
Aku berlari didepan kawananku, aku mendahului kawan-kawanku, begitu sampai puncak gunung aku melihat ratusan makhluk penjaga, di depan mereka ada 3 orang tua posisi mereka seperti sedang bertapa, tapi Malik menjerit tak henti, sepertinya mereka sedang menyiksa Malik.
Aku berlari mendekati Makhluk berselendang hitam terdekatku, lagi-lagi aku menebas mereka dengan Karembo Hejo dan Kujangku, aku menebas mereka tanpa ampun satu persatu, sepuluh, dua puluh, aku tidak merasa kelelahan aku merasa semakin kuat.
Kawan-kawanku akhirnya datang dan mereka bergabung, berpesta menghabisi para pasukan Tetua, kulihat 3 orang tua yang menyiksa Malik tidak bergeming, mereka fokus menyiksa Malik, mereka bahkan tidak perduli saat aku menghabisi pasukannya. Kami terus membantai mereka tanpa henti, hingga puncak gunung ini penuh dengan tubuh-tubuh hancur dari pasukan Tetua.
Habis, sudah Habis Pasukan itu ditangan kami, aku mendekati Pak Hanif, “Siapa mereka? Tetua?” Aku menunjuk pada tiga orang yang sedang menyiksa Malik.
“Bukan, mereka Karuhun Tetua, Tetua tidak akan mungkin terang-terangan memusuhimu.”
“Kita bantai mereka?”
“Jangan, kamu dan Malik tidak boleh melakukan kesalahan yang sama.”
“Maksudmu Malik membunuh Karuhun?”
“Coba dengan Asih Kalungguhan.” Pak Hanif tidak menjawab pertanyaanku perihal Malik membunuh Karuhun, tapi dia memberi solusi
“Asih Kalungguhan? Haruskah? Aku tidak mau mereka menumpang padaku, mereka yang menyiksa Malik.” Asih Kalungguhan adalah proses menjinakan Karuhun, aku tidak tau kenapa aku sekarang mengerti semua yang dikatakan oleh Pak Hanif, mungkin karena segelku sudah terlepas.
“Mereka aslinya berbentuk Harimau semua, Ayi pasti bisa menjinakan mereka tapi hati-hati, ini Karuhun Tetua, kalau Tetua sadar sebelum mereka Jinak, mereka akan menghajar kita.”
“Bisakah Tetua menghajarku, bukankah aku yang tertinggi diantara Mereka?”
“Oh iya, aku lupa.” Pak Hanif bersiap, kami akan melakukan Asih Kalungguhan.
Aku berdiri dibelakang mereka bertiga, kulihat Malik menatap kearahku dengan kaget dan langsung menatap Pak Hanif, tapi karena siksaannya begitu berat dia tak mampu berbicara, nanti saja marahnya Malik, aku tersenyum padanya.
Aku menghilangkan Kujang ditanganku, dan mengalungkan Karembo Hejo di Pundakku, mereka terikat ke pohon penyiksaan Malik makanya mereka tidak bergeming, aku menepuk salah satu dari mereka dipunggungnya, dia jatuh, kaget, lalu berubah menjadi Harimau, pada titik ini siapapun tidak boleh membantuku karena memang begitu peraturannya, proses penjinakan ini sulit, harus tepat, aku berlari kebelakang tubuh Harimau itu, berusaha menarik buntutnya, dia berbalik dan hendak menerkam tubuhku, kulepaskan buntutnya dan menghindar, kulihat Malik makin melotot tajam kearahku, aku hanya tersenyum dan berkata, “Sorry pemanasan.”
Aku kembali menerjang tubuh Harimau ini, kupegang buntutnya dan kutarik sekencang mungkin, lalu kulempar Karembo Hejo ke tubuhnya, dia masih mencoba berontak, aku melepaskan buntutnya, membiarkan tubuhnya terbalut Karembo Hejo dengan sempurna, tidak lama dia pun tenang, itu tanda bahwa dia telah aku jinakan dan otomatis akan nurut padaku, secara teritorial dia bukan milikku tapi dia tidak akan bisa di perintah untuk menyerangku.
Kutarik Karembo Hejo dari tubuhnya, aku mengulang kembali melakukan hal yang sama dengan 1 Harimau lainnya, tidak begitu sulit begitu dilakukan yang kedua kalinya, aku berhasil.
“Sabar Malik, 1 lagi. “Aku menatapnya sembari berbisik, dia menatapku dan melengos dengan kasar, dia pasti marah karena aku sudah sejauh ini, setelah ini aku pasti dikurung.
Ketika aku akan menepuk punggung Karuhun yang tersisa satu ekor lagi, tiba-tiba angin kencang, muncul sesosok yang tidak aku kenal, ini pasti Tetua, aku ketahuan akan membuat Karuhunnya bertekuk lutut.
“Ayi Mahogra, Kharisma Jagat, ada apa kesini dan menjinakan Karuhun kami.” Dia sendirian mungkin mewakili Tetua yang lain.
“Saya, Ayi Mahogra,” Aku tidak menunjukan wajah takut, walau ada rasa sedikit takut karena Tetua ternyata terlihat sangat berkharisma, tidak heran dia juga Kharisma Jagat, pakaiannya sederhana seperti orang-orang Sunda jaman dulu, dia membawa suling di pinggangnya dengan kepalanya memakai Ikat logen Khas lelaki Sunda rakyat jelata, sepertinya dia orang baik, tapi kenapa dia ingin menyiksa Malik?
“Ayi.” Dia menunduk sejenak lalu memasang kuda-kuda bersiap untuk menebas leher Malik dengan gerakan tiba-tiba, Aku menahan sabetan Kujangnya, Kujagnnya terkena tepat di Pipiku, pipiku berdarah.
“Seira!!!” Malik berteriak, dia mulai meraung-raung, dia mencoba melepas ikatannya.
“Ayi!!” semua sahabatku berteriak, Tetua pun ikut kaget karena dia tidak menyangka aku mampu menahan sabetannya dan mampu menebak pergerakannya.
“Seorang Ayi Mahogra dengan status tinggi karena seorang Jagat Kharisma juga, tidak seharusnya melindungi pengkhianat!”
“Pengkhianat, siapa yang kau maksud pengkhianat? Malik? Dia mengkhianati siapa?”
“Dia mengkhianati seluruh Kharisma Jagat tanah Sunda dengan membunuh Karuhun Aqan Asta dan menghapus jejak tapak kaki Karuhun Aqan Asta sampai 7 turunan!”
Apa, malik membunuh Karuhun Aqan Asta dan menghapus jejak karuhunnya sampai 7 turunan, berarti setelah Aqan Asta generasi ke 8 lah baru bisa diturunkan Karuhun sekali, ternyata kesalahan tidak main-main, pantas saja Tetua begitu marah, kulihat Tetua ini orang baik.
“Betul dia membunuh Karuhunku.” Entah dari mana datangnya lelaki brengsek ini, lelaki yang hampir saja memperkosaku kemarin.
“Diam kau!” Aku mendorongnya dengan Karembo Hejo, dia terpental.
Selagi aku lengah Tetua kembali menyerang Malik, kali ini dia menggunakan dua Kujang, dia berdiri tepat di depan Malik, aku mengejarnya, aku berusaha secepat mungkin tapi aku terlambat, Kujangnya sudah diarahkan tepat di leher malik.
“MALIK!!!” Aku berteriak histeris dan memejamkan mata, sesaat kemudian aku membuka mata....
“Adinda, Ya Allah Adinda .... ” Adinda menahan Kujang Tetua dengan tubuh dan tangannya, Kujang itu menembus dada Adinda, jin cantik itu jatuh ke tanah, aku berlari menangkap tubuh Adinda yang ambruk.
“Pak Hanif!!!” Aku memanggil kekasihnya, aku ingin dia segera membawa Adinda pulang ke Pulau dan menyembuhkannya.
__ADS_1
“Tidak, Selamatkan Hanif Ayi, selamatkan Hanif. “Adinda memohon.
Kulihat Pak Hanif sedang menahan Kujang Tetua dengan tangannya, Malik menangis, aku baru pertama kali melihat Malik menangis untuk pertama kalinya, dia melihat tangan kakaknya berdarah-darah karena Kujang yang ditahannya supaya tidak melukai diri Malik.
Aku meletakan Adinda, “Aku akan menyelamatkan Pak Hanif dan kau harus bertahan.”
“Aam, jaga Adinda.” Kulihat Aam begitu terkejut karena semua serangan Tetua yang mampu membuat kami langsung lumpuh.
“Kau!” Aku menunjuk Tetua itu dan melanjutkan perkataannku, “ku perintahkan untuk berhenti sekarang juga!” Aku berkata pada Tetua dan memerintahnya untuk berhenti, aku bersiap akan menyerangnya jika dia menolak, aku akan menggunakan wewenang tertinggiku.
Tetua itu berhenti dan melepaskan Hanif dari Kujangnya.
“Ayi masih terlalu muda, sehingga banyak yang Ayi mesti pelajari, ini adalah urusan kami.”
“Perkenalkan namamu.” Aku menatapnya dengan tajam.
“Kharisma Jagat Pasundan dari Garis Wisewa Nataprawira Asta.”
“Beri hormat padaku.” Aku masih menatapnya dengan tajam.
“Dia menunduk dan menghilangkan Kujangnya.” Karena didepanku seorang Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, siapapun tidak boleh memperlihatkan senjatanya, itu adalah bentuk tidak menghormati.
“Kau tidak berhak untuk menghukum Malik, dia sekutu yang melindungi Ayi Mahogra!”
“Ayi tidak mungkin kau dicelakakan oleh jodohmu sendiri.”
“Jodohku? Aqan Asta?” Aku menatap Aqan Asta yang sudah lemah karena sabetanku tadi, saat ini tanpa Karuhunnya dia hanya manusia biasa.
“Kau pikir kau Tuhan yang menentukan JODOHKU!” aku mendekatinya, “Cucu biadabmu itu, hampir saja memperkosaku.”
Dia mundur dan langsung sujud, “Tidak mungkin aku tidak melihatnya, kami tidak melihatnya!” dia masih menyangkal.
“Aku ditawan di dunia Ni Tegrek, kalian para Tetua tidak mampu menembus dunia Ni Tegrek, itu makanya kalian tidak mampu melihatnya.”
“Tapi itu, itu tidak mungkin!”
Tetua itu menunduk dan menangis.
“Kami menyelamatkan Ayi dengan menembus dunia Ni Tegrek, kalau kami telat, Ayi mungkin sudah ternoda dan bukan hanya Aqan Asta yang akan dihukum berat, kau dan juga para Tetua lain akan menanggung amarah yang hebat dari Ayi dan karuhunnya, ingat, nenek Moyang Ayi Mahogra adalah Pemimpin para Kharisma Jahat.” Pak Hanif menjelaskan kejadiannya.
“Bagaimana mungkin cucuku yang hanya seorang Kharisma Jagat tidak berbakat bisa mengalahkan Ayi Mahogra yang ber-Kharisma Jagat?”
“Ayi tersegel sebelumnya, kabar itu bukan hanya berita bohong! itu semua benar adanya.” Pak Hanif kemabali menjelaskan.
“Aqan!!!” Tetua itu lalu membawa Aqan Asta dengan tangannya dan mereka menghilang begitu saja, begitu juga dengan para Karuhun yang sudah kujinakan.
“Pak Hanif, Adinda!” Aku suruh pak Hanif mendekati Adinda, dia tadi bahkan tetap menahan Kujang Tetua untuk menjaga Malik, padahal dia tau Adinda sudah ambruk.
Aku melepaskan Malik dari ikatannya, aku memeluknya dan memapahnya mendekati Adinda, “Pak Hanif, pergi sekarang, obati Adinda.”
Pak Hanif hanya diam saja, dia terus memeluk Adinda.
“Pak Hanif!”
“Ayi, terima kasih banyak, karenamu aku mengenal mereka, kakak beradik yang sangat tangguh.” Adinda berbicara.
“Adinda diam, kamu harus pulih!” Aku mulai menangis.
“Yang satu tampan dan arogan, tapi memiliki hati yang hangat untuk seorang wanita yang dicintainya, yang satu lagi tampan dan santun, tapi begitu dingin dengan siapapun, dia tak percaya cinta, tapi aku mampu membuatnya jatuh cinta.” Adinda terisak.
“Pak Hanif kita harus menyelamatkannya, pasti ada yang bisa aku lakukan kan?” Aku memohon pada Pak Hanif, dia selalu tahu banyak hal, kali ini akupun tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada penglihatan apapun untuk menyelamatkan Adida.
“Adinda hanya bisa selamat jika di pulau itu, pulau asalnya, kita akan terlambat untuk mencapai kesana, Kujangnya menembus jantung Adinda.” Pak Hanif memeluk kekasihnya.
“Bukankah Panglima bisa menggendong Adinda dan sampai dalam waktu sekejap.” Aku masih tidak bisa terima kami harus kehilangan Adinda.
“Tidak bisa, laut adalah teritorial milik jin-jin berkuasa, Panglima tidak bisa seenaknya menyebarang, mengingat terakhir kita memporak-porandakan laut untuk menyelamatkanmu.” Pak Hanif kembali lagi menjelaskan.
__ADS_1
“Ya Allah, apa yang harus kami lakukan.” Aku memeluk Malik, tepatnya jiwa Malik. Dia hanya terdiam.
“Aku mencintaimu Adinda.” Pak Hanif mencium kening Adinda, Adinda tersenyum dan menutup matanya, tidak lama tubuhnya hilang tertiup angin, Pak Hanif hanya menatap udara.
“Kita harus pulang dan membawa kembali jiwa Malik Ser.” Pak Hanif berjalan duluan, aku tahu dia sangat sedih, dia mencoba menutupinya, kami semua mengikutinya, Malik kupapah karena Jiwanya sedang rapuh, dia bisa dibilang sekarat, kami harus kembalikan dia ketubuhnya sesegera mungkin, sepanjang perjalanan aku memeluk Malik, Malik hanya terdiam, mungkin masih merasa menyesal dengan kematian Adinda.
...
Kami sudah sampai di kediaman Malik, kediaman tempat dia menjinakan banyak Karuhun, memang Karuhun itu tidak dipelihara, tapi kemungkinan besar Karuhun itu tidak akan pernah menyerang Malik.
Aku mengantarkan jiwa Malik kekamarnya, sudah ada Dokter Adi disana, Dokter yang memiliki Karuhun juga, dia menunggu dengan cemas, saat aku mengantarkan Malik ke Kamar perawatannya, Dokter Adi memberi hormat pada jiwa Malik, ternyata dia bisa melihat, mungkin dia juga salah satu Kharisma Jagat.
“Sudah waktunya, kembali ke tubuhmu.” Karuhun Dokter Adi memapah Jiwa Malik untuk kembali ke tubuhnya.
“Setelah ini kita akan melakukan banyak pemulihan, Seira.” Dokter itu menjelaskan, “Kita juga terbiasa melakukan operasi di rumah ini, ini memang tidak sesuai dengan kaidah Kedokteran, tapi saya melakukannya hanya karena Malik yang meminta, Aku, Malik dan Hanif saudara sepupu, kami melakukan perkerjaan ini sudah bertahun-tahun, Malik kembali dalam kondisi buruk sudah bukan hal baru bagi kami, tapi memang ini adalah hal paling menakutkan untuk kami, Malik kembali tanpa jiwa, makanya kami hanya memastikan tubuh Malik aman dulu tanpa melakukan prosedur medis apapun, karena akan percuma, tubuh tanpa jiwa tidak akan pernah bisa sadar kembali.”
“Kalian sudah melakukannya bertahun-tahun, melakukan apa?”
“Penjinakan Karuhun.”
“Kalian benar-benar membuat tempat seperti ini? Maksudku, Malik seseorang yang kukira aku kenal tapi ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali.”
“Dulu ketika ketemu kamu di Rumah Sakit, jujur saya sangat kaget, kok Malik kelolosan, bagaimana mungkin kamu yang dijaganya dari segala arah bisa berhubungan dengan Anita, wanita yang di turunkan karuhun buruk, parahnya saya melihat Kujang menempel di bahu Anita, kujang itu hanya dimiliki oleh Kharisma Jagat dengan status tertinggi, saya juga mau minta maaf kalau kemarin saya terkesan kasar ke kamu, saya hanya kaget.” Dokter Adi berbicara cukup panjang tidak seperti kemarin-kemarin.
“Malik menjagaku dari segala arah?”
“Ya, dia, siang dan malam banyak melakukan penaklukan agar tidak ada satupun karuhun yang sampai melihatmu, dia membuat dirinya sangat kuat, Karuhun suka orang-orang yang kuat, itu kenapa dalam satu keluarga ada yang diwariskan Karuhun ada juga yang tidak, karena Karuhun memilih orang-orang yang akan mereka jaga atau akan mereka celakai tergantung jenis apa yang diwariskan, jika Malik sangat kuat maka kamu bisa disembunyikan.”
“Disembunyikan? Jadi selama ini dia menyembunyikanku, bukannya mengurungku?”
“Saya akan mulai Operasi ya, kami terbiasa melakukan semuanya mandiri, jangan terlalu khawatir, tubuh Malik bahkan pernah sangat parah dari ini, yang penting jiwanya sudah kembali, Seira tunggu di ruang tamu saja, ini akan memakan waktu yang sangat lama sampai operasinya selesai, bisa berjam-jam, aku harus menjahit di banyak tempat.”
Aku menitikan air mata, aku sedih, aku kecewa pada diriku, benar kata Malik waktu itu, dia bilang bahwa apapun yang aku berikan padanya tidak akan pernah sepadan dengan apa yang dia berikan padaku, saat itu aku hanya berfikir soal perusahaan yang aku bantu kelola dan menjadi sukses, sehingga aku merasa uang yang dia berikan tidak ada apa-apanya, sementara dia membicarakan betapa dia memberikan seluruh hidup, impian dan cintanya hanya pada manusia bodoh sepertiku.
“Pak Hanif. “Aku menyapanya yang sedang duduk di ruang tamu, dia hanya sedang terdiam menatap hampa, aku tahu pasti hatinya sakit dan sedih, di satu sisi Adiknya selamat, tapi kekasih hatinya malah harus mati dan tidak akan pernah bisa ia temui lagi.
“Ser, Malik sudah kembali ke tubuhnya?”
“Sudah pak, sekarang sedang ditangani oleh Dokter Adi.”
“Ok.”
“Pak Istirahat saja dulu.” Aku memegang bahunya.
“Iya aku mau, tapi masih banyak yang harus kita lakukan, menjaga Malik prioritas utamanya saat ini dan juga aku akan menepati janjiku, aku akan menceritakan semua, sesuai janjiku padamu, tapi ini akan menjadi kisah yang sangat panjang.”
“Kalau kau terlalu lelah, istirahat saja, aku akan disini menunggu Malik, kita masih punya banyak waktu.”
“Tidak, aku sudah berjanji, aku akan tepati, seperti janjiku pada Malik bahwa aku akan membantunya melindungimu.”
“Pak Maaf, karena aku dan Malik Adinda jadi korban.”
“Kematian adalah milik Tuhan Ser, aku hanya perlu Ikhlas.”
Memang beda ya kalau berbicara dengan orang yang beriman, dia sedih tapi tidak meraung-raung, aku menatapnya, menunggu dia bercerita tentang kisahku, kisah yang aku tidak pernah tahu sebelumnya.
“Semua berawal dari .... ”
___________________________
Catatan Penulis :
Aku menjadi kuat karena cintamu, maka jika kau pergi, tidak ada yang tersisa dari diriku.
__ADS_1