
“Apa kau akan baik-baik saja jika aku melakukannya?’ Aku bertanya pada Nyai Jasmine.
“Aku telah memilih ikut bersamamu, maka keputusanmu selama tidak menentang hukum Tuhanku, aku akan turuti.”
“Kau memiliki hati, aku menghargai dan menghormati itu, makanya aku bertanya, jika aku tidak mampu melindungi semua, maka kita berdua akan menanggung rasa sesal yang dalam.”
“Tidak ada peperangan tanpa pengorbanan Ayi, semua yang ikut hadir dalam peperangan tau resiko itu, lalu kenapa kau ragu?”
“Karena dia seseorang yang jaga hatinya di hatimu, lalu menjadi Panglima adalah hal paling buruk sebagai jalan perpisahan.” Aku berkata dengan nada cukup tinggi.
“Lalu bagaimana denganmu? Malik cintamu ikut dalam peperangan, kau cintanya Malik juga ikut dalam peperangan, jika kau katakan bahwa peperangan adalah hal terburuk dalam memilih jalan perpisahan, maka apa yang kau dan Malik yakini dalam peperangan ini?” Seperti biasa, kakak ghaibku ini tidak pernah bisa kukalahkan dalam berperang kata, tentu saja, umurnya sudah ratusan tahun.
“Kami yang merancang peperangan ini, kami siap dengan kemungkinan terburuk, karena kami tahu bahwa jika kami menang maka kami mampu mengubah sejarah, sedang jika kami salah, paling tidak akan ada catatan sejarah bahwa kami berjuang untuk anak cucu kami.” Aku mencoba memberinya alasan.
“Maka itu yang kami inginkan Ayi, setidaknya dalam sejarah nama kami terukir indah, kami mencintai dalam diam, kalau harus gugur di medan perang, maka kami adalah sepasang kekasih hati yang ikhlas dan mulia, kami tidak ingin dikena karena kebodohan dari adat istiadat yang salah, adat istiadat yang dulu Raja Bapati lakukan karena cintanya padaku.”
“Lalu kenapa tadi kau setuju untuk menolaknya menjadi Panglima?” Aku sedikit kecewa dia tidak berada di belakangku untuk menolak Raja Bapati menjadi Panglima, dia gampang sekali berubah, bahkan tidak ada satu orang pun yang berada di belakangku saat ini, termasuk Malik dan baru kali ini Panglima dan Malik sepaham.
“Karena tadi egoku memimpin, sekarang logikaku sudah kembali, apa yang Raja Bapati katakan benar, kita kalah jumlah dan hanya pada stategilah kita bisa berpegang Ayi. Aku mohon pertimbangkan baik-baik, Raja Bapati tidak sedang bergurau atau hendak membusungkan dada, dia adalah Panglima Perang yang bisa membantumu membawa kemenangan, percayalah, serahkan semua yang kau miliki, karena tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan yang besar, kau telah memegang begitu bayak loyalitas dari para Kharisma Jagat buangan yang memilliki kemampuan jauh di atas kelasnya, loyalitas dari pada Jin yang berilmu tinggi dan loyalitas dari Karuhun-Karuhun milikmu sendiri, maka dengan begitu banyaknya kepercayaan, seharusnya tidak ada ruang untuk ragu dan setengah-setengah dalam bersikap, kau telah menyerahkan semua hal yang kau miliki, maka lakukan semua yang kau mampu, menang atau kalah, Tuhan lah yang menjadi penentu.” Nyai meninggalkanku di kamar sendirian.
Kami masih di rumah yang disediakan di Hutan Selatan ini, wilayah milik Raja Bapati, aku bingung, jujur aku takut resiko mengangkat Raja Bapati menjadi Panglima Perang, Panglima adalah pemimpin perang yang semua strategi berasal darinya, komando peperangan dan angkah yang tepat berada di tangannya, karena itu dia berada di garda terdepan.
Aku percaya Raja Bapati adalah orang yang mahir, tapi aku takut karena posisinya yang paling depan membuatnya menjadi sasarang empuk untuk dihabisi duluan atau malah menjadi incaran, mengingat bahwa dia dan keluarganya adalah musuh lama dari musuhku, sehingga mengincar Raja Bapati adalah suatu hal yang gampang di tebak.
Jika fokusnya adalah membunuhnya, maka mereka pasti dapatkan, karena kami salah jumlah, sedikit saja rencana ini meleset, Raja Bapati pasti dihabisi dengan mudah, lalu bagaimana aku mempertanggung jawabkan semuanya? Bagaimana dengan rakyatnya yang berjumlah ribuan, bagaimana dengan keluarganya, lalu ketika akhirnya kami semua gugur, siapa lagi yang mau untuk memperjuangkan apa yang kami mulai? Terlalu beresiko jika kami setuju menjadikannya Panglima Perang.
“Ser.” Malik mengetuk pintu kamarku, aku sedang duduk di pinggir tempat tidur.
“Ya.” Aku tidak menatapnya, jujur masih agak marah karena dia tidak mendukungku.
“Aku masuk ya.” Malik bertanya, aku mengangguk.
__ADS_1
Dia lalu duduk disebelahku, dia merangkul bahuku dan menariknya, dia menarik tubuhku agar bisa berada dalam dekapannya.
Aku benci moment ini, dia selalu bisa membuatku mengakhiri marahku dengan cepat.
“Bukan berarti kau tidak marah lagi ya, aku mau dipeluk karena aku memang butuh energi untuk berdebat denganmu, semacam charging lah.” Malik tertawa.
“Aku masih bisa melihat Seiraku ada disana.” Malik berkata.
“Apa kau fikir aku berubah begitu jauh, hingga sulit melihat diriku yang dulu disini?” Aku menunjuk hatiku.
“Tidak, kau tidak pernah berubah, dari dulu aku mengenalmu, anak kecil gila yang mendatangi pohon besar, lalu berteriak-teriak minta penghuninya keluar. Orang yang lewat menyangka kau gila, sedang aku yang memiliki mata ketiga bisa tahu, bahwa genderuwo sedang bersembunyi darimu, bahkan waktu itu umurmu baru 13 tahun, kau menunjuk-nunjuk genderuwo itu dengan marah, karena membuat anak-anak kecil yang tinggal sekitaran pohon itu sawan, kau membuat genderuwo itu bersembunyi di pohon dengan tubuh besarnya, aku terbahak-bahak melihatnya. Kau adalah Seira tangguh yang aku kenal, aku tidak pernah meragukanmu sedikit pun, bahkan saat kau katakan ingin menikah dengan Aqan Asta, aku tahu kau terdestruksi, kau teralihkan dengan hal yang kau tidak tahu, lalu setelahnya kau bilang akan menikahi Pram, aku masih tidak bisa melepasmu, dan disinilah aku sekarang, karena keyakinan yang kuat terhadapmu, ketangguhanmu, keyakinanmu dan intuisimu.”
“Tapi aku tidak ingin membuat kerusakan yang besar untuk rakyak kerajaan ini.” Aku masih tidak sanggunp membayangkan jika rakyat di kerajaan ini kehilangan Rajanya karena pertempuran pribadiku.
“Bayangkan jika kita menang, maka rakyak Kerajaan Hutan Selatan akan menjadi saksi hidup serta perpanjangan kisah tentang bagaimana kita berjuang bersama untuk kebebasan hidup anak cucu kita, kemerdekaan yang akan raih untuk masa depan anak cucu rakyat kerajaan ini Ser. Bayangkan jika kita menang, maka Raja Bapati dan Nyai akan bersatu, maka terhapuslah semua nestapa yang diciptakan oleh Raja terdahulu atas cinta terlaran Nyai dan Raja Bapati, kemana Seiraku yang dulu, yang bahkan mampu pergi dariku memperjuangkan ini sendirian, bukankah kau meminta sekutu makanya datang ke kerajaan ini, lalu kenapa sekarang kau ragu, Ser?” Malik masih memelukku.
“Aku memang minta sekutu, aku minta pasukan, bukan Rajanya!”
Malik tidak pernah salah dalam memberi nasehat, pun saat dia setuju menyegelku, karena segel itu aku hidup bahagia dan normal seperti remaja pada umumnya, hidup dengan penuh dinamika kehidupan yang normal, hidup dengan baik dan aman karena Malik, hidup dengan baik karena Malik tidak pernah melepasku, karena semua pengorbanannya aku merasa utuh dan sempurna.
Oh, utuh dan sempurna ....
“Malik, aku mengerti sekarang, panggil semua orang dan juga Raja Bapati, mari kita bicarakan strategi peperangan ini, aku sudah siap.
....
Semua sudah berkumpul di tempat stategi perang, seperti biasa kami mengelilingi peta digital dengan tekhnologi 5 dimensi dalam menyusun strategi perang.
Ada Aku, Nyai, Raja Bapati, Malik, Panglima, Raden dan seluruh Karuhunku yang lain.
“Aku mengumpulkan kalian semua di sini untuk mengumumkan bahwa ... Raja Bapati akan menjadi Panglima Perang kita.”
__ADS_1
Semua orang terlihat tersenyum dan lega, termasuk Raja Bapati, Nyai Jasmine hanya tersenyum tipis.
“Apa yang membuatmu akhirnya setuju Ayi?” Raja Bapati bertanya.
“Aku ingin berperang dengan utuh dan sempurna.” Aku tersenyum dan menunjuk pada peta digital besar yang mereka sudah siapkan.
“Apa yang kau maksud dengan perang utuh dan sempurna?” Malik bertanya.
Aku tersenyum dan menjawab. “Utuh karena ada aku dan sempurna karena Raja Bapati, maka mari kita mulai strateginya.”
Aku menggeser wilayah perang, kearah pantai yang berada di pulau Jawa.
Aku siap Tuhan, aku siap memperjuangkan semua yang aku miliki dengan perang yang utuh dan sempurna ini.
Ridhoi aku Tuhan.
____________________________________
Catatan Penulis :
Penulis adalah manusia, seperti kamu, dia, mereka dan kalian, kalau kamu bisa down, mereka bisa marah, dia bisa tersinggung dan kalian bisa malas, kami juga bisa.
Membuat satu alur ini harus mengetik sepanjang 1.321 kata diiringi dengan merangsang otak agar mau mengeluarkan ide baru, yang kadang datang atau malah nggak sama sekali, titik jenuh, malas dan putus asa selalu hadir, maka dukungan dari kalian sebagai pembaca menjadi bahan bakar bagi kami, tapi jujur Hate Speech ga akan main sama saya, saya tersinggung = block.
Ih Author sombong amat, tulisan murah aja sok, agar kamu tahu penulis sok ini membuat Karuhun terkadang mengorbankan waktu istirahat dari bekerja dan mengurus rumah tangga, untuk apa? Uang? Berapa sih uang yang di dapat dari Noveltoon? Miris kalau kalian tahu, buat beli 1 pcs popok anak saya aja nggak nggak cukup, serius!
Mohon maaf saya nulis untuk bersenang-senang bukan untuk uang, jadi saya harap kalian juga bersenang-senang.
Terima Kasih untuk orang-orang yang selalu mengatakan hal baik untuk mendukung saya, saya sangat hargai, dan karena kalian lah saya masih melanjutkan novel ini.
Terima Kasih.
__ADS_1