
“MALIK!!!”
Aku terjatuh disamping ranjangnya, Malik tertidur penuh dengan selang ditubuh dan beberapa monitor untuk memantau tubuh sakitnya, ruangan ini mungkin sebelumnya adalah Kamar tapi untuk merawat Malik kemudian ruangan ini dibuat menjadi ruang perawatan, wajah Malik begitu kurus, tubuhnya penuh dengan luka bekas cabikan, lukanya dibiarkan terbuka, robekannya terlihat dalam disana-sini. Malik, Malikku, bangun sayang, aku disini.
Aku menangis sesegukan disamping ranjang perawatannya, “Malik kenapa Pak Hanif?” Aku bertanya.
“Malik, kalah Ser.”
“Kalah? Apa maksudnya, kalah dari siapa? Aqan Asta?” Aku bersumpah akan membunuhnya kalau memang ini disebabkan oleh lelaki brengsek itu!
“Aqan Asta? jangankan mengalahkan Malik, menyentuhnya saja dia tidak akan mampu.”
“Lalu oleh siapa pak?” Aku masih menangis dan memegang kedua pipinya yang begitu tirus, matanya terlihat membesar.
“Para Tetua.” Pak Hanif berkata dengan mengepalkan tangannya, dia terlihat sangat marah dan geram, aku tidak pernah melihat mimik seperti ini dari dia sebelumnya.
“Para Tetua? Kenapa Para Tetua menyerang Malik, apa salah Malik?” Aam pernah menyinggung para Tetua, waktu itu dia bilang kalau kami para pemegang karuhun berulah, kami akan dihukum oleh Tetua. Tapi, Malik kan bukan Pemegang karuhun.
“Aku tidak bisa membukanya Seira, aku sudah berjanji tidak akan pernah membuka rahasianya.”
“Lalu aku harus apa?” Aku mendekati Pak Hanif dan memegang kerahnya, Adinda berdiri dibelakangku, kucengkram lehernya Adinda dengan sebelah tangan. “Apakah aku hanya harus menangis disamping ranjangnya dan meratapi nasib!” Aku masih memegang mereka berdua, satu tangan kearah Pak Hanif dan tangan yang lain leher Adinda.
“Hanya kamu yang bisa menyelamatkan Malik Ser.” Pak Hanif bicara.
“Aku akan lakukan apapun, apapun untuk Malik, bahkan jika itu membahayakan diriku sendiri, tapi dengan satu syarat, beritahu aku yang sebenarnya terjadi, semuanya!” Aku murka, cengkraman tanganku di leher Adinda semakin kuat.
“Ok tenang dulu, lepaskan Adinda Ayi, Adinda kesakitan.” Pak Hanif memanggilku dengan sebutan Ayi, dia terlihat kaget aku seperti kesetanan, akupun menyesal karena kelewat batas, kulihat Adinda terbakar di bagian lehernya, aku juga tidak sadar telah mengeluarkan karembo hejo dan mengikatnya di tanganku sebelum akhirnya kucekik Adinda, Aku terlalu emosi untuk bersabar.
“Maaf Adinda. Malik, Malik kesakitan, Ya Allah ada apa ini.” Aku kembali mendekati ranjang Malik.
“Sebelum aku menceritakan semuanya, kita harus menyelamatkan Malik dulu, kita tidak punya waktu banyak.” Pak Hanif berbicara sambil memeriksa leher Adinda.
“Bagaimana caranya, aku bukan Dokter, bagaimana aku bisa menyelamatkannya!” Aku menangis sesegukan.
“Kalau untuk fisiknya itu tugasku.” Tternyata ada seseorang dari tadi yang memperhatikan kami, dia seperti seseorang yang kukenal.
“Pak Dokter? bukankah kamu Dokternya Anita yang kerasukan Iblis bertanduk. “Aku mengingatnya karena Makhluk tampan dibelakang Dokter itu, sepertinya itu karuhun Dokter tersebut.
“Iya betul, aku juga adalah Dokter tetapnya Malik, sejujurnya, ini bukan kali pertama Malik Babak belur, terakhir dia babak belur adalah ketika dia kembali dari pulau itu menyelamatkanmu. Waktu itu seluruh tubuhnya juga penuh luka.”
“Apa, ini bukan yang pertama, kenapa Malik bisa babak belur?”
“Ser, kita harus cepat, Malik hanya bisa bertahan beberapa hari lagi, kita harus segera menyelamakan dia.”
“Aku harus apa Pak?” Aku bingung apa yang di maksud Pak Hanif.
“Kita akan buka segelmu, lalu pergi ke Gunung Cakubar untuk menyelamatkan Jiwa Malik yang ditawan oleh para Tetua.”
“Jadi ini hanya raganya saja? Jiwanya ditahan?” Aku memeluknya, “Bukankah membuka segel harus dengan cara membunuh penyegelku Pak?” Aku ragu, aku memang ingin menyelamatkan Malik, tapi aku tidak ingin merenggut hidup orang lain dan menjadi pembunuh.
“Sudah beberapa tahun ini Malik akhirnya melunak tentang membuka segelmu dan dia akhirnya menemukan cara untuk membuka segelmu tanpa membunuh si penyegelnya, kau ingat betapa seringnya Malik keluar kota, itu adalah ketika dia harus observasi tentang karuhun, Ayi dan pembukaan segel. Aku dan Adinda selalu membujuk Malik untuk membuka segelmu, dia bilang hanya jika dia mati segelmu baru boleh dibuka, makanya membuka segel adalah rencana terakhir yang disiapkan untuk melindungi. Karena jika dia sudah tidak ada, kamu tidak memiliki siapapun untuk melindungi, tapi ini keadaan darurat, aku akan melanggar janjiku, kita akan buka segelmu, tapi tetap harus ada yang dikorbankan Ser, walau kita tidak membunuh penyegelmu.”
Malik banyak sekali yang tidak kuketahui tentangmu, apa artiku sebenarnya selama ini disisimu, kau tipu aku, dengan berbagai cara, beginikah caramu melindungiku.
Kami semua, Aku, Pak Hanif, Adinda, Panglima, Raden, Aam dan Cula Bagong pergi ke tempat terapi dimana Haji Iman dirawat Si Penyegelku, dengan mobil Pak Hanif. Lokasinya ternyata dekat dengan kampung Almarhum Ayahku, 4 jam perjalanan akhirnya kami tiba, aku tidak tahu apa yang harus kami lakukan nanti, tapi aku percaya Pak Hanif.
Begitu sampai, kami langsung masuk ke ruangan pengelola tempat terapi dan mohon ijin bertemu dengan Pak Haji Iman, lalu kami langsung diantar ke kamar Pak Haji dirawat.
Kami masuk ke kamar dimana Pak Haji Iman, begitu masuk kulihat Pak Haji sedang duduk termenung di pinggir kasur, Pak Hanif mengetok pintu yang terbuka dan mengucap salam.
“Waalaikum Salam, Nak Hanif, apa kabar.” Sepertinya Malik dan Pak Hanif sudah akrab dengan guru ngaji Mas Ridho.
“Baik Pak Haji, Pak ini inget?” Pak Hanif menunjukku.
__ADS_1
“Sudah waktunya ya?” Pak Haji Iman berkata, dia seperti sedih tapi berusaha terlihat kuat, “Saya dan Malik memiliki perjanjian dan saya akan menepatinya, walau memang yang mengusir Iblis itu bukan Malik, tapi Seira.” Pak Haji Iman berbicara.
“Iblis? Iblis apa ya Pak.” Aku cium tangannya dan Masuk kekamar pak Haji, dari tadi aku hanya berdiri diluar.
“Iblis bertanduk itu merasuki Anita, Anakku.” Pak Haji berhenti sesaat ada rasa kelu saat dia mengucapkan Anita adalah anaknya, “Dia dibawa istriku untuk menikah lagi, Istriku tidak tahan denganku yang memiliki banyak Karuhun, kami akhirnya berpisah ketika Anita masih berumur 4 tahun, Anita tidak mengingatku, tapi aku selalu mengawasinya, karena karuhun terburuk akan jatuh kepadanya.”
“Iblis bertanduk itu ya Pak?” Aku bertanya.
“Iya Ayi, Iblis bertanduk itu, ini adalah rasa terima kasihku kepada Ayi karena sudah membebaskan Anita dari kutukan iblis itu. Aku akan membuka segelnya, tapi kita harus pergi dari sini, kita harus ke Hutan yang ada di pinggir desa ini, kita harus membantai mereka disana, satu persatu.” Pak Haji menitikkan air mata.
“Membantai? Maksudnya?” Aku terkejut.
...
Kami dalam perjalanan ke Hutan, sepanjang perjalanan Pak Haji menjelaskan bahwa, ada satu cara lain untuk membuka segelku selain kematian si penyegel, yaitu membunuh semua Karuhun yang di miliki si penyegel, dengan begitu hilanglah semua kekuatan dari si penyegel, Malik yang menemukan cara itu, dia sudah observasi dan mencobanya disalah satu orang yang memang ingin dibuka segelnya dan cara itu berhasil, walau tingkat pewaris Karuhun yang segelnya dibuka Malik itu masih rendah sekali, jauh dibawahku, tapi Malik berasumsi bahwa cara itu bisa kita pakai untuk membuka segelku, kalau Malik sudah mati tentunya baru Pak Hanif diperbolehkan membantuku membuka segel, ini hanya rencana cadangan katanya, tapi beruntung aku tidak harus kehilangan Malik saat harus membuka segel ini.
“Total ada 11 Karuhun yang akan kita bantai.” Pak Haji terlihat lebih segar, kami sudah sampai di Hutan, ditengah Hutan tepatnya.
“Sebelas Karuhun, banyak sekali Pak?”
“Kau fikir gampang menyegel seorang Ayi Mahogra, taukah kau, sehari setelah aku menyegelmu, 11 karuhunku semua sekarat, butuh waktu satu tahun setengah memulihkan mereka, makanya segelku kuatkan? kau bisa hidup normal selama kurang lebih 20 tahun ini, walau akhirnya aku jatuh sakit dan akhirnya segelku bocor.”
“Ya, terima kasih pak.” Aku tulus mengucapkannya.
Lalu Pak Haji itu berbicara dengan bahasa sunda yang akupun tidak mengerti artinya, tak lama datanglah 11 makhluk dengan berbagai bentuk, ada buaya, ular, kuda, dan bentuk yang tidak bisa diartikan sebagai jenis apa, mereka semua mengelilingi kami.
“Ayi, apapun yang terjadi, jangan mundur, ini akan berat untuk kita semua.” Aku tidak mengerti apapun ucapan pak Hanif, aku hanya mengangguk.
Lalu pak Haji memanggil mereka satu persatu, buayalah yang datang lebih dulu mendekati pak Haji, lalu pak Haji memegang kepalanya dan menebas lehernya, Buaya itu hanya diam saat ditebas, Aku mundur, pak Haji memanggil lagi Karuhunnya satu persatu, beberapa dari Karuhun itu bahkan menangis, aku lemas melihatnya, membayangkan jika hal itu terjadi padaku, bagaimana jika aku ditempatkan di posisinya, harus menebas Panglima dan Raden membayangkannya saja lututku sudah hampir Ambruk, aku amat menyayangi Panglima dan Raden, mereka Makhluk yang baik dan membuatku merasa tenang.
Tinggal satu lagi, Pak Haji berlutut, dia terlihat sangat amat sedih, sepertinya ini adalah Karuhun yang paling dekat dengannya, dia ragu menebasnya, tetapi Karuhun itu akhirnya mati terkapar, dia menusuk karuhunnya sambil memeluknya, lalu dia tersungkur, seluruh Karuhunnya telah tewas dibantai oleh majikannya sendiri, sungguh ini adalah hal yang sangat romantis untukku, betapa dia membunuh untuk kebaikan.
Begitu Karuhunnya sudah habis, aku merasa tubuhku ringan bagai kapas, tanganku, kakiku, semua nya begitu terang benderang, Hutan yang tadinya gelap tiba-tiba tersinari oleh seluruh tubuhku, kulihat ada tali ghaib diseluruh tubuhku, sekarang tali itu terlepas, kedua nadiku tergores, dari goresan itulah seluruh rangkaian tali yang selama ini mengikatku sudah terputus, lalu pupil mataku sejenak berubah warna hanya putih saja, lewat mata itulah aku melihat semuanya, betapa dihutan ini begitu banyak, banyak makhluk, rumah dan anak-anak ghaib, ramai, ramai sekali.
“Segelnya sudah terbuka, kau sekarang sudah bisa membedakan mereka bukan? Lihat mereka sangat banyak kan?”
“Iya tapi, ini asing bagiku.” Aku masih memegang mereka.
“Ser, kau akan belajar mengendalikannya nanti, kau itu Ayi Mahogra, PEMINMPIN KHARISMA JAGAT dan juga PENGEMBAN KHARISMA JAGAT!!!”
“Apakah itu kata yang terlarang untukku pak? KHARISMA JAGAT?”
“Betul, apa kau merasa ada sesuatu saat mengatakannya?” Pak Hanif bertanya.
“Ya, aku merasa kau memanggilku saat menyebutkannya, aku merasa itu namaku.”
“Itu bukan hanya namamu, kau Ibu dari Kharisma Jagat seluruh pewaris Karuhun, kau yang memerintah mereka tanpa perantara Pewarisnya.” Apa Maksud pak Hanif aku tidak mengerti.
Aku akan bertanya lagi, tapi Pak Hanif bilang kita harus kembali ke Tempat terapi karena kondisi Haji Iman memburuk.
Pak Haji Iman terlihat lebih tua dari saat sebelum kami datang ke Hutan, dia bahkan tidak bisa berjalan sekarang, pantas pak Hanif membawa kursi roda tadi, ternyata yang membuatnya tetap sehat dan segar adalah Karuhunnya.
Kami kembali ke tempat terapi Pak Haji Iman, sebelum kami pamit pulang pak Haji Iman bilang ingin berbicara padaku berdua saja, aku setuju.
“Dalam pertempuran akan banyak yang dikorbankan, cinta harta dan tahta, Malik bahkan tidak tersentuh itu semua demi bersamamu, aku fikir karena dia tahu, dengan memiliki Ayi Mahogranya Kharisma Jagat, dia akan mampu membuat banyak uang, tapi ternyata aku salah, dia tulus karena telah tertancap oleh cinta seorang Kharisma Jagat yang istimewa, jangan percaya siapapun kecuali orang yang mencintai dengan tulus.”
Pak Haji Iman lalu kembali kekamarnya, aku meneruskan perjalanan ke Gunung Cakubar, ketempat Malik di tawan.
Selama di perjalanan fikiranku melayang kemana-mana, aku banyak teringat betapa Malik begitu baik dengan kearoganannya padaku, satu yang aku sadari sekarang, dia tidak pernah meninggalkanku walau dia sedang memiliki kekasih, dia akan selalu mendahulukanku.
“Kenapa Pak Hanif sangat perduli dengan Malik.” Aku bertanya, saat ini kami beristirahat sebentar karena perjalanan cukup melelahkan, ditambah sepanjang perjalanan aku banyak melihat hal-hal tidak masuk akal, pinggir tol yang ramai dimalam hari, ada pasar-pasar Ghaib, bahkan mereka berdagang denganku dan kutolak karena aku tidak punya jenis pembayaran yang mereka inginkan.
“Malik itu Adikku, Adik kandungku.” Pak Hanif menjawab dan membuatku cukup terkejut.
__ADS_1
“Malik itu anak Sulung pak.” Aku bertanya untuk memastikan.
“Kami beda Ibu Ser, Ibunya adalah istri kedua Papi kami, Ibunya adalah keluarga terpandang, itu kenapa Ayahku rela meninggalkan ibuku padahal aku baru berumur 3 tahun saat Papi pergi meninggalkan Ibuku.”
“Pak Hanif tidak membenci Malik?”
“Awalnya ya, apalagi ketika Papi meminta aku untuk mengambil Karuhun Malik, aku sangat marah, tapi karena itu syarat Papi supaya Papi mau pulang dan merawat Ibukuku yang sedang sakit keras, akhirnya aku setuju dan aku berhasil mengambil Karuhun yang harusnya diturunkan padanya, sama seperti Aqan Asta mengambilnya dari Bayu Asta, dengan jalur Ngilmu, kita mengelabui Karuhun itu dengan kekuatan yang lebih besar, Karuhun suka orang-orang yang memiliki kekuatan sangat besar.”
“Lalu kenapa kau sekarang sangat begitu peduli pada Malik?”
“Kita harus segera berangkat Ser, waktu kita tidak banyak, bukankah aku telah berjanji akan menceritakan semuanya setelah kita melepaskan jiwa Malik, aku akan tepati janji, walau untuk menepati janji kepadamu, aku harus mengkhianati adikku, aku hanya ingin dia bahagia setelah begitu banyak hal yang sudah dia lakukan untukmu, setelah semua penderitaan ini, dia harus bahagia bersamamu.”
Kami pun melanjutkan perjalanan, Pak Hanif, Adinda, aku dan Aam hanya terdiam didalam mobil, begitu sampai di Kaki Gunung Cakubar, kami bersiap, kata Pak Hanif kita tidak akan naik dengan cara biasa, kita akan naik dengan cara Ghaib ketempat Malik ditawan.
“Ayi, Malik di tawan oleh 3 Karuhun Tetua, dimana satu Karuhun memiliki sekitar 100 Prajurit dibelakangnya, saat ini Ayi sudah tidak tersegel, lihat nadi di kedua tangan Ayi ada tanda tergores, dari situlah segel dihapus, tapi Ayi tidak punya pasukan karena pasukan tersebut sedang di tawan seperti Malik ditawan oleh mereka, karena pasukan tersebut menumpang di tubuh Malik, ini akan berat Ayi, jumlah kita hanya berdelapan dengan semua Karuhun yang kita miliki, Aku, Adinda, Karuhunku, Ayi, Panglima, Raden, Aam dan Cula Bagong, ini mungkin akan menjadi pertarungan yang panjang di sepanjang jalan kita menuju tempat Malik, saat ini senjata Ayi selain karembo Hejo ada Kujang, Adinda punya panah, aku ada golok dan pedang, Aam punya tombak, Aam harus hati-hati ya, apapun yang terjadi, kalau kamu merasa sudah tidak sanggup, turunlah, jangan dilanjutkan, tidak boleh ada korban.”
Pak Hanif memberi banyak wejangan sebelum kita naik, maklum ini adalah pertarungan pertamaku, langsung melawan Karuhun Tetua, kalau Malik tahu aku pasti akan dikurung oleh pagar Ghaib, ini untukmu Malik, Malikku.
Kami bersiap dengan senjata masing-masing dan Karuhun kami dibelakang.
“Ingat serang hanya mereka yang menggunakan selendang di pinggangnya aku tidak tahu warna apa saja selendangnya, karena itu berarti pasukan Karuhun Tetua, tapi kalau yang lain jangan diserang, mereka hanya penduduk Ghaib Gunung ini yang tidak ikut campur dengan pertarungan kita.” Pak Hanif memberitahuku dia takut aku asal bantai.
“Iya pak, Ayuk, sudah cukup trainingnya.” Aku maju duluan dengan kujang ditanganku.
Kami berlari menaiki Gunung ini, Kami menaiki gunung yang sama yang didaki oleh para pendaki tapi di dunia yang berbeda.
Begitu sampai di tengah Gunung kulihat ada pasukan bergerak kearah kami hendak menyerang, mereka memakai selendang berwarna hitam, kami semua menyebar mencoba mengalahkan pasukan yang jumlahnya puluhan itu, aku menebas leher mereka dengan kujang yang kubawa, aku merasa tubuhku ringan sekali sehingga lariku begitu cepat, mereka memang kuat, aku mengeluarkan Karembo Hejo menaruhnya di kedua tanganku, sementara kujang tetap ditangan, saat mereka hendak menyerangku, ku tarik leher mereka dengan karembo hejo dan menusuk mereka tepat di jantungnya, cara ini lebih ampuh, lehernya putus karena Karembo Hejo dan jantungnya hancur karena Kujang, kulihat Aam juga menghabisi mereka satu persatu dengan tombaknya, saat kulihat Aam kesulitan aku membantunya, Panglima, Raden, Cula Bagong, Adinda dan Pak Hanif, kami semua membantai mereka.
Kulihat di kanan kiriku ada begitu banyak Makhluk itu tanpa Selendang Hitam, mereka ketakutan, sepertinya mereka hanya penduduk Ghaib di Gunung ini, aku berteriak, “Siapapun yang tidak terlibat dengan perkelahian ini, menjauh!!!” Aku berteriak, merekapun menurut dan menjauh, ada anak-anak, nenek-nenek dan lainnya, mereka hanya penduduk Gunung ini, Penduduk Ghaib, Pak Hanif bilang harus hati-hati jangan sampai mereka jadi korban.
Pasukan sudah habis, kami kembali berlari kesemakin keatas gunung, sampai tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Seira.... Sei raaaaaaa.” Aku menoleh, kulihat ada seseorang yang sangat kukenal, itu Mamah, Astaga!!! Pocong sialan! Kenapa juga dia menyerupai Mamaku? Aku melihat dengan jelas dia menipuku, tidak seperti sebelumnya aku mudah tertipu, sekarang semua terlihat jelas, pocong ini seperti memakai topeng terlihat di mataku.
“Ser!!!” Pak Hanif memanggilku, aku kaget dan menoleh kembali kearah Pocong itu.
“Ngapain kamu!” Aku memegang leher setan yang menyerupai Mamah ini, sekarang dia dengan wujud aslinya, Pocong.
“Ampun Ayi, hanya iseng.”
“Kau mau kuhabisi seperti mereka?”
“A-ampun Ayi, aku hanya mau memberitahu, diatas bahaya Ayi, ada ratusan Pasukan hanya untuk menjaga seorang laki-laki, laki-laki itu sudah tidak berdaya, diikat dipohon yang sangat besar, dia bahkan tidak mampu berdiri.”
Aku menangis, aku takut Malik terluka.
“Pak Hanif, dia jujur,” Aku sekarang dengan mudah membedakan tipu daya setan, jika dia berbohong suaranya akan ada dua, niat aslinya akan terdengar di telingaku yang satu.
Kami kembali berlari lebih cepat, tunggu aku Malik, tunggu aku. Aku berlari semakin kencang, hingga seperti terbang naik ke Gunung, aku meninggalkan teman-temanku dibelakang, aku takut terlambat.
Tunggu aku Malik ....
_________________________________
Catatan Penulis :
Cinta itu melindungi bahkan tanpa yang dicintai menjadi miliknya, bahkan jika raga telah terkubur tanah, bahkan jika kau bahagia bukan denganku. (Quote : Malik Raihan)
__ADS_1