
Hutan Mati Selat Sunda, kami mengendarai pesawat, lagi-lagi pesawat cesna single engine. Tahukah kalian bahwa di dekat Selat Sunda yang memisahkan antara Lampung dan Banten, ada begitu banyak objek wisata yang sangat indah, ada pantai, ada hutan ada juga pegunungan.
Tidak heran karena memang lokasi tersebut dekat dengan Gunung Krakatau, gunung yang anak-anaknya ambegan, kadang aktif kadang tidur, semoga gunung tersebut menjadi gunung baik yang mampu memberi perlindungan pada penduduk di daerah tersebut dengan tidak pernah aktif kembali.
Kami akan langsung menuju Hutan Mati Selat Sunda, tentu lokasinya tidak benar-benar di Selat Sunda, tapi lokasinya ada di dekat Cilegon, masih wilayah Banten, tapi berdasarkan infomasi bahwa hutan itu tidak pernah sekalipun dikunjungi karena terpisah dengan sebuah sungai yang memiliki arus deras dari pemukiman penduduk terdekat, selain itu wilayahnya yang menakutkan, membuat siapapun enggan untuk datang ke sana.
Terlepas dari seluruh rumor tersebut, ada seorang petapa, yang seorang Kharisma Jagat buangan, yang tinggal di sana.
Dia menjadi Kharisma Jagat buangan karena begitu seringnya membantah peraturan yang dibuat oleh para Tetua, sehingga akhirnya dia dihukum dengan diharuskan bertapa selama 50 tahun sampai diampuni kembali, karena dia sering membantah, maka dia tidak benar-benar mengikuti apa yang para Tetua inginkan, dia hanya pergi ke Hutan Mati lalu hidup di sana, dari yang aku dengar dari Mang Nariman, yang memang pernah beberapa kali ke sana, Kharisma Jagat buangan itu hidup sangat baik di hutan mati ini.
Aku dan Pram akan menemuinya, dia salah satu sekutu paling potensial dari seluruh wilayah. Makanya aku akan mengejar dimanapun dia berada.
Saat ini kami sudah mendarat stadion olahraga di Cilegon, Pram meminta bantuan relasinya membantu kami untuk mendarat dan menjaga pesawat Cesna miliknya, begitu kami turun, kami langsung di bantu untuk sampai pinggir sungai, sungai yang memisahkan antara rumah penduduk dengan Hutan Mati.
Tidak ada yang berani membantu kami menyebrang, untung Pram memiliki relasi yang banyak, tentu saja dengan bantuan uang yang banyak juga darinya, akhirnya kami mendapatkan Jet Ski milik teman pengusahanya, aku dan Pram menyebrangi sungai dengan Jet Ski, aku duduk di belakang, sementara dia di depan mengendari motor air ini.
Sebenarnya ini bukan kali pertama aku naik Jet Ski, karena Malik dulu juga pernah memboncengku dengan Jet Ski di Bali, bahkan aku mengambil kesempatan dengan memeluk kencang Malik dari belakang dan berpura-pura takut, aku tertawa karena mengingat momen itu.
“Kenapa Quin?” Pram yang sedang bersiap untuk mengendarai Jet Ski ini bertanya, dia melihatku tersenyum sendiri.
“Tidak, aku hanya ingat ketika pertama kali aku mengendarai kendaraan seperti ini.”
“Apa itu dengan Malik?” Pram bertanya.
“Pram …. “ Aku keberatan dia bertanya lebih jauh.
“Ok, pegangan yang kencang ya, kalau pakai Jet Ski, haram untuk pelan-pelan, kita akan ngebut ya.” Aku memegang bahunya dengan kencang, karena aku tidak nyaman memegang pinggangnya.
Lalu Pram mulai mengendarai, betul saja, dia begitu kencang mengendarainya, hingga cipratan air begitu tinggi di samping kanan dan kiri kami, aku tertawa karena memang sensai mengebut di laut itu sungguh menggelitik perutku.
Tidak lama kami sampai pinggi sungai sisi Hutam Mati Selat Sunda. Pram menyandarkan Jet Skinya pada tempat yang aman, lalu kami mulai masuk ke Hutan Mati.
Pemandangan hutan ini, seperti hutan pada umumnya, pohon Sonokeling berdiri memnyambut kami, batannya yang ramping, daunnya yang jarang membuat matahari masih bisa menembus ke bagian dalam hutan.
Kami berjalan terus masuk ke dalam, tidak ada jalan setapak yang menandakan ada kehidupan di sini, semua tentang pohon dan pohon yang tinggi.
Aku menatap keatas, matahari yang tertutup pohon begitu indah, sinarnya berusaha menerobos masuk, tapi masih di halau oleh para daun yang tumbuh subur, perpaduan wangi pepohonan dan keindahan penampakan mereka membuat hutan ini begitu mempesona.
“Pram indah ya?” Aku menunjuk keatas, aku ingin dia melihat apa yang kulihat.
“Yang mana?” Pram bertanya.
“Itu.” Aku heran kenapa Pram tidak melihat yang aku lihat.
“Disini gelap, apa yang kau bisa lihat dari kegelapan ini? mana udaranya pengap.” Pram berbicara, aku tidak tahu apa yang dia katakan, aku sulit melepaskan mataku dari keindahan ini.
“Seira!” Aku menoleh ke belakang, ada yang memanggilku.
“Malik!” Aku langsung berlari kearahnya. “apa yang kau lakukan di sini, bagaimana kau menemukan kami?” Pram menarik tanganku dan menghalangiku berlari kearah Malik.
__ADS_1
“Kau kenapa?!” Pram berteriak.
“Malik ada di sana Pram, lepaskan aku, aku ahrus berbicara padanya, dia harus pergi darisini.” Aku mencoba melepaskan tangan Pram.
“Tidak ada orang di sana, tidak ada siapapun di tempat yang kau tunjuk.” Pram mendekatkan wajahnya padaku.
“Tidak Pram, ada Malik, lihat itu, dia sedang menatap kita, lepaskan tanganmu, aku harus berbicara padanya.” Aku tidak mengerti ada apa dengan penglihatan Pram, dia tidak pernah melihat apa yang aku lihat.i
Pram menarik tubuhku dan mengikatku pada sebuah pohon dengan Karembo Beureumnya.
“Pram, kau sudah gila! Lepaskan aku!” Aku berteriak seperti orang gila, sementara Malik masih saja berdri di sana.
“Ada yang tidak beres, sebentar aku akan memastikannya.” Pram menjauh, dia masuk lebih dalam lagi dari hutan ini.”
“Pram, lepaskan aku!!!” Aku berteriak, tapi tidak ada suara.
Pram kembali dengan membawa sesuatu, BUNGA TEROMPET. “
“Pram lepaskan aku, Malik masih disana, apa yang kau lakukan?” Aku bertanya.
“Kau kena zat Halocinogen dari bunga terompet ini, tidak heran kau berhalusinasi, apakah kau tadi memegang sesuatu atau mencium bau sesuatu?” Pram memperlihatkan Bunga Terompet yang dia bawa dengan hati-hati.
“Pram! Lepaskan aku!” Aku kesal dengan lelaki bodoh ini, kenapa dia masih tidak mau melepas ikatanku, kasihan Malik berdiri di sana.
“Ayi, kendalikan dirimu.” Aku mulai mengencangkan ototku, mengeluarkan kujang dan menarik tali ikatannya kuat-kuat.
Ctasss, ikatan yang Pram buat lepas, Karembo Beureum untuk kedua kalinya robek.
Brugh!
Aku di tangkap lagi oleh Pram, dia memegang tubuhku dengan sangat keras, aku meronta hendak melepaskan pegangannya yang kuat, dia terus memelukku dari belakang, Malik berdiri tepat di depanku, aku menggigit lengan Pram, Pram reflek melepaskan pelukannya, aku berlari mengejar Malik lagi dan ....
Byur ....
Tubuhku jatuh ke air, aku berusaha berenang, kakiku kram, aku tidak bisa mencapai permukaan, Malik tolong aku, kenapa kau diam saja diatas sana melihatku tenggelam seperti ini? perlahan-lahan Malik pergi dari sana, aku menutup mataku, pedih sekali melihatnya pergi, sepedih inikah hatimu saat melihatku pergi Malik?
Samar kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang ditarik keatas dan digendong menuju pinggiran sungai.
“Pram, maafkan aku.” Aku mengatakannya sesaat sebelum semuanya terasa gelap.
...
Aku terbangun dalam keadaan kepala yang begitu sakit, aku di sebuah gubug yang ditutupi jerami.
Berusaha bangkit dan melihat Pram ada di depan dengan seorang wanita, umurnya sekitar 40 tahun, cantik.
Mereka berdua sedang ngopi bareng, ada sebuah tungku kecil yang dinyalakan dengan kayu bakar, diatasnya ada teko kecil, dari sanalah mereka menunag kopinya.
“Quin, sudah bangun?” Pram menghampiriku dan memapahku mendekati wanita itu, wajahnya jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat.
__ADS_1
“Namaku Jasmine.” Dia mengulurkan tangannya.
“Aku .... “
“Ayi Mahogra, aku tahu kau akan datang ke sini.” Dia menyambut tanganku, tapi berkata bahwa dia mengenalku.
“Darimana kau tahu?”
“Mang Nariman mengirimiku pesan melalui Karuhun barunya, Bagus Heulang namanya?”
“Oh, iya. Maaf aku tidak menyangka bahwa petapa yang mereka sebut itu seorang perempuan cantik.” Aku berkata.
“Jadi kamu berharap aku laki-laki?” Dia berkata.
“Oh bukan begitu, aku hanya merasa bahwa kau seorang perempuan hidup sendirian disini, di hutan mati ini, rasanya itu terlalu berat.” Aku berkata dengan serius, karena memang itu yang aku rasakan.
“Aku tidak hidup sendiri, aku hidup dengan pepohonan, tumbuhan, ikan-ikan disana dan sesekali dengan penduduk, walau mereka tidak benar-benar tahu juga siapa aku dan di mana aku tinggal.”
Aku tertawa, sementara dia menatapku dengan lembut.
“Ayi Seira, kau ingin menaklukan Karuhunku?” Dia bertanya tiba-tiba.
“Ya, aku kesini untuk meminta bantuanmu, aku ingin kau menjadi sekutuku.” Aku berkata tanpa basa-basi.
“Apa aku harus memberi Karuhunku secara sukarela? Apa aku sedang diperintah?” Dia bertanya, aku merasa dia sangat dewasa dan bijaksana tapi ada semacam benteng yang dia bangun untuk membatasi orang mendekatinya.
“Apa yang kau rasakan, apakah aku termasuk orang yang suka memerintah?” Aku harus mendekatinya dengan cara yang berbeda.
“Ayi Mahogra, boleh lihat tanganmu?” Dia membuka tangannya dan berharap aku mengulurkan tanganku.
Aku mengulurkan tanganku padanya, dia melihat tangan itu dan tak lama melihat wajahku, wajahnya begitu sendu dan keluar bulir air mata dara kelopak matanya.
“Jadi kau pergi sejauh ini hanya untuk sebuah cita-cita yang besar? Apakah kau tahu bahwa cita-citamu mustahil terwujud?”
“Apa kau fikir seorang Ayi Mahogra melakukan sesuatu tanpa menimbang? bahkan jika kemungkinan aku bisa mencapainya nol koma satu persen, aku tetap akan melakukannya, bahkan jika nol persen pun, aku masih punya kemungkinan takdir Tuhan yang bisa saja berbeda.” Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Aku suka semangatmu, walau tubuhmu itu menyimpan jiwa yang sedang kesakitan karena rindu yang berat, kau masih punya kekuatan untuk mewujudkan mimpimu.”
“Aku masih punya banyak kekuatan untuk mewujudkan semua mimpiku, karena memang semua yang aku lakukan bukan hanya untukku sendiri.”
“Aku akan memberikan Karuhunku untuk ditaklukan, tapi aku punya 2 syarat yang harus kau penuhi, apa kau bersedia?” Petapa wanita ini berkata.
“Baik, apapun itu asal tidak melanggar agama akan aku lakukan.”
“Kalau begitu, bersiaplah.” Dia lalu berdiri dan mengajak kami ke suatu tempat.
_____________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Apakah kalian pernah merasakan rindu yang berat? Aku pernah, tapi sayang rindu itu pernah tertahan ketika kau tidak pernah menyentuh hatiku. Aku pernah merindumu dengan hebat, tapi sayang ketika kita hanya tentang kau dan aku. Aku pernah merindu tapi kau tak pernah datang kembali.