Karuhun

Karuhun
Bagian 36 : Perpisahan


__ADS_3

Aku bukanlah ratu untuk Kharisma Jagat Agung, aku hanya wanita pecinta yang berharap kebaikan untuk yang dicintainya.


Aku pergi melangkahkan kaki dengan berat, tapi aku yakin bahwa ini jalan benar yang kupilih, menjauh darimu agar kau selamat.


“Kau yakin akan pergi?” Pram bertanya, saat ini aku sedang ada di hanggar pesawat milik Pram, terparkir beberapa pesawat cessna milik Pram yang dia kendarai sendiri, katanya dia memang memiliki ijin untuk pesawat single engine.


“Apa kau pernah mendengar seorang Ayi Mahogra ragu dalam setiap keputusannya?” Aku menatapnya lekat sembari membawa tas ransel yang cukup berat, aku memang memutuskan untuk pergi bersamanya.


“Aku memang menantikan saat seperti ini, kita lihat apakah hatimu akan sama atau goyah karena aku mampu membuatmu berpaling.” Dia tersenyum sementara kami sudah bersiap untuk naik pesawat.


Tujuan kami saat ini adalah Daerah terpencil yang dinamakan Kitanajoa, lokasinya ada di luar pulau ibukota, kami mencari seseorang, tapi agak berat untuk menemukannya, selain termpatnya terkecil, dia juga tidak mudah ditemukan, di tempat terpencil itu ada gunung yang harus kita daki, namanyua gunung butir-butir, secara geografis aku belum pernah mendengarnya, kata Pram gunung itu tidak bisa ditemukan jalurnya, hanya kami para Kharisma Jagat yang bisa melihat gerbang dari kaki gunung, tapi itu juga kalau diperbolehkan oleh orang yang kami cari.


“Siap Quin?” Pram bertanya sambil bersiap dengan kendari pesawatnya, aku tidak mengerti dia betul bisa mengendarainya atau hanya sombong saja, tapi mau apalagi, aku tidak bisa membatalkan perjalanan ini, karena hanya pesawat kecil yang bisa tembus ke daerah Kitanajoa.


Pesawat perlahan melaju datar, lalu ada seseorang yang memandu kami, mengarahkan Kapter Pram untuk berjalan sesuai dengan koordinat yang sudah ditentukan, setelahnya kami perlahan take off, perlahan kami semakin tinggi, aku dan Pram menggunakan aviation headset, peralatan yang cukup penting agar kami bisa saling berbincang selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih selama 2 jam.


“Pram indah sekali ya pulau di mana kita tinggal? Lihat dari atas semau terasa tenang.”


“Aku tidak bisa melihat yang indah di bawah sana, karena kau menghalangi mereka.”


“Pram, ayolah. Aku tidak suka gombalanmu yang crispy itu, kau terdengar seperti playboy tau.” Aku memperingatkannya karena dia suka sekali memujiku.


“Aku tidak gombal, setidaknya 20 tahun kau memikirkan seperti apa calon Ratuku, apakah dia cantik, berkulit putih, berwajah tirus atau dia tipikal wanti kuat. Saat bertemu denganmu pertama kalinya di rumah sakit itu, aku merasa semua anganku hilang, semua yang dalam bayanganku tentang sesuatu yang indah terlihat biasa saja, karena wajahmu semuanya membaut mataku terpana, bahwa aku tidak pernah menemukan siapapun melebihi keindahan wajahmu.”


“Pram, ada kantung? Aku mau muntah.” Aku menggodanya, ini akan berat untuk kami berdua, memulai peperangan ini berdua saja, tapi aku berjanji bahwa kami akan menjalankan tugas kami sebagai Kharisma Jagat Agung dan Ayi Mahogra. Kami akan saling bahu membahu untuk mendapatkan jawabannya.


“Quin istirahat saja dulu, perjalanan masih sekitar 1 jam lagi, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.”


“Kau yakin akan membiarkanku tidur? Kau lupa aku lemah saat tidur, jika ‘mereka’ datang dan mau masuk ke tubuhku, kau yakin bisa menghalau mereka dalam keadaan mengendari pesawat ini?”


“Kau tidak lihat mereka?” Pram menunjuk belakang kami diluar sana.

__ADS_1


“Oh Tuhan, kau membawa mereka semua?” Aku bertanya dan kaget.


Seluruh pasukan kami dibawa, mereka berkarembo Hejo dan berem, semua pasukan kami,  pasukanku yang telah di himpun Malikpun ikut bersama kami.


“Iya, merekakan pasukanmu, Malik tidak berhak atas mereka.” Pram berbicara dengan dingin tanpa menatapku.


“Malik membutuhkan mereka kalau .... “ Aku khawatir.


“Tidak akan, setelah tidak bersamamu Malik tidak memiliki musuh Quin, dia selama ini memiliki musuh karena mereka semua mengincarmu.” Pram masih menatap ke depan.


“Aku fikir kamu benar, maka tindakanku meninggalkannya sudah tepat bukan?” Aku bertanya.


“Sudah tepat.” Pram menjawab, setelahnya aku tertidur karena memang kelelahan, aku pamitan dengan ama, Mas Ridho, Mbak Ayu dan Seina kemaren, aku bilang akan pergi bersama Pram, aku minta mama mengunjungi Malik mengatakan kabar pernikahanku dengan Pram. Mama awalnya marah, tapi setelah kuberi pengertian dan Pram datang memebantu menjelaskan, mama akhirnya setuju dengan catatan, aku akan pulang setiap tahun. Aku setuju walau tidak yakin akan menepatinya.


...


“Jadi ini pulau Kitanajoa? Kenapa gersang sekali Pram?” Kami sudah mendarat dan sedang berjalan mencari penginapan, kami memutuskan untuk bermalam di dekat tempat pendaratan karena jujur, kami belum tahu harus kemana.


Kami menemukan penginapan yang cukup sederhana, Pram memastikan bahwa ini benar penginapan nyata bukan penginapan ghaib, maklum kami berdua sama-sama terlalu hati-hati untuk menjadi korban penipuan ‘Makhluk’ tak terlihat itu.


“Aku akan memesan dua kamar, kita bisa istirahat sebentar di sini.” Pram masuk ke lobby yang seadanya, terdiri dari meja yang melingkar dan di balik meja tersebut ada seorang yang menjadi resepsionis alakadarnya, tanpa pakaian resmi dan terlihat seperti anak dari pemilik penginapan ini.


Saat menunggu Pram aku melihat kearah lukisan di dekat tangga di samping kanan lobby, lukisan seorang wanita berkebaya putih dengan konde yang berhiaskan bunga mawar merah, sekilas aku meras lukisan itu mengeluarkan cahaya di sepanjang framenya.


Aku menyentuh lukisan itu, aku hanya memastikan bahwa cahaya ini hanya pertanda baik.


Setelah berhasil mennyentuhnya, aku merasa seseorang menepuk bahuku dengan lembut dari belakang.


“Assalamualaikum Ayi.” Aku menoleh, tepat seperti yang di lukisan, wanita itu yang berkebaya putih dan berkonde dengan hiasan bunga mawar menyapaku.


“Waalaikumsalam.” Aku membalas salamnya.

__ADS_1


“Ayi ikut Nyai ke atas.” Wanita itu menuntunku mengikutinya naik ke atas tangga.


Kami sudah di lantai 2 ada sektiar 5 kamar saling berhadapan di lantai ini, di ujung lantai dekat tangga untuk naik ke lantai 3, ada jendela yang cukup besar, nyai kebaya putih berhenti di dekat jendela.


“Sudah kukatakan bahwa kami tidak memiliki apa yang mereka inginkan, kami wanita terhormat dengan suami yang terhormat, kami menjunjung tinggi kesetiaan, tapi mereka datang merayu kami dengan uang dan emas. Ada diantara kami yang selamat dari godaan ada juga yang tergelincir, lihat.” Nyai menunjuk kebawah dari jendela ini.


Aku melihat arah yang ditunjuk nyai yang tadinya hanya pekarangan lobby yang gelap karena penerangan seadanya menjadi begitu terang, ada banyak pria bule yang berpakaian seperti tentara, mereka pasukan mungkin pasukan belanda, kami menyebut mereka KNIL


“Apa yang mereka lakukan di sini?” Aku bertanya.


“Hari itu tahun 1862, mereka berhasil menang di seluruh pulau negeri ini, menawarkan bantuan palsu kepada para petani, mengatakan bahwa kami bisa menjadi tuan atas tanah kami yang dulunya adalah milik para raja dan hasil pertanian mutlak mirip para raja kami, bisa menjadi tanah kami sendiri, tapi aku tahu mereka bohong dan berniat menguasai tanah kami dengan cara yang berbeda.”


“Apa yang mereka lakukan?” Aku bertanya.


“Naik keatas Ayi.” Nyai kembali menuntunku ke lantai 3, disini banyak sekali orang, mereka KNIL yang sedang bersenang-senang dengan para nyai, mereka memegang alkohol dan makanan-makanan yang terlihat mewah, tapi mereka seperti tidak menyadari kehadiran aku dan nyai berkebaya putih.


“Lihat Ayi.” Nyai menunjuk kamar-kamar itu, aku melihat para KNIL sedang melakukan hubungan intim dengan para nyai. Menjijikan sekali.


“Mereka merayu para istri dengan uang dan emas, mereka bahkan merayunya dengan tidur bersama, memberi para nyai bodoh itu bunga dan madu, setelah itu mereka hanya perlu membunuh para suami mereka lalu dijanjikan akan dijadikan istri, lalu berbondong-bondong perempuan yang kecewa pada suami, membunuh suaminya tanpa ampun, tidak ingat anak tidak ingat tatakkrama, hanya ingat nafsu dan janji palsu para KNIL yang sudah pasti mereka ingkari.”


Kami berdua lalu duduk di balkon lantai 3 ini, jauh dari hiruk pikuk kumpulan tentara penjajah itu.


“Hanya aku di Kitanajoa ini yang bertahan pada tradisi, bukan karena suamiku baik, bukan karena kau kaya dan bukan kanrena aku mencintai suami.”


Nyai berkebaya putih berhenti dan menatapku dengan tajam, lalu melanjutkan kata-katany.


“Tapi karena aku AYI TIRUNG TANAH PASUNDAN!” Dia berkata dengan tegas dan penuh penekanan, saat dia mengatakannya aku langsung lemas, air mataku jatuh, aku melihat keseluruhan hidupnya yang sangat memilukan dan mengerikan ....


_______________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Besok aku upload lagi ya part 37, mohon maaf kalau nggak terlalu panjang, aku jangan di kejar-kejar ya, trus jangan nanyain Malik dulu ya, karena saat ini hanya akan ada ksiah cinta yang syahdu antara Pram dan Seira, kalau ada yang tanya Malik apa Pram? Ya, aku nggak suka sad ending, itu jawabannya.


__ADS_2