Karuhun

Karuhun
Bagian 29 : Cinta Kami


__ADS_3

Dokter Adi segera datang, dia tergesa-gesa, masuk ke kamar Malik dengan kasar, karuhunnya juga ikut, kulihat Dokter Adi segera menghampiri Malik, aku dan Pak Hanif disuruh keluar.


“Apa Malik akan baik-baik saja Pak?” Aku bertanya pada Pak Hanif, saat kami sudah di luar kamar.


“Dia akan baik-baik saja, Adikku itu orang yang paling tangguh yang pernah aku kenal.”


“Aku takut, takut sekali dia kenapa-kenapa.”


“Seperti itulah Malik kemarin, makanya dia sangat protektif padamu, karena dia begitu takut kehilanganmu.” Pak Hanif mengingatkanku betapa aku telah banyak salah pada Malik.


“Sudah ada dokter Adi, ke Dapur aja yuk, sekalian aku lanjutin janjiku,” Pak Hanif membawaku ke dapur rumah ini, saat kesana kulihat ada seorang anak kecil yang berbaju putih sedang duduk dipojokan, aku melihatnya dia juga melihatku, dia langsung berlari kepadaku dan memelukku.


“Wah siapa ini?” Aku memeluknya balik, saat dia menghadapku, kulihat lidahnya menjulur seperti ular dan matanya putih semua.


“Itu anaknya Jin penjaga tanah ini, dulu sebelum dibangun tanah ini dihuni Jin sekeluarga, itu yang didepan kamu lihat ada penjaga, itu ayahnya, anak ini suka main kesini, tapi hati-hati ya, dia kalau suka sama seseorang, suka langsung nemplok.” Pak Hanif memperingatkan.


“Kamu suka sama aku? Aku menggendong dia di punggungku, kalau mau nemplok boleh, tapi jangan lama-lama ya, nanti tante encok.” dia tertawa.


Dirumah ini memang banyak sekali makhluk halus, aku terbiasa dengan mereka, wujud terburukpun sudah aku lihat dan aku baik-baik saja, prinsipnya kita tidak mengganggu merekapun tidak punya alasan mengganggu, seperti anak ini yang sedang ku gendong, kalau dia nemplok di tubuh orang lain, pasti orang itu sakit hal ini lebih dikenal dengan kata sawan, hal ini bisa dihindari seandainya kita lebih mawas diri dan dekat pada Sang Pencipta, memohon perlindungan-NYA, karena sebaik-baiknya pelindung adalah Allah Subhanahu wata’ala.


Kulepaskan Jin cilik ini untuk bermain, aku dan Pak Hanif duduk di mini bar yang ada di dapur bersih Malik.


“Aku akan meneruskan ceritanya ya, jadi saat dia sampai dan menghempaskan Aqan Asta dari tubuhmu, dia memastikan Adinda menidurkanmu dan membawamu ke Rumah Sakit, lalu Malik menghajar Habis-habisan Aqan Asta, tentu saja Ni Tegrek dan Iblis Ganas itu menolong Aqan Asta. Karuhunnya Aqan Asta pun sama, dia menolong Aqan Asta, Malik fokus pada Iblis Ganas dan karuhun Aqan Asta terlebih dahulu, sementara aku dan Aam menghajar Ni Tegrek. Sekilas kulihat Aqan Asta saat itu sudah babak belur dan pingsan karena sabetan Malik.” Pertarungan mereka cukup berat ternyata, Pak Hanif masih bercerita tentang hari dimana aku hampir diperkosa oleh Aqan Asta, kakak dari teman kuliahku Bayu Asta.


“Kami bertarung dan salahku, salahku karena tidak memperhatikan Malik dan lupa, jika itu tentangmu Malik tidak pernah setengah-setengah, pertama Malik berhasil membunuh jin ganas itu dengan pedang pusakanya, lalu dia menghajar karuhun Aqan Asta. Aku dan Aam kesulitan menghabisi Ni Tegrek, karena memang Ni Tegrek sangat kuat, aku mencoba tetap memperhatikan adikku Malik, kulihat Malik masih  menghajar karuhun Aqan Asta waktu itu, akupun tidak bisa berhenti karena Aam kewalahan, biarpun Ni Tegrek sudah tidak memiliki anak tapi dia sangatlah kuat, sampai suatu ketika kudengar teriakan memilukan karena kesakitan, detik yang sama  juga aku dan Aam berhasil menggorok leher  Ni Tegrek dan menghujam jantungnya.” Pak Hanif menunduk seperti sulit mengingat saat itu.


“Karena kaget dengan teriakan itu kami menoleh dan melihat Malik membunuh karuhun milik Aqan Asta, dia tanpa ragu menghujam jantung karuhunnya, Aqan Asta ternyata bangun dan melihat kejadian itu, Aqan Asta menangis sejadi-jadinya, aku fikir Malik akan berhenti sampai disitu, ternyata aku salah, dia memegang kepala Aqan Asta merapal kata-kata yang aku sendiri tidak kuasai dan menggorok lehernya Aqan Asta, belakanan aku baru tahu bahwa dia merapal ajian penghapus jejak karuhun.”


“Apa? Dia menggorok leher Aqan Asta?” Aku terkejut, bukankah kami semua melihat Aqan Asta di Gunung itu?


“Pedang pusaka itu, sama seperti pukulan Malik, dia akan tajam untuk mereka yang ghaib dan akan tumpul untuk manusia. Dia menggorok leher Aqan Asta dengan pedang pusaka dan menghapus jejak Karuhunnya agar kelak jika Aqan Asta memiliki keturunan maka semua keturunannya tidak akan pernah menjadi kharisma jagat, karena jejak dan jalannya Karuhun untuk menemukan Anak Cucu Aqan Asta sudah di hapus Malik. Karuhun dari Garis keturunan Aqan Asta akan menjadi buta tidak dapat melihat, mencium dan menggapai anak  cucu keturunan Aqan Asta, hal ini bagi seorang kharisma jagat adalah seperti memotong kaki dan tangannya, dia akan sangat malu karena sudah tidak menjadi kharisma jagat sang pewaris karuhun pilihan.”


Pak Hanif meneguk Kopinya, sementara Dokter Adi menghampiri kami.


“Malik sudah stabil, aku akan kembali ke rumah sakit, tadi aku meninggalkan pasienku, tolong pastikan tidak ada yang mendekati gedung ini, aku akan suruh penjaga berkeliling, tadi ada yang mengincar, tubuh Malik otomatis bereaksi saat ada yang mendekati gedung ini, makanya tadi keadaannya tidak stabil, semua tanda-tanda organnya baik-baik saja.


Lalu Dokter Adi pergi lagi ke rumah sakit, kulihat Pak Hanif berbicara dengan beberapa makhluk ghaib untuk berkeliling, melihat keadaan sekitar.


“Tadi mungkin ada Karuhun yang mengincarmu, maklum berita tentangmu sudah tersebar kemana-mana, tapi Malik tidak perlu khawatir, kamu sudah tidak tersegel, tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu.”

__ADS_1


“Tidak, aku ingin Malik Khawatir, aku ingin dia bangun dan khawatir mengenai keadaanku.” Aku mulai menangis lagi, “Jadi karena dia membunuh Karuhun Aqan Asta dan menghapus jejak Karuhunnya makanya para Tetua mengambil jiwanya?”


“Ya, begitu Malik melakukan itu semua, aku tahu ini fatal sekali, aku langsung menyuruh Malik pergi sejauh mungkin setidaknya sampai para Tetua bisa ku tenangkan, tapi Malik kekeh untuk ke rumah sakit melihat keadaanmu terlebih dahulu. Lalu disanalah, dirumah sakit itu, terjadi pertempuran yang sengit antara Malik dan 3 tetua garis Aqan Asta, Malik bertarung siang dan malam, dari satu lokasi ke lokasi yang lain, Malik pergi setelah memastikan kau baik-baik saja, tapi itu membuatnya telat pergi dari Zona 3 orang tetua itu, karena setiap Tetua memiliki zonanya masing-masing.”


“Zona karuhunku dan Malik berada di Luar Pulau, Malik harusnya pergi kesana untuk bersembunyi, dia terus berlari kabur dari Para Tetua, tapi lagi-lagi para tetua selalu menemukannya dan menghajar Malik, Malik dihukum bahkan tanpa persidangan, sementara  tetua garis Kami tidak mampu menjangkau Malik karena dia berada di Zona Aqan Asta, fatal sekali, Malik dihajar oleh tetua, karuhun tetua dan pasukannya, Malik tidak patah semangat, waktu itu dia bahkan bisa mencapai pelabuhan untuk pergi ke lokasi tetua garis kami, untuk meminta perlindungan setelah sekitar tiga minggu bersembunyi dan bertarung tanpa henti, dia memilih pergi ke pelabuhan karena kalau pakai pesawat, akan bahaya, dia bisa membuat pesawat jatuh karena ulah para karuhun tetua dan akan banyak korban, makanya dia memilih Pelabuhan, tepat di pelabuhan Malik bilang dia baik-baik saja, dia menghubungiku dan Malik bilang aku harus menjagamu, memastikan kau akan makan dengan baik, setelah dia sampai di Zona kami, dia akan mengabariku, makanya saat itu aku bilang padamu, tunggu seminggu lagi, Malik akan kembali, karena kami berdua cukup optimis Malik akan selamat.”


“Tapi keyakinanku dan Adinda ternyata salah, dua hari kemudian, tubuh Malik diketemukan di pinggir Pantai, dia masih hidup tapi Koma, beruntung salah satu Pasukan Malik berhasil kabur dan mengabari kami, aku langsung membawa Malik ke sini, aku memeriksa semuanya, aku tidak mengerti kenapa Malik koma, sampai akhirnya Karuhun Dokter Adi memberitahu bahwa tubuh Malik kosong, jiwanya sudah ditawan.”


“Aku meminta bantuan Mbaknya Malik untuk menerawang, perkiraan dimana jiwa Malik saat itu, dan Mbaknya Malik melihat Malik di Gunung itu, sedang disiksa tanpa ampun, Mbaknya Malik bilang bahwa Malik hanya akan bertahan beberapa hari dan disaat itulah aku menghubungimu untuk bertemu Malik, kejadian setelahnya kamu tau sendirikan.” Pak Hanif menerawang jauh, mengingat bagaimana kami bertarung dan kembali mengungkit Adinda, ada raut sedih disana.


“Kenapa para Tetua tidak mengadili Aqan Asta yang berusaha memperkosaku? Kenapa Malik yang dihajar, bahkan dia bersembunyi dan bertarung sampai berminggu-minggu, dia pasti kelelahan, makanya tubuhnya kurus sekali.” Aku mengusap air mataku.


BUMMM BRAK!!!


Kudengar dari luar begitu berisik, Pak Hanif langsung lari ke arah pintu utama, akupun mengikutinya, Pak Hanif mengintip dari jendela, karena dari jendela yang cukup tinggi ini kami bisa melihat ke jalan diluar gerbang.


“Mereka menemukan kita!”


....


Rumah ini sangat besar, dibanding yang lain yang memiliki pencahayaan dan taman, Rumah ini mirip seperti benteng, pagar betonnya tinggi sekali, begitu masuk gerbang, kita akan langsung melihat garasi yang terparkir beberapa mobil, lalu di sebelah kanan langsung ada tangga  batu kali yang cukup tinggi,  setelah naik tangga kita akan menemukan halaman rumput yang cukup luas, diatas sinilah terletak pintu masuk utama rumah ini, Interior rumah ini sangat mewah khas Malik, tapi warnanya seragam semua berwarna abu-abu, tembok, furniture, yang beda hanya jika ada hiasan dari kayu pasti warnanya coklat, setelah masuk rumah ini kita akan langsung masuk keruang tamu, lalu ada ruang keluarga, ke dalam lagi ada dapur bersih dilengkapi dengan mini bar, masuk kedalam lagi ada kamar utama Malik, tidak ada pintu tembusan di rumah ini karena Malik memang menata Rumah ini sedemikian rupa sehingga jalan masuk dan keluar hanya satu pintu, rumah ini terlihat sangat mistis dan menakutkan bagi orang awam, tapi ini adalah Istana milik Pangeranku, aku takkan biarkan siapapun menghancurkan istananya.


“Ser buat Dunia Kamuflase, seperti Ni Tegrek, sembunyikan Malik disana, jangan sampai para Tetua menangkapnya.” Pak Hanif tidak sadar menggenggam tanganku dengan kencang, aku tahu bahwa ini adalah ketulusan seorang Kakak pada Adiknya.


“Pak, kamu lupa siapa aku?” Aku berbicara tanpa menoleh dan membuka pintu rumah Malik, aku berlari keluar gerbang, menghadapi para Tetua yang jumlahnya 3 orang, Pak Hanif memanggil-manggilku dan ikut keluar, dia seperti kaget, begitu berhadapan, mereka bermaksud menyerangku, sepertinya mereka tidak sadar siapa aku.


“Apakah kalian tidak punya Adab sehingga tidak tahu caranya memberi hormat padaku?”


Kulihat ekspresi mereka kaget, karena yang ternyata keluar adalah aku, Ayi Mahogra, Ratunya para Kharisma Jagat dan semua Tetua adalah Kharisma Jagat.


“Kami tidak datang bertujuan untuk bersilaturahmi dengan Ayi, urusan kami dengan pemuda pemilik rumah ini.” Salah satu dari mereka berbicara, sepertinya mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Aqan Asta dan terbodohi, lagi.


“Kalau urusannya dengan Malik, maka selalu berurusan denganku, karena dia sekutuku!” Aku berteriak dan bersiap memegang Karemboku karena para Tetua tidak menurunkan senjata mereka.


“Dia bukan Kharisma Jagat dan juga tidak memiliki Karuhun, lalu bagaimana dia menjadi sekutumu?”


“Kalian tidak malu bertanya?” Para Tetua tetap menatapku dengan mata menyalang karena aku membela Malik, “Kalian menyebut diri kalian Tetua, kalian seharusnya menjadi pelindungku, tapi kemana kalian saat Cucu kalian akan memperkosaku!”


“Ayi, Ayi hanya salah paham!” lagi-lagi mereka menyangkal.

__ADS_1


“Memangnya apa yang Cucumu  ceritakan, apa dia bilang sedang bercanda denganku sementara bajuku dia robek dan sebagian tubuhku terlihat! Atau dia bilang sedang ngobrol denganku padahal dia bersekutu dengan Ni Tegrek orang yang berhasil Malik habisi sementara kalian yang sudah mencarinya bertahun-tahun tidak mampu melakukannya! Atau cucumu bilang sedang bersamaku, sementara Iblis Ganas yang mengincar tubuh lemahku pun Cucumu jadikan sekutu untuk menumpang!”


Mereka terlihat kaget dengan penjelasanku, Karembo Hejo masih kupegang dengan kencang.


“Kalian tidak malu, bahwa kalian bahkan tidak mengetahui kehadiranku karena disegel? Apakah salah satu diantara jumlah kalian yang banyak itu, yang kalian menyebut diri sebagai Tetua, orang yang dipercaya menjaga semua keberkahan ini, tidak ada satupun yang mampu mendeteksi keberadaanku? Apakah kalian tidak malu karena kelalaian kalian Ayi Mahogra Kalian hampir celaka berkali-kali, lalu siapa yang menjaga Ayi yang harusnya kalian jaga! Malik menjagaku siang dan malam dalam keadaanku masih tersegel, kalian berani mendatangi rumah yang Malik bangun untuk menghimpun pasukanku! Sementara Malik melakukan itu semua, kalian hanya diam tidak melakukan apapun untukku, bukankah aku ratu kalian!” Aku menyabet Karembo Hejoku dan membuat percikan Api dijalan mereka.


“Kalau kalian masih bersikeras akan menghukum Malik, aku akan menuntut pengadilan seluruh Tetua dan aku akan memastikan Aqan Asta akan jauh lebih menderita dibanding Malik!”


“Apa yang Ayi katakan adalah 1 hal dan itu berbeda dengan apa yang dilakukan Malik, dia membunuh Karuhun dan juga menghapus jejak kaki Karuhun, sehingga anak cucu Aqan Asta akan buta dan tuli soal Karuhun, mereka tidak akan bisa menjadi penerus Kharisma Jagat.” Mereka masih bersikeras.


“Baiklah sepertinya kalian memang tidak bisa diajak berdiskusi, seperti kalian menghukum Malik tanpa pengadilan, aku juga akan menghukum kalian yang merupakan Kakek dari laki-laki yang akan merenggut kehormatanku, tanpa pengadilan.” Aku mengeluarkan Kujangku dan berlari kearah mereka, aku bersiap menyerang orang tua tak punya otak ini.


Kulihat mereka hanya memasang kuda-kuda, mereka menciptakan sebuah perisai agar Kujangku tidak mengenai mereka, tapi aku berhasil merobek perisai transparan mereka, tepat sebelum Kujangku mengenai leher salah satu dari Tetua ini, mereka mundur.


“Ayi, Kami harap Ayi mampu melihat mana yang baik dan benar dengan penglihatan seorang Mahogra, sepertinya Ayi saat ini belum cukup dewasa dalam melihat masalah.”


“Bukankah aku terlahir dengan keberkahan Intuisi yang kuat? Apakah kalian meragukan asal usulku?”


“Mereka menunduk dan hilang dalam sekejap, membawa seluruh Karuhun mereka.”


Aku terjatuh, Aku takut, sungguh Aku takut sebenarnya melawan mereka, Karuhun mereka yang sangat besar, aku takut Panglima dan Raden celaka makanya aku menyembunyikan mereka, aku juga takut bahwa mereka akan menghabisi Malik dan membantah seluruh perkataanku, tapi setelah semua diskusi ini, aku pastikan Malik akan baik-baik saja.


Untukku saat ini yang terpenting adalah Malik baik-baik saja.


I


I


I


POV Jodoh Ayi Mahogra.


Dari jauh aku melihatmu Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, kau sangat cantik dan terampil, kekuatan kata-katamu membuatku terbuai, wanita cerdas yang katanya adalah jodohku, aku tidak akan menemuimu saat ini, kau sedang mabuk kepayang dengan pria itu, setelah kau ternetralisir kau akan menyadari, aku akan pelan-pelan, wahai calon permaisuriku, rajamu ini telah begitu lama memperhatikanmu.


_______________


Catatan Penulis :


Cinta kami memang tidak selalu benar dan bersih, cinta kami tidak selalu manis dan indah, cinta kami tidak selalu tertawa dan tersenyum,  cinta kami adalah milik kami, maka walau pedih ijinkan cinta kami selalu tumbuh walau di terpa angin adn badaim kami tetap melindungi cinta kami,

__ADS_1


________________


Setelah part ini aku akan buat POINT of VIEW yang berbeda-beda ya, nanti akan ada dilihat dari sisi Malik, dilihat dari sisi Pak Hanif, dilihat dari sisi tokoh baru yang akan menjadi tokoh favorit kalian, jangan lupa like dan coment ya.


__ADS_2