
Mereka menyiapkan ruangan yang lebih besar dari kamarku, mungkin ini aula yang sering mereka gunakan untuk berkumpul, kurang lebih luasnya sekitar 5 x 10 meter, tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.
Diruangan ini tidak ada apapun, hanya rungan kosong, tidak ada bangku, meja ataupun karpet, alas dari ruangan ini hanya semen yang ratakan dengan baik.
Sudah ada kaca yang dibawa dari kamarku, kaca itu disandarkan pada sebuah kayu yang memiliki kaki sehingga kaca bisa tertopang dengan sempurna.
Aku berdiri menghadap kaca, pintu ruangan ini sudah terkunci dari dalam, di luar ada Mang Nariman, Pram dan seluruh penduduk, mereka memutuskan menjagaku dari luas, sungguh sebuah desa yang teramat baik karena menjagaku walau aku baru saja mereka kenal.
Aku masih memakai kebaya ungu dan kain jarik milik Ayi Kayas, rambutku hanya kukuncir kuda.
“Assalamualaikum Ayi Kayas.” Aku menyapanya dari depan cermin, hening, tak ada jawaban, pantulan kaca masih diriku.
“Aku tahu kau ada di sana, datanglah padaku, mari kita bicara.” Aku membujuknya, tapi masih tidak ada jawaban.
Aku membalikan badan, karena aku ingat tadi saat dia memperlihatkan dirinya padaku adalah saat aku memunggungi cermin, karena ada seorang penduduk mengetuk pintu kamarku, maka kuulangi posisi itu.
Aku melihat kebelakang dengan pantulan kaca dari telepon genggamku.
5 menit kemudian, aku melihat bahwa cermin itu memantulkan seseorang yang membalik badannya, dari posisi memunggungi cermin menjadi menghadap cermin, padahal aku belum berbalik menghadap cermin, ketika wajahnya terlihat dari pantulan layar telepon genggamku, aku tahu itu adalah Ayi Kayas, dia menunjukan dirinya padaku.
Lalu perlahan-lahan bayangan yang ada di cermin itu keluar, pertama tangannya yang terlihat, lalu kakinya, setelah itu seluruh tubuhnya sudah berdiri di belakangku, dia menepuk bahuku, aku berbalik, dia tidak ada, tidak ada siapapun di belakangku, aku melihat sekeliling, Ayi Kayas sudah ada di depan pintu, dia duduk bersimpuh lalu menyanyikan sebuah tembang khas sunda, orang bilang nyinden, aku tidak tahu lagu apa itu, seperti ini dia bernyanyi.
Bul kukus menyan ka manggung
Ka dewi para pohaci
Ka batara sang dewata
Sanghyang dewi pertiwi
Sabuana panca tengah
Ngabakti ka maha suci
Aku memperhatikannya saja, berdiri tegak, aku tidak mengerti kenapa dia harus nyinden disaat seperti ini, tapi satu hal yang kutahu suaranya indah sekali, siapapun yang mendengarnya, mereka pasti langsung terbuai, dia melanjutkan lagi lagunya.
Neda ampun Sampurasun
Ka gusti nu welas asih
Bahala ka duku wiksa
Mugi ulah hiri dengki
Sing sami ngajaring
__ADS_1
Ngajaring hyang pramesti
Setelah selesai nyinden dia bangun, kebayanya sama denganku, begitupun dengan kain jarik yang dia kenakan, tapi rambutnya sungguh rapih di konde dengan tusuk konde dari emas, begitu indah, wajahnya sangat cantik walau tampak pucat, tinggi tubuhnya sama denganku, bahkan posturnya, kami seperti dua orang yang sama kalau dari belakang, karena postur dan sikap kami mirip, yang berbeda hanya wajah kami.
“Rajah Kidung Rahayu, aku sering merapalnya dengan cara nyinden untuk membuat suamiku tenang di malam hari, karena dia kadang tidak dapat tidur dengan baik, sakitnya begitu lama dan menyengsarakan, aku tidak keberatan jika harus selalu merawatnya dengan tanganku, aku mampu meninggalkan semuanya hanya untuk merawatnya, dia sangat menyukai Kidung Rahayu ini, katanya suaraku begitu indah. Bahkan kidung ini aku rapal saat akhirnya harus membunuhnya.” Dia terdiam sejenak, mendekatiku, jarak kami sangat dekat hingga aku harus mundur karena hawa panas langsung menyergap tubuhku begitu dekat dengannya.
“Bagaimana dengan Malik? Apakah dia menyukai Kidung Rahayu juga?” Ayi Kayas berkata dengan sedikit senyum licik.
“Apa maumu?” Aku bertanya, aku tidak ingin Malik masuk kedalam pembahasan kami berdua.
“Memastikan kau menikah dengan Pram, dengan begitu tugasku tunai.” Dia berkata dengan tegas.
“Kau bukan Tuhan, jodohku bukan kau yang memutuskan!” Aku mengeluarkan kujang, aku merasa hawa panasnya semakin tinggi.
“Aku memang bukan Tuhan, tapi aku adalah leluhurmu, bahkan keberkahanmu menurun dariku, aku memilihmu, maka kau harus menuruti perintahku.” Dia mulai mengeluarkan kujang yang sama sepertiku.
Dia menyerangku, menghunuskan kujangnya dari tangan kananya kearah leherku, aku menangkap tangan kanannya dengan tangan kiriku dan menghunuskan kujang yang berada di tangan kananku kearah lehernya, kena! Dia mundur, lalu melakukan gerakan kuda-kuda.
“Kau akan bernasib sepertiku jika memilih Malik, dia lelaki lemah, dia tidak bisa melindungimu dari serangan ‘mereka’ kau akan menjadi petarung sendirian, bahkan kau akan hancur sendirian, anak cucu hanya mimpi bagimu!” dia menyerangku lagi.
Kali ini targetnya adalah wajahku, aku menunduk, didetik yang sama aku menghujam perutnya, kena lagi! Dia mundur.
“Bahkan Malik akan baik-baik saja tanpamu, tapi Pram? Dia akan selamanya menjadi pecundang tapi Ayi Mahogra, apakah kau tega?” Ayi Kayas tidak berhenti mengoceh.
“Diam kau! Wanita bodoh yang sesat!” Aku tertawa, dia heran dan marah.
Aku harus memastikan kepalanya lepas dari tubuhnya dengan kujangku, begitupun diriku, titik kelemahanku adalah leherku. Maka salah satu diantara kami siapa yang mampu melepas leher dari dari tubuh musuhnya maka akan jadi pemenang.
Aku kali ini menyerangnya duluan, mengarahkan pukulan bertubi dengan kujangku, dia melepaskan setiap seranganku dengan dengan serangan balik.
Kami terus bertarung tanpa jeda cukup lama, aku sudah babak belur di wajah dan tubuhku, pantas para Ayi Tirung kalah darinya, aku saja bisa babak belur begini, karena memang musuh sepadannya adalah aku.
Aku diam sejenak karena kelelahan, menghapus darah yang keluar dari sisi kiri mulutku.
Aku berfikir sejenak apa yang bisa membuat musuhku ini kalah telak, haruskah aku minta bantuan mereka yang di luar?
Aku mundur bermaksud mengetuk pintu agar mereka bisa menolongku, karena jujur wanita ini dan aku benar-benar satu sama.
“Mereka sudah tertidur semua, beberapa mungkin pingsan karena mendengarku nyinden tadi. Kenapa? Kau tidak sanggup menghadapiku sendirian? Bagaimana kalau buat perjanjian?” Dia menawarkan hal yang sama sekali tidak masuk akal.
Kami sama, dia memiliki semua yang aku miliki, kekuatanku, keberanianku dan intuisiku, makanya kami dalam kedudukan seri.
Oh ya, aku tahu!
Aku berlari kearahnya mengibaskan karembo beureum ku dan mengaitkan pada lehernya, menarik karembo itu dengan kencang kearah belakang tubuhnya, aku mencekik dia dengan karemboku.
__ADS_1
Aku terus berusaha maju sehingga cekikan karembo semakin kencang, sementara dia menahan cekikan itu dengan kedua tangannya memegang karembo di leher, dia berusaha melepas, aku pun tetap maju sekuat tenaga, aku akan menghabisinya tidak perduli apa yang terjadi, arwah ini harus lenyap, karena setiap yang meninggal ruhnya sudah kembali kepada Tuhannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan di bumi ini.
Tapi Ayi Kayas berbeda, dia ruh pesakitan, tidak diterima bumi maupun langit karena hidupnya diabdikan pada iblis, musuh yang nyata.
Itulah perbedaan kami, dia bukan lagi seorang Ayi Mahogra, tapi dia adalah budak iblis, maka senjataku bukanlah kujang, tapi karembo yang merupakan lambang kemuliaan seorang Ayi Mahogra, aku tidak melihatnya memiliki karembo, karena karembo terasa panas untuk iblis, sedang dia adalah seorang hamba iblis maka karembo lenyap bersamaan dengan lenyapnya kemuliaan seorang Ayi Mahogra pada dirinya.
Aku terus menarik karembo, hingga akhirnya aku melihat dia kesakitan, terbakar karembo dan juga tersiksa karena cekikan.
“Pergilah ke neraka jahanam!” aku menariknya dalam satu tarikan kuat dan seketika, ruh itu ambruk, jatuh bersamaan dengan lenyapnya sebagian tubuh, lalu seluruhnya, diiringi kaca yang pecah, kaca yang menjadi sarangnya, kaca itu pecah berkeping-keping.
Karena suara kaca yang pecah, mereka yang diluar ruangan semua bangun dan mengetuk-ngetuk pintu, lalu tak lama pintu terbuka, Pram masuk paling duluan, aku tersenyum sembari jatuh ke lantai karena terluka parah dan kelelahan.
“Seira! Seira!” Pram menopang tubuhku dan memanggilku, aku hanya merasakan tangannya yang kekar menggendongku dan semua gelap. Bahkan dalam gendonganmu pun aku masih begitu merindukan pria itu.
...
“Pram ... “ Aku memanggil Pram yang sedang duduk di bawah, aku sudah di kamarku, di kediaman Tanah Pejuang ini.
“Quin.” Pram mendekatiku.
“Mana kebaya ungu dan kain jariknya?” Aku bertanya, karena kulihat aku sudah mengenakan pakaian lain.
“Ada, sedang dibersihkan.”
“Bakar Pram, aku tidak mau bajunya menjadi barang pemujaan, karena orang berfikir itu barang sakral, padahal hanya baju biasa.”
“Baiklah, Quin apa kau tau, kau dan dia berkelahi begitu lama, sekitar 2 jam, dan bodohnya kami semua tertidur, bahkan ada yang pingsan dan harus istirahat panjang.”
“Ya aku tahu, aku mencoba memberi tanda pada kalian karena aku butuh bantuan, tapi tidak ada yang mendengar, dia sudah membuat kalian tertidur.” Aku menghela nafas, karena semua sudah lewat.
“Lihat dirimu Quin, kau babak belur, memar dimana-mana, apa kau akan seperti ini terus?” Pram bertanya.
“Aku takkan berhenti sampai menemukan jawabannya Pram.”
“Menikah denganku Quin, mari kita berjuang bersama.” Pram memegang tanganku, bukan lamaran yang romantis.
Aku memegang tangannya ... “Pram ... aku ... “
___________________
Catatan Penulis :
Seira dan Malik adalah dua orang yang saling mencintai tapi tidka mampu bersama, lalu apakah akhirnya mereka bersama?
Next part yang kangen Malik, Malik bakal muncul di part 48 ya, jgn lupa Like, coment trus bantu Authornya dengan vote ya.
__ADS_1
Terima Kasih.