
Pram sudah dimakamkan di perkuburan keluarganya, kami sering berkunjung kerumah Pram, Ayah dan Ibu Pram menerima Malik sebagai anak angkatnya, Malik sering datang mengunjungi mereka, itu adalah caranya meringankan rasa bersalah di hatinya, dia sekarang punya 4 orangtua dan aku punya 4 mertua.
“Sayang, belum tidur?” Malik pulang, dia dari rumah keluarga Pram.
“Belum sayang, sedang menulis buku.”
“Buku apa?”
“Ini.” Aku menunjukan judulnya.
“Karuhun?” Malik bertanya.
“Ya.”
“Kau akan menceritakan tentang Panglima dan Raden?”
“Tidak, aku akan menceritakan tentang kisah cinta kita.”
“Hah? Kamu mau jadi penulis drama?”
“Mungkin.”
Kami tertawa bersama, lalu tidak lama ada suara telepon, pasti dari lobby bawah, ada tamu siapa ya? Tamu harus melapor dulu di lobby tidak bisa langsung masuk ke unit Apartemen yang dia tuju.
[Ya, ada apa?] Aku bertanya dari telepon rumah.
[Bu Seira, ada tamu, katanya mau bicara dengan Pak Malik.]
[Baik, berikan teleponnya.]
[Selamat malam bisa bicara dengan Pak Malik?] Orang itu bertanya.
[Boleh saya tahu ini siapa?]
[Saya dari Kepolisian, kami membawa surat penangkapan untuk Pak Malik atas tuduhan pembunuhan.]
[Baiklah, suami saya akan turun dan bapak bisa membawanya.]
Malik ada di depan pintu kamar kami.
“Sudah waktunya kita hadapi ini sayang, ayo kita turun dan mempertanggung jawabkan kematian itu bersama.” Malik mengangguk dan kami pun turun menemui polisi, Malik tidak diborgol karena dia kooperatif, sementara di luar gerbang semua Jin berkumpul mengikuti mobil polisi.
“Pak kok berasa dingin banget ya mobilnya, kok saya jadi merinding nih?” Seorang polisi berkata.
Bagaimana tidak dingin, mereka tidak tahu betapa ramainya di sekeliling mobil mereka.
“Kita akan melaluinya bersama Malik.” Aku menggenggam tangannya, Malik tersenyum dan menggenggam kembali tanganku dengan erat.
Kami melaju ke kantor polisi, sampai sana tentu saja Kantor Polisi yang sepi ini berubah menjadi ramai, ramai oleh para pasukanku, aku memang sengaja melepas mereka, hanya untuk berjaga-jaga, walau perang telah kami menangkan, kami harus tetap waspada.
Malik mengakui semua perbuatannya, lalu dia ditahan, kami sudah mempersiapkan segalanya, aku menyewa pengacara termahal di negeri ini dengan track record yang luar biasa bagus, tim kami terdiri dari 20 tenaga ahli, hari ini kami meeting untuk membahas bagaimana menyelamatkan Malik dari tuntutan hukum.
“Baik Bu, ceritakan pada kami semua yang terjadi, jangan ada satu pun yang terlewati, karena dengan begitu kita bisa mencari jalan keluar.” Pemimpin tim berbicara, kami di ruang meeting kantor Malik, ya kantor ini memang masih berjalan dengan baik walau sempat kami tinggal, Seina menjaga kantor ini dengan sangat baik, adikku yang sangat cerdas dan hangat itu memang bisa diandalkan.
“Bagaimana ya Pak, saya sih mau aja cerita semuanya, tapi kalian harus siap mental.” Aku memperingatkan, aku tahu kami harus terbuka pada pengacara kami agar mereka bisa memberi jalan keluar.
“Kami sudah menghadapi kasus terberat apapun, kami bahkan bisa membuat koruptor terbebas dengan mudahnya.” Dia belum tahu apa yang akan dia hadapi, tapi baiklah akan aku utarakan semuanya.
Aku dan Pak Hanif menceritakan semua yang terjadi, di mulai dari apa yang aku perjuangkan, siapa aku dan terakhir perang itu, lalu bagaimana Pram terbunuh hingga Malik akhirnya tersulut emosi dan secara membabi buta menyerang pembunuh Pram.
Setelah kami selesai cerita, ke dua puluh orang tim pengacara kami tertawa. Mereka merasa kami telah berbohong dan mengarang cerita, baiklah mereka butuh bukti.
“Sudah ku bilang siapkan mental ya Pak, Panglima, Raden, Bagus Heulang, keluar.” Aku memanggil mereka, orang itu diam saja menunggu yang terjadi. “sebelumnya aku meminta ijin untuk membuka mata batin kalian semua, tapi setelahnya aku akan tutup lagi, dan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir, karena akan bahaya kalau kalian tidak siap, beberapa orang menjadi gila.” Aku memperingatkan.
“Buktikan, buka mata batin kami seperti yang kau bilang, kami adalah sekelompok orang dengan logika yang tinggi, pasti sulit menerima ini semua jika tidak ada bukti dan akan menghambat kami menolong Pak Malik.”
__ADS_1
Aku lalu menatap meraka, kukeluarkan Karembo Hejo lalu menyabet mereka satu persatu dengan Karembo Hejo, di titik ini mereka bisa melihat alam ghaib tanpa pembatas sedikit pun.
“Perkenalkan Panglima Erlangga, Raden Ammardharma dan Bagus Heulang, 3 Karuhunku yang sudah kuceritakan pada kalian semua.” Lalu mereka semua mundur, karena Karuhunku memang memiliki tubuh yang gagah dan menyeramkan, apalagi Bagus Heulang, tubuhnya luar biasa besar.
“Astagfirullah, Astagfirullah, Allahhu Akbar, astaga, astaga!!!” Semua orang berlindung di balik meja atau di balik temannya, mereka terus ketakutan sembari memohon ampun karena melihat makhluk dari dimensi lain tanpa pembatas.
“Mau kutunjukan Pasukanku?” Aku bertanya.
“Tidak ampun Bu, ampun.” Mereka seketika terlihat menjadi pengecut.
Aku dan Pak Hanif tertawa terbahak-bahak, setelahnya, kusebet lagi Karembo Hejo, mereka tidak bisa melihat makhluk ghaib lagi.
“Sudah kembali lagi ke tempat duduk kalian, gimana sih baru liat 3 Karuhun udah kayak begini.” Aku meledek mereka.
“Kami percaya Bu, tapi sepertinya kita tetap tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, pertama ini persoalan dunia lain, yang harus kita lakukan adalah mengarang cerita dan meringankan hukuman Pak Malik, karena biar bagaimanapun Pak Malik telah mengakui perbuatannya.”
“Itu yang saya inginkan, Malik memang harus dihukum atas perbuatannya, tapi bantu kami agar sesuai, karena dia membunuh bukan tidak ada sebab dan itu semua karena melindungi apa yang benar. Kami mohon bantuannya.”
“Kami akan membantu dengan seluruh kemampuan kami, tapi bu, apakah kami benar sudah tidak akan melihat yang begituan lagi nantinya?” Seseorang bertanya.
Aku tertawa dan mengangguk, “Tidak akan, tenang saja, semua sudah kututup dengan sempuran.” Aku dan Pak Hanif berpamitan setelah menjamu mereka dengan makan siang dan tentunya membayar mereka dengan cash, uang yang cukup banyak harus mereka dapatkan karena memang mereka butuh untuk mengarang cerita tentang pembunuhan ini, karena kenyataan tidak bisa dibuktikan di pengadilan, kenyataan seperti akan membuat negeri ini gempar, hanya merekalah para Pengacara yang boleh tahu agar mereka bisa cari cara untuk menolong Malik.
“Ayi, apakah Malik bisa melalui ini.” Pak Hanif terlihat khawatir.
“Aku ada di sampingnya, apa yang tidak bisa dia lewati saat bersamaku?” Aku tersenyum.
“Oh ya, aku lupa, dia bahkan seperti gembel saat tidak bersamamu.” Kami tertawa ingat saat aku pergi meninggalkan Malik bersama Almarhum Pram.
“Dia akan baik-baik saja, kau tidak tau perangainya? Pasukanku saja dia tawan, apalagi kawanan di penjara, mungkin dia akan menjadi bosnya.”
…
“Semenjak lelaki itu ditahan di sini, kantor menjadi lebih kelam.” Seorang polisi berbincang, aku sedang menunggu Malik untuk kunjungan, aku memang setiap hari datang berkunjung dan membawa makan.
“Kelam gimana?” Teman polisi yang lain bertanya.
Aku tersenyum, pasti ulah pasukanku.
“Sayang.” Malik datang dan mencium keningku.
“Ini makan dulu.” Aku memberinya bekal makan yang aku buat sendiri, masih hangat karena memang elektrik jadi menjaga kehangantan makanan itu.
“Kamu masak?” Dia bertanya.
“Iya dong, ini kan buat suami, masa beli.” Aku tersenyum.
“Hmmm, kenapa nggak beli aja?” Malik bertanya.
“Iya aku tahu, dulu itu aku pernah masakin kamu trus kamu diare 3 hari, tapi itu karena aku nggak lihat tanggal kadaluarsa bumbu penyedapnya, ini aku liat kok, aku udah belajar dari Youtube, tenang aja ini enak.” Aku sedikit kesal.
“Nggak di taro racun kan?” Malik berkata sebelum suapan pertama masuk.
“Nggak! Kamu nggak aku ludahin aja makanannya udah nurut banget, jadi ngapain aku begitu-begitu.” Yang ini sukses membuatku sangat marah.
“Iya, Iya Serahhhh.” Malik mengusap kepalaku.
“Tau nggak, polisi bilang sejak kamu di tahan, kantor polisi ini menjadi menyeramkan, mereka nggak tau aja bentuk asli kamu kalo berubah.” Aku tertawa, “gimana di sel? ada yang jahat sama kamu?” Aku bertanya.
“Siapa yang berani? Baru kutunjukan tangan penuh beling aja mundur semua, apalagi semua badan aku tunjukin.”
“Dasar arogan!” Aku tertawa.
“Maafkan aku Malik.” Aku mengusap air mata yang jatuh seketika.
“Untuk apa? Karena aku di penjara? Jika aku bisa mengulang waktu, aku akan melakukannya lagi dan lagi, kalau bisa aku juga ingin Pram tidak terkena keris itu.” Malik menunduk.
__ADS_1
“Terima kasih sayang.”
“Tidak perlu, kita suami istri, jadi memang kita adalah satu. Oh ya, Mama, Papa, kemarin datang, bawa makanan, mereka datang sore.” Maksudnya Mama Papanya Pram, begitu Malik menyebut mereka.
“Iya aku tahu, mama telepon aku kemaren sebelum datang, aku juga ke rumah mereka setiap hari, Aam, Seina dan Maliyah juga ke sana setiap minggu, jadi tempat basecamp katanya.”
“Iya, Mama dan papa bilang bahwa dia kehilangan 1 anak dan mendapatkan begitu banyak anak sekarang, aku benar-benar bangga sama mereka, mereka tidak membenciku sama sekali, saat aku datang dan bersujud, mereka memelukku dan bilang, Pram sudah melihat masa depannya sebelum ini dan dia bilang bahwa kami akan kehilangan 1 anak tapi setelahnya kami akan bahagia, makanya mereka bisa menerima kita semua.”
Aku menangis lagi karena mengingat begitu banyak yang Pram lakukan untuk kami.
“Sehat-sehat ya sayangku, setelah ini berlalu kita akan mulai membangun rumah tangga yang tenang dan damai, kita juga akan membangun sekolah Kharisma Jagat, sekolah yang akan membantu anak-anak Kharisma Jagat memiliki hati yang baik hingga sikap dan prilaku mereka mulia, semulia kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita," Aku berkata.
“Aku akan bertahan, ini hanya masalah sederhana, aku dipenjara sedang yang lain gugur, aku bisa melalui apapun asal kau ada di sisiku, Ser.” Malik kembali mencium keningku.
“Itu makanannya enak nggak?” Aku penasaran dia daritadi makan terus tapi nggak bilang apa-apa.
“Hmm, sebagai suami istri kita harus jujur, bener nggak?” Malik membuka kata.
“Ok, ok, aku pulang dulu, besok aku bawain makanan lagi, tapi beli aja kan?” Aku langsung bergegas untuk pulang.
“Sebentar sayang, lihat deh.” Dia memperlihatkan kotak makannya habis. “ini enak, aku tahu kamu udah berusaha kan? aku nggak masalah makan yang nggak enak sekali pun, tapi, kalau kamu harus repot untuk apa?” Malik berkata.
Aku tersenyum dan salim lalu pamit pulang.
…
Persidangan terjadi di minggu ini, kami semua menghadapinya bersama, pengacara telah membuat sebuah cerita karangan bahwa, aku, Pram dan Malik sedang liburan di pantai selatan itu, lalu tiba-tiba lelaki itu menusuk Pram dengan keris hingga Pram meninggal dunia, sedang Malik yang kaget, reflek menghunuskan pedang pada lelaki penusuk itu, yang jadi pertanyaan adalah, kenapa Malik membawa pedang ke tempat wisata?
Pengacara mengatakan bahwa Malik dan Pram akan transaksi barang pusaka, karena Malik sedang liburan makanya dia suruh Pram datang ke tempat itu untuk beli pedangnya, tapi seseorang yang di suruh oleh Mudha Praya datang dan membunuh Pram, Malik melihat itu menusuk menggunakan pedang yang tadinya akan dijual kepada Pram.
Para Pengacara juga mengarang bahwa Mudha Praya ingin pusaka yang akan dibeli Pram dari Malik, karena itu benda pusaka yang penuh dengan klenik, tapi Malik tidak mau barang itu dimiliki Mudha Praya, karena tahu, pasti disalahgunakan, padahal Malik ingin benda pusaka hanya pajangan. Karangan yang cukup epik, karena dalam ketidakwarasan akal sehatnya, Mudha Praya selalu berteriak tentang Ayi Mahogra, iblis wanita yang jahat. Pernyataan itu dijadikan bukti di persidangan hingga Hakim percaya bahwa alasan Malik untuk tidak memberikan benda pusaka itu benar, takut Mudha Praya memujanya.
Semua karangan ini dibuat tanpa celah, salah satunya Mudha Praya yang tidak bertindak sebagai saksi atau pun tersangka karena dia saat ini sedang menjalani terapi mental, dia menjadi gila setelah Karuhunnya mati, maka dia dibebaskan dari segala tuduhan, namun di tahan di rumah sakit jiwa, tempat yang tepat untuknya.
Malik akhirnya dinyatakan bersalah, tapi atas pembunuhan tidak di sengaja, tuntutan jaksa sebelumnya atas pembunuhan berencana ditolak Hakim, Malik tetap dihukum, tapi tidak seberat tuntutan sebelumnya, Malik dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dikurangi masa tahanan, kami tidak mengajukan banding dan sepakat agar Malik menjalani hukuman itu, walau para pengacara mengatakan bahwa bisa saja mereka mengajukan banding dan membuat Malik bebas, tapi kami pikir ini sepadan karena Malik salah membunuh lelaki itu yang merupakan salah satu Tetua, ditambah tidak ada seorang pun keluarga dari lelaki itu yang menuntut kami, tuntutan justru datang dari keluarga Mudha Praya, tentu mereka masih ingin membuat kami kesulitan walau ketuanya telah menjadi gila, tapi untuk itu, aku telah mengirim pasukan berjaga, hingga mereka tidak bisa bergerak seenaknya.
Kami menerima hukuman ini dengan lapang dada.
…
5 Tahun Kemudian
Aku sudah melahirkan seorang anak lelaki yang lucu dan tampan, namanya Pamudya Aksara, Malik ingin mengenang nama itu sebagai nama yang harus kami sayangi dan tidak boleh dilupakan, Malik ingin Papa Mama Pram bisa merasa memilliki Pram kembali dengan hadirnya anak kami, Malik di penjara selama 3 tahun aku hamil, kok bisa lagi dipenjara hamil? Ya bisa lah, tahukah kalian bahwa narapidana bisa mengajukan cuti paling banyak 2 hari atau 2 x 24 jam? Ya bisa, asal memenuhi beberapa syarat yang diatur dalam Pasal 3 Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M.03-PK.04.02 Tahun 1991 tentang Cuti Mengunjungi Keluarga Bagi Narapidana (“Kepmen 1991”), jadi setiap keluarga narapidana bisa saja mengajukan cuti, waktu itu aku yang minta, pengacara membantu kami supaya bisa pengajuan cuti itu berjalan lancar.
Setelah pertemuan singkat selama 2 hari itu, aku hamil dan sekarang anak kami telah berumur 2 tahun, tepat setelah ayahnya keluar penjara, Pram telah menjadi anak yang cukup besar, Pram memang selalu tumbuh diatas anak seumurnya, seperti ia bisa jalan diumur 9 bulan, bisa bicara diumur 6 bulan dan saat ini bahkan dia sudah bisa mulai baca, kata Psikolog di sekolahnya, Pram adalah anak jenius, tapi mereka tidak tahu, Pram kecil adalah Kharisma Jagat Agung, seperti Pram dulu, Panglima bilang semua anak yang kulahirkan akan menjadi Kharisma Jagat Agung, baik laki-laki atau perempuan, aku saat ini sedang hamil lagi, jujur begitu Malik keluar, kami menghabiskan banyak waktu bersama, hingga tidak menunggu lama, 3 bulan sejak dia bebas aku hamil lagi.
Saat aku hamil tubuhkku cenderung akan lemah, Panglima bilang bahwa karena aku mengandung bayi Kharisma Jagat Agung, yang sifatnya dominan, maka mereka mengambil semua yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak hingga melemahkan tubuhku, jika yang hamil hanya wanita biasa, maka biasanya ibunya akan sering di rawat di rumah sakit, kalau aku tidak, tapi jujur aku lemah, tidak bisa bertarung sama sekali.
Untung Malik lelaki baik yang menjaga Pram jika aku sedang lemah seperti mual dan muntah, tapi dengan frekuensi yang luar biasa, kami tidak menggunakan pembantu, kami hanya bersama dengan Mbaknya Malik yang seorang cenayang itu, untuk membantu pekerjaan rumah, kami tidak mau ambil resiko memperkerjakan orang biasa, karena umumnya mereka akan tidak betah dan akan membicarakan Pram kecil di belakang, karena dia sering berkomunikasi dengan ‘mereka’ yang tak terlihat seperti pasukanku dan tentu saja Karuhunku.
Kehamilan keduaku ini mungkin seorang bayi perempuan, Panglima bilang bahwa dia akan memiliki kekuatan sebesar aku tapi memiliki sifat dingin seperti Malik. Aku tidak berharap apapun, mereka ang memilih nanti, mau jadi pejuang seperti kami atau malah memilih jalan lain, tugas kami hanya mendampingi dengan biaya dan tenaga, sisanya mereka yang putuskan.
“Besok acara 5 tahun Pram, kamu kalau nggak ikut juga nggak apa-apa, Mama Papa ngerti kok.” Kami sedang makan malam, Pram sudah tidur.”
“Aku usahakan datang, walau agak lemes, tapi aku usahakan, aku nggak mau nggak dateng, ini acara peringatan Pram.” Kami memang selalu mengadakan acara peringatakn untuk hari kelahiran Pram dan hari kematiannya, kami berkumpul dan berdoa.
“Yaudah, besok kita kumpul bareng, sekarang kamu istirahat, bobo yang nyenyak sayang.”
Malik memapahku ke tempat tidur, lalu kami tidur, besok hari yang indah untuk berkumpul, harinya Pram.
_____________________________________
Catatan Penulis :
Tinggal 1 part lagi ya guys, siap-siap ucapin selamat tinggal sama Malik dan Seira.
__ADS_1
Oh ya yang mau baca karyaku, sok mangga ke akunku dulu dan baca genre dramanya ya, jangan lupa untuk mampir ke akunku dan jangan lupa IKUTI/FOLLOW akunku ya buat yang belum, supaya kalau ada update karyaku masuk ke notif kalian, selalu favoritkan setiap karyaku ya.
Terima Kasih.