
Sepertinya Malik dan kawananku tidak mampu menembus barikade musuh, aku benar-benat terkepung, tidak ada celah sedikitpun, Malik dan Pram dimana?
Saat aku masih menyerang, tiba-tiba Mudha Praya berlari dari arah sampingku, aku yang kelelahan mencoba menghindar hunusan goloknya, tapi prajurit musuh memegang tanganku, 20 orang mulai memegangku, aku mencoba melepaskan diri, gagal, aku kelelahan, Mudha Prasa semakin dekat ....
Crutt ... golok menusuk perutku, sakit, sakit sekali, aku melihat perutku, darah? darah mengucur dari sana. kenapa rasanya sakit sekali, kenapa dia menusukku beneran, aku melihatnya hendak menusukku lagi, apa dia penyusup? kenapa luka ini sksit sekali.
Aku menendang Mudha Praya, entah dia Raja Bapati atau bukan, tapi jelas dia hendak membunuhku, aku masih dipegang puluhan orang, setelah kutendang berkali-kali, Mudha Praya masih saja mencoba menusukku dengan goloknya, aku menggunakan semua yang aku bisa untuk lepas dari pegangan puluhan orang ini, tapi percuma mereka sangat kuat.
Lelaki itu tiba-tiba ada di belakangku, dia langsung menghunuskan goloknya ke punggungku. sakit sekali, aku merasakan golok itu masuk kedalam dagingku, sakit, aki terkulai, puluhan orang itu langsung mengerubutiku, apa ini? kenapa simulasi ini sangat menyakitkan, dimana aku? kenapa luka tusukan ini tidak seperti simulasi.
Kemana Malik dan Pram?
Aku terus berusaha melepaskan diri dari mereka, semua musuhku terus memukul tubuhku, rasanya sakit sekali, luar biasa sakit. Luka tusuk ini semakin perih, dan semua musuhku mengerubungiku menghajar tubuhku, aku melihat Mudha Praya masih mencoba menusukku, aku terus merangkak mencoba untuk berdiri, Tuhan, apakah ada pengkhianat lagi? Kenapa ini terasa nyata sekali, aku memejamkan mata, karena rasa sakit yang begitu hebat ini benar-benar seperti akan membunuhku.
Bumm!!!
Aku melihat semua orang menghilang, pasir-pasir yang tadinya memenuhi arena peperangan ini juga menghilang, Hutan Selatan kembali menjadi tempat yang indah dan asri, aku masih tidak dapat berdiri, sakit sekali.
“Malik!” Aku melihat Malik terkapar tak berdaya, wajahnya babak belur, aku mau mendekatinya tapi aku tidak bisa bangun.
“Bawa mereka ke markas strategi, obati dulu.” Raja Bapati memerintah seluruh punggawanya, ada apa ini, kenapa Raja Bapati terlihat biasa saja melihat kami babak belur, Nyai mana? Kemana Nyai Jasmine?
Kami sudah sampai di markas, aku di dudukkan di sofa yang nyaman, Malik juga, lalu Raja Bapati memerintahkan semua orang untuk keluar.
“Minum ini dulu Ayi.” Raja Bapati memberiku minuman, aku sedikit ragu menerimanya, jujur aku bingung, ini orang siapa? Raja Bapati atau Mudha Praya, kalau Raja Bapati kenapa dia membuat kami babak belur.
“Ayi, ini aku, Raja Bapati.” Raja Bapati memastikan, sementara aku masih saja bingung.
“Mana Nyai Jasmine?” Aku bertanya.
“Dia di ruang perawatan, dia sedang merasakan sensasi mati dari peperangan, makanya dia perlu perawatan.”
“Sensasi mati?” Aku bingung.
“Makanya minum dulu, nih.” Raja Bapati menyodorkan gelas kepadaku, walau sedikit khawatir aku tetap meminumnya.
“Malik sudah meminumnya, dalam 5 sampai 10 menit dia akan bangun.”
Aku meminum cairan ini, rasanya seperti teh, begitu aku menelannya, aku merasakan sensasi berbeda, aku merasakan kesejukan yang luar biasa pada tenggorokanku, lalu masuk ke lambungku. Setelahnya ada energi yang cukup kuat, hingga membuatku kepanasan, seketika seluruh tubuhku kembali berstamina, yang tadinya terasa sakit, semua kembali terasa baik-baik saja, bahkan luka tusuk itu juga sudah tidak terlihat, hanya ada sisa darah pada bajuku.
“Kok bisa?” Aku bingung lalu Malik bangun, dia sudah terlihat baik juga.
“Simulasi perang ini, aku membuatnya menjadi begitu nyata, setiap rasa sakit yang ditoreh di perang ini, kulipatgandakan menjadi 10 kali lebih sakit, sehingga rasa sakit itu menjadi persis seperti jika kau terluka dalam perang. Aku memasukkan unsur tipu daya penglihatan, tipu daya rasa, tipu daya bau, tipu daya ketakutan dan tipu daya rasa sakit, aku dan beberapa orang kepercayaanku membuat sistem ini dengan semua kemampuan kami, sehingga peperangan akan menjadi arena yang sesungguhnya. Seperti Nyai Jasmine yang sudah gugur dalam perang simulasi, kematiannya terjadi pada 1 jam pertama peperangan, sedang kau di bekuk pada 2 jam pertama peperangan.” Raja Bapati nunduk, ada nada sesal yang dalam yang membuat dia sedikit ragu, apalagi melihat simulasi kematian kekasihnya.
“Jadi Nyai hanya mengalami sensasi mati dan kami semua hanya mengalami sensasi barusan?” Aku memastikan.
“Betul.”
“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa sampai di punggung musuh?”
“6 Jam, perjalanan pasukanku akan dimulai dari tempat rahasia yang tidak terlalu mencolok, kami tidak akan mengambil resiko bahwa perjalanan yang panjang bisa membuat kami tertangkap, seperti kit apunya rencana rahasia, mereka pasti juga memilikinya.” Raja Bapati berkata.
“Aku hanya bisa bertahan selama 2 jam? Malik dan Pram berapa lama?”
“Malik ambruk pada 1 jam 45 menit pertama dan Pram sama denganmu.”
“Sebentar sekali kami bertahan, bagaimana kalau kita mulai lagi berlatih? Aku akan melihat berbagai kemungkinan, kau tidak memberitahuku sebelumnya bahwa kita akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, aku masih menyimpan keraguan tadi.”
“Aku sudah mengatakannya Ayi, bahwa kau harus serius, ini simulasi bukan gladiresik!” Raja Bapati seperti Kakakku saja, selalu menasehati.
“Ok, ok, kita akan mulai lagi setelah istirahat beberapa Jam, sampai kondisi Nyai pulih, mengalami sensai mati pasti membuatnya sedikit shock.” Aku mengatakannya.
“Ok, kita akan istirahat selama 3 jam, setelah ini minum lagi tehnya.”
“Oh ya, ini teh apa Raja? Kenapa aku merasa kembali berstamina?” Aku bertanya.
__ADS_1
“Namanya Teh Amreta, aku meraciknya sendiri, terbuat dari 753 daun ghaib yang di giling menggunakan tangan, kami memproduksinya secara rumahan, hanya sebagai teh sehari-hari, kami tidak menjualnya kemanapun, bisa dibilang ini adalah teh kehidupan, sesuai namanya. Teh ini membantu, baik manusia maupun jin untuk memulihkan keadaannya jauh lebih cepat, tingkat pemulihannya sama dengan 1 banding 1 bulan, jadi jika kau luka dan kau butuh waktu 1 bulan untuk recovery, maka ketika kau meminum teh ini, dalam hitungan 1 detik tubuhmu akan kembali sehat dan normal.
“Wow! Apakah kita bisa menggunakannya untuk orang cacat?” Aku bertanya.
“Orang cacat kan bukan luka, mereka memang orang istimewa yang Tuhan pilih, Teh Amreta hanya untuk mereka yang luka, kecelakaan atau melakukan tindakan ceroboh hingga tubuh mereka terluka. Sedang orang cacat kan bawaan lahir, kalau cacat karena kecelakaan, tergantung seberapa lama kecacatan itu terjadi, kalau sudah lebih dari seminggu, maka Teh ini tidak akan manjur. Kenapa? Kau mau memperdagangkannya?” Aku bertanya.
“Tidak, Aku punya ide Raja, tapi bantu aku ya.” Aku lalu bangkit, Malik mengekor dari belakang, aku tahu dia terluka cukup parah tadi, mungkin masih jetlag.
...
“Siapkan teh Amreta pada botol-botol kecil berukuran 5 mili, berikan hanya pada orang paling depan dan juga orang dengan kemampuan biasa 1 botol.” Aku memerintah, para pesukan Raja Bapati menurutiku.
“Apa kita akan menggunakannya saat simulasi sekarang?” Raja Bapati.
“Ya, tentu tidak, semua anak buahku akan menjadi lemah, kita akan menggunakannya sampai batas terakhir latihan. Kita akan membuat aku mampu bertaham selama 4 jam berperang, paling tidak selisih kita hanya 2 jam, waktu yang cukup untuk memberimu peluang sampai di punggung musuh tepat waktu.” Aku menjelaskan.
“Jadi setelah ini kita akan berlatih lebih keras?” Malik bertanya dengan bersemangat.
“Tentu saja.” Aku tersenyum dan bersiap menggunakan jubah perangku dan memegang kujang pada tanganku.
Simulasi di mulai, posisi seperti semula, aku berada paling depan barisan, musuhku terlihat ribuan, sekitar 7000 makhluk tergabung antara manusia dan Jin segala rupa.
Aku memakai jubah perang, aku sudah menyusun strategi bersama Malik dan samaran Pram tentunya, aku akan membuat pertahanan yang kuat, barikade tidak boleh bocor, itu satu-satunya cara supaya kami tidak kalah dalam waktu cepat.
Saat genderang perang ditabuh, mereka semua menyerang kami, aku dan semua pasukanku di baris pertama, tetap berdiri dengan tegak di barisan kami, kami membantai semua musuh yang datang menyerang, aku menyabet mereka dengan kujang, karembo dan menahan serangan mereka dengan Jubah Perang dari Raja Bapati.
Aku akan berteriak untuk selalu mempertahankan barisan, ketika semua barisan kami ada yang lengah, aku meminta bagian belakangnya mengganti, terus seprti itu sampai, aku melihat ratusan musuh sudah mulai habis kami hajar satu persatu.
Aku tidak bergerak dari barisan ini, posisi kami lurus tidak ada yang maju ke depan sendirian, aku belajar dari pengalaman sebelumnya, di mana kami slah strategi, aku yang gegabah langsung maju menyerang, maka aku akan kehabisan waktu dan akhirnya kalah telak.
Maka dari itu aku belajar untuk bertahan, aku menjaga barisan agar tidak dibobol musuh, kami menyerang tapi barisan tetap kami jaga, pasukanku tidak ada yang berani untuk maju sendirian. Kami semua mengganti barisan terus menerus, sementara aku dan Malik tidak ada yang mundur, kami bertarung mati-matian, aku melihat bahwa sudah 2 jam, dan kami masih bisa bertahan.
“Ganti!” Aku memerintahkan baris kedua untuk gantian mempertahankan barikade, kami bertarung mati-matian, sudah 3 jam kami bertahan, aku melihat sampai baris ke 5 semua sudah tumbang, tersisa hanya pasukan dengan kemampuan tinggi yang disiapkan untuk bertahan dan boleh bertarung hanya jika pasukan Raja Bapati sudah sampai, maka akan ada penyerangan dari depan dan belakang, dan ini terlalu dini jika mereka digunakan, baru 3 jam, kami tidak bisa bertahan 1 jam lagi sepertinya.
Aku terjatuh, masih 3 jam 15 menit, tidak sampai 4 jam. Ternyata semua lebih sulit dari yang aku bayangkan, aku terjatuh dalam keadaan luka parah, kata Raja Bapati jangan terkapar sampai mati, karena agak lama pemulihan ketika merasakan sensasi mati.
Semua kembali pada keadaan semula, Malik terkapar seperti tadi, samaran Pram malah mati, padahal kekuatannya disamakan dengan kekuatan Pram, tapi dia juga terkapar.
Aku diangkat lagi-lagi oleh pengawal Raja Bapati, menyebalkan, aku harus memulihkan stamina, kata Raja kami hanya boleh melakukan simulasi sebanyak 2 kali dalam sehari, tidak boleh lebih karena bahaya bagi tubuh kami dipaksa untuk terluka dan sembuh dalam waktu singkat, untuk jin mungkin aman, tapi untuk kami manusia, itu terlalu berbahaya, jika manusia biasa tanpa keistimewaan, mungkin akan mengurangi umurnya.
“Kita akan mulai besok pagi lagi Ayi, sekarang beristirahat dulu lah, kami akan menyiapkan makanan penambah stamina untuk manusia dan jin, kau harus segera pulih, dan memikirkan bagaimana caranya kau bisa bertahan berperang selama 4 jam.” Raja Bapati pergi untuk mengurus kerajaannya.
“Ser, yuk istirahat.” Malik memapahku, dia sok memapah padahal dia juga baru pulih.
“Nanti malam kita ke pasar malam yuk?” Malik mengajakku sebelum aku masuk kamar, ini memang baru jam 5 sore.
“Boleh, tapi aku dijajanin ya.”Aku menggodanya, aku tahu dia tidak punya uang kerajaan ini.
“Nanti aku minta uang sama Raja, buat jajanin kamu.” Lalu kami tertawa, tentu saja kami adalah tamu Raja, untuk sekedar jajan mah mudah.
Lalu setelahnya kami masuk kamar masing-masing.
...
Waktu menunjukan sudah pukul 12 malam, pasar malam dimulai dari jam 12 malam, benar-benar pasar malam sejati.
Aku dan Malik berkendara menggunakan kereta kencana, lokasinya lagi-lagi di tengah hutan, begitu sampai ada begitu banyak makhluk dengan rupa yang rupawan, itu pasti rupa rakyat kerajaan ini, sedang rupa yang lainnya, pastilah kawananku.
Mereka senang bisa ke sini, sekedar melepas penat, mengingat biar tempat tinggal mereka dekat, atpi masuk ke kerajaan ini tidaklah mudah, protokol masuk yang begitu ketat membuat siapapun takut menjadi penyusup.
“Ramai sekali Malik.” Aku tersenyum.
“Pakaian apa itu?” Malik bertanya, aku memang memakai pakaian dari kerajaan ini, yaitu dress panjang yang ngepas di badan, dengan pola batik yang memiliki warna mencolok berlengan panjang, lalu tutup kepala berupa kerudung dengan pola batik dan warna yang sama dimana ada tali yang dikaitkan ke dagu sebagai pengikat agar kerudung itu tetap rapih.
“Baju Nyai, aku mau pakai biar kayak penduduk kerajaan ini.” Aku tersenyum.
__ADS_1
“Kau cantik sekali.” Malik memujiku.
“Aku tahu.” Aku tersenyum.
Kami menikmati malam dengan sangat bahagia, ada begitu banyak dagangan yang mereka jual, ada bunga-bunga unik sebagai hiasan kepala, ada sepatu yang terbuat dari daun-daun, ada baju yang indah, semua orang bertrnasaksi lagi-lagi dengan sesuatu yang ada di dalam kain berwarna putih, entah apa itu, aku tidak melihat mereka menghitungnya saat memberikan.
“Kau mau ini?” Malik memperlihatkan gelang yang terbuat dari biji-biji, entah biji apa.
“Ini dari apa?” Aku bertanya pada penjualnya.
“Terbuat dari biji mutiara yang diambil dari kedalaman laut terdalam di pantai ini, lalu di jemur selama seratus hari dan setelah kering baru di buat gelang.”
“Wow, berapa harganya?” Aku reflek bertanya.
“10 gram emas.”
“Apa?” Aku kaget, mahal sekali.
“Oh, maaf tidak jadi.” Aku menaruhnya kembali.
“Apakah kau menerima emas macam ini?” Malik memberikan perhiasan emas yang ada di kantungnya, Itu sepertinya kalung.
“Tidak, itu emas murah, kami memakai emas murni bukan emas campuran seperti itu.” Penjualnya menolak.
“Hei! Ini emas 24 karat, masa campuran.”
“Sekilas melihatnya saja kami sudah tahu kalau itu campuran, apakah bangsa kalian begitu menghargai emas macam ini?” Dia bertanya lagi.
“Tentu saja.” Aku menjawab.
“Lihat ini.” Dia membuka kain putih penutup alat transaksi yang aku maupun Malik tidak tahu isinya.
Setelah dia membuka penutup itu, aku dan Malik langsung menutup mata, kilau emasnya sungguh membuat mata tersilaukan, sungguh emas yang terlihat sangat amat murni!
“Wowwww, boleh pegang?” Aku bertanya.
“Pegang lah, ini emas dengan ukuran kecil.” Dia menyombongkan diri.
“Ini ukuran kecil tapi udah silau banget?” Aku seperti orang kampung.
“Iya, makanya emas kalian tuh emas campuran, jangan bawa keluar emas kami, nanti mereka yang diuar sana pingsan melihat emas murni kami.” Penjual itu lalu merebut emas itu.
Aku dan Malik tertawa, kekayaan kami tidak ada apa-apanya dia banding dengan emas di sini, sungguh kerajaan yang sangat kaya raya.
Kami menjadi orang miskin di sini, tidak bisa jajan di pasar malam, dan sekarang kami hanya bisa jalan-jalan, di pasar ada begitu banyak hal yang dilihat.
“Ser.” Malik merangkul bahuku, kami ada di jembatan, menikmati indahnya malam dan hutan yang menjadi pasar dadakan ini.
“Ya?” Aku menengok kearahnya.
“Jika nanti, ternyata aku tidak selamat, maukah kau tetap hidup dengan baik.”
“Diam, jangan berbicara kemungkinan seperti itu.” Aku menjawabnya dengan dingin.
Aku tidak akan membiarkannya gugur, aku tidak akan sanggup hidup dengan baik tanpa lelaki ini, aku mohon Tuhan, ridhoi perang ini untuk menjadi kemenangan kami.
______________________________________________
Catatan Penulis :
Jangan lupa Like, Vote dan Coment ya, boleh juga di share kalau berkenan, bantu penulis hingga banyak orang yang mengenal karya ini.
Terima Kasih,
Salam sayang.
__ADS_1