
[Hei Queen, kok ngomong gitu, apa Mas Ridho ngomong yang aneh-aneh?]
[Bentar deh, ini Malik kan? Bukan Pram?] Aku tertawa karena Malik rese meledek panggilanku.
[Bukan ini Malik kok, cintanya Sera.]
[Kamu kebanyakan gaul sama Pram nih, jadi gombal.] Malik tertawa dari sebrang sana.
[Ridho ngomong apa?]
[Kok kamu langsung suspect kakakku sih?] Aku mau menutupinya saja.
[Hanif bilang Mas Ridho kurang bersahabat begitu ketemu Hanif di sana kemarin Ser, terkesan nggak suka kalau kakakku ikut membantu di desa itu.]
[Iya, Mas Ridho bilang aku tidak boleh membuat Pram menderita, seharusnya aku mengusir Pram dan tidak berhubungan lagi dengan Pram.]
[Dia tidak salah karena mungkin menurutnya Pram baik dan tulus, tapi kita tidak bisa memaksa Pram pergi darimu Ser, itu pilihannya, kita hanya bisa selalu mendoakannya mendapatkan wanita yang mungkin bisa menyentuh hatinya.]
[Kamu benar Malik, bagaimana denganmu? Kau tidak keberatan Pram selalu bersama kita? Kau tidak cemburu?]
[Aku … tentu saja aku cemburu.]
[Maaf Malik.] nada suaraku turun.
[Tapi, Pram adalah bagian dari dirimu yang tidak bisa aku hapus dari hidupmu, dia bahkan dengan baiknya member kesempatan kepada kita berdua untuk bersama, dia melakukan yang terbaik untukmu, aku kalau jadi dia, mungkin tidak bisa melakukan yang dia lakukan untukmu, melepaskanmu adalah hal paling terakhir yang akan aku lakukan, jika aku mati saja.]
[Malik! jangan bicara kematian dulu ya, mari kita fokus lagi pada peperangan yang di depan mata.]
[Nah itu Ser, fokus saja pada perang kita, jangan fikirkan yang lain, yang lain hanya melihat dari luar, kita bertiga yang merasakan dan tau prosesnya, kamu ….]
[Halo, Malik, halo.] Suara telepon genggamku gresek, seperti ada gangguan, padahal jaringan bagus.
[Malik, Malik, halo …. ]
[Se … Se … Ser! Lari!!!] Tuuuttt, telepon terputus.
Ada apa dengan Malik? Kenapa telepon putus tiba-tiba, kenapa dia suruh aku lari, kenapa suaranya tadi terdengar lemah, kenapa suaranya terbata-bata, apa yang terjadi dengannya, apa Mudha Praya menyerang markas Malik, Tuhan lindungi Malikku.
Aku harus segera ke sana, aku harus menolongnya, aku tidak perduli walau dia tadi bilang aku untuk lari.
“Queen, mau kemana?” Pram bertanya.
“Malik, Malik, Malik .... “ dadaku sesak, hingga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
“Kenapa dengan Malik, tenang dulu tenang.” Pram mencoba menenangkan.
“Tadi, aku teleponan sama Malik, lalu semua baik-baik saja sampai tiba-tiba suaranya lemah dan dia suruh aku untuk lari, aku takut Pram, aku takut Mudha Praya melakukan seseuatu yang salah.” Aku tidak sabar, tapi hanya Pram yang mampu membawaku ke Ibukota dengan cepat.
“Ayuk, aku akan menghubungi orangku untuk menyiapkan Pesawat Cesna lagi di helipad terdekat di sini, ayok kita naik mobilku dulu.” Pram menggeret pundakku untuk naik Jeepnya, aku kehilangan kendali atas diriku karena panik, kiranya benar bahwa Dokter tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri, aku yang katanya kuat dan penuh intuisi bisa langsung blank saat panik.
Kami menaiki Jeep Pram, dia menyetir, sementara aku masih mencoba menghubungi Malik, tidak bisa, teleponnya tidak aktif, aku menelpon Pak Hanif, sama. Tuhan, ada apa ini, aku takut terlambat.
“Queen tenang, tenang. Jangan begitu, kau bisa membuat kita celaka, aku memang tidak bisa diam, air mataku mulai luruh.
“Queen, semua akan baik-baik saja, walau Malik buka Kharisma Jagat, tapi dia bukan orang biasa, dia manusia yang istimewa, dia bahkan sudah mempelajari berbagai ilmu untuk menjagamu, dia pasti bisa lolos, jangan panik, tenang ok.”
Airmataku malah semakin deras, benarlah kiranya saat orang bilang wanita itu cengeng, aku merasakan perasaan pedih saat ini dan tidak bisa menahan derasnya airmata yang turun, Malik aku mohon bertahanlah, apapun yang terjadi.
Selama satu jam kami berkendara, untuk mencapai Helipad milik orang paling kaya di Desa ini, Pesawat Pram sudah ada di sana, kami akan langsung terbang ke Ibu kota, karena butuh waktu berjam-jam untuk sampai sana kalau kita berkendara dengan mobil, semetara, kalau pakai Pesawat ini kami hanya butuh waktu sekitar 1 jam.
...
Kami sudah sampai di Helipad rumah mewah lain, setelah itu aku dan Pram langsung berkendara ke arah Markas Malik tanpa berbasa-basi dulu dengan pemiliknya, Pram bilang nggak apa-apa, karena pemiliknya pun tidak ada di rumah.
Aku tidak bisa berfikir apapun lagi, ini sudah 2,5 jam dari aku terakhir menghubungi Malik ini sudah terlalu lama.
__ADS_1
Aku masih terus mencoba menghubungi Malik dan Pak Hanif, aku tidak mau menghubungi keluarganya karena takut mereka panik, aku yakin mereka tidak tahu apa-apa, nanti malah curiga kalau aku panik dan mencarinya.
Setelah berkendara sekitar 45 menit, kami sampai di Markas Malik, begitu mobil masuk parkiran, aku berlari secepatnya, suasana hommy benar-benar terasa, aku tidak bisa menyembunyikan betapa kenangan di Markas ini begitu banyak.
“Malik, Malik.” Ku ketuk pintu rumah, tidak ada penjaga ghaib, kemana semua makhluk? Memang semua pasukan taklukan Malik bersamaku, tapi penjaga Ghaib dan keluarga Ghaib yang tinggal di sini selalu di Markas ini tidak mau pergi kemana pun, untuk mereka Markas Malik adalah rumahnya.
Tidak ada jawaban, aku akhirnya memegang handle pintu dan mencoba membukanya, terbuka! Astaga, tidak dikunci, ada apa ini!
Aku berlari ke dalam, aku mencoba mencari Malik di ruang tamu, tepat setelah pintu terbuka, aku mencarinya, aku takut dia tergeletak atau ada jejak lain, aku tidak akan melewatkan apapun, aku mengedarkan pandanganku di sekeliling ruang tamu, tidak ada apa-apa, semua rapih dan bersih.
Lalu aku berlari lagi menuju dapur yang juga tempat meja makan serta ada mini bar, saat aku berlari memasuki areal itu, aku kaget dan berteriak ....
“Malik!!!” Aku berlari menghampirinya, “Malik kau baik-baik saja? Kenapa tadi teleponnya mati dan kau terdengar merintih?” Aku bertanya dengan panik, sementara Malik sedang duduk di sana, memandang keluar jendela, karena di samping meja makan ini dindingnya terbuat dari kaca yang cukup besar, aku memeriksa seluruh tubuhnya, aku takut dia terluka, tapi aku tidak menemukan luka apapun di tubuhnya.
“Ser.” Malik tersenyum.
“Malik, kenapa kau bisa tenang begini sementara aku dan Pram seperti orang gila berlarian ke sini!!!” Aku spontan marah karena dia baik-baik saja dan masih bisa tersenyum padahal sudah membuat kami panik setengah mati.
“Surprise sayang.” Malik berdiri lalu memelukku, pelukannya erat sekali, aku melihat kearah Pram, dia terlihat kikuk dan langsung mencoba melihat ke arah lain.
“Malik, sebentar, kau baik-baik saja kan?” Aku mendorong pelukan Malik dan sekali lagi memeriksa tubuhnya.
“Aku baik-baik saja sayang.” Malik mengecup keningku lalu tidak melepas kecupannya, lagi-lagi aku melihat Pram sedikit kesal.
“Malik, sebentar.” Aku mendorong sedikir tubuhnya agar posisi kami berjarak dan memegang dadanya, aku ingin memastikan bahwa dia tidak sedang ditumpangi, karena aku merasa sikapnya sedikit janggal.
“Aku Malik Ser!” Malik terlihat marah saat aku memeriksanya.
“Aku tahu kau Malik, aku hanya memastikan, di mana Pak Hanif?” Aku bertanya.
“Dia sudah pulang ke pulau tempat Ibunya,” Malik menjawab, “Pram, terima kasih sudah mengantarkan kekasihku, tapi bisakah kau tinggalkan kami berdua?” Malik berkata seperti itu kepada Pram.
“Malik!” Aku marah karena dia lancang mengusir Pram.
“Apa? Aku kan sudah berterima kasih, lalu sekarang apa? Aku harus bersujud kepada mantanmu ini?” Malik berkata kasar.
“Lebih dari itu? maksudmu kekasih? Calon suami? Teman mesra? Atau selingkuhan?”
Plak!!! “Kutampar wajah tampannya dengan keras, darah mengalir di sudur bibir kirinya.
Malik menatapku dengan tatapan kecewa.
“Aku hanya ingin kau menemuiku ke sini sendirian, tapi lihat kau bersama lelaki lain, aku hanya ingin menikmati moment bersamamu berdua, aku hanya ingin bersama kekasihku saja, tapi sepertinya kekasihku lebih senang bersama lelaki istimewanya.” Malik lalu pergi kearah kamarnya.
“Pram maaf, aku tidak tahu kenapa Malik begitu, maafkan aku Pram.”
“Itu salahnya bukan salahmu, kenapa kau harus minta maaf? Aku akan pergi Queen, tapi aku ada di dekat sini, aku punya beberapa rumah di komplek ini, jaraknya hanya 100 meter dari Markas ini yang paling dekat, jadi kau bisa langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu.”
“Pram kau punya rumah di sini?” Aku bingung kenapa Pram punya rumah di komplek ini.
“Aku dulu membeli beberapa rumah disini, itu aku lakukan saat aku sedang mengintai Malik, sebelum aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya di Rumah sakit, saat kau menjalani operasi pendonoran hati.”
“Oh, begitu, ok.”
“Aku pamit ya Queen.” Pram mau berjalan keluar.
“Oh ya Pram, apakah kau yang membuat lingkaran perlindungan saat aku dan Malik dioperasi dulu?” Aku bertanya.
“Iya, aku yang melakukannya.”
“Mungkin ini terlambat, tapi terima kasih ya sudah melakukannya, terima kasih sudah menjaga kayami dengan kekuatanmu.” Aku mengatakannya dengan tulus.
“Apapun Queen, apapun.” Lalu Pram pergi pulang ke rumahnya yang ada di dekat sini.
Saat sudah mengantar Pram keluar, aku langsung berlari ke arah kamar Malik, aku akan memarahinya karena berani membuat kekacauan ini.
__ADS_1
Aku mengetuk pintu kamarnya, dia tidak menjawab, dasar anak kecil, selalu begitu kalau marah, ngambek. Aku tidak habis fikir kenapa dia bisa melakukan ini semua, pertama berpura-pura diserang, lalu kedua berkata kasar pada Pram, dia benar-benar menyebalkan.
Aku langsung membuka pintu kamarnya dengan paksa, tentu saja tidak dikunci.
“Malik! Kau tega sekali berbicara omong kosong itu pada Pram.” Aku menegurnya dia terlihat sedang duduk di pinggir tempat tidurnya, kembali menghadap jendela.
“Kau yang lebih tega, kau menamparku di depan lelaki itu.” Dia masih memandang ke jendela.
“Aku melakukannya karena kau salah Malik! Kau menuduhku selingkuh, kata-kata macam apa itu? ada apa denganmu? Apakah ada seseorang yang datang sebelum aku datang? Apakah ada yang menghasutmu?”
“Kau bicara apa? Aku sendirian dan tidak ada yang menghasutku, kau wanita yang jahat.” Malik menatapku dengan tajam.
“Apa maksudmu aku jahat?” Aku bertanya dengan kesal dan balik menatapnya dengan tajam.
“Aku rindu kebersamaan kita dulu Ser, sebelum ada Malik dan dunia ghaib ini, aku rindu saat berdua bersamamu, aku lelah menghadapinya, apa salah kalau aku hanya ingin menikmati sedikit moment santai kita di sini? kau yang aku harap bisa datang sendiri saja, tapi malah datang berdua dengan Pram.” Malik memalingkan wajahnya.
Aku mendekati Malik, aku merasa dia sedang down, aku memeluknya dari belakang. “Aku tidak datang dengannya supaya kau cemburu sayangku, dia menolongku karena aku panik dan tidak bisa mengendalikan diri, tadinya aku berlari keluar dan mau langsung ke Ibukota entah dengan cara apa, Pram mencegatku dan menawarkan bantuan, kenapa kau menjadi sensitif gini sih sayangku?” Pelukanku dilepas olehnya, dia mendorong badanku mundur.
“Malik, ayolah.” Aku mendekatinya lagi, dia kembali duduk di tempat tidurnya.
“Ser, aku ingin bersamamu.” Malik tertunduk.
“Aku sudah bersamamu Malik!” Aku mengingatkannya.
“Tapi aku ingin bersamamu hidup yang normal aja, aku kamu dan anak cucu kita kelak.”
“Kau fikir aku tidak mau, kau fikir ngapain aku melakukan ini semua? Untuk masa depan kita Malik! Masa depan seluruh Kharism Jagat dan anak cucunya, kenapa kau sekarang goyah begini?” Aku menjadi heran, kenapa dia pulang sikapnya menjadi janggal begini?
“Ser, aku takut.” Malik menarikku ke tempat tidurnya dan terduduk bersamanya, dia memegan bahuku, “Aku takut kalau kau terluka, aku takut kehilanganmu, aku tidak masalah jika aku yang gugur, aku takut jika ini semua membuatku menyesal.”
“Pasti ada yang mengatakan sesuatu padamu kan? Apakah Papi? apakah dia mengatakan itu?” Aku mencoba menyelidiki perubahan sikap Malik ini.
“Tidak, Papi Mami tidak tahu apapun soal ini, kembali ke Ibukota membuatku merasa bahwa apa yang kita perjuangkan sia-sia, ayo kit pindah keluar negeri, kita tinggalkan semua ini, kita mulai hidup baru di sana, kita pasti bisa lepas dari belenggu pernikahan adat.”
“Ada 781 Kharisma Jagat yang tersebar di luar negeri, mereka kabur seperti yang kau katakan, hidup jauh dari negeri tercinta untuk lepas dari belenggu pernikahan adat, tapi apa yang terjadi dengan mereka? 521 Pasangan tidak memiliki keturunan dan sisanya hidup melajang karena ditinggalkan pasangan, hidup mereka menjadi suram, Malik! Sadarlah, jangan egois! Mereka semua menderita Malik, kita harus mengembalikan kembali semua pada tempatnya, karena kalau bukan kita, tidak ada yang mau melakukannya!” Aku mengatakan panjang lebar agar dia mengerti.
“Kau yang harus sadar! Kau takkan mampu melawan Mudha Praya, dia pria gila dengan kekuasaan yang luar biasa tinggi, ditambah para pengikutnya yang loyal, kau tidak akan mampu menang Ser! Itu kenyataannya!” Malik tetap memegang bahuku dengan kencang dan mengguncangnya.
“Kau tidak yakin dengan perjuangan kita?” Mataku memerah karena marah.
“Aku mencintaimu dengan besar, aku tidak siap kehilanganmu! Itu yang aku yakin.” Dia masih bersikerah dengan menyerah pada perang ini.
“Itu terserahmu, cintamu pengecut Malik, maaf aku harus mengatakan itu, aku akan tetap berperang, dengan atau tanpamu!” Aku bangun dari tempat tidurnya dan hendak jalan keluar kamarnya, aku benci sikap pengecutnya, dia seperti bukan Malik yang kukenal, kenapa dia berubah secepat ini?
Sebelum sampai pada pintu kamar, Malik menarik lenganku, dia membalik tubuhku yang tadinya membelakangi dia karena bermaksud pergi, sekarang menjadi berhadapan dengannya.
Dia memelukku dengan sangat erat, aku merasa ada cairan hangat di pundakku, dia menangis? Aku mendorongnya dengan lembut lalu menatap matanya dengan lekat.
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.” Mataku pun mengeluarkan cairan bening.
Kami bertatapan, Malik mendekatkan wajahnya padaku, dia mengecup pipi kananku, lalu pipi kiriku, setelahnya kening, aku menikmati sensasi hangat yang penuh ketenangan ini.
Lalu kami berpandangan lagi setelah dia mencium seluruh wajahku, dia mulai mendekatkan lagi wajahnya, bibir hangatnya menyentuh bibirku, aku reflek menutup mata, aku menikmati setiap gerakan nyaman yang dia lakukan, terasa begitu hangat, kami berbagi nafas yang sama, awalnya gerakan bibir ini terasa ringan dan berirama, tapi tiba-tiba Malik semakin kasar, gerakannya menjadi tidak beraturan, aku menahan dadanya karena mulai terganggu, aku merasakan hasrat yang tinggi yang coba dia salurkan, aku mencoba mundur, tapi dia mengnyimpulkan tangannya dengan sangat erat, aku tidak diberi kesempatan untuk menghindari gerakan bibirnya yang semakin buas.
Aku mencoba memberinya waktu untuk tenang, mungkin hal ini bisa sedikit membuatnya rileks, tapi tiba-tiba tangan kanannya mulai menyentuh wajahku, lalu leher dan semakin ke bawah, dia mencoba membuka kaos yang sedang aku kenakan.
Malik ....
___________________________________________
Catatan Penulis :
Author nakal ih, bikin adegan dewasa, kalau ada yang ngerasa ini terlalu vulgar kasih tau ya, jujur aku masih canggung membuat alur adegan dewasa, semoga kalian menikmatinya ya, sama seperti Malik menikmati pergumulan ini
Terima kasih
__ADS_1
Salam sayang dari Muka Kanvas/RPs Author Karuhun