Karuhun

Karuhun
Bagian 49 : Penaklukan Monster


__ADS_3

[Jadi Mama udah dateng ke rumahnya?] aku bertanya pada mama di telepon. Aku turun sebentar dari puncak Gunung Butir-Butir.


[Udah, tapi … kenapa sih Ser? Mama beneran nggak bisa boong ke dia kayak gini, kamu juga sebenarnya lagi dimana? Kamu kenapa ngilang gini?] Mama terdengar serak, aku tahu pasti mama khawatir, tapi aku tidak bisa menceritakan semua oadanya saat ini, aku hanya bisa memberitahunya bahwa aku baik-baik saja.


[Mah, pokoknya Seira akan telepon mama terus, Seira baik-baik aja, aku di sini sama Pram, nggak sendirian, kan Mama bilang sendiri Pram lelaki baik.]


[Dia memang baik, tapi dia bukan Malik, orang yang sudah banyak berkorban untukmu Nak, dia adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab, dan Mama sangat menyesal sudah membuat dia kecewa.]


[Ma, udah dulu ya, aku tidak bisa lama-lama, nanti aku hubungi lagi, tapi jangan menunggu, pokoknya semua akan baik-baik saja. Percaya aku Ma.] Aku menutup telepon dan bergegas nyamperin Pram dan penduduk puncak Butir-Butir yang mengantar kami.


Aku meminta mama datang menemui Malik dan mengatakan bahwa kau sudah menikah, aku hanya ingin dia melupakanku dan sibuk dengan impiannya, semoga saja rencanaku berhasil, kalaupun dia bahagia dengan perempuan, aku tidak mengapa, karena tujuanku melakukan ini semua adalah untuk membuatnya bahagia, sekarang giliranku yang harus berkorban untukknya, jika kami berjodoh, maka itu adalah bonus untukku, kalau tidak aku tidak mengapa, yang penting Malik bahagia.


Kami tidak turun gunung dengan jalan kaki, tapi kami naik jeep, mobil khusus yang melewati jalan khusus, jadi jalan menuju puncak itu, sebenarnya sudah di bangun oleh para penduduk atas, tapi hanya bisa di lihat oleh mereka saja, karena mereka pagari sedemikian rupa, dan kuncinya hanya 2, 1 di tangan Mang Nariman pemimpin tanah atas, dan satu lagi padaku, tusuk konde dari Ayi Nusia.


Kami turun dan naik mengendarai jeep khusus untuk naik gunung, mobil mewah dengan tenaga penggerak pada keempat rodanya, biasanya orang bilang 4WD, tidak heran mereka mampu membeli mobil mahal ini, karena tanah atas memiliki tanah yang subur sehingga kehidupan mereka lebih makmur, walau rumah mereka masih terbuat dari kayu dan juga bilik, tapi masalah tekhnologi mereka lebih maju dibanding penduduk di bawah.


Kehidupan mereka yang makmur ini hanya dinikmati oleh kalangan tanah atas saja, atau penduduk tanah pejuang, kenapa begitu, mungkin bayaran atas kehidupan mereka yang sulit dulu, dimana mereka mempertahankan adat dan agama, walau harus hidup di tengah hutan.


Kami naik menggunakan mobil, melewati jalan khusus, biasanya penduduk yang diserahkan kunci oleh Mang Nariman, mencari titik pintu dari pagar Ghaib yang mereka pasang, setelah dapat titik pintunya mereka akan memperlihatkan kunci yang kalau di pegang Mang Nariman berbentuk cincin bermata hijau, setelah cincin diperlihatkan di titik yang tepat, maka jalan akan terbuka, yang tadinya hanya terlihat deretan pepohonan, akan terbelah menjadi jalan menanjak yang bisa dilewati oleh mobil jenis Jeep saja, dan kami naik sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai atas. Waktu yang singkat, sementara aku harus berdarah-darah saat naik keatas, 3 minggu waktu yng harus kulewati, sekarang hanya 3 jam, didalam mobil jeep berAC yang sangat mewah, sungguh ironi.



“Selama sore Mang Nariman, terima kasih sudah membantuku menelpon ibuku, karena memang di sini jaringan minim sekali, hingga kami harus ke bawah pusat kota, agar bisa telepon ibuku.”


“Tidak mengapa Ayi, saya sangat senang Ayi sudah banyak membantu kami, sudah membantu mengembalikan ke tenangan di tanah ini, sekarang tidak ada yang akan takut lagi untuk menikah dengan yang mereka pilih, bukan yang adat pilih.”


“Baiklah, aku akan memulai sesi penaklukan Karuhun, kira-kira milik siapa Karuhun yang paling hebat di sini? Apakah punya Mang Nariman?” Aku bertanya.

__ADS_1


“Bukan, bukan milikku, tapi milik Behra setelahnya milik Bohra. Sepasang kekasih itu lah yang memiliki Karuhun paling tinggi ilmunya, itu karena mereka keturunan dari leluhur yang memiliki garis cukup tinggi.”


“Wow, aku tidak menyangka, mereka yang nyeleneh itu, pasti berat menghadapi remaja yang sedang puber.” Aku dan Mang Nariman tertawa.


“Baiklah Ayi, sore ini kita akan mulai sesi penaklukan pertama, tempatnya di tempat lapangan, karena agak sulit kalau di tempat tertutup, mengingat bentuk dan energi dari Karuhun Behra sangat tinggi, terlepas Behra mengijinkan atau tidak, tetap saja akan berat untukmu.”


“Ya aku akan bersiap.” Aku harus melakukan penaklukan, protokol atas sekutu, mereka akan menjadi pasukan pertamaku, Karuhun yang sudah ditaklukan akan memiliki 2 tuan, yaitu pemilik aslinya yang dipilih sendiri oleh Karuhun dan aku, seorang Ayi Mahogra Kharisma Jagat, yang mampu menaklukan sendiri Karuhun milik Kharisma Jagat tanpa perantara tuannya.


Ketika mereka berhasil kutaklukan, maka mandat yang datang dariku tidak akan mereka tidak patuhi, karena perintahku bahkan lebih tinggi posisinya dibanding tuan yang mereka pilih.


Tapi, untuk menaklukan mereka sangat sulit, bahkan Malik harus mempelajari ilmu hitam dan putih agar bisa melakukan penaklukan, karena begitu sulitnya melakukan itu, aku memang memiliki keberkahan sebagai Ayi Mahogra, tapi tetap saja, aku harus berusaha membujuk Karuhun untuk mau menjadi sekutuku, aku akan melakukan cara yang lembut sampai keras, karena aku harus menjadikan mereka sekutu, aku tidak mau lama-lama di sini, karena ada banyak tempat yang harus kukunjungi, mengingat aku akan melawan musuhku dengan sekutu dalam waktu dekat.



Sudah sore hari, semua warga berkumpul di lapangan, aku meras seperti biduan dangdut yang ditonton ramai-ramai, kenapa juga mereka kumpul, aku takut grogi.


“Baiklah, tapi jangan suruh aku untuk mengalah ya.” Aku bersiap, tidak dengan karembo ataupun kujang, hanya dengan tangan kosong saja, sementara dia sudah membawa cambuk, senjatanya mirip dengan senjata Pram.


Dia mulai dengan menyabet cambuknya kearahku, aku langsung menangkap cambuk itu, dan menghentaknya, tubuh Behra ikut ketarik, dia mencoba mempertahankan posisinya, tapi ujung cambuk ke tarik kencang, lalu aku berbalik dan menarik cambuk itu lebih jauh, hingga tubuhnya terseret, dia mulai kewalahan, kulihat dia memegang cambuk dengan kedua tangannya, sementara aku hanya menggunakan tangan kiriku.


Aku berhenti, lalu balik badan, menghampiri tubuh Behra yang belum siap, dan memutar ujung cambuk yang kupegang kearah tubuh ABG ini, seketika dia terlilit cambuknya sendiri, lalu jatuh.


“20 detik.” Aku berkata padanya, “masih mau lanjut?” Aku bertanya, dia menggeleng, dan kelihatan kesulitan bangun karena lilitan cambuknya sendiri.


“Behra, apakah kau hanya memiliki satu cambuk ini?” Aku bertanya, setelah membantunya lepas dari lilitan cambuknya sendiri.


“Iya Ayi, hanya satu ini.”

__ADS_1


“Nanti setelah Karuhunmu kutaklukan, aku akan menghadiahkan Karembo Hejo untukmu, akan panas jika di pegang oleh musuhmu.” Aku melihat dia kegirangan, dasar ABG, kalau ABG jaman sekarang di kasih telepon genggam sudah jingkrak-jingkrak, kalau untuk kami para Kharisma Jagat, diberikan senjata adalah suatu kemewahan yang sangat dinanti, apalagi dari seorang sepertiku, itu kata Panglima.


“Ayi tapi, Karuhunku sebenarnya sangat buas, aku saja terkadang sulit mengendalikannya, sekarang kami sedang ribut, karena kemarin aku mengabaikannya saat meminta makan lebih, jadi aku tidak bisa membantu banyak.” Dia berkata dengan lemah.


“Keluarkan dia dulu, aku akan melihat berapa lama aku akan menaklukannya.”


Behra lalu jongkok, memegang tanah dengan kedua telapak tangannya, lalu menarik kedua tangannya dari tanah, dan menghempaskan kembali tangan itu, seketika muncullah, sesosok yang sangat besar, sangat, sangat, sangat besar.


“Wah sepertinya bisa lama ini, Behra, katakan pada Mang Nariman, aku butuh kopi satu teko, karena kami akan bertarung cukup lama.” Behra senang karena aku terlihat agak goyah.


“Karuhunku hebat ya Ayi?” Behra bangga.


“Ya, tapi kamunya biasa aja.” Dia merengut.


“Berapa lama Ayi kira-kira.” Behra bertanya.


“Satu jam.” Aku memberi tahu waktu aku akan menaklukannya.


“Wow, lama sekali, hebatnya si Aing.” Lalu behra berlari ke pinggir lapangan, dan duduk bersila, dia hendak menonton penaklukan dari jarak dekat, dasar ABG.


________________________


Catatan Author :


Tidak ada yang lebih indah selain sepasang kekasih yang tidak bersama tapi saling mendoakan kebahagiaan. (Seira)


 

__ADS_1


 


__ADS_2