleng yang mungkin cukup untuk 20 hari jika kita hanya memakan 1 bungkus dan 1 kaleng tiap hari. Lalu ada tas berwarna merah yang berukuran 80 liter yang berisi baju kita berdua, kita hanya akan mandi 2 hari sekali artinya kita hanya butuh 15 setel pakaian.”


“Pram semua lengkap, tapi kau salah membaginya.” Aku mengkoreksi Pram.


“Apa yang salah?”


“Bongkar semua tas.” Aku mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tas-tas itu.


Setelah semua tas kosong, aku membagi dua mie instant yang berjumlah 120 itu ke dua tas yang berukuran 100 liter, lalu membagi biskuit dan makanan kaleng, membagi 2 kompor dan tabung gas dan terakhir pakaian kami jadi 2 tas ukuran 100 liter berisi barang kami masing-masing, sisanya hanya sedikit mie instant, makanan kaleng dan tabung gas ulir di tas yang berukuran 80 liter, aku juga mengingatkan Pram untuk membawa stock alas kaki cadangan untuk kami berdua, orang bilang sandal gunung.


“Kenapa harus seperti ini?” Pram bertanya.


“Tas 100 liter itu berat, kamu bawa saja yang 80 liter.”


“Ayolah Pram kita tidak sedang berjalan-jalan di mall, lalu kau membantuku membawa tas. Aku bukan perempuan lemah. Aku sengaja membagi 2 semuanya, hanya untuk berjaga-jaga.”


“berjaga-jaga? Maksudmu?” Pram bertanya.


“Berjaga-jaga pada kemungkinan terburuk ... mungkin saja kita terpisah di sana, dan kita berdua masih bisa survive.”


“Quin, aku sudah sejauh ini untuk menemukan kamu bukan untuk kehilanganmu lagi. Aku akan menempel dengan erat.” Pram tersenyum, Tuhan semoga Pram bahagia.


...


Hujan mengiringi perjalanan kami naik ke Gunung Butir-Butir, setelah melapor ke pos kami langsung naik, hanya ada 1 pos di gunung ini, itu karena memang tidak pernah ada yang berniat naik ke gunung ini, tidak ada tim penyelamat, tidak ada tim pendaki yang profesional, karena hampir bisa di bilang ini adalah gunung kramat, bahkan kami terkendala ketika melapor, semapt dilarang naik, tapi kami memaksa, akhirnya juru kunci datang dan kuperlihatkan tusuk konde bunga mawar merah milik Ayi Nuria yang diberikan padaku kemarin. Setelah melihatnya juru kunci itu langsung mempersilahkan kami naik.


“Quin, jika saat nanti terlalu berat, katakan ya. Aku tidak keberatan untuk menggendongmu.”


“Pram kau menjijikan sekali.” Aku tertawa, setelahnya kami perlahan mendaki gunung ini dalam keadaan hari mulai gelap.


Hujan belum juga reda, kami sudah naik sekitar 2 jam, kami berjalan terus membawa kompas. Agak sulit karena gunung ini tidak terawat, tidak ada jalur pejalan kaki, terkadang ada jalan yang sangat terjal hingga kami benar-benar harus mendaki.


“Pram, aku mendengar seseorang mengikuti kita sekitar 10 menit ini.” Aku berkata karena memang aku merasa ada yang mengikuti kami.


“Ya, seseorang. Entahlah aku sulit mendeteksinya.”

__ADS_1


“Biarkan aku menyapanya.” Aku berbalik.


“Hei kau pemuda, siapa kau?” Aku melihat lelaki dengan pakaian naik gunung berdiri dibalik pohon.


Dia masih bersembunyi.


“Selagi masih kutanya baik-baik maka keluarlah.” Aku tidak mampu mendeteksi dia manusia atau jin, entahlah.


Dia lalu keluar dari balik pohon itu. tubuhnya tinggi, dia memakai jaket parasut yang di tutup hingga leher, pakaiannya mirip seperti pendaki profesional.


“Siapa kau, mau apa kau?”


Dia hanya berdiri tidak bergeming, aku mendekatinya, Pram mengikutiku dari belakang.


Setelah dekat aku baru sadar ....


“Dimana tubuhmu?” Aku bertanya.


Dia menunjuk arah kanan, disana terlihat jurang. Pantas dia tidak bisa kami deteksi, dia adalah manusia yang terjebak diantara 2 dunia, entah hutang apa yang dia belum lunasi hingga tidak mampu kembali ke Tuhannya.


“Aku tidak bisa menolongmu saat ini, aku akan membantumu menghubungi keluargamu.” Aku memanggil Raden.


“Raden, antar lelaki ini menemui keluarganya, kau bisa mendekati mereka dari mimpinya, lalu antarkan keluarganya untuk menemukan tubuhnya, jangan lupa untuk memastikan bahwa hutangnya harus dibawar agar dia bisa kembali ke alam yang seharusnya dia berada.” Raden menuruti perintahku dan pergi bersama lelaki itu.


Entahlah apa yang membuat lelaki itu bisa jatuh ke jurang, yang aku tahu dai tersesat di dua dunia.


“Quin kita istirahat dulu ya, kita sudah 5 jam jalan dan ini sudah gelap, bahaya jika kita melanjutkan perjalanan.” Pram lalu mendirikan tenda, aku membantunya, memasang peralatan masak karena dari siang kami belum makan.


“Romantis seperti ini kau suka?” Pram bertanya.


“Seperti ini maksudnya?”


“Di malam yang dingin sehabis hujan, ditemani pocong, kuntilanak dan sesekali genderuwo lewat.” Dia bertanya.


“Pram, ayolah.” Aku tertawa, mereka hanya jin-jin penunggu gunung ini, rumah mereka di sini, kita datang ke rumah orang yang harus sopan, membawa sampah kembali dan juga tidak berkata kasar. Sama seperti orang pada umumnya, jika seorang tamu berkata kasar, buang sampah sembarangan dan merusak perabotan rumahmu, kamu pasti marah dan mengusirnya. Kita pun harus hormati makhluk di sini jika kita sopan dan santun, mereka tidak akan mengusik kita, toh sama-sama ciptaan Tuhan.


“Quin, apakah ... kamu masih memikirkan Malik?” Pram kembali bertanya setelah kami selesai makan.


“Malik? Entahlah apa aku punya waktu untuk memikirkannya. Bahkan untuk memikirkan diriku sendiri saja aku tidak cukup waktu.” Aku berbohong, mengatakan aku masih memikirkannya hanya akan melemahkanku.


“Quin, apakah dia menerima perpisahan kalian begitu saja?”


“Pram bisa kita tidak membicarakannya?”


“Tidak mudah bukan melupakan seseorang Quin?”


“Pram, sudah malam, aku tidur duluan ya.” Aku berjalan ke dalam tendaku dan menutupnya, menggunakan sleeping bag, sesaat kemudian aku menghapus air mata yang luruh begitu saja.


_____________________________


Catatan Penulis :


Cinta? Aku mencoba melupakanmu hanya akan membuatku mencengkram rasa ini, melupakan, hanya alasan untuk harga diriku, menerima perpisahan, caraku bertahan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2