
“Pram, aku sudah menandainya, kita sudah berputar-putar selama 2 hari ini.”
Aku dan Pram sudah 5 hari di gunung butir-butir, tetapi 2 hari ini aku merasa kita berputar-putar di tempat yang sama.
“Lihat itu, aku menaruh ikat ramputku pada ranting pohonnya, setelah seharian penuh kita berjalan bahkan tanpa istirahat, kita kembali lagi ke tempat kita mulai jalan.” Aku memastikan bahwa prasangkaku benar, entah karena kelelahan atau memang yang mengendalikan jalan kami memiliki ilmu yang hebat hingga bisa mengelabui kami.
“Bagus Heulang.” Aku memanggil karuhun baruku, tak lama dia muncul dan aku memberi perintah padanya untuk terbang setinggi yang dia mampu, lalu dia menurutinya, dia terbang setinggi yang dia mampu dan jatuh pada ketinggian sekitar 50 meter.
“Ada apa? Kenapa jatuh?” Aku bertanya padanya, di kepalanya ada memar dan darah yang mengalir.
“Ada semacam perisai.” Pram berkata dan menunjuk ke arah atas, tepat dimana Bagus Heulang terbang dan terjatuh.
“Ok, berarti ada yang tidak beres, Pram seseorang atau sesosok yang mengerjai kita haruslah seseorang yang kuat dan berilmu tinggi, kita bahkan tidak sadar setelah 2 hari.”
“Benar Ayi, kita harus cari lubangnya, lubang yang membuat kita berdua tertipu.”
Lalu kami berdua meneruskan perjalanan sembari sesekali melihat apakah ada yang janggal.
“Pram, aku tahu!” lalu setelah mengucapkan itu, aku mendekati jurang dan menjatuhkan tubuhku ke jurang, Pram yang melihatku melakukan itu tanpa pikir panjang ikut terjun berusaha mengapai tubuhku, aku melihat Pram bahkan tidak gentar dengan jurang yang dalam ini tidak lama dia berhasil menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku memejamkan mata membiarkan tubuhku di dalam pelukan Pram, lalu jatuh tepat di hamparan tanah yang basah dan kami baik-baik saja tanpa cedera apapun, tepat dugaannku, kami dibutakan oleh gendam.
Aku memperhatikan sekeliling, ini adalah tempat kami berkemah 2 hari yang lalu, tempat ini adalah lembah yang diapit beberapa tebing yang tinggi, aku memegang tanah yang basah dan melihatnya.
“Darah Pram.” Aku menunjukan tanganku yang menyentuh tanah di lembah ini, tanahnya basah oleh darah, Pram memegang tanganku dan menciumnya.
“Bukan darah, baunya tidak amis.” Pram berkata, aku pun ikut menciumnya, ternyata bukan darah.
“Quin boleh aku tanya kenapa kau melakukannya?” Pram menanyakan kenapa aku begitu berani terjun ke jurang.
“Kamu ngapain berani banget ikut terjun.”
“Ya kamu terjun, makanya aku reflek ikut.” Pram kalau saja ....
“Kamu tahu kita berdua kena gendam makanya tersesat dan untuk membangunkan kita dari gendam, kita harus kaget, satu-satunya cara supaya kita berdua harus kaget ya dengan cara itu, semua karuhun tidak bisa menyadarkan kita, karena mereka juga sama sedang tidak sadar.” Aku tersenyum saat menjelaskannya.
“Cerdas.” Pram memujiku.
“Pram, ternyata kita berdua hanya jalan di sepanjang lembah ini, kamu ingat kapan kita masuk ke lembah ini?”
“Dua hari yang lalu saat istirahat untuk makan malam dan tidur.”
“Betul setelah kita menolong seorang pemuda yang tubuhnya jatuh ke jurang kan?”
__ADS_1
“Iya Quin.”
“Ok, Bagus Heulang, coba terbang lagi, lihat setinggi apa kau bisa melesat. Dan perhatikan, diujung lembah ini apakah ada seseorang yang sedang menunggu kita?” Aku memerintah Bagus Heulang.
Tidak lama Bagus Heulang datang padaku, dia terbang bahkan sampai kami tidak bisa wujudnya lagi. Berarti sudah aman.
“Dia sedang menghampiri kita, bersiap.” Bagus Heulang berdiri di depanku. Pram dan semua karuhun berdiri di depanku.
“Hei! Kalau kalian semua berdiri di depanku, bagaimana caranya aku melihat musuh kita.” Aku protes, karena mereka berlomba melindungiku.
“Sorry.” Pram mundur dan membiarkan aku memimpin.
Angin berdesir dengan lembut, rumput melambai-lambai, beberapa menit kemudian, angin yang tadinya begitu sejuk menjadi dingin, rumput tidak lagi melambai-lambai tapi hampir tercabut dari akarnya karena angin yang bertiup sangat kencang.
Bersamaan dengan gemuruh petir yang membahana, datang seorang kakek tua, bajunya lusuh seperti jubah berwarna abu-abu, jenggot dan rambutnya panjang sampai kaki dibiarkan terurai, aku dan Pram bertahan dari terpaan angin, kakek itu tidak berjalan, dia melayang!
“Ayi Mahogra.” Dia menyapaku.
“Apakah aku mengusik tempat tinggalmu hingga kau menggunakan ilmu hitam untuk menipuku dan kawananku?” Aku langsung fokus pada masalahnya.
“Siapa? Siapa yang berani menipu Ayi dan Kharisma Jagat Agung? aku hanya memberi pelajaran pada 2 anak muda yang tidak tahu apapun dan seenaknya melepas tawananku.”
“Baiklah aku akan mencoba memahami yang kau sampaikan, karena sepertinya kesalahan ada padaku, tapi sebelumnya silahkan perkenalkan dulu dirimu.” Aku membujuknya, karena akan menjadi pertarungan yang sia-sia jika kami melawannya langsung.
“Maksudmu pemuda yang berpakaian seperti pendaki itu?” aku langsung bisa menebak karena hanya dia yang kami temui di sini sebelumnya.
“Betul.”
“Baiklah akan kubawa dia kembali.” Aku setuju membawa lelaki itu kembali karena aku percaya bahwa Partagah bukan petapa jahat, walau sepertinya dia menguasai ilmu hitam dan putih. Aku tidak takut padanya, tapi gunung ini adalah istrinya, aku akan selamanya tersesat jika tidak mengikuti peraturan di sini.
...
Aku dan Pram terpaksa harus turun ke bawah mendekati jurang di mana lelaki itu jatuh, aku akan memanggil Raden.
“Raden, apakah kau berhasil membujuk keluarganya datang mengambil tubuh di jurang ini?” Aku bertanya. Raden hanya menggeleng, kulihat pria itu kelelahan dan ketakutan.
“Kemarikan tanganmu.” Aku meminta pria yang ruhnya terombang-ambing itu untuk mengulurkan tangannya, begitu tangannya kusentuh, dingin sekali, seperti memegang es batu dan tubuhnya sangat bau, bau busuk seperti bangkai tikus, kelihatannya aku menolong orang yang salah.
Seperti biasa aku menulusuri masa lalunya.
“Oh ayolah Sujana! Tahu diri sedikit, kau ini hanya anak peternak, sok kuliah di kota pulang hanya pamer sebagai pegawai rendahan, berani lagi meminangku.” Seorang perempuan cantik yang memiliki kulit begitu bersih menghina seorang pria, setelah ku lihat pria itu adalah lelaki yang ruhnya terombang-ambing, namanya Sujana. Aku masuk ke dunia dimana semua berawal, tentu saja seperti dulu aku masih kecil ketika aku menolong Psikiaterku menemukan neneknya, mereka tidak bisa melihatku di dunia ini.
“Kau, berhenti menghina anakku.” Seorang ibu yang terlihat renta membela Sujana, mungkin dia ibunya, mereka berada di sebuah rumah yang lumayan bagus.
__ADS_1
“Kami datang karena kami ingin melamarmu Putri Kencana, kau anak seorang abdi negara, kau seorang yang ramah sebelumnya, selalu menanyakan perihal putraku, kami merasa bahwa kau memang menyukai putra kami.” Aku menebak itu pasti ayahnya Sujana.
“Kalian sudah salah sangka, aku disuruh bapakku menanyakan anak kalian, untuk membantu kami melakukan pekerjaan kasar, melakukan pekerjaan tukang, apa kalian tidak berpikir bahwa aku dan anakmu begitu jauh dan berbeda level, pak kau hanya seorang pekerja kasar, bagaimana mungkin bermimpi menjadikanku menantu kalian.”
“Berhenti Kencana! Berhenti menghina orang tuaku, cukup, jika memang kau keberatan, katakan saja tidak perlu menghina.” Sujana berkata menahan air mata yang akhirnya jatuh.
“Bagaimana aku menolak, kalian datang saja sudah merupakan aib, bagaimana jika kabar ini terdengar ke pelosok kota, siapa yang mau meminangku setelah ini, jika orang rendahan seperti kalian berani datang melamarku!” Kencana masih menghina mereka, bahkan keluarga Sujana tidak dibiarkan masuk, mereka hanya berbicara di halaman tanpa duduk.
Sujana mendekati Kencana dan berbicara cukup pelan, aku mendekati mereka agar bisa mendengar pembicarannya.
“Setelah ini kau yang akan datang ke rumahku.” Itu kata-kata Sujana.
Lalu Sujana dan keluarganya pergi dari rumah mewah itu.
Bersama kepergiaan mereka, aku pun kembali ke gunung butir-butir dunia nyata kami.
“Jadi kau ke sini untuk mengadakan perjanjian dan menyembah setan?” Aku bertanya kepada lelaki itu.
“Aku sakit Ayi, ayah ibuku dia hina.”
“Kau mengadakan perjanjian pelet dengan setan?” Aku bertanya lagi.
“Tidak, aku membuatnya gila, aku membuatnya datang ke rumahku setiap hari untuk menyatakan cinta, dalam keadaan tanpa busana, dia akan kepanasan sehelai saja kain yang menempel di tubuhnya, aku ingin dia merasakan malu yang sama ketika dia mempermalukan kami,”
Aku kaget, ternyata dia mengadakan perjajian santet. Tuhan, bodohnya lelaki ini.
“Pantas ruhmu terombang-ambing, tidak ada yang mau menerima si pelaku musrik dan sirik, sesalah apapun wanita itu padamu, tapi apa yang kau lakukan tetaplah dosa besar.”
“Aku akan tetap membantumu agar tubuh itu diangkat dari jurang, mungkin hanya sisa tulang belulang mengingat sudah 10 tahun umur dari tubuhmu itu, aku akan membantu mengangkat jasad itu. Pram bisa kah kita menelpon seseorang dengan telepon satelitmu, mengabarkan bahwa ada mayat di sini? aku pikir keluarganya tidak akan mampu mengangkat mayat itu.” Pram mengangguk, walau sepertinya dia enggan menolong.
“Mengenai ruhmu, hanya Tuhan yang berhak memutuskan, tapi saat ini Partagah menganggapmu tawanannya, maka aku akan mengembalikanmu padanya, karena jika aku tidak menepati janji maka akan sulit bagiku naik ke atas, percayalah pada Tuhan, meminta ampun lah agar ruhmu bisa kembali pada-NYA.”
Setelah mengembalikan ruh Sujana pada Partagah aku dan Pram melanjutkan perjalan kami, tetapi sebelumnya Partagah berbicara secara pribadi padaku.
“Ayi Mahogra, bersikap baiklah pada Kharisma Jagat Agung, karena dia mencintaimu dengan seluruh hatinya. Kalian adalah pemimpin kami kelak.” Partagah berkata dan Aku hanya bisa tersenyum.
“Terima kasih, apakah kami bisa melanjutkan perjalanan?”
“Jalanlah terus ke arah selatan, aku akan membantumu di sini ataupun tempat lain, aku menyatakan sebagai sekutumu.” Setelah mengatakannya dia pergi bersama ruh sujana.
____________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Semoga nggak ada yang rindu Malik ya, karena Malik masih lama keluarnya. Kalau ada yang tanya Seira sama siapa, yah cinta akan menemukan jalannya.