Karuhun

Karuhun
Bagian 44 : Tanah Pejuang


__ADS_3

Aku berjalan terus tanpa ragu, hingga satu titik aku menemukan cahaya diujung sana, aku berlari secepat yang aku mampu, belum sampai pada cahaya itu, seseorang berlari kearahku dengan lebih cepat dan menubruk tubuhku, aku limbung lalu jatuh sempurna, lalu setelahnya, gelap ….


“Behra, lihat apakah dia memegang kunci?” kudengar seseorang bersuara berat memerintah yang satunya lagi, setelahnya aku merasa tangan seseorang meriksa tubuhku, sementara tanah terasa dingin sebagai alasku.


Dia memegang areal pribadiku di bagian dada, sepertinya dia mencari kunci, aku langsung menangkap tangannya, lalu memutar tangan itu sehingga dia terjatuh, dengan tangan di punggungnya yang aku kunci, aku dalam keadaan terduduk, walau terpaksa aku harus bangun, sakit sekali di tubruk oleh seseorang.


Aku melihat sekitar, aku masih di jalan masuk, belum sampai perkampungan, siapa dua orang ini, ternyata yang menubrukku adalah seorang laki-laki bertubuh sangat tinggi, badannya kekar dia tidak memakai baju, hanya memakai celana yang dibalut kain jarik di lipat setelah, khas pakaian orang jaman dulu, sementara yang memegang tubuhku dan mencari kunci adalah seorang perempuan, tubuhnya sama kekar dan tinggi, wanita ini bahkan tingginya lebih dariku, wanita yang memiliki tinggi diatas 170 centi meter.


“Siapa kalian?” aku masih mengunci tangan perempuan itu di punggungnya.


“Kamu yang siapa! Ngapain disini? Kok bisa masuk?” Lelaki itu bertanya.


“Behra, ngapain sih ditanya, udah langsung aja hajar.” Wanita yang tangannya ku kunci ini berkata, aku kesal jadi kutarik tangannya makin ke belakang.


“Mau menghajar Ayi Mahogra? Yakin sanggup?” Aku berkata dengan lantang, kalau memang mereka adalah keturunan Ayi Tirung, mereka pasti kenal siapa aku.


Saat mendengar kata-kataku, lelaki itu langsugn kaget dan duduk terjatuh, yang wanita juga langsung menunduk.


“Sudah mengenalku sekarang?” Aku melepas peganganku.


“Ayi datang lebih cepat dari perkiraan kami, apalagi postur Ayi yang …. “ Perempuan itu berkata dengan ragu.


“Kecil maksudmu? Hei di dunia luar sana, aku termasuk perempuan dengan postur tinggi besar tau! Kalian tuh yang aneh.” Aku tidak terima jadi korban body shamming perempuan ini.


“Perkenalkan nama kalian.” Aku berdiri membersihkan bajuku dengan angkuh.


“Maaf Ayi, ini protokol, apakah Ayi memegang kunci?” Perempuan itu berkata dengan santun.


“Memang ada selain lingkungan kalian yang bisa berhasil masuk selain aku? Harusnya kalian percaya, tapi yasudahlah, ini lihat.” Aku mengambil tusuk konde bunga mawar merah milik Ayi Nusia, lalu memperlihatkannya pada mereka.


“Maaf Ayi, harus kami simpan.”


“Lalu bagaimana aku keluar kalau tidak punya kunci?”


“Protokol Ayi, ini menutup kemungkinan orang luar bisa masuk seenaknya.” Kali ini lelakinya yang mengatakan aku orang luar, baiklah sepertinya dua pemudi ini perlu di pelajaran.


Aku memasukan tusuk konde ke dalam tasku dan mengeluarkan kujangku.


“Sini kalian, kesabaranku sudah habis!” Aku mengajak mereka berantem.


“Maaf Ayi ini peraturan.” Perempuan itu berkata.


“Memang ada orang luar masuk sini selain aku? Kalian menutup akses siapapun masuk, dengan kemampuanku masuk saja, seharusnya kalian sudah tahu siapa aku, tapi lihat kau menubrukku dan kau mengerayangi tubuhku.” Aku menunjuk mereka berdua.

__ADS_1


“Ayi Tapi …. “ Sebelum mereka selesai membela diri, aku langsung menyerang mereka, pertama aku mendekati perempuannya, aku menghunus kujang, dia mampu menghindar walau terlihat kewalahan, yang lelaki berusaha menubrukku lagi, tapi aku lebih awas sekarang. Wajah wanita itu kutonjok, sebagai balasan dia berani menggerayangi tubuhku, kekuatan yang kupakai hanya seperempatnya saja, aku memang hanya ingin bercanda dengan mereka.


“Maaf, maaf Ayi.” Mereka kewalahan, aku tertawa.


“Berani kalian mengerjaiku, kalian pasti bocah ingusan yang suka mencuri, kalian ingin ini? Kunci yang bisa membuat kalian keluar masuk areal ini tanpa ketauan?” Aku menunjuk konde mawar merah.


“Maaf Ayi, aku lupa kau sedang berhadapan dengan ratuku.” Perempuan itu duduk bersimpuh karena lelah.


“Kalian tahu, aku sudah berjalan begitu jauh dan kelelahan, lumayan ada hiburan. Tunjukan aku jalan ke rumah kalian.”


Lalu kami bertiga berjalan maju kedepan, ke arah cahaya yang aku lihat.


“Namaku Behra Ayi.” Yang perempuan mengenalkanku.


“Kalau aku Bohra.” Sekarang yang lelaki memperkenalkan diri.


“Kalian adik kakak?” Aku bertanya.


“Tidak, kami pacaran.” Behra berkata.


“Astaga! Pasti itu nama julukan atau nama kesayangankan?” Aku tertawa meliaht mereka, tapi mereka terdiam tidak tertawa.


“Jadi, itu nama asli? Kok?”


Kami sudah sampai di tanah pejuang, tanah yang sangat subur, bagaimana mungkin tanah yang di bawah gunung ini begitu tandus, sehingga harusku sembuhkan dengan darahku, sementara diatas sini, begitu luas, ada sawah, ada perkebunan, ada peternakan, kampung yang luar biasa hebat.


Dari jauh ada seorang lelaki tua yang mencoba mendekati kami, lalu Behra dan Bohra berlari menjauh, aku ditinggalkan sendiri.


“Ayi Mahogra, selamat datang.” Lelaki tua ini menyapaku.


“Terima kasih.” Aku menunduk.


“Mari ikut saya.” Lelaki tua itu mengajakku ke pondoknya, cukup jauh dari gerbang cahaya yagn kulihat tadi, selama perjalanan aku meliaht kampung ini begitu asri, semua orang terlihat bahagia, tubuh mereka tinggi besar, kulitnya bercahaya dan wajah mereka sangat muda-muda. Kampung ini begitu memukau, aku rasa Malik akan suka di sini … astaga! Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya.


“Silahkan di makan dan di minum Ayi.” Lelaki tua itu menawarkan hidangan yang sudah dia siapkan, ada ayam bakar, ada nasi sebakul, ada kue-kue basah, kenapa mereka seperti siap sekali kedatanganku.


“Maaf aku menahan mereka Ayi, karena medan di gunung ini terlalu berat, dan bahaya jika semua karuhunmu dan yang kami miliki bertumbukan, maka gunung ini akan berguncang.”


Kulihat Panglima dan Bagus Heulang muncul, sekarang aku tenang. Lalu aku makan, karena jujur aku lelah dan kelaparan.


Nama lelaki tua itu Nariman, dia adalah cicit dari Ayi Nusia, dia kepala tanah pejuang ini, semua peraturan dia yang buat, dia sudah didatangi Ayi Nusia dalam mimpi, yang mengabarkan kedatanganku, memang pria ini yang kucari, dia katanya orang paling tahu tentang sejarah perjodohan adat yang digadang-gadangkan sebagai takdir dari seluruh Kharisma Jagat yang hidup di bumi ini, takdir yang katanya harus aku dan Malik  terima. Takdir yang memisahkan antara sang pecinta, takdir yang bahkan aku yakin diciptakan oleh manusia, bukan takdir yang Tuhan berikan.


“Mang Nariman, kenapa Karuhunku ada di sini?”

__ADS_1


“Aku hanya mampu membawa mereka, tepat setelah aku bermimpi bertemu Ayi Nusia, aku tidak bisa menemukanmu, sepertinya gunung ini menyukaimu, makanya menyembunyikanmu dari kami, maklum kami bukan pemilik gunung ini, gunung ini memiliki kebutuhannya sendiri.”


“Mang mencariku, tapi kita tidak bertemu? Kapan Ayi Nusia mendatangimu dalam mimpi?”


“Kemarin Ayi.”


“Apa? Baru kemarin? Sementara aku sudah mulai naik dalam 3 minggu ini, sepertinya memang takdirku selalu sulit Mang.” Aku tersenyum.


“Dengan kesulitan itu, maka semua hal yang Ayi lakukan menjadi hebat dan tepat.”


“Aku fikir kau lebih hebat, mampu membuat tempat ini begitu subur, sementara di luar tanaman tidak dapat tumbuh, kalian tidak ingin berbagi rahasia tanah subur?” Aku menyindir karena rasanya apa yang dilakukan penduduk sini terlalu egois, sementara diluaran sana orang tidak mampu hidup dari pertanian, di sini semua melimpah.


“Kami sudah mencoba berbagai cara Ayi, dari mulai kakekku, lalu ayahku dan terakhir aku, kami emncoba semua formula yang telah kami buat di sini, agar tanah di bawah subur kembali, tapi semua gagal, tanah di bawah dan tanah di puncak ini memiliki komposisi yang sama, tapi takdir yang berbeda, tanah di bawah telah dikutuk, sedang tanah di sini sudah diberkahi karena kami yang hidup disini menjaga adat dan agama dengan baik, sehingga Tuhan mengecualikan kami dari azab, maka untuk itu, kami hanya mmapu bersyukur dan tidak kurang mencoba membantu.” Mang Nariman menjelaskan. Aku hanya sedang mengetes, apakah dia orang yang egois, gila kekuasaan, atau orang yang pantas kujadikan sekutu.


“Baik, mengenai pernikahan adat, aku …. “


“Ayi,” Mang Nariman memotong perkataanku, “lebih baik Ayi istirahat dulu, bukankah 3 minggu ini sangat berat di luar sana, aku akan menyiapkan tempat yang nyaman sebisa yang kami mampu siapkan, tidak usah terburu-buru Ayi, aku merasa sebuah kehormatan menjamu ratu dari seluruh Kharisma Jagat Tanah Pasundan.”


“Aku kesini bukan untuk perjamuan Mang, aku …. “


“Setidaknya beristirahat dulu Ayi, Mang Mohon, tubuh Ayi sudah kelelahan dan kotor.” Mang Nariman memiliki wajah yang teduh, intuisiku mengatakan dia orang yang baik, tapi ada sesuatu yang dia hindari. Tapi aku fikir dia benar, aku lelah dan sudah seharusnya aku istirahat dulu.


Setelah makan dia tempat Mang Nariman 3 orang penduduk yang bekerja pada Mang Nariman  mengantarku kepondok peristirahatan, katanya pondok ini dulunya milik anak dari Ayi Nusia, gadis kecil yang dari bayi tidak pernah bertemu ibunya yang hebat, karena dipenggal atas keserakahan para penjajah.


Pondok ini terbuat dari kayu, sama seperti seluruh rumah yang ada disini, tidak ada yang terbuat dari batu bata, semua terbuat dari kayu dan bilik sebagai dindingnya sungguh hal yang Malik akan sukai, begitu asri, begitu tenang.


Kami sudah sampai pondok istirahatku, ada tangga kecil untuk mencapai pintu masuknya, tangga yang terdiri dari 3 anak tangga saja, yang tentu terbuat dari kayu, setelah itu ada teras kecil yang dihiasi 2 bangku rotan dengan satu meja. Cukup untuk menikmati kopi di pagi hari sembari melihat pemandangan dari puncak gunung ini.


Pintu pondokku dibuka, aneh kenapa pondok ini tidak dikunci? Lalu mereka mempersilahkanku masuk, aku melewati mereka dan mendekati pintu masuk, begitu masuk, aku melihat lelaki itu, aku terkejut, kenapa lelaki itu ada di sini?


_______________________________


Catatan Penulis :


Sejauh aku berlari, kenapa bayanganku tetap mengikuti? Sebanyak aku bergerak kenapa bayanganku tak lelah meniruku, lalu kenapa kau yang kusakiti selalu berada dihatiku, aku yang salah karena mencintaimu, atau kamu yang terlalu mempesona sehingga menusuk sempurna kedalam relung hatiku? (Seira Adam Hanida)


Ada yang bisa tebak siapa yang ada didalam pondok peristirahatan hingga membuat Seira terkejut?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2