
Satu tahun lalu, Kakek buyutku kembali mendatangiku di dalam mimpi, Kakek Buyutku yang dulu sekali memperkenalkan Panglima dan Raden sebagai Karuhunku itu, bercerita tentang sesuatu yang menggangguku saat ini, dia bercerita bahwa ....
“Setiap manusia dilahirkan di suatu tempat lalu ari-arinya dikuburkan, taukah kalian, bahwa setan memanfaatkan tanah penguburan ari-ari itu untuk membuat manusia yang tidak dia sukai atau sebaliknya, dikendalikan.” Kami lagi-lagi dipinggir sungai yang sangat deras, malam hari dan hanya terdengar suara air deras yang mengalir, wangi pandan selalu terasa tajam setiap kali Kakek Buyutku datang.
“Kenapa harus dengan tanah, bukankah setan bisa saja mengambil jiwa seseorang dengan mudah, buktinya banyak yang tiba-tiba kesurupan, atau seperti Malik dulu jiwanya di tawan di Puncak Gunung.” Aku membantah.
“Itu namanya dicuri bukan sekedar dikendalikan, kalau dia menggunakan tanah dari perkuburan ari-arinya, maka dia bisa membangkitkan sifat paling buruk manusia kepada raga yang dia inginkan.”
“Maksudnya Ki? Aku nggak ngerti.”
“Ayi, kau sudah bergumul dengan banyak hal, tapi masih saja terlihat seperti cucu kecil Aki.” Aki mengusap kepalaku, kau tersenyum, karena Kakek Buyutku ini benar-benar membimbingku, jika aku dalam bahaya, dia pasti mendatangiku dalam mimpi.
“Aku tidak mengerti Aki.”
“Begini, kalau kau kesurupan, yang bersikap adalah setan dalam tubuhmu, kalau kau dikendalikan dari tanah perkuburan ari-arimu, maka kau lah yang berlaku atas dasar hasutan, seseorang yang memiliki tanah perkuburan ari-arimu, akan menggunakannya untuk kepentingannya, bisa saja dia menjadikanmu jahat, atau sebaliknya.”
“Memang ada Ki, yang tujuanya baik?”
“Ada, misal seorang Kharisma Jagat menjadi buruk sikap dan sifat, kedua orang tuanya yang merupakan Kharisma Jagat yang memiliki kekuatan tinggi, bisa melakukan ritual ini, nama ritualnya Gugah Alam.”
“Gugah Alam?”
“Ya, orang tua dari Kharisma Jagat ini akan mengambil tanah perkuburan ari-arinya, lalu mengusir semua sifat jahat dari tubuh anaknya lalu memanggil sifat baik, ritual ini biasanya berhasil, dan membuat aura anaknya menjadi lebih terang.”
“Kok bisa gitu? Gampang dong kalo gitu, kita curi aja tanah ari-ari semua orang Ki, trus kita adain ritual Gugah Alam, trus tidak akan ada peperangan, tidak akan ada perkelahian, tidak akan ada perceraian, mungkin juga Mudha Praya jadi sadar, gimana Ki?” Aku antusias.
“Tidak semudah itu anak kecil, semua Kharisma Jagat tahu bahwa Tanah perkuburan ari-ari bisa dimanfaatkan, makanya mereka pasti merahasiakannya dimana dikuburnya, dan ritual Gugah Alam hanya bisa dilakukan oleh 2 orang, pertama oleh Kharisa Jagat yang tinggi ilmunya atau orangtuanya sendiri. Jadi tidak semudah itu melakukan ritual Gugah Alam.”
“Sayang sekali Ki, andai kita bisa melakukannya ke semua orang dan menjadikannya mereka baik.”
“Itu pemikiran yang bagus, tapi jangan lupa dengan yang Aki katakan, bahwa Ritual Gugah Alam juga bisa melakukan sebaliknya, yaitu memanggil seluruh energi jahat, dan menjadikan orang tersebut seburuk-buruknya manusia, makanya, ketika kau lahir, ari-arimu tidak dikubur, ari-arimu disembunyikan di suatu tempat olehku dan ayahmu, aku datang ke dalam mimpi ayahmu dan menunjukan tempatnya, sampai sekarang ari-arimu aman.”
“Kalian takut kalau aku berubah karena dikendalikan oleh tanah perkuburan ari-ariku?”
“Ya, tentu saja, semua Ayi Mahogra ari-arinya tidak dikubur, tapi disembunyikan, karena kalau sampai ada orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, setinggi Mudha Praya, menemukan tanah perkuburan dan menggunakannya untuk membuatmu menjadi seburuk-buruknya orang, maka kau bisa menghancurkan dunia ini dengan seluruh kekuatanmu.”
“Wah bahaya sekali, untung ari-ariku disembunyikan, bagaimana dengan anak-anakku kelak Ki?” AKu bertanya.
“Sama, anak-anakmu ari-arinya harus disembunyikan, karena kita harus berjaga-jaga.”
“Apakah orang-orang yang telah terkena Ritual Gugah Alam bisa kita deteksi Ki?”
“Bisa, itu mudah, pertama orang yang terkena ritual itu akan memiliki bau yang khas, kalau dia menjadi baik, baunya akan seperti bau bunga, sedang jika dia berubah menjadi jahat, tubuhnya akan berbau anyir, lalu setelahnya sikap dia akan langsung berubah menjadi orang yang jauh berbeda dari sebelumnya, misal dia orang jahat, dia akan berubah menjadi sangat baik, santun dan berbudi pekerti luhur, kalau dia orang yang baik, maka semua sikap baiknya akan hilang, dia akan menjadi seburuk-buruknya manusia.”
“Lalu jika suatu saat aku menemukan orang yang menjadi jahat karena Ritual Gugah Alam ini, apa yang harus aku lakukan Ki?”
“Kembalikan dia ke sifat aslinya.”
“Caranya.”
“Melakukan kembali Ritual Gugah Alam dan memanggil sifat baiknya untuk pulang, lalu mengusir sifat jahatnya.”
“Apakah itu mudah?”
“Tentu tidak mudah, makanya aku akan mengajarimu.”
…
“Aku mencintaimu dengan besar, aku tidak siap kehilanganmu! Itu yang aku yakin.” Dia masih bersikeras dengan menyerah pada perang ini.
“Itu terserahmu, cintamu pengecut Malik, maaf aku harus mengatakan itu, aku akan tetap berperang, dengan atau tanpamu!” Aku bangun dari tempat tidurnya dan hendak jalan keluar kamarnya, aku benci sikap pengecutnya, dia seperti bukan Malik yang kukenal, kenapa dia berubah secepat ini?
Sebelum sampai pada pintu kamar, Malik menarik lenganku, dia membalik tubuhku yang tadinya membelakangi dia karena bermaksud pergi, sekarang menjadi berhadapan dengannya.
Dia memelukku dengan sangat erat, aku merasa ada cairan hangat di pundakku, dia menangis? Aku mendorongnya dengan lembut lalu menatap matanya dengan lekat.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.” Mataku pun mengeluarkan cairan bening.
Kami bertatapan, Malik mendekatkan wajahnya padaku, dia mengecup pipi kananku, lalu pipi kiriku, setelahnya kening, aku menikmati sensasi hangat yang penuh ketenangan ini.
Lalu kami berpandangan lagi setelah dia mencium seluruh wajahku, dia mulai mendekatkan lagi wajahnya, bibir hangatnya menyentuh bibirku, aku reflek menutup mata, aku menikmati setiap gerakan nyaman yang dia lakukan, terasa begitu hangat, kami berbagi nafas yang sama, awalnya gerakan bibir ini terasa ringan dan berirama, tapi tiba-tiba Malik semakin kasar, gerakannya menjadi tidak beraturan, aku menahan dadanya karena mulai terganggu, aku merasakan hasrat yang tinggi yang coba dia salurkan, aku mencoba mundur, tapi dia mengnyimpulkan tangannya dengan sangat erat, aku tidak diberi kesempatan untuk menghindari gerakan bibirnya yang semakin buas.
Aku mencoba memberinya waktu untuk tenang, mungkin hal ini bisa sedikit membuatnya rileks, tapi tiba-tiba tangan kanannya mulai menyentuh wajahku, lalu leher dan semakin kebawah, dia mencoba membuka kaos yang sedang aku kenakan.
“Malik, lepas.” Aku mendorongnya dengan kencang, karena dia melakukan hal yang tidak wajar.
“Oh ayolah, kita sudah sama-sama dewasa.” Malik membuka bajunya dan menunjukan dadanya yang bidang dan perut yang kotak-kotak.
“Kemari sayang, sudah lama kita berdua menunggu ini bukan?” Malik lansung menerkamku yang tidak siap, lalu menghujaniku dengan ciuman menjijikan, dia mulai melakukan pelecehan pada tubuhku, aku menendangnya.
“Sekali lagi kau kurang ajar, aku tidak segan untuk melakukan yang …. “
Malik merubah tubuhnya menjadi tubuh penuh duri, “Kalau kau tidak mau memberikannya dengan damai, aku akan merenggutnya, kau milikku Ser! Tubuhmu dan hatimu, semua milikku.” Malik mengeluarkan pedang pusakanya dan menyabetku, kenapa Malik menjadi brutal begini, jelas ini bukan Malik yang aku kenal.
Aku menghindar dari sebetan pedangnya, lalu mengeluarkan Karembi Hejo, sungguh ini tidak lucu, saat sepasang kekasih harusnya memadu kasih, kami berdua malah bertarung, nasib yang buruk!
“Sadar kau!” Aku menyabet kepalanya dengan Karembo Hejo, dia tidak terpengaruh dan tidak terluka, jika ada yang membajak tubuhnya, atau mengambil alih jiwanya, Karembo akan membuat yang di dalam tubuh Malik akan bereaksi, tapi tidak ada yang bereaksi dari dalam tubuhnya dia baik-baik saja, artinya dia dan jiwanya masih pada tempatnya, aku tahu ini pasti ulah Mudha Praya, tapi entah apa yang dia lakukan kepada Malik.
Malik menyabetku lagi dengan pedangnya, kali ini kena lengan bagian atasku, kaosku robek dan tanganku berdarah, Malik kembali menyabetku, kali ini perutku yang kena, darah mengucur dari sana, aku tidak mungkin menggunakan Kujang, karena Kujang berbahaya untuk Malik yang seorang manusia dengan ilmu hitam yang cukup tinggi.
“Panglima, Raden, keluar!” Aku memanggil mereka keluar. Saat mereka keluar, Panglima tampak terkejut, melihat Malik yang bertubuh penuh kaca, sedang aku yang terluka cukup banyak di beberapa bagian.
“Dia yang lakukan?” Panglima bertanya.
“Iya, aku tidak tahu dia kenapa.” Malik masih terus menyabet pedangnya, kami menghindar terus.
“Akan kuhabisi dia.” Panglima hendak menhajar Malik, aku menarik buntutnya.
“Jangan macam-macam, kita bekuk saja, lalu ikat dengan tali tambang, Raden cari tali tanmbang yang cukup tebal kita akan ikat dia dengan cara konvensional.”
“Aku lebih suka menyiksanya dibanding mengikatnya.” Panglima kesal sekali, tapi perintah Ayi harus dilakukan.
Tak lama raden datang menggigit tali tambang, entah dia dapat darimana, setelah itu kami bertiga langsung meringkusnya, setelah kena tanpa mengulur waktu lagi aku dan Panglima mengikatnya, dia sekarang tidak bisa bergerak, kami mengikat seluruh tubuhnya, mengingat walau dia bukan Kharisma Jagat tapi dia bukan manusia biasa.
“Capek sekali menangkap pria satu ini, menurutmu apa yang terjadi pada Malik Panglima?” Aku bertanya.
“Entahlah, mungkin itu memang sifat aslinya, kau saja yang tidak tahu.”
“Panglima! Mau sampai kapan kau membenci dia, kau menghasutku tau.” Aku kesal, aku butuh teman untuk berdiskusi, aku bingung dia kenapa.
“Oh ya, Pak Hanif, dia pasti tahu sesuatu.” Aku langsung mengambil telepon genggamku dan menelponnya, tapi sayang Pak Hanif teleponnya tidak aktif.
“Kenapa teleponnya tidak aktif?”
“Telepon Pram saja, dia jauh bisa diandalkan.”
“Jangan, Malik nanti mengamuk, aku takut kalau dia mengamuk kita akan kehilangan dia, aku akan menelopon keluarga dekatnya di pulau, siapa tahu bisa dihubungi, dulu aku sempat menyimpan telepon keluarga dekat Pak Hanif, karena memang urusan kantor, takut terjadi apa-apa kami selalu menyimpan nomor pribadi orang terdekat karyawan untuk dihubungi. Panglima bawa Malik ke penjara bawah, kita kurung dia di sana dulu agar tidak mencelakakan orang.
Aku menghubungi keluarga dekat Pak Hanif, tidak lama diangkat. [Halo Pak, saya Seira, rekan kerja Pak Hanif, apakah Pak Hanif ada di sana, saya mau mendiskusikan urusan kantor.] Aku berbohong, semoga orang itu percaya, padahal kan ini sudah malam.
[Loh, bukannya Hanif masih di sana, dia tidak pulang bu.] begitu orang itu menjawab, aneh, kata Malik dia pulang? Lalu kemana Pak Hanif.
“Ser!!!” Panglima memanggil dari penjara bawah, yang pintunya ada di belakang rak buku Malik.
“Kenapa Panglima?” Aku menghampirinya, aku takut kalau Malik menyerang mereka dan mereka tidak bisa menghajarnya karena takut aku marah.
Saat sampa di bawah aku kaget, ternyata ada Pak Hanif yang tangan dan kakinya diikat, serta mulutnya di tutup dengan lakban.
Aku buru-buru membantunya melepaskan ikatan dan melepas lakban dari mulutnya.f4f4
“Pak siapa yang ngelakuin ini?” Aku bertanya setelah dia sudah bisa berbicara, kami duduk di sofa yang terletak di tengah penjara ini.
__ADS_1
“Siapa lagi, ya dia.” Pak Hanif menunjuk Malik yang sedang terbaring membelakangi kami, tubuhnya masih terikat.”
“Brengsek kalian semua, kalau aku sudah lepas, akan aku habisi kalian, akan kuhabisi juga Ayi sialan kalian! Wanita murahan yang suka dengan banyak pria!!! Sekarang kau mendekati kakakku hah?! Besok siapa lagi? Semua orang kau dekati, apa kau haus belaian pria!”
“Panglima, tutup dulu mulutnya pakai lakban, jijik aku mendengarnya.”
“Kalau ku robek saja mulutnya boleh?”
“Panglima!” Aku dan Pak Hanif berkata berbarengan.
“Jadi apa yang terjadi Pak?” Aku kembali bertanya, Pak Hanif selalu bisa menjadi orang yang diandalkan sejak dulu.
“Tadi ketika kau dan Malik sedang telepoan, aku di dekatnya sedang bekerja, kami memang sembari diskusi di meja makan, karena kami memang suka diskusi sembari ngopi, dan meja makan tempat terdekat dengan Coffee Maker, tapi tiba-tiba dia memegang lehernya, dia seperti dicekik tapi tidak ada orang selain kami, aku pun tidak melihat makhluk ghaib lain di sini, tidak juga merasakan kehadiran mereka, tapi ada satu yang aku rasakan, bau anyir yang luar biasa.”
“Lalu setelah itu Pak?”
“Setelah itu dia seperti kesulitan berbicara karena sesak nafas, aku mencoba mengambilkannya oksigen tabung agar bisa membantu dia bernafas, lalu setelah mendapatkan oksigen tabung, aku berlari lagi menemui Malik, tapi tiba-tiba dia sudah duduk saja sembari menghadap jendela dan tersenyum sendiri. Lalu aku bertanya apakah dia baik-baik saja, dia menjawab kalau tidak pernah merasa sebebas ini, lalu dia menyerangku dan mengikatku di sini.”
“Jelas dia kena Ritual Gugah Alam!” Aku geram karena sudah pasti ini kerjaan orang itu.
“Ritual Gugah Alam?! Mana mungkin! Seseorang yang menyerang Malik dengan ritual itu harus tahu tanah perkuburan ari-ari Malik dan memiliki kekuatan yang tinggi.” Pak Hanif kaget dan bingung.
“Sebentar aku telepon Papinya.” Aku pun menelpon Papi Malik.
[Siang Om, ini Seira, Om Seira …. ]
[Kenapa Seira? Apa belum ketemu tempatnya?] Tempat apa yang dimaksud Papinya Malik?
[I-iya Om belum ketemu, jadi di mana ya Om?]
[Kan udah Om bilang, dulu Malik lahir di luar kota, alamatnya sesuai yang Om kasih, kamu tinggal telusuri aja jalan utama, nanti juga ketemu kok, lagian kamu mau kasih kejutan ke Malik jauh banget sampai ke tempat lahirnya segala.]
[Iya Om, biar surprisenya bermakna, oh iya, tadi aku jam berapa yang ketempat Om? Soalnya aku bingung tadi perjalanan ke sini berapa jam ya Om?] Aku memancingnya karena curiga.
[Tadi kamu ke rumah Om sekitar jam 1 siang, trus langsung buru-buru pergi abis dapat lokasi tempat lahir Malik.]
[Oh, berarti ke sini sekitar 2 jam ya Om, supaya jam surprisenya ga meleset Om, oh ya salam buat Tante sama Maliyah ya Om, maaf aku ganggu.]
[It’s Ok Seira, take care ya.]
Lalu aku pun menutup telepon.
“Tepat dugaanku, Malik kena Ritual Gugah Alam, kurang ajar!”
“Tadi Papi bilang apa?” Pak Hanif bertanya.
“Sepertinya Jin suruhan Mudha Praya mendatangi Papimu menyerupaiku, menanyakan tempat lahir Malik dengan alasan mau kasih surprise di sana, dari tempat lahirnya bukankah mudah untuk menebak di mana ari-arinya di kubur? Setelah itu tanah perkuburan ari-ari itu dicuri dan Mudha Praya tentu bisa melakukan Ritual Gugah Alam karena kemampuannya yang tinggi.”
“Berarti kita harus ke rumah neneknya Malik Ser, karena di rumah sakit dekat rumah neneknya Malik lah dia dilahirkan, kita harus melakukan ritual Gugah Alam balikan dan mengunci rapat diri Malik setelahnya.”
“Itu langkah terbaik yang harus kita lakukan, sekalian adu ilmu sama Si Kakek Durhaka.”
Lalu kami berdua langsung menuju rumah Neneknya Malik, ya, neneknya Malik bukan neneknya Pak Hanif, walau mereka adik kakak, tapi mereka beda ibu, yang dimaksud neneknya Malik adalah, ibu dari ibunya Malik, dan setahuku hubungan Pak Hanif dengan keluarga Ibunya Malik kurang baik, karena dulu Pak Hanif sempat membuat onar ketika ibunya meninggal, kalau tidak salah dia sempat membuat hancur rumah neneknya Malik dan juga rumah Papinya. Itu masa lalu, semoga mereka sekarang bisa melihat betapa Pak Hanif sangat menyayangi adiknya.
Dan semoga kami berhasil melakukan Ritual Gugah Alam Balikan.
________________________
Catatan Penulis :
Siapa yang udah bete sama Malik sebelumnya? Ayo ngaku ….
Inget-inget ya, aku masih menimbang-nimbang nih, mau tutup di akhir bulan atau pas tanggal 1, kasih tau aku ya, menurut kalian baiknya gimana?
Oh ya LJB tetap akan tayang di tanggal 1 bulan Oktober ya, jangan lupa ada Nami dan Gio juga, yang uwu dan unyu.
__ADS_1
Salam hangat dari Author Karuhun Muka Kanva/RPs.