Karuhun

Karuhun
Bagian 42 : Kesepian


__ADS_3

Di ketinggian sekitar 2000an meter gunung butir-butir aku dan Pram berhenti untuk istirahat dan kembali mendirikan tenda, gunung ini memiliki ketinggian 3.868 meter dengan landasan yang cukup terjal karena memang bukan gunung yang menjadi tujuan para pendaki amatir, gunung ini terkenal dengan kemistisannya, sehingga yang mau mendaki gunung ini hanya petapa dan para pengilmu, sedang untuk berwisata, gunung ini bukanlah pilihan, padahal di Kitanajoa gunung hanya satu ini saja.


Sudah 10 hari kami di gunung ini, seperti yang aku katakan bahwa perjalanan menemukan perkampungan pejuang yang ada di puncak gunung ini akan sulit, di ketinggian ini iklimnya sangat dingin, suhu mencapai sekitar 5 derajat celcius, kami sudah menggunakan jaket dan baju berlapis-lapis bahkan aku memakai baju cadangan Pram karena dinginnya begitu menusuk kulit kami. Wajar jika penduduk tidak ada yang bisa sampai puncak karena, dataran yang terjal dan begitu banyak hal mistis yang ada di gunung ini membuat siapapun takut, jangankan naik sampai puncak, mendekat saja mereka sudah gemetaran.


“Quin, minum kopi dulu, aku sudah buatkan untukmu.”


“Pram apakah bajumu membuatmu hangat?” Aku bertanya dengan suara yang gemetar karena menahan dingin.


“Ya cukup hangat, tenang saja.” Dia merapihkan jaketku, yang didalamnya telah kulapisi 3 bajuku ditambah 2 persediaan baju pram, iya aku memakai baju 5 lapis sebelum jaket tebal!


“Pram, jika berdasarkan kompas, kita sudah cukup dekat bukan?”


Kami berbicara berdua di dalam tenda, diluar dingin aku dan Pram menjaga batas hanya saat kami harus berbicara kami akan di dalam tenda berdua. Ya, hatiku masih belum bisa pergi kemana pun walau raga telah jauh darinya.


“Quin, besok pagi jam 6 kita akan beresin tenda dan semua peralatan, kita harus pergi tepat pada jam itu, karena semakin siang udara akan semakin dingin, memang aneh sekali, matahari seolah tidak bisa menembus areal di ketinggian ini.” Pram berkata.


“Baik kita berdua akan tepat waktu.” Setelahnya Pram keluar tenda dan tidur di tendanya.


Malik, aku sedang berada jauh darimu tapi kenapa wangimu, wajahmu dan semua sikapmu tidak pernah berhenti membayangiku, perlahan aku terlelap karena udara yang begitu dingin ini.


“Ser, hei.” Aku membuka mata.


“Indah bukan?” aku mengangguk.


“Nanti setelah kerjaan selesai, kita lanjut jalan ya?”

__ADS_1


“Aku tidak terlalu suka Paris, Malik.”


Square René-Le Gall, taman anak-anak yang disukai oleh Malik. Banyak orang ke Paris pasti akan mengincar menara Eiffel katanya di sanalah tempat ter-romantis sedunia, menurut Malik tempat itu seperti monas, selalu ramai dan biasa saja.


Berbeda dengan taman ini, yang memiliki gazebo dan pepohonan yang tidak terlalu banyak tapi ketenangan dan keasriannya membuat Malik jatuh cinta, kita biasa duduk di luar areal tempat permainan anak-anak, lokasinya tidak terlalu jauh tapi juga masih membuat kita masih bisa mendengar suara anak-anak bermain, kata Malik hal yang paling dia sukai dari taman ini adalah, ketika kau mendengar suara bermain anak-anak dan tetap bisa merasakan ketenangan didalamnya, melihat mereka begitu riang sekaligus tidak terganggu karena tempat duduk yang disediakan begitu strategis, membuat Malik merasa damai memperhatikan mereka. Katanya riangnya mereka mengingatkannya padaku, begitu riang dan penuh tawanya aku dulu.


Bahkan kau mengingat dengan jelas bagaimana aku dulu Malik, kau bilang jika sudah memiliki anak kau begitu ingin pergi ke taman itu mengajaknya bermain di sana, mengenalkannya pada dunia yang begitu indah. Ketika itu aku iseng bertanya, “Memang kau sudah punya calon? Jauh banget mikirin anak.”


Lalu kau menjawab, “Sudah ada sejak dahulu kala, lalu kau melihatku dengan dalam dan tersenyum genit.” Aku yang waktu itu belum tahu siapa yang kau maksud malah ngambek dan berusaha menerka-nerka siapakah wanita yang kau maksud.


Aku melakukan ini semua untuk mewujudkan keinginanmu Malik, walau aku tidak tahu apakah kita berjodoh atau tidak sama sekali. Tapi sungguh hasil akhirnya aku hanya ingin kau bahagia, ada atau tidak aku di dalamnya.


Tidak lama aku terbangun dari mimpi yang indah, mimpi dimana aku dan Malik meeting dengan client di Paris 3 tahun lalu.


Saat bangun aku langsung melihat jam tangan, sudah jam setengah 5, aku buru-buru membuka tenda, seharusnya kami sudah mulai bersiap untuk memulai perjalanan lagi, Pram bilang kita sudah harus mulai jalan jam 6 pagi, tapi aku heran biasanya Pram yang selalu membangunkanku, kenapa sekarang dia belum bangun.


Aku mendekati tenda dan memanggil namanya, “Pram, apa kau sudah bangun?” Tidak ada jawaban.


“Pram!!” Aku agak berteriak karena aku takut dia tidak mendengar, suara angin berhembus mulai kencang.


“Pram! Aku masuk ya.” Aku merasa ada yang salah, makanya aku membuka tendanya dan benar saja, Pram tertidur dengan posisi aneh. Dia seperti jatuh lalu pingsan, karena posisi tidurnya tidak normal, tubuhnya menindi tangan kanannya dalam posisi telungkup tidak sempurna.


“Pram!” Aku berlari dan membetulkan posisi tidurnya menjadi terlentang, panas! Tubuhnya panas sekali, oh tidak! Dia demam, aku merogoh bajunya yang tertutup jaket, memastikan bahwa pakaiannya cukup tebal, dan ketika aku menyentuh bajunya, ternyata dia hanya menggunakan 1 lapis pakaian setelah jaket!


Berarti kemarin dia berbohong, dia memaksaku memakai baju bersihnya karena udara begitu dingin, dia bilang persediaan baju bersihnya masih cukup, tapi ternyata dia bohong, dia pasti kedinginan semalaman dan ketika kan bangun akhirnya dia jatuh karena tidak kuat menopang tubuh demamnya.

__ADS_1


Pram, seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini, kalau sesuatu terjadi padamu aku tidak akan bisa hidup tenang seumur hidupku.


Aku keluar tenda, memanggil Raden dan Jagog.


“Raden naikan Pram ke tubuhmu, kau dan jagog turun sampai ke lembah merah, tempat dimana kita bertemu dengan Partagah, temui dia dan minta pertolongan padanya, kalian harus menjaga Pram dengan baik, pastikan Pram … “ Aku sesak nafas karena ketakutan, aku takut Pram kenapa-kenapa.


“Aku, mohon pada kalian, pastikan kalau Pram akan baik-baik saja, katakan pada Partagah aku berhutang padanya, sebagai perjanjian aku akan membantunya kelak sesuai tuntunan agama, yang penting minta dan mohon pertolongan dia untuk Pram.” Aku menangis.


“Tapi Ayi, kau akan pergi sendirian?” Raden terlihat gusar karena membiarkanku pergi sendiri.”


“Kau lupa? Ada Panglima dan Bagus Heulang, mereka akan menjagaku. Cepat bawa Pram turun, kalau dia menanyakanku dan memaksa naik sebelum benar-benar sembuh, Jagog lakukan apapun untuk mencegahnya, mengerti?”


“Tapi … perintah tuan Pram hanya satu dan perintah itu adalah perintah diatas segalanya, aku tidak bisa langgar.” Jagog menolak, lalu dia melanjutkan perkataannya, “Perintah itu adalah, tidak perduli apapun, lindungi Ayi Mahogra, keselamatan Ayi Mahogra diata segalanya, kalau pilihannya Pram atau Ayi, maka aku harus menolong Ayi tidak perduli apapun, walau Pram mati sekalipun, aku tidak bisa melanggar perintah itu Ayi, dia tuanku.”


Aku melempar karembo hejo dan mengucapkan kalimat penaklukan, “Mulai saat ini kau adalah sekutuku.” Otomatis setelah aku mengatakan itu, Jagog adalah milikku dan milik Pram, maka tuannya aku dan Pram, aku akan membatalkan perintah pertamanya.


“Kau karuhunku, maka ikutilah perintahku, lindungi Pram dengan seluruh jiwamu, diatas perlindunganmu padaku.” Lalu jagog menunduk sebagai tanda dia akan memenuhi perintahku.


Kulihat Pram diatas tubuh Raden yang berlari dengan keempat kakinya, Pram dalam posisi tertelungkup, sementara Jagog di belakangnya mengikuti.


Sekarang, mulai detik ini aku akan melanjutkan perjalanan sendirian, takua? Sangat, tapi aku sudah saampai sejauh ini, aku bersama Tuhan karena Tuhan tahu apa yang kuperjuangkan adalah kebaikan bagi umat manusia, terutama bagi kharisma jagat dan seluruh keturunannya.


Aku akan terus berjalan sampai bertemu Perkampungan pejuang itu aku akan menepati janjiku.


____________________

__ADS_1


Catatan Penulis :


Cinta yang aku miliki memang besar, tapi cintamu padanya jauh lebih besar, entahlah bertahan saja membuatku sesak nafas, apalagi tetap bersamamu yang memegang erat cinta lelaki lain. (Pram).


__ADS_2