
Sebagai seorang raja, tentu saja berperang adalah hal yang lumrah bagi Raja Bapati, banyak ilmu yang aku dapat darinya.
Menelisik sedikit perjalanan dia dalam mengekspansi wilayah sebelum akhirnya dipukul mundur oleh musuhku, dia adalah orang yang cemerlang.
Caranya berperang sungguh seperti ajaran islam, tahanan tidak dibantai ataupun dipakas mengikutinya, tahanan perang masih memiliki hak-haknya sebagai manusia, tinggal di wilayah yang sudah dia tundukkan, mengikuti peraturannya, tapi diperbolehkan tetap pada keyakinannya, baik agama maupun adat istiadar, apapun diperbolehkan kecuali mengancam keamanan wilayah.
Raja Bapati muda pernah mengekspansi wilayah barat dan tengah secara besar-besaran di negeri ini, dia mencapai masa gemilang hingga penobatannya sebagai Putra Mahkota, tapi itu semua langsung redup hanya karena 1 isu, isu yang digulirkan tepat setelah dia menolak perjodohan.
Musuhku menanggap ini celah yang bisa membuat Raja Bapati dipukul mundur dan tidak lagi mampu memimpin Pasundan kelak, sebagai Putra Mahkota yang sangat hebat, tentu dia akan menjadi calon Raja masa depan ketika itu, kearifannya, kewibaan serta pemikirannya yang tulus membuat semua Jin meresa dia bisa menyatukan dan memimpin tanah Pasunda beserta seluruh Kharisma Jagat dan Karuhunnya, tentu saat itu karena Ayi Mahogra belum muncul, makanya ide ini sempat bergulir.
Tapi ini yang ditakuti musuhku, cara berfikirnya yang modern, membuatnya ditakuti, takut kalau kekuasaan tidak lagi di tangan mereka.
Saat itulah, ketika akhirnya dia menolak perjodohan yang telah diatur, dan bahkan sempat terjebak salah nama, tidak ragu untuk menolak perjodohan saat tahu salah nama mempelai, membuat semua orang menjadi kecewa, Putra Mahkota yang tampan dan kuat ini, langsung menjadi bulan-bulanan seluruh Jin negeri ini, isu dibuat semakin lebar kemana-mana, katanya Putra Mahkota mabuk cinta, Putra Mahkota tidak bisa memimpin negeri Jin, Putra Mahkota berada di bawah kaki perempuan.
Satu-satunya yang bisa dia selamatkan adalah Kerajaan Hutan Selatan ini, kerajaan yang ditutup selimut kebutaan bagi siapa saja yang dikehendaki tidak bisa melihat, Raja Kharendra, Raja Jin di kerajaan ini sebelumnya akhirnya menutup kawasan kerajaan ini bagi siapapun selain penduduk asli untuk menyelamatkan anaknya, Pangeran Bapati yang terlanjut dinodai dengan isu sampah.
Terpuruk karena prestasinya yang gemilang dihancurkan oleh musuhku dengan isu busuk, dia bahkan pernah akhirnya memutuskan melepas jabatannya sebagai Putra Mahkota, tapi ayahnya bersumpah akan bunuh diri dan membunuh seluruh keluarga jika Putra Mahkota berani melepas jabatanannya, hal itulah yang menahan Pangeran Bapati saat itu bertahan dan akhirnya sekarang menjadi Raja, raja yang tidak memiliki ratu.
Nyai Jasmine yang memiliki nama sebenarnya Putri Ahis Harin Aparanya memutuskan pergi dari kerajaan karena malu menjadi sumber hancurnya seseorang yang dia cintai, pergi berkelana hingga menemukan seorang wanita tulus yang berbudi pekerti baik, wanita tua yang dia dampingi puluhan tahun itu, yang telah meninggal sebelumnya, disanalah hidupnya dia abdikan, disanalah dia menyimpan seluruh rasa sakit, perih dan kecewa akan dirinya dan keluarganya.
Salah satu yang menjadi penyebab Nyai Jasmine bersedia ikut bersamaKU adalah, karena aku memiliki kisah yang sama, bedanya aku berjuang, sedang dia kalah karena rasa malu dan kecewa.
Kami berkumpul di tempat di mana kami terbiasa membahas strategi perang, Raja Bapati seperti biasa datang setelah sarapan, aku tidak perlu memakai jubah bertudung untuk menutupi wajahku karena ini bukan kawasan kerajaan, peraturan itu dibuat memang karena Raja Bapati begitu menghormati Nyai Jasmine sehingga dia tidak ingin melihat wanita lain selain tentu saja para pengawalnya yang berjenis kelamin wanita didalam kerajaannya, sungguh besar cintanya pada Nyai Jasmine, aku ingat seseorang, seseorang yang juga mencintai dengan tulus walau wanita itu tidak mampu membalas cintanya.
“Dalam perang yang terpenting adalah strategi Ayi, kau bisa saja menang jumlah, tapi kalau strategimu tidak matang, maka pasukanmu akan menjadi sekumpulan semut yang mudah diinjak oleh seekor gajah. Di sisi lain, jika kau kalah jumlah, tapi strategimu begitu matang, maka menang sudah bisa dipastikan, maka dari itu kau harus memberitahuku strategi apa yang sudah kau susun?”
Kami semua, aku, Raja Bapati, Nyai Jasmine, Panglima dan Raden berdiri melingkari meja yang berbentuk lingkarang dengan ukuran besar, diatas meja itu ada peta digital dari wilayah musuhku, ya peta digital, kami bisa melihat secara 6D wilayah musuh kami dari satelit yang dibuat oleh kerajaan Jin ini, itulah pemikiran yang tidak mampu dilakukan oleh musuhku, pemikiran modern dengan segala tekhnologi yang ada, selain memang para jin disini mampu melesat tanpa roket melewati atmsofer tanpa kesusahan walau bertelanjang dada dan menerbangkan satelit tanpa awak dengan tekhnologi super tinggi yang manusia perlu sekitar 300 tahun lagi untuk bisa menciptakannya, tekhnologi tetap merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan di kerajaan ini.
“Mereka memiliki pasukan sekitar 7000 makhluk yang terdiri dari Manusia yaitu Kharisma Jagat, Karuhun dan Jin peliharaan tanpa tuan. Aku hanya memiliki 10-20 persennya, jelas aku kalah jumlah, tapi menurut informanku, bahwa kemampuan mereka jauh di bawah pasukanku, selain itu kami memiliki senjata dimana sekali disabet akan bisa menghancurkan puluhan makhluk sekaligus, bisa dibilang aku memakai strategi efisiensi, dimana jumlah bisa menjadi kelemahan bagi mereka, aku akan berperang dengan berbagai metode, kekerasan, mengelabui dengan menciptakan banyak dunia bayangan dan juga menggoda mereka dengan hawa nafsu, kekayaan. Aku ... “
“Saya tidak menyangka bahwa, mereka berkembang cukup pesat hingga mampu menciptakan pasukan sebanyak itu. Strategimu cukup masuk akal, tapi berat Ayi.” Raja Bapati menginterupsi.
__ADS_1
“Aku tahu itu berat, makanya aku hanya berkoalisi dengan mereka yang kuat saja, baik mental maupun fisik. Aku rasa .... “
“Sudah kau perhitungkan berapa banyak korban dari pihakmu akan bergelimpangan kalau kau nekat berperang seperti itu? jika pasukan mereka 7000 makhluk, katakanlah kau hanya paling banyak 20% nya, atau sekitar 1400 makhluk, maka 1 pasukanmu harus bisa mengalahkan 5 makhluk sekaligus, dalam waktu bersamaan.”
Aku tidak memikirkannya, satu makhlukku harus mengalahkan 5 makhluk sekaligus dengan kekuatan yang sama, apakah mereka mampu?
“Dalam hitungan jam, pasukanmu akan musnah, mereka tentu bisa saja hilang pasukan, tapi katakanlah, dari 5 Pasukan mereka yang harus dikalahkan oleh 1 pasukanmu, 1 saja dari setiap makhluk itu yang berhasil menang dan mengalahkan satu orang pasukanmu, maka sisa dari pasukan mereka masih lebih dari 1000 makhluk, lihat jelas kau kalah jumlah Ayi!” Raja Bapati terlihat kesal.
“Kau tidak memiliki strategi yang baik, kau mungkin sering menaklukan tapi kau belum pernah berperang bukan?” Raja Bapati kembali merendahkan kemampuanku tapi aku tidak bisa mengelak karena aku memang tidak memiliki kemampuan berperang.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” Malik buka suara, aku tidak melihatnya emosi saat Raja Bapati merendahkanku.
“Apa kau akan mengijinkanku menjadi Panglima Perangmu?” Raja Bapati berkata.
“Tidak!” Aku dan Nyai Jasmine seketika berteriak.
Akan sangat bahaya jika dia ikut turun berperang, aku memang meminta bantuannya, tapi aku tidak mengajaknya berperang, aku ingin pasukan, bukan dirinya.
Kami harus menjaga supaya Raja Bapati tetap di singgasananya, jika kami kalah berperang, maka akan tetap ada orang yang memiliki paham sejalan dengan kami yang masih hidup dan mampu melestarikan paham kami, dan tentu orang itu haruslah seorang yang baik dan mulia, makanya aku dan Nyai Jasmine keberatan dia ikut berperang, dia tahu itu dari awal.
…
“Aku keberatan dia ikut menjadi Panglima.” Aku mengatakannya setekah menahannya cukup lama, saat ini Aku dan Malik sedang makan malam, Nyai Jasmine ikut duduk saja di meja makan.
Semua diam tidak ada yang setuju ataupun tidak setuju.
“Nyai, apakah kau rela dia ikut, aku tidak akan punya siapapun jika sesuatu terjadi pada kawananku untuk menjaga apa yang kita yakini, kita akan habis!” Aku berkata dengan lantang.
“Aku selalu berada di belakangmu Ayi, seperti selama ini, tapi untuk yang ini, aku pun bimbang, aku tidak setuju dia ikut, tapi kita membutuhkannya, itu satu yang pasti tidak dapat kita pungkiri.” Nyai berkata sok bijak, aku benci itu.
“Malik, bagaimana menurutmu? Kau tidak setuju kan?” Aku bertanya, karena dia hanya diam saja sedari tadi gagasan itu muncul.
__ADS_1
Malik diam tidak menjawab.
“Malik!” Aku berteriak karena merasa dicuekin.
“Ayi, kau bilang padaku bahwa aku tidak diperbolehkan mengambil keputusan sendiri, aku harus mengikutimu, selama ini aku bisa menjaga itu, maka jangan tanya pendapatku, karena kali ini aku tidak sejalan denganmu, makanya aku diam.”
“Kenapa kalian semua menyebalkan, aku tidak ingin dia ikut, pertama dia Raja, tidak pantas seorang Raja ikut berperang, kedua, tidak ada Raja Jin yang aku percaya selain dia untuk menjaga garis Karuhun yang selama ini kita jaga selain dia, aku tidak ingin jika kita kalah, dan tidak ada yang tersisa maka dia Raja Bapati lah satu-satunya yang kita bisa andalkan.”
“Yang ini yang membuat aku tidak sejalan denganmu Ayi.”
“Stop memanggilku Ayi, biasanya juga Ser, Ser. Begini aja baru panggil Ayi, katakan apa yang kau fikirkan?” Aku sedikit kesal karena tidak punya sekutu pada saat ini, semua menentang pemikiranku.
“Baik, berarti kali ini kau bertanya makanya ku jawab ya.” Malik memang selalu berhati-hati, dia selalu khawatir kalau dia membuatku merasa terbebani.
“Ya, katakan.”
“Setiap perjuangan menuntut sebuah pengorbanan, semakin besar pengorbanan, maka semakin besar imbalan dari peperangan itu, jika kau ragu-ragu, maka sisanya adalah tindakan yang salah, ujungnya adalah kekalahan, aku selama ini selalu tidak ragu saat menuntut ilmu hitam ataupun putih, karena aku tahu jika aku ragu, maka posisiku akan sangat rendah di bawahmu, tapi karena aku berani, makanya aku bisa sedikit mengejarmu dalam mengumpulkan pasukan ketika kau di segel dulu. Maka saat ini, aku hanya ingin bilang, kau sedang ragu dan takut, sedang Raja Bapati mengajarkanmu untuk berani dan menyerahkan seluruh yang kau punya untuk peperangan ini, lakukanlah seolah kau akan menang, jangan lakukan seolah kau akan kalah, kau menolak Raja Bapati ikut perang, karena kau bersiap untuk kalah Ser.”
Sakit sekali jika kekasihku sedang berkata, selalu begitu. Tapi memang dialah yang paling bisa melihat semua secara objektif, hal ini lah yang membedakan Pram dan Malik, Malik selalu melakukan apapun yang menurutnya benar, walau itu bertentangan denganku, kalau Pram, jika itu menyakitiku dia akan berhenti, terkadang itu malah menjadi hal yang salah.
Aku harus memutuskan, sungguh ini berat, aku takut, benar-benar takut kalau peperangan ini menghabisi kami semau tanpa tersisa, tapi aku harus memutuskan.
_______________________________
Catatan Penulis:
Hayo yang menghina dan bête sama Auhtor karena updatenya lama ngaku deh.
Maafkeun ya, aku takkan mengucapkan alasan lagi, semua pure Karen aku memang sedang dalam posisi malas menulis. Maafkeunnnn
Semoga yang ini bisa menjadi obat rindu, tenang belum tamat sampai ada tulisan END yang saya sematkan di akhir cerita, itu baru TAMAT, sebelum ada kata TAMAT/END maka cerita masih lanjut.
__ADS_1
Jangan Lupa VOTE, LIKE dan COMENT ya.
Terima Kasih.