
Aku melangkah ke ruang perawatan Malik, aku sangat ingin bertemu dengannya, baru pagi ini aku bisa menjenguknya setelah semalam Papinya datang menjengukku, Aku rindu sekali Malik.
Ku buka pintu ruang perawatannya, sepi sekali. Aku masuk dan kamar sudah rapih, tidak ada bekas seperti dihuni, aku berlari ke meja perawat tak jauh dari ruang perawatan ini, masih terasa sakit memang bagian perutku, tapi aku khawatir, kenapa Malik tidak ada, kemana Pak Hanif dan keluarga Malik.
“Sus, Pasien yang disitu kemana? Atas nama Malik Rainan.” Aku bertanya di meja jaga suster.
“Sebentar di cek dulu.” Suster memeriksa data di laya komputer, “Sudah pulang, pagi-pagi sekali tadi.”
“Loh kok sudah pulang? Kan baru siuman semalam?” Aku protes tapi dijawab hanya dengan gelengan kepala oleh susternya.
“Coba tanya Dokternya saja bu, dengan Dokter Adi.”
Oh ya, Dokter Adi. Aku kembali berlari menahan sakit di perutku, aku akan keruangannya, tadi perawat sudah memberitahuku dimana ruangan Dokter Adi, aku berlari kecil, karena khawatir. Kenapa Malik pergi begitu saja ... Bukk
“Oh, Maaf, Maaf.” Aku meminta maaf pada orang yang aku tabrak, dia menangkapku, aku memang sedikit oleng dan hampir jatuh.
“Hei, hati-hati Nona.” Orang itu memapahku untuk berdiri lagi kalau tadi dia tidak menagkapku, bisa fatal luka di perut ini, untung dia menangkapku.
Aku tersenyum dan mengatakan terima kasih sembari mengulurkan tangan, tanpa sengaja aku menatap wajahnya, Oh Tuhan, Tampan sekali, aku bahkan merasa terintimidasi dengan ketampanannya, badannya tegap, pakaiannya sangat rapih, rambutnya klimis, seperti eksekutif muda yang dihiasi barang mewah.
“Astagfirullah!” Aku beristigfar, bagaimana mungkin aku memuji lelaki lain sementara Malik saja sekarang entah dimana.
“Kenapa?” Lelaki itu ternyata masih disini mendengar ocehanku.
“Ti-tidak.” Ada yang aneh, kenapa dibelakanngya banyak sekali pasukan, aku baru sadar karena tidak sengaja menoleh ke belakang, pasukan berselendang merah, siapa dia?
“Kamu .... ” aku menunjuk kearah pasukannya.
“Kalau mereka kutinggal, meraka akan buat masalah, makanya aku bawa. Itu, milikmu?” dia menunjuk kearah belakangku, aku pun melihat kesana, ada begitu banyak pasukan berselendang Hijau, sejak kapan mereka mengikutiku?
“Bukan, punya Malik.” Aku tersenyum dan hendak meninggalkannya, lalu dia menarik tanganku.
“Namaku Pramudya Aksara, Pram. Kalau kau butuh aku sebut saja namaku.” Lelaki itu berlalu, aku tidak mengerti. Namanya Pram, sebentar, apa ini ditanganku? Loh? Loh? sejak kapan batu ini ditanganku? Batu Zamrud Merah delima, ah entalah aku harus ke Dokter Adi. Aku akan tanyakan Malik batu apa ini setelah menemukannya, kukantongi batu itu dulu.
Begitu sampai ruangan Dokter Adi kuketuk pintu ruangannya.
“Masuk.” Terdengar suara dari dalam.
Kulangkahkan kakiku, Dokter Adi sedang dibalik mejanya.
“Dok, Malik kenapa pulang? Kan baru semalam siuman, trus gimana keadaannya sekarang? dimana dia?”
“Wow wow, satu-satu dong, pelan-pelan, daripada kamu sibuk menanyakan Malik, coba lihat, ada rembesan darah di baju kamu.” Dokter Adi mendekatiku dan menyingkap bajuku, dia sedang melihat bekas luka operasiku yang ditutup dengan kasa, tapi kasanya sudah basah darah, darahku rembes, mungkin karena aku berlari-lari tadi.
Dokter Adi memapahku duduk di ranjang yang ada di ruangannya, aku duduk diranjang itu, lalu Dokter Adi membuka perbanku dan membersihkan darah di bekas luka operasiku, menutupnya kembali dengan kasa yang baru.
“Sudah, sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu.” Dokter Adi mengambil bangku dan duduk dihadapanku, jarak kami dekat sekali, aku masih diranjang yang memang disediakan rumah sakit diruangan Dokternya.
“Pertama, memang Malik sudah pulang, pulang paksa. Malik yang minta, kamu sudah mengenalnya jauh sebelum aku, mengerti lah kalau dia sudah bersikeras untuk satu hal, maka itu yang akan dia kejar. Kedua, iya benar dia baru siuman semalam dan langsung gelisah mau pulang, sekarang mungkin dia ada di rumahnya, tempat perawatan yang kemarin kamu nginep beberapa hari itu.”
Malik memang nakal! Aku harus bicara dengannya.
“Jangan melakukan gerakan menekuk kaki dengan kasar ya, lukamu belum kering, kalau rembes terus kegiatanmu akan terganggu.”
“Iya Dok. Dok, aku mau keluar rumah sakit ya, aku mau ketemu Malik.” Aku merengek supaya diijinkan pulang.
“Tentu saja boleh, Hanif sedang mengurus kepulanganmu, dirumah Malik memang tempat teraman untukmu saat ini, kondisimu lemah, bahaya kalau mereka datang kesini untuk mengganggumu, aku tidak bisa sepenuhnya melindungimu.”
Setelah Dokter Adi membersihkan lukaku, aku kembali keruangan, sudah ada Pak Hanif di sana.
Mama dan Seina sudah pulang tadi pagi, aku yang suruh, karena aku nggak mau mama capek, mama sempat menyuruhku menjodohkan Seina dengan Dokter Adi, pantas kemarin Dokter Adi panggil Mamaku dengan sebutan mama, Pasti mama yang sok kenal sok deket, tapi mama nggak tau kalau gadis kecilnya sudah berlabuh ke hati yang lain.
“Pak, yuk kita pulang.” Aku mengambil baju ganti dan masuk ke toilet, aku tidak sabar ingin ketemu lelaki nakal itu, kenapa dia pulang bahkan tidak menungguku.
Setelah aku selesai ganti baju, kami keluar rumah sakit dan mengendarai mobil untuk kerumah Malik.
“Ser, Seina itu umurnya berapa ya? “ Pak Hanif bertanya, sementara jalanan ibukota ini terasa lengang, mungkin karena hari ini hari minggu.
“Emang Seina nggak bilang dia umur berapa? Tanya sendiri lah.” Aku membuka telepon genggamku dan mengirim nomor telepon Seina ke aplikasi chat Pak Hanif.
“Tuh udah aku kirim nomor teleponnya, tanyain aja kalau mau tau, aku nggak mau jadi informan.” Aku tersenyum padanya.
“Pak Hanif juga tersenyum.”
“Jangan terlalu pasif pak, Seina itu juga tipe pasif makanya udah kuliah gitu belum pacaran sama sekali, kalau kalian sama-sama pasif, nggak bakal kemana-mana sampe itu bunga edelweise tumbuh dipekarangan rumah Malik.” Aku tertawa, sementara Pak Hanif hanya senyum tipis.
Kami tiba dirumah Malik, bergitu selesai parkir mobil aku langsung naik. Tadinya berlari, tapi ingat kata-kata Dokter Adi, tidak boleh lari-larian.
Begitu sampai pintu utama, aku masuk dan mempercepat langkah, didapur aku ketemu mbaknya Malik lalu aku bertanya keberadaan Malik.
“Mbak Malik mana?”
“Pak Malik di Kamar.”
“Ok.” Ketika aku akan melangkah mbak nya Malik menahan tanganku dan berkata.
“Tidak ada hal yang paling menakutkan selain cemburu, bersabarlah.” Lalu mbaknya Malik melepaskan tanganku dan pergi, apa maksudnya, entahlah nanti juga tau.
Begitu sampai kamarnya, aku kaget, ada dua anjing didepan kamarnya, bukannya Malik tau aku takut sekali dengan Anjing, Anjing nyata. Anjing yang menggonggong itu, aku takut digigit. Memang di rantai, tapi kalau aku membuka pintu kamarnya Malik, aku pasti digigit oleh anjing yang sering membantu polisi untuk mengendus ini.
“Malik!!!” Aku berteriak, perasaanku tidak enak.
Tidak ada jawaban.
“Malik!!!” Aku mengulang, lalu Pak Hanif datang.
“Loh kok ada Anjing sejak kapan dia memelihara Anjing.” Aku menahan tangis dan memegang tangan Pak Hanif, karena takut, Pak Hanif tertawa.
__ADS_1
“Ser, kamu menaklukan Macan dengan tanganmu, masa sama anjing begitu takut.”
“Pak! Itu beda, mereka Ghaib, ini nyata! Lihat bisa menggigit, bahkan Anjing Ghaib saja lebih lucu dibanding mereka!” Aku membela diri.
Lalu pintu kamar terbuka, wajah sengak Malik langsung terlihat.
“Kalian mau nyebrang makanya pegangan kayak gitu?” Malik bertanya dengan datar dan tidak melihat kearahku, dia melihat kearah Pak Hanif, dia komplain karena melihat aku memegang tangan Pak Hanif.
“Malik kenapa ada Anjing disini? Kamu kan tau aku takut Anjing!”
“Sengaja, biar nggak sembarang orang bisa masuk!” Darahku mendidih mendengarnya.
“Malik kalau tujuanmu orang sembarangan, taro ini Anjing didepan rumah, kalau lu taro didepan kamar, artinya lu nggak mau gue masuk, gue orang sembarangan maksud lu!” Aku marah besar.
“Masih mau nyebrang?” Malik menegurku, aku langsung melepas tangan pak Hanif, aku bukan sengaja, tapi memang aku takut Anjing itu.
“Udah jangan berantem, heran, sama-sama cinta aja masih pura-pura.” Pak Hanif mengambil rantai anjing-anjing itu dan membawa makhluk menakutkan itu keluar.
“Lepasin pak, kasian di rantai gitu, majikannya nggak punya adab banget!” Aku berteriak.
Malik masuk kamar dan membanting pintu, aku menyusul masuk dan membanting pintu juga, tapi saat aku membanting pintu lukaku ketarik, sakit. Aku meringis, Malik berlari kearahku dan memegang tubuhku yang kesakitan, memapahku ke sofanya.
“Makanya jangan sok jagoan, mentang-mentang udah dibuka segel trus ngerasa bahwa kamu kebal gitu?” Malik memberiku segelas air sambil marah, sepertinya dia sudah sembuh, galaknya udah kembali lagi, dia beranjak hendak meninggalkanku, aku langsung memegang tangannya dari belakang dan memeluknya, aku menangis kencang sekali, dia membiarkanku menumpahkan semua rasa takut dan khawatir di punggungnya.
“Cengeng.” Malik berkata setelah sekian lama terdiam, dia membiarkanku terbenam di punggungnya dalam tangis yang lama kutahan.
“Biar cengeng yang penting jujur, daripada kamu pembohong!” Aku semakin kencang memeluknya, Malik meringis, “Maaf.” Aku lupa ada luka operasi juga diperutnya.
Malik mengajakku duduk di sofa setelah aku puas menangis di punggungnya, diapun duduk di sampingku, aku memegang tangannya, setelahnya kami sama-sama memandang kosong.
“Mulai sekarang kamu harus membicarkan apapun padaku, apapun! Jika itu soal aku kamu harus berdiskusi denganku, pun sebaliknya aku akan begitu.” Malik hanya diam.
“Malik!”
Malik hanya mengangguk.
“Malik, akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentang masa kecil kita, aku ingat dulu itu kau sering membagikan makanan mahalmu kepadaku, kepada teman-teman kita, apa itu cuma alasan Malik, sebenarnya kamu hanya ingin memberinya padaku tapi takut aku tidak menerimanya makanya kamu memberikannya pada anak-anak lain?”
“GR.” Malik tersenyum.
“Kamu nggak dimarahin dulu, sering beli mainan dan makanan banyak sama Papi kamu?”
“Nggak lah, kan aku orang kaya.” Setelah pulih kesombongan kembali menjadi mantelnya.
“Malik!!!” Aku manyun, Malik kembali memegang kepalaku dan mengusap kepalaku perlahan, dilanjutkan dengan mencium kepalaku, aku senyum-senyum, kami memang sering bersentuhan, karena dulu status kami sahabat dekat, tapi ini pertama kalinya Malik menciumku, pasti dia sudah menahannya lama, aku kembali tersenyum, sampai....
“Kamu belum sampoan ya? Bau.”
“Malik!!!” Aku memukul bahunya.
"Aku tidak bisa janji banyak, aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa, tapi kenyatannya aku gagal, Seira sudah menjadi Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, aku bukannya tidak ingin berjalan beriringan, aku hanya ingin kau hidup normal, hidup bahagia."
"Akan sangat berat kedepannya, aku sudah dikenal oleh para Tetua, mereka akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita."
"kenapa, kenapa mereka ingin memisahkan kita?"
"karena ... bukan aku orangnya."
"Jodoh siapa yang tahu, kau Tuhan!" Aku bersikukuh.
"Bagaimana jika bukan aku jodohmu?" Malik kembali bertanya.
"Bagaimana jika kau?" Aku tersenyum sementara Malik masih terlihat gusar, aku merapatkan badan pada tangan Malik, "Bisakah kita tidak membicarakan itu? bisakah kita nikmati dulu pertemuan kita setelah seabad kita berpisah?"
"Seabad? ah perasaan baru 2 bulanan."
"Malik!!!" Aku marah karena Malik tidak mengerti sedang ku gombali.
"Ser, ikut aku yuk." Malik mengulurkan tangan.
"Kemana?"
"Ada banyak hal yang harus kita kerjakan, kamu sudah tidak tersegel dan aku tidak bisa menjadi perisaimu, karena wangimu dan sinyalmu terlalu kuat, kamu harus berlatih, menilai siapa yg boleh ikut dan tidak."
"Harus banget sekarang? nggak bisa sayang-sayangan dulu gitu, atau candle light dinner dulu deh minimal."
"Ser." Malik menarikku, dia membawaku ke rak buku dibelakang meja kerjanya di kamar ini, dia menarik salah satu buku warna merah yang bertuliskan AMKJ, buku apa itu, dia mau baca buku? Tiba-tiba rak bukunya berbalik memberikan jalan pada kami berdua, Malik menuntunku berjalan kearah dibalik rak buku, ada pintu ternyata di belakang rak buku ini.
"Ser, arahin mata kamu ke kotak itu." aku mendekati kotak transparant disamping pintu tersembunyi itu, aku mengarahkan mataku pada kotak transparannya, lalu pintu terbuka, oh sensor retina ternyata, kapan retinaku di daftarkan, aku merasa Malik tidak pernah menyuruhku untuk, oh iya, dulu sekali dia pernah memaksaku buat kaca mata, mungkin saat itu dia mengambil sidik retinaku, lelaki pintar.
Begitu masuk kami langsung bertemu tangga besi yang cukup berkelok, kami menuruni tangga.
“AMKJ buku apa itu Malik?”
“Hanya album foto.”
“AMKJ itu kepanjangannya apa?” Aku masih mencoba menebak.
“Ayi Mahogra Kharsima Jagat.” Malik tersenyum, akupun tersenyum, sudah lama sekali rasanya kami tidak melempar senyum seperti ini, aku rindu sekali kebersamaan dengannya.
Begitu sampai bawah aku mencium bau amis yang cukup pekat dan kaget, ternyata ruangan ini begitu luas, ada banyak sel-sel yang tersegel, ruangan apa ini?
"Ini adalah sel untuk para Karuhun atau Makhluk yang belum mampu aku jinakan, mereka kukurung disini." Malik seperti bisa membaca fikiranku.
"Kenapa harus dikurung?"
"Karena, kalau dilepas dia akan mendatangimu dan mungkin akan mencelakai tubuh tersegelmu."
__ADS_1
"Banyak sekali Malik." Aku memegang Malik, Aku merasa semakin takut kehilangan Malik, dia sudah sejauh ini menjagaku.
“Akan kuceritakan tentang suatu hal, setelah ini mungkin kau akan semakin jauh, tapi harus kuceritakan, duduk dulu.” Malik menarikku ke sofa yang berada tepat di bawah tangga besi tempat kami turun tadi, dari sini kami bisa melihat seluruh sel, karean ruang penjara penghuni Ghaib ini berbentuk lingkaran.
“Aku yang menilai ceritamu, dan aku yang akan mengambil keputusan bahwa ini akan membuatku semakin jauh atau malah sebaliknya.”
“Dulu sekali ada seorang Abah datang menemuiku dalam mimpi, dia bercerita bahwa Cucunya adalah Ayi Mahogra yang memiliki keberkahan sebagai Kharisma Jagat, dunia akan berat sekali karena Cucunya itu sendirian menghadapi dunia. Lalu aku menebak bahwa itu adalah kau, Seira, dia pun mengangguk, dia bilang bahwa tidak mudah membuatmu jatuh cinta, karena ada banyak hal yang mempengaruhimu dalam menilai manusia, tidak hanya ketampanan tapi juga kemampuan dan sikap, aku harus hati-hati, Seira kecil yang belum tersegel, tidak akan pernah melirikku sedikitpun karena aku hanyalah orang biasa dimatanya, bahkan kau yang umurnya baru belasan tahun terlhat sangat cantik dan kuat, aku hanya orang biasa yang lemah, selalu ketakutan dan tidak percaya pada siapapun, maka sejak mama memutuskan untuk menyegelmu dengan resiko bahwa kau akan lupa sebagian dari dirimu, aku mendukung mama dan aku akan melakukan papun termasuk menciptakan banyak siasat, untuk membuatmu jatuh cinta. Aku mengukir ulang kenangan tentang kita berdua, aku membuatmu percaya bahwa kau mencintaiku.”
“Lalu?” Aku bertanya.
“Seperti sekaranglah Malik itu dimatamu, kau fikir kau mencintaiku tapi sebenarnya .... ”
“Bagaimana mungkin cinta itu difikirkan Malik? Cinta itu dirasakan.” Aku menatapnya dalam.
“Aku memanipulasimu Ser!” Malik membentakku.
“Aku tidak keberatan, sekarang apalagi Malik? apa lagi yang membuatmu begitu ingin aku menjauh?”
“Bukan aku Ser, bukan aku.”
“Baiklah, kalau memang bukan kau yang ingin pergi, lalu siapa?” Aku hanya ingin tahu ada apa ini sebenarnya.
Malik menunjuk salah satu sel yang kulihat segelnya berlipat ganda, sel yang didalamnya terdapat Makhluk yang terlihat buas, makhluk apa itu, kenapa rupanya begitu menakutkan, siapa dia, kenapa Malik menunjuk kearahnya?
I
I
I
POV MALIK
Aku terbangun di tempat tidur, ternyata rumah sakit, aku tertidur diranjang rumah sakit, rasanya tidurku terlalu panjang, aku harus segera melihat keadaan Seira, wanita yang membuat hidupku begitu bermakna, aku takut dia terluka, hanya itu yang aku takutkan.
Aku menyusuri lorong rumah sakit malam ini, sepi sekali, sangat sepi, aku mempercepat langkah karena aku mendengar langkah yg begitu ramai dibelakangku, mereka tidak pernah membiarkanku tenang sebentar saja, mereka selalu mengincarku untuk menghabisiku, mereka tahu bahwa aku sedang lemah.
Dari Jauh kulihat Hanif berlalu, sepertinya dia dari kamar Seira, kupercepat langkahku untuk menghampirinya.
“Nif, Seira gimana?”
“Udah siuman, tadi gue keruangannya mau nanyain dia butuh sesuatu nggak, tapi dia udah tidur.”
“Gue kesana ya.”
“Malik, jangan, kembali ke kamar ya.” Hanif menarik tanganku.
“Kenapa?” Aku bingung karena Hanif menahan langkahku dan menarik tanganku, Hanif terdiam.
“Kenapa?” Aku mengulang kata-kataku.
“Malik .... ” Hanif menggantung kata-katanya.
“Pram?” Aku menebak dan dibalas anggukan oleh Hanif.
“Aku langsung berlari ke lorong ruang rawat Seira. Tidak, tidak secepat ini!
Begitu aku sampai didepan pintu ruang rawatnya, disana kulihat ada lelaki itu, dia sedang mengelus kepala wanitaku dengan lembut, aku melihat sorot matanya, sorot yang aku berikan juga pada Seira, tatapan seorang pecinta yang telah takluk dihadapan ratunya, ingin rasanya kucabik seluruh tubuhnya dan berkata bahwa Wanita itu milikku, aku terlalu jauh untuk berhenti, aku tahu bahwa dia milikmu yang kuambil dengan paksa, tapi aku sudah terlalu jauh untuk berhenti Pram, dia milikku, wanitaku, dia bukan Ratumu, dia bukan jodohmu!
Aku berusaha masuk, tapi pintu sudah terkunci dari dalam, kulihat seluruh pasukan lelaki itu berjaga di dalam kamar, mereka menatapku dengan mata menyalang, aku tidak takut, demi Tuhan aku tidak takut, aku berusaha membuka pintu dan memasang kuda-kuda, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
“Malik maaf.” Hanif datang tiba-tiba dan meraih tengkuk leherku, aku jatuh dan semua gelap ....
Sulit untukku berhenti sampai disini karena langkahku sudah terlalu jauh, tapi untuk tetap bertahan dengan cintaku pun rasanya terlalu berat, aku melawan jodoh yang sudah tertera dalam adat ratusan tahun.
Aku mencintaimu Seira.
I
I
I
POV PRAM JODOH SEIRA
Dia memasang segel begitu kuat hingga aku kesulitan menemukanmu Ratuku, Ayi Mahogra, sang Ratu Kharisma Jagat, berhentilah berjuang untuk hal yang sia-sia, aku mengelus kepalanya, dia sedang tertidur di kamar perawatan ini.
Dirumah sakit ini aku melihatnya berjuang untuk lelaki lain, Malik mungkin telah banyak berkorban untukmu, tapi penantianku selama ini berumur sama dengan pengorbanannya, aku bahkan telah mencintaimu tanpa melihatmu, telah melalui banyak pertarungan untuk menemukanmu, hingga berhasil mendekat denganmu, tapi Malik menutup jalanmu bertemu denganku sangat rapat.
Walaupun begitu aku tidak menyesal telah membuat perisai perlindungan untukmu dan lelaki itu di meja operasi sebelumnya, karena tanpa perisaiku, mereka akan menguasai tubuh lemahmu, sayangku.
Aku telah sabar menunggu, aku bahkan bisa membantainya hanya dengan satu tepukan, tapi kau akan terluka, kau akan pergi menjauh atau bahkan kau akan membenciku, aku hanya inginkan kau Ratuku, kita memang sudah dijodohkan untuk menikah dan kalau aku beruntung kita bisa saling mencintai.
Kau tidak tahu betapa berat jalanku untuk bisa bertemu denganmu, betapa sakit kakiku melangkah, menginjak banyak jalan berduri untuk sampai padamu, lalu dia membuatmu jatuh dalam perangkap cinta palsunya.
Bangunlah, bersiaplah untuk pernikahan kita sayangku.
Aku mengecup keningnya, kulihat ada sungging senyum yang hangat, apakah kau merasakannya cintaku? Lalu kau mengigau menyebut ....
”Malik .... ”
Baiklah sepertinya, aku sudah selesai dengan kesabaranku, aku akan mengambilmu dengan paksa!
_________________________
Catatan Author :
Cinta itu dirasakan lalu bagaimana cinta yang terasa dalam dikatakan tipuan?
__ADS_1
Aku lebih percaya hariku ketimbang kata-katamu, karena hatiku takkan berbohong.
Aku mencintaimu, Malik.