
“Boleh saya tahu kenapa Yang Mulia datang ke tempat ini dan memegang Mustika Delima itu di tanganmu?” Mudha Praya dan para penjaga ternyata sudah ada diluar pintu.
“Aku hanya ingin melihatnya.” Aku mencoba membuat alasan.
“Tapi kenapa pintunya kau dobrak? Bukankah kau bisa membangunkanku jika sebegitu penasarannya?” Mudha Praya mulai menyerangku.
“Kau menuduhku?” Aku bertanya.
“Tidak, mana berani saya, tapi pengadilan akan memutuskannya, pengadilan Tetua. Penjaga, kawal Yang Mulia kembali ke ruangan utama, kita akan mengadakan Pengadilan Tetua dadakan, panggil semua orang.” Mudha Praya memerintah, aku tidak bisa berkutik, aku mengikuti dia.
Saat ini singgasana sudah di singkirkan, aku duduk di samping kanan dan para Tetua duduk di samping kiri, aku diperlakukan seperti pesakitan.
“Jika saja para nenek moyangku tahu bahwa aku diperlakukan seperti ini, mereka akan menghukum kalian!” Aku menakuti.
“Akan lebih buruk lagi jika nenek moyang Yang Mulia tahu bahwa Yang Mulia mencoba untuk mencuri Mustika Delima.” Mudha Praya bersikeras.
“Kau menuduhku Hah?” Aku tak mau kalah.
“Tidak tapi kenyataannya kau mendobrak pintu yang Mulia.” Dia menyeringai.
“Aku tidak mendobraknya, pintu itu memang sudah rusak!” Aku mencoba berbohong.
“Tidak mungkin, pintu itu selalu kami jaga Yang Mulia.” Mudha Praya memimpin persidangan sepertinya, Tetua yang lain seperti tidak berani memandangku.
“Untuk apa aku mencuri, toh aku akan memilikinya juga nanti.”
“Kalau Yang Mulia menikahi Pram, pada kenyataannya terdapat banyak bukti Yang Mulia tidak bersama Pram, kalian tidak akan menikah bukan?” Mudha Praya lantang berbicara, Tetua yang lain begitu mendengar ini langsung memandangku dengan tatapan hina.
“Kalau kau tidak menikahinya, itu berarti kau memberontak!” seseorang berteriak dari belakang kursi Tetua, seorang Tetua yang bodoh tentunya.
“Jaga bicaramu Tetua, dia tetap Yang Mulia.” Mudha Praya mengejekku.
“Kau pembohong!” Aku mencoba menyelamtkan diri.
“Apakah kau akan menikah dengan yang Mulia Pram? Kapan, dimana?” Mudha Praya memukulku dengan keras, melalui kata-katanya, sesuatu yang tidak bisa kujawab dengan benar.
“A-aku .... “
“Apa perlu aku yang menyiapkan pernikahan itu Yang Mulia? Aku akan membuatnya menjadi pernikahan mewah yang berkelas, soal dana tidak perlu dikhawatirkan, aku akan memberikannya untukmu dan Yang Mulia Pram.” Mudha Praya membuatku semakin terdesak.
“Aku, akan memikirkannya kemudian, kami .... “
“Kalian sudah sangat cukup umur untuk menikah Yang Mulia, tunggu apa lagi? Bagaimana kalau bulan depan, aku akan segera membuat persiapannya ya?” Dia memang busuk!
“Lakukan, lakukan lah!!!” Aku berteriak.
Brak ….
Pintu ruang pengadilan dadakan terbuka, aku melihat seorang laki-laki masuk, semua orang sedang melihat kearah laki-laki itu.
“Apa yang kalian lakukan kepada Istriku?”
“Yang Mulia Pram?” Mudha Praya menyapanya dan terlihta bingung dengan kedatangan Pram, jujur, aku juga bingung, kenapa Pram memanggilku istrinya?
“Ada hal memalukan yang terjadi, kami hanya sedang menuntut keadilan Yang Mulia Pram.” Mudha Praya mulai mengeluarkan racun dari mulutnya, dasar tukang fitnah.
“Lihat ini.” Pram menghampiri Mudha Praya dan memberikan kertas, entah kertas apa.
“Jadi … kalian sudah menikah?” Mudha Praya terkejut setelah membaca lembaran itu, lembaran apa yang diberikan Pram kepada mereka sampai mereka percaya kami sudah menikah?
“Kembalikan, kami akan segera mendaftarkannya ke KUA.” Pram mengambil kembali lembaran itu dan menunjukkannya padaku, jujur aku ikut tercengang tapi tidak ingin memperlihatkannya, aku adalah bagian dari rencana ini, walau aku keberatang dengan pernikahan ini.
“Apalah arti sebuah kertas Yang Mulia Pram, kertas bisa di print, tanda tangan bisa dipalsukan.”
“Kau sepertinya mengerti dengan baik ya dengan penipuan, jadi tingkat spontanitasmu sungguh di luar nalar, apa kau biasa menipu, makanya kau menuduh kami?” Pram cukup hebat bermain silat lidah.
“Apa maksudmu? Kau menuduhku?” Muka Mudha Praya merah padam.
“Ya, sama seperti yang kau lakukan kepada Istriku, menuduh sembarangan, kalau dia bilang tidak melakukannya, makanya dia tidak melakukannya, kau saja yang terlalu sensitive.”
“Terlepas dari itu semua, tunjukkan bukti yang lebih akurat lagi kepada kami bahwa kalian sudah menikah dan jika memang kalian sudah menikah, kenapa Seira tidak memberitahu kami sebelumnya, bukan begitu para Tetua.” Semua Tetua yang berjumlah 20 orang itu langsung bergemuruh mengatakan hal yang tidak baik, menuduh aku pembohon dan menuduh Pram penipu.
“Baiklah, aku akan berikan buktinya, penjaga berikan laptopku dan bawa proyektor portable yang kubawa, aku ingin menunjukan video yang seru.” Pram tersenyum.
Lalu penjaga menyiapkan meja dan juga laptop yang Pram bawa, sekalian proyektor portablenya, dia mengarahkan pada tembok putih yang memiliki bidang yang besar, lalu Pram memutar sebuah video.
Kami semua melihat kearah tembok yang difungsikan menjadi layar.
Pertama ada kakakku, Ibuku, Seina, Malik! dan juga Pak Hanif di sana. Di video itu memperlihatkan prosesi Ijab Qabul yang dilakukan oleh Pram, dimana walinya adalah kakakku, ada seseorang yang menikahkan kami yang terlihat seperti kiai, dia sepertinya yang mengeluarkan surat pernikahan agama ini.
[Saya terima nikah dan kawinnya Seira Adam Hanida Binti Ushadi, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.] seperti itulah video itu terlihat, aku seketika melihat kearah Pram, Pram tersenyum padaku dan merangkulku, dia lalu berbicara kepada pada Tetua.
“Apa ini masih kurang?” Pram bertanya, yang lain langsung tertunduk lesu, karena pernikahan kami tentu saja mengikrarkan pernikahan Agung antara 2 orang yang berstatus tinggi di Tanah Pasundan.
“Selamat yang Mulia Pram dan Yang Mulia Ayi.” Mereka semua langsung member selamat, sementara Mudha Praya hanya diam saja, dia sepertinya masih ingin membantah keabsahan video Ijab Qabul itu itu, tapi dia sudah tidak memiliki pendukung karena yang lain meresa bahwa video itu benar.
“Selamat Yang Mulia Pram dan Yang Mulia Ayi, kami tentu menunggu resepsi yang akan kalian lakukan, tapi satu lagi yang masih agak menjanggal kenapa ya, kok tidak ada Yang Mulia Ayi di video itu?” Mudha Praya masih saja mencoba menyerang kami.
“Bagaimana dia bisa ada, kalau kalian menahannya di sini? Apa yang terjadi Queen sampai kau tidak bisa datang ke pernikahan kita?” Pram berakting.
“Aku tersesat dan seseoang menjemputku ke sini, ya aku ikut saja, nanti mereka marah dan menyangka aku tidak sopan karena tidak mau mampir, saat sampai sini aku mau minta Mustika Delima tapi tidak diberikan katanya kita harus menikah dulu, padahal kita kan memang punya rencana sendiri, mereka aneh menuduhku, jadinya aku juga jadi bingung.” Aku ikut berakting seolah aku tertindas, para tetua terlihat sedikit ketakutan, karena jika kau dan Pram masing-masing kami memang terlihat cacat, tapi jika kami bersatu maka kami utuh dan merupakan tatanan tertinggi dari status di Tanah Pasundan ini.
“Tidak seperti itu Yang Mulia Ayi, ambillah yang menjadi hakmu, Mustika Delima dan ketiga mustika lainnya, itu memang hadiahmu.” Salah satu Tetua yang mempunyai posisi sederajat dengan mudha Praya berkata.
Seorang penjagapun membawakan kami 4 Mustika yang menjadi hadiah pernikahan kami, aku melihat Mustika Delima dengang tatapan bahagia, Tini saat ini sedang memelukku, dia senang karena akhirnya bisa kembali pada sang pencipta.
Setelah mendapatkan seluruh mustika, aku dan Pram pamit, Pram membawa mobil jeep yang sangat besar untuk kami berdua, saat mau naik kami hanya diantar oleh Mudha Praya.
“Mungkin saat ini kau bisa lolos Ayi, tapi percayalah, aku tahu yang kau sembunyikan.” Mudha Praya mengancamku sebelum aku naik ke mobil.
Aku berbalik dan membalas perkataannya, “Kau bisa melihat Tini kan?” Aku bertanya, dia terlihat terkejut karena aku menyadari bahwa dia bisa bisa melihat Tini, yang bisa melihat Tini hanya ada 2 jenis orang, pertama yang memiliki status selevel denganku, sayangnya kau bukan berada di leveluku, bahkan keluargamu pun berada 5 level di bawah Nenek Moyangku jadi bukan itu alasannya kau bisa melihat Tini, sedang jenis kedua bagi orang yang bisa melihat Tini adalah, keluarganya sendiri.” Aku menaikkan alisku sebelah, sebagai tanda mengejeknya.
“Apa yang katakana, aku tidak mengerti.” Dia sedikit gugup karena rahasia terdalamnya sudah aku ketahui.
__ADS_1
“Kau adalah Ayah dari Ayahnya Tini kan? Kau Kakek kandungnya Tini, seorang Kakek melihat cucunya tidak ada sedikitpun rasa ingin memeluk? Sungguh Kakek yang tidak berakhlak, semoga Tuhan menghukum Kakek yang tidak mampu menjaga cucunya dengan baik!” Aku menggertakkan gigiku, aku sedikit emosi, Tini menangis melihatku marah pada Kakeknya.
“Maaf Ayi aku benar-benar tidak mengerti dengan yang kau katakan, dia mundur dari dekatku, karena dia takut aku menghajarnya, mengingat betapa geramnya aku.
Tidak lama kemudian dia pergi dengan kesombongan dan keangkuhannya, lihat saja sebentar lagi kekuasaan kalian akan runtuh, akan ku investasikan semua yagn kupunya untuk membuat kalian hancur!
“Kakak.” Tini menangis.
“Tenang Putri cantik, ayo Kakak gendong sayang.” Aku menggendongnya dan menaikkan dia ke jeep.
“Kita harus kembali ke gunung itu Pram.” Pram berada di sebelah bangku kemudi, aneh biasanya dia selalu duduk di bangku penumpang.
“Malik!” Aku menengok kearah pengemudi, Malik pun melihatkku di kaca spion di dalam mobil.
“Ssstt, kita masih dia areal musuh, tahan suaramu.” Pram mengingatkan.
“Ups, Sorry …. “ Aku pun mundur kembali dan memeluk Tini.
“Kita akan pulang Puteri cantik.” Aku memeluknya.
…
Perjalanan ke Gunung tempat tinggal Tini cukup jauh, perlu waktu selama 2 hari penuh untuk sampai ke sana, kami juga harus menyebrang laut, lalu naik dengan jalur illegal karena gunung ini memang tidak terdaftar dan tidak terlihat, Tini mengijinkan kami melihat gunung itu karena meminta bantuan.
Sejauh orang memandang, gunung ini adalah sebuah jurang, bukan sebuah gunung, tidak ada yang berani melintas, bahkan timbul beberapa cerita bahwa ada beberapa petapa yang bisa melewati jurangi ini hanya dengan berjalan, mereka tidak tahu bahwa petapa itu mungkin saja tahu tentang tipudaya penglihatan hingga saat dia berani melintasinya, dia menyadari bahwa ini bukan jurang.
Kami naik gunung dengan berjalan tentunya, mobil tidak bisa lewat, ini sudah malam sekali. Saat sudah setengah jalan, kami mendengar ada suara gaduh seperti gamelan dan suara sinden sedang bersenandung.
“Pasar malam!” Aku berteriak, sementara yang lain biasa saja, Tini tersenyum melihat pasar malam.
“Tini mau ke pasar malam?” Aku bertanya.
“Iya Kakak, dulu Tini pernah minta Ayah Ibu ajak Tini ke pasar malam, tapi Tini tidak pernah diajak.” Dia kembali mengingat orang tuanya yang bodoh.
“Ok, sekarang Kakak yang ajak Tini, Tini boleh minta dibelikan apapun.” Aku mengajaknya.
“Queen kau mau belikan Tini pakai uang apa?” Pram bertanya, karena transaksinya tentu bukan pakai uang dari bangsa manusia.
“Itu bisa diusahakan.” Aku berlari.
“Tini mau apa? Tinggal tunjuk Kakak akan belikan.” Kami terus saja berjalan mengikuti pasar mala mini, tentu pasar malam ghaib, mereka menjual benda-benda yang cukup aneh.
“Aku mau ini Kakak.” Tini menunduk tusuk konde dengan hiasan pesta berbahan kain, wanginya enak sekali tusuk konde ini.
“Tini mau rambutnya dikuncir sama Kakak?” Aku bertanya.
“Iya Kakak, mau diikat rambutnya.” Dia tersenyum sumringah, aku sangat ingin dia senang dan bahagia, hingga kenanangan tentang dunia ini menjadi lebih baik untuknya.
Lalu kami melipir ke suatu tempat makan, “Malik, Pram duduk sini, makan di sini.” AKu menawari mereka makan, secara bersamaan mereka menolak, tentu saja, orang makanan Jin, mana suka mereka.
“Dapat uang darimana?” Pram bertanya.
“Aku menukar salah satu mustika berwarna kuning, hadiah dari Mudha Praya untuk mendapatkan mata uang mereka, ternyata mata uangnya daun khusus, entah daun apa, daunnya wangi dan tebal.”
“Yup, dan tusuk konde ini membuat adikku bahagia.” Aku tersenyum kepada Tini, tidak ada yang bisa melihat dia, bisa dibilang, Tini ini hantunya hantu, hanya kami yang memiliki kelas yang sama yang bisa melihatnya, makanya dia terkunci di bangunan itu, tanpa ada yang bisa menolong, saking tingginya ilmu dari orang tuanya.
“Malik, kenapa kau diam saja, apa kau masih marah?” Aku bertanya, Malik terlihat murung dan diam saja.
“Bagaimana dia tidak murung, dia menjadi saksi dari pernikahan kita.” Pram tertawa terbahak-bahak.
“Pram!” Aku memarahinya.
“Ok, ok, kan sudah kuceritakan semua.” Pram berkata.
Ya, Pram bercerita bahwa ide ini sebenarnya datang dari Malik, ketika mereka berhasil turun dari gunung, mereka langsung memerintah anak buah Pram untuk menyiapkan kendaraan agar mereka bisa sampai ke kediaman Mama dalam waktu singkat.
Begitu Malik dan Pram sampai ke rumah Mama, mereka menyiapkan pernikahan Palsu, ya, pernikahan Palsu. Seorang Jin menyamar menjadi penghulu agama yang cukup terkenal, beberapa Jin juga menyamar menjadi Mas Ridho, Siena dan Pak Hanif. Tentu saja pernikahan ini menjadi pernikahan tidak sah karena, Jin menyamar menjadi orang-orang yang dekat denganku, dan otomatis pernikahan ini batal karena tidak memenuhi unsur pernikahan agama.
“Kau yang mengusulkan tapi kau yang marah, ada apa ini?” Aku bertanya.
“Tidak, aku hanya merasa bahwa, jika saja kau mengikuti apa mau ketua, maka masalah selesai, kalian bisa hidup damai, aku merasa menjadi sumber masalahmu.”
“Kau bicara apa, kita sama-sama tahu apa masalah sebenarnya, aku bukan hanya memperjuangkan pernikahan kita Malik! aku memperjuangkan yang jauh lebih besar dari itu.” Aku marah.
“Melihat kau begitu dihormati di sana membuatku tidak percaya diri Ser, aku merasa bahwa aku tidak cukup pantas untukmu.” Dia menyebalkan sekali, kemana semua sikap arogannya yang selalu dia tampakkan, aku bahkan tergila-gila padanya karena sikap arogansinya, sikap angkuh dan sombongnya sangat keren, dia bahkan memulai penaklukan lebih dulu dariku, ada aura jahat dan malaikat yang terpancar darinya secara bersamaan, kalau kau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat mata biasa, kau akan bisa melihat bahwa aura Pram putih bersih, seperti aura malaikat, sedang Aura Malik, tidak hitam tidak putih, itu karena dia menekuni dua ilmu, ilmu hitam dan ilmu putih hanya untuk menjadikan dirinya sejajar denganku.
Pengorbanannya jauh lebih menyakitkan karena dia orang biasa yang ditinggalkan Karuhunnya, dengan mata ketiga yang menakutkan, lalu berubah menjadi tubuh penuh kaca, aku tidak tahu seberapa sakitnya tubuh itu menanggung rasa sakit yang luar biasa.
“Kalau kau ragu pergi dari kawananku dan hiduplah seperti manusia biasa, mungkin menikah dengan Hany.” Lalu aku meninggalkannya, dan menuntun Tini untuk naik ke atas gunung, dimana bangunan rumahnya berada.
Aku melihat Malik dan Pram mengikutiku.
Semakin keatas, suara dari pasar malam makin lama makin hilang, tidak ada lagi suara-suara itu. Setelah sampai bangunan itu, kami menuju ke belakang bangunan, ada gundukan lama tanpa nisan, Tini bilang disanalah tubuhnya dikuburkan sendirian, tanpa ayah dan ibunya tau dan dimkaamkan tanpa prosesi agama yang benar.
“Setelah ini kau akan tenang, kembali ke Tuhan sayangku.” Aku memeluknya dulu, aku sangat ingin dia bahagia.
Aku menaruh Mustika Delima, Mustika yang menjadi tujuanku ke sarang musuh, aku menaruhnya ke tempat di mana Tini dikuburkan, aku menguburkan Mustika ini bersama tubuhnya kembali, dan menutup kuburna itu dengan layak, lalu membuat nisan alakadarnya dengan namanya di sana. Setelah Mustika itu aku kuburkan Tini perlahan berubah menjadi gadis cilik yang sangat cantik, dengan rambut panjang, baju gamis putih yang bersih dan hiasan kepala yang bersinar.
“Ini buat Kakak, ingat Tini selalu ya Kak, ingat anak-anak yang bernasib seperti Tini karena mereka Kak, jangan menyerah apapun yang terjadi.” Tini mengecup kening dan pipi kanan kiriku.
“Aku tidak akan berhenti sampai anak-anak seperti kita bisa mendapatkan keadilan sayang, aku akan mengobankan jiwa dan ragaku sampai tetes darah terakhir, tidak ada yang akan bisa membautku berhenti,” Aku menangis sejadinya, Malik yang dari tadi menjauh, tiba-tiba memelukku dan menangsi bersamaku, Pram dari belakang terlihat juga menahan tangis.
Bersama derai tangis kami, Tini pergi bersama sesosok cahaya yagn sangat kemilau, kami tersilaukan, Tini dibawa keatas dan dia sempat tersenyum kepadaku.
“Tini sudah pergi, dia sudah pergi bersama malaikat, dia pasti akan bahagia, setelah lama di sini, menunggu siapa saja yang bisa melihat dia sendirian, anak sekecil itu.
“Sudah pagi, kita turun saja ya?” Aku bertanya kepada kedua lelaki itu.
“Iya terserah Yang Mulia.” Pram meledekku, Malik masih saja memelukku.
“Kau kenapa? Tadi aja cengeng. Pake putus asa lah.” Aku mengejeknya.
“Aku kan manusia biasa.” Malik ikut bercanda dan kami tertawa.
__ADS_1
Kami pun meneruskan perjalanan untuk turun gunung, lalu pergi ke tujuan awal kami, yaitu rumah ayah.
“Queen, kenapa Mustika Delima mesti di kubur di sana sih? Kenapa kau juga pergi ke sarang musuh, aku tidak mengerti.” Pram bertanya, kami masih berjalan turun ke bawah dari puncak gunung ini.
“Hmm, mustika itu adalah jantung Tini yang dikeluarkan sesaat setelah dia meninggal.” Aku berhenti sejenak, dadaku sakit inigin menjelaskannya, aku marah sangat marah, jasad anak kecil yang mereka bunuh lalu dikerjai setelah meninggalnya.
“Apa? Gila!” Pram geram.
“Aku melihat prosesinya, ini yang aku sembunyikan dari kalian, aku takut kalau kalian ikut, mereka akan curiga tentang keinginanku mengambil Mustika Delima, yang merupakan jantug Tini.”
“Mudha Praya?” Pram bertanya.
“Kemungkinan, aku melihat pembantu mereka mengelurkan jantung Tini dan memberinya cairan ghaib, mantra lalu jantung itu berubah menjadi Mustika Delima yang amat berharga, mustika itu mampu menyembuhkan dan member penyakit dalam waktu bersamaan.
“Apa maksudmu bersamaan?” Pram masih belum mengerti.
“Mustika Delima itu memiliki kelas tertinggi, kenapa begitu, karena berasal dari tubuh Tini yang merupakan cucu dari Mudha Praya, Istri Mudha Praya adalah anakc cucu keturunan Ayi Mahogra 350 tahun lalu, sedang Mudha Praya adalah Kharisma Jagat Agung, anak laki-laki yang dilahirkannya merupakan anak agung, banyak orang bilang anak itu akan menjadi Kharisma Jagat Agung dengan pangkat tertinggi, rajanya Kharisma Jagat, tapi begitu aku lahir, impian Mudha Praya tumbang, ditambah ternyata anaknya malah menikahi gadis biasa, bukan Kharisma Jagat juga seperti dirinya, maka aib ini dia tutupi, begitu Tini lahir, anak yang dianggap anak dari pernikahan yang cacat, maka Mudha Praya membuat rencana membunuh cucunya sendiri.”
“Brengsek, kita kembali lagi, kita habisi markas itu, aku ingin mencekik leher kakek sialan itu.” Pram mengumpat dengan kata-kata kasar, dia saja bisa geram apalagi aku yang bisa dibilang saudara segaris dengan Tini.
“Mudha Praya tahu, biarpun Tini lahir dari ayah yang Agung dan Ibu yang biasa, dia tetaplah anak Kharisma Jagat Agung, dia memiliki posisi selevel denganku karena merupakan cucu dari Ayi Mahogra, maka dari itu dia menyuruh pembantu itu untuk mempersiapkan kematian cucunya dan juga mengambil jantung itu.” Aku menangis, mengingat betapa penderitaan anak itu sangat besar.
“Ada ya kakek macam itu.” Pram berkata lagi.
“Ada, itu Mudha Praya. Sayang sekali, padahal kalau dia mempertahankan anak itu, bisa saja, dia menjadi anak yang sangat hebat dan penyayang. Tapi Mudha Praya begitu menjunjung tinggi status pernikahan adat, dia dan garis keturunannya salah satu pendiri utama pernikahan adat, sehingga dia dididik untuk menjaga peraturan itu, makanya ketika anaknay melakukan pernikahan cacat, dia murka dan melakukan segala cara agar anaknya kembali padanya dan menikah dengan benar.”
“Bagaimana dengan Ayah dan Ibunya Tini?” Pram bertanya lagi.
Kami masih menyusuri gunung utnuk turun, gunung ini memang lumayan besar.
“Mereka bercerai, Ibunya Tini takut kalau dia hamil lagi dia harus kehilangan anak lagi, tepatnya mental Ibunya Tini kena, dia percaya isu sialan itu, makanya dia akhirnya minta cerai, Ayahnya Tini yang putus asa, kehilangan Istri dan anak dalam waktu bersamaan, akhirnya pulang ke Ayahnya dan mengikuti semua yang ayahnya perintahkan. Menikahi Kharima Jagat dengan kelas diatas mereka, tapi sayang, setelah menikah belasan tahun, mereka belum juga dikaruniai anak, mungkin ini murka Tuhan terhadap keluarga mereka, yang membuat anak kecil istimewa tersiksa. Ayahnya Tini tidak begitu baik pada istri barunya, sehingga hubungan mereka lumayan rumit, lalu Ibunya Tini menjadi janda sampai sekarang, tanpa suami dan hidup miskin.” Aku menjelaskan panjang lebar. Kami sudah di bawah. Ketika sampai bawah kami kaget, ada begitu banyak orang berkerumun, bahkan ada pihak televisi segala, banyak kamera dan juga mobil-mobil yang memuat perlengkapan untuk siaran langsung.
Aku, Malik dan Pram langsung berlari, agar kami tidak terlihat mencolok dan seperti orang yang baru saja turun daru puncak,
Kami mencoba menguping apa yang sebenarnya terjadi, kenapa di sini ramai sekali.
“Pemirsa, kami saat ini berada di gunung Ghaib, ada seorang saksi yang kaget karena jurang ini tiba-tiba berubah menjadi gunung, gunung yang masih belum terjamah sama sekali, fenomena apakah ini.” Kurang lebih begitu kata salah satu seorang pembawa acara televisi, aku, Malik dan Pram manggut-manggut.
“Kita makan mie dulu ya, aku lapar, udah jam 12 siang juga, kita turun lumayan lama, ok guys.” Aku terbawa suasana karena dekat dengan beberapa Youtuber yang mampir ke sini.
“Ok guys.” Pram menimpali, lalu kami mendekati salah satu warung di kaki gunung ini, walau dulu tempat ini dikenal dengan sebutan jurang indah.
Kami asal memilih tempat saja, yang bisa kami jangkau tercepat, seorang kakek menghampiri kami dan menanyakan kami mau makan apa.
“Mau mie rebus Ki, sama kopi item ya.” Malik memesan yang sama denganku dan Pram memesan the manis, dia bilang kopi tidak baik untuk tubuhnya, aneh. Kasian Karuhunnya, nggak pernah minum kopi.
Setelah itu makanan dan minuman kami sampai. Lalu Aki penjual mie tiba-tiba ikut duduk.
“Saya tahu, kalian bertiga yang tadi malam naik kan?” Aki itu berkata.
“Sssttt, jangan keras-keras.” Aku memperingatkannya.
“Aki liat kami?” Aku bertanya.
“Iya, kan aki walau tutup masih suka liat-liat, trus ada kalian, Aki nggak kaget kalian bisa naik padahal itu jurang, banyak petapa yang bisa seperti kalian, tapi orang-orang muda seperti kalian jarang sekali Aki liat,” Aki penjual berkata.
“Kami mengembalikan sesuatu pada tempatnya Ki.” Aku sembari makan menjawab, Malik keliatan tenang, aku tahu lelakiku itu pasti kelaparan.
“Pantas gunung itu jadi terlihat lagi, dulu sekali gunung itu memang ada, waktu itu Aki sering ke kaki gunung itu mencari kayu bakar sekitar 30an tahun lalu, tapi tiba-tiba tidak tahu kenapa gunung itu hilang dan menjadi jurang, dan orang-orang sekitar yang tahu kejadian itu hanay mengatakan bahwa ada seperti suara petir ketika gunung itu akhirnya menghilang, kami semua mengira gunung itu hancur dan longsor, tapi aneh, masa gunung setinggi itu kalau longsot hilang sama sekali dan yang tersisa hanya jurang tanpa dasar, tapi jujur tidak ada siapapun berani mendekatinya lagi. Sampai tadi pagi gunung itu muncul dan berita menyebar begitu cepat, dalam hitungan jam semua orang sudah di sini.” Aki menjelaskan dengan panjang lebar.
“Mungkin karena sudah dikembalikan lagi ketempatnya Ki, makanya gunung itu kembali seperti semula, gunung indah yang sangat penuh dengan magis, jaga gunung ini ya Ki, jangan sampai ada hal-hal buruk di sini, katakana kepada mereka seperti ini, gunung ini milik seorang anak yang kesepian, tapi sekarang anak itu sudah kembali kepada Tuhannya, makanya jangan macam-macam dengan gunung ini, kalau tidak bisa hilang bersama gunung ini lagi.” Aku memberinya cerita karangan, agar gunung ini dijaga dengan baik.
“Baik De, akan saya bicarakan dengan semua orang dan pemerintah daerah.”
“Terima Kasih Ki.” Aku mengatakannya dengan tulus.
Aki penjual mie lalu pergi melayani yang lain.
“Malik, kok lu biasa aja sih pas Siera cerita soal Mudha Praya dan keturunannya si Tini itu?” Pram tiba-tiba buka suara.
“Ya biasalah, orang gue udah tau.” Malikku sudah kembali dengan sikap sombongnya.
“Tau darimana lu?” Pram tak terima dan tidak percaya juga, menurutnya mungkin Malik hanya asal bicara.
“Mungkin lu lebih jago dari gue soal ilmu, karena lu Kharisma Jagat, tapi soal jam terbang, lu kalah jauh, gue udah tau tentang gunung ini jauh sebelum kita jatuh di sini, tapi nggak ada yang tau letaknya, pun soal anak Kharisma Jagat Agung yang terkubur tidak layak di sini. Semua udah gue tau sejak gue sering berkelana menaklukan Karuhun liar, ya lu tau lah, Karuhun liar punya banyak informasi yang bahkan Kharisma Jagat aja nggak tau, jadi gue udah tau dikit banyak soal itu.” Malik menjawab, aku hanya mendengar saja.
“Oh, pantes lu nyuruh buat rencana pernikahan palsu itu, karena lu tau bahwa Mudha Praya yang gila status dan pernikahan adat itu akan bisa dikalahkan dengan system kekuasaan, makanya lu minta adain pernikahan palsu, tapi dari mana lu tau kalau Seira itu ada di markas musuh?” Pram menguji lelakiku lagi.
“Mudah, dari jejak yang kita cari, gue tau dia dan Tini kearah Markas perlindungan, gue pernah ke sana sekali, tapi itu juga diam-diam, sesaat setelah gue dapat tubuh penuh beling itu, bau gue mirip bau mereka, jadi saat gue nyelinap nggak ada yang tau, gue kesana mencuri beberapa Karuhun milik Tetua, untuk ku jadikan Pasukan Seira kelak, yang rencananya akan aku berikan kalau aku tidak selamat.” Malik memang sering hilang dulu, bilangnya ada meeting gitu, atau malah mengerjaiku bilang pergi dengan seorang perempuan, taunya dia melakukan hal-hal gila untukku.
“Lu pernah menyelinap ke Markas mereka? Dasar gila lu!” Pram terlihat sedikit kagum.
“Lah, Hutan Selatan aja dia pernah nyelinap, tapi babak belur ya sayang?” Aku bertanya.
“Iya.” Malik tertawa, mengingat dulu Raja Bapati sangat ingin dia mati tapi setelahnya malah memberi Teh Amreta, teh kehidupan, dia bilang dia melihat cinta yang besar di hati Malik untuk seseorang, sama seperti dirinya yang sangat mencintai Nyai Jasmine. Malik pernah cerita padaku.
“Kenyang ya.” Kami sudah selesai makan.
“Aki sini.” Pram memanggil Aki dan bermaksud membayar, Pram sudah bawa uang banyak rupayan.
“Pegang ini, ini sekitar 10 juta, katakan seperti yang Seira katakana, jaga gunung ini, aku akan menelusuri apakah gunung ini milik pemerintah atau bisa dimiliki pribadi, kalau bisa aku akan membelinya untuk Seira, dan sudah pasti Aki sebagai kuncennya, uang ini pegang dulu, nanti aku akan transfer lebih banyak, yang penting bantu, siapa tahu gunung ini bisa kita miliki dan kita akan menjaganya dengan baik.” Pram memberikan uang itu, Aki itu terlihat kaget dan sangat berterima kasih, dia tidak menduga akan mendapat rejeki yang besar.
Setelah berpamitan, tidak lupa membayar Mienya, walau tadi sempat ditolak, tapi kami memaksa membayar, karena makan kami tidak termasuk biaya menjaga gunung itu makanya Pram tetap bayar semua biaya makan kami.
Kami melanjutkan jalan ke rumah Ayah, Pak Hanif menelpon barusan, katanya keadaan di sana semakin kacau, pasti ulah Mudha Praya lagi, dia memang tidak bisa membuat aku tenang.
_______________________________________
Catatan Penulis :
Bahagiaku, saat orang-orang yang ku sayang, tidak pernah meninggalkanku, bahagiaku sederhana, aku bisa tertawa bersama mereka yang menyandarkan keyakinannya padaku.
Salam sayang dari Author Karuhun Muka Kanvas/RPs
__ADS_1