Karuhun

Karuhun
Bagian 48 : Malik Rainan


__ADS_3

POV MALIK


Sudah 6 bulan Seira pergi, aku tidak mendengar kabar apapun lagi darinya, aku masih tetap tidak mampu makan dengan baik, tidak mampu melakukan apapun, hanya berdiam diri di kamar.


Hanif datang setiap hari dan akhirnya memilih tinggal bersamaku karena memastikan aku akan tetap hidup.


Aku tidak berniat mati juga, karena memang aku menunggu, menunggu kesempatan masuk lagi ke hidupnya, walau aku tidak tahu kapan, karena matanya, saat berbicara, aku merasa dia bukan mengatakan perpisahan, tapi seperti dia mengatakan “Tunggu aku.” Matanya tidak dapat membohongiku.


“Malik, ada tamu.” Hanif mengetuk pintu kamarku, aku sedang membaca buku, keseharianku memang membaca buku, ruang segelpun sudah kosong, karena Pram dan Seira sudah membawa semua pasukan. Aku juga tidak tertarik lagi melakukan penaklukan, untuk apa? Aku dulu melakukannya untuk cintaku.


“Siapa Nif?” Aku bertanya.


“Keluar dulu deh.” Hanif pergi.


Aku berjalan keluar kamarku dan menuju ruang tengah dari kejauhan aku sudah mengenali wanita itu.


“Ma, apa kabar.” Aku berlari dan mengambil tangannya untuk salim, Ibunya Seira datang.


“Malik apa kabar? Mama kangen sama Malik.”


“Malik baik Ma.” Aku menjawab singkat, duduk di sampingnya dan tetap menggenggam tangannya.


“Maafin Mama ya Nak.” Mama menangis, ada apa ini?


“Untuk apa Mama minta maaf?” Aku terus menggenggam tangannya.


“Seira sudah menikah dengan Pram Nak.” Dalam perkataannya dia tercekat, aku limbung dan genggamanku pada tangannya mengendur, aku lemas seketika.


Dia menarik tangan dan tubuhku lalu memelukku, “Sampai kapan pun, kamu anak Mama, jangan pernah lupa itu, sampai kapanpun Malik adalah orang yang sangat Mama sayang.”


Setelah mengatakannya Mama keluar dan pulang, Ridho sudah menjemputnya. Aku tidak mengantar keluar karena jujur aku masih shock, Hanif yang menuntun Mama keluar, aku masih bengong saja, sampai Hanif menepuk bahuku.


“Malik, ayolah, cukup ya. Lihat badan lu, udah kurus kerempeng gini.”


“Emang gue pernah gendut?” Aku bertanya.


“Ya makanya sadar! Hidup lo porak-poranda karena seorang wanita! Inget kita udah bersiap untuk kemungkinan ini kan? Waktunya beberes, udah saatnya lu bahagia, setelah puluhan tahun bertarung dengan para karuhun liar, penaklukan yang berat sampe bobot tubuh lu benar-benar drop, dari dulu sampe sekarang, penampilan klimis lu doang yang bisa kamuflasein betapa kurusnya ade gue.”


“Hanif, lu ngerasa ada yang salah nggak?”


“Malik! Please deh, dengerin gue sekali ini aja, lu udah gue diemin puluhan tahun, bahkan gue ikut dalam kegilaan ini, tapi sekarang cukup Malik! Nggak akan lagi gue biarin ade gue hancur lebih dalam lagi.” Hanif berkata dengan cukup tajam.


“Tidak ada ibu yang tidak bahagia menyambut pernikahan putrinya, putri yang akan menikah dengan lelaki baik-baik, dari keluarga terpandang sekaligus kaya raya, tapi lihat caranya datang ke sini, menangis sesegukan, untuk memberitahu putrinya menikah, aku yakin ada yang salah, Seira pasti tidak bahagia, aku yakin itu Nif.”


Hanif kulihat terdiam, sepertinya kata-kataku masuk ke dalam pemikirannya.


“Apa asumsimu?” Aku sudah yakin, kakakku ini orang yang paling gampang dibujuk.


“Dia sedang merencanakan sesuatu, tapi entah apa, aku harus bertemu dengannya, kalau prasangku tepat, kita takkan bisa menemukan dia dengan mudah.”


“Kau yakin dia masih mau menemuimu?”


“Entahlah, aku akan mencarinya, itu saja dulu, baru pikirin yang lain.”


Aku langsung bergegas ke kamarku, mengambil ransel yang cukup besar memasukan semua yang penting, membuka brankas, membawa cash secukupnya dan terakhir senjata api, hanya untuk berjaga-jaga saja.


Setelah itu aku keluar dan bertemu dengan Hanif di depan pintu masuk rumah.


“Malik, lu yakin bakal baik-baik aja, gimana kalau lu salah dan ternyata dia bahagia?” Hanif bertanya sambil memegang bahunya.


“Kalau itu yang terjadi jauh akan lebih baik, Demi Tuhan walau sakit itu jauh lebih baik, dibanding aku benar dan ternyata dia menderita, aku akan menyesal dan mungkin tidak mampu lagi hidup.”


“Gue ikut.” Hanif berjalan kearah kamarnya.


“Jangan Nif, perusahaan butuh lu, sementara gantiin gue dulu ya, perusahaan butuh seorang pemimpin, kan lu tau kita menopang ratusan kepala keluarga, kantor harus berjalan, bantu gue jagain kanto ya.” Malik berkata tanpa menoleh dan pergi.


...


Aku berkendara dengan mobil Jeep ku, mobil yang bisa aku bawa ke medan apapun, sekarang aku akan ke rumah Mama dulu, memastikan bahwa Seira ada atau tidak di dekat sana. Aku akan menyelidikinya dari jauh, karena Mama pasti tidak ingin memberitahu yang sebenarnya, atau Mama juga sama sepertiku tidak tahu apa-apa tapi sebenarnya merasakan ada yang tidak beres.


Sekitar 2 jam aku berkendara, aku tidak tahu harus menginap di mana, aku akan bermalam di mobil saja dulu, dari jarak yang cukup dekat sehingg dari arah manapun jika Seira datang aku bisa lihat. lit

__ADS_1


Bersyukur karena aku punya pengalaman yang keras dulu, saat aku masih ngilmu, aku terbiasa ngemper, karena menaklukan mereka kadang membuatku harus tidur berhari-hari di jalanan, mereka yang katanya Karuhun liar, Karuhun yang tidak punya tuan atau sudah diusir oleh tuannya sangat sulit di taklukan, aku harus ikut mereka tinggal dimanapun dan kemanapun mereka pergi.


Walau Hanif bilang itu adalah saat terberatku, tapi aku bahagia, karena aku melakukannya untuk cintaku, hatiku dan jiwaku, aku melakukan penaklukan kesana-kemari hanya untuk memastikan bahwa aku semakin kuat dan saat terpaksa Seira harus membuka segelnya jika aku sudah tiada, dia sudah punya pasukan di belakangnya, pasukan yang kukumpulkan satu-satu.


Makanya ketika Seira dan Pram mengambil mereka semua di ruang penaklukan di markasku, aku tidak keberatan, karena pasukan itu memang milik Seira.


...


Sudah seminggu aku memantau rumah mama tapi belum ada tanda-tanda Seira pulang ke rumah, aku akan mulai dari yang terdekat dulu, perusahaan Pram, aku akan mengorek apapun yang mungkin mendekatiku kepada wanita itu.


[Nif, udah lu cari yang gue minta?] aku menelpon kakakku, 3 hari yang lalu aku meminta Hanif mencari Pram, kemana dia, kalau ada riwayat kepergian dan juga jejak mereka, kalau mereka menikah pasti ada jejaknya, pasti, apalagi pernikahan mereka adalah pernikahan adat, tidak mungkin tidak ada beritanya.


[Pram lagi di Bali sama Seira, mereka berangkat 2 minggu lalu, bulan madu kata informan yang utus.


[Informan lu liat mereka di bandara? Liat pernikahan mereka atau .... ]


[Malik gue mogon balik ke rumah ya.]


[Tunjukin gue foto pernikahan mereka, tunjukin kalau Seira memang bahagia, tunjukin semua yang bisa membuktikan, bukan cuma data tulisan, gue nggak percaya siapapun!] Aku menutup telepon, aku tidak percaya, aku yakin, seluruh hatiku yakin bahwa kekasihku tidak baik-baik saja, hatiku tidak pernah sekalipun salah.


Aku bergegas, sekarang aku akan ke kampung halaman ayah Seira, kampung yang pernah kukunjungi sekali, bahkan bertemu ayahnya di sana, ayah yang sangat dia benci.


Aku terpaksa ke sana karena ada seorang Karuhun yang sangat kuat, aku harus mendapatkannya, karena karuhun itu bisa melindungi Seira di lain waktu saat aku sudah tiada, aku selalu merasa akan pergi duluan dari wanita itu, makanya aku selalu mempersiapkan perlindungan untukknya, termasuk markas itu, markas itu atas namanya, berjaga-jaga kalau aku tiada, dia akan survive di markas itu, walau buka segel selalu jadi jalan terakhir untukku.


...


“Jalan yang dipilih Ayi akan sulit Tuan Malik.” Mang engkus dan aku sudah duduk di rumahnya, aku memang akrab denganya tanpa sepengetahuan Seira tentunya, tapi kami jarang ketemu di rumah, kami lebih sering ketemu di hutan, di gunung atau pantai sekitar sini, karena kami memang biasanya melakukan penaklukan bersama. Seira kurang akrab dengan saudara dari ayahnya, karena memang ibunya Seira ditinggal ayahnya menikah lagi, sehingga putus hubungan antara ayahnya dan anak itu, begitupun dengan semua saudara ayahnya, Seira bertemu Aam juga karena pemakaman ayahnya, tapi sebenarnya aku lebih mengenal seluruh keluarganya para pemegang Karuhun, kebanyakan Karuhun mereka sudah kutaklukan, hanya berjaga-jaga sesuatu terjadi padaku, sudah kupastikan bahwa seluruh keluarga ayahnya adalah pasukannya.


“Jalan apa? Bukankah menikah dengan Pram adalah jalan terbaik, dia akan menjadi pemimpin kalian?”


“Menikah? Dengan Pram? Kapan? Kami tidak mendengar, Tuan Malik kan tahu, aku adalah jajaran menengah dari garis para Tetua, jika Ayi Mahogra dan Kharisma Jagat Agung menikah, maka seharusnya kami tahu bahkan seharusnya kamilah yang menyelenggarakan pernikahan.”


Sudah kuduga, dia tidak menikah, atau mungkin belum menikah.


“Mang Engkus tahu dimana dia?” Aku bertanya langsung, Mang Engkus meminum kopi hitamnya.


“Ada kabar burung, tapi ini datangnya dari orang yang tidak bisa dipercaya, tapi siapa tahu bisa menjadi petunjuk.” Mang Engkus menghembuskan nafasnya.


“Katanya Ayi dan Pram hilang, mereka dikabarkan membangun kerajaan sendiri, mereka menghimpun bala bantuan untuk berontak, katanya mereka ingin tampuk kekuasaan sempurna, tanpa penasehat yang dipegang oleh Tetua, mereka ingin kekuasaan mutlak.”


Aku seketika tertawa terbahak-bahak, ini sungguh konyol, apa dia sedang membicarakan wanit itu, wanita yang kukenal puluhan tahun?


“Maaf, aku hanya merasa bodoh sekali berita itu.”


“Aku memang baru sebentar mengenalnya, tapi aku tau dia bukan orang seperti itu, dia bahkan membawa Aam dengannya, melindunginya walau Aam sebelumnya tidak dia kenal sama sekali, dia menyayangi Aam seperti adiknya. Tapi satu hal yang bisa menjadi petunjuk dari berita bodoh ini Tuan, kalau memang dia menghilang dan Tetua tidak bisa menemukan, artinya mungkin dia pergi ke tempat dimana Tetua tidak bisa jangkau sehingga jejaknya tidak bisa diendus sama sekali.”


“Ok, jadi di mana saja tempat itu Mang?”


“Ada banyak tempat Tuan, setidaknya lebih dari 10, saya akan tuliskan ya.”


Mang Engkus mengambil kertas dan pulpen, lalu dia menulis, setelah semua tempat sudah di tulis, dia menyerahkan kertas itu.


1. Lereng Gunung Barat


2. Dusun Mati barat


3. Telaga biru Sumedang


4. Gunung Butir-butir


5.  Hutan Bambu Jawa timur


6. Situ Rawa Gendit


7. Hutan Timur


8. Gunung Patuha


9. Gunug Salibar


10. Hutan mati di dekat Selat Sunda

__ADS_1


Aku pamit setelah mendapatkan kertas itu, aku akan ke tempat pertama Lereng Gunung Barat, aku bisa berkendara dengan mobil kesana, setelah cek lokasi lumayan jauh dari sini, sekitar 8 jam perjalanan.


[Nif, Gue ke Lereng Gunung Barat ya, kalo gue nggak bisa di hubungi berarti gue lagi di pegunungan, gue akan tetep komunikasi kalau memang bisa.] Aku menelpon kakakku.


[Malik! Lu udah ngemper tidur di mobil, baju juga lu nggak bawa banyak, sekarang lu mau pergi kemana lagi?] Sebelum dia selesai bicara, aku menutup teleponnya.


Sudah kubilang, aku tidak bisa berhenti sampai memastikan, bahwa dia baik-baik saja.


___________________________


Catatan Author :


Aku bahkan menangis membaca part ini.


Aku tidak  akan berhenti hanya untuk memastikan kau akan baik-baik saja, bukan untuk memaksamu kembali padaku (Malik Rainan)


Kemarin ada yang minta visual, aku kasih ya, tapi please kalau ada yang drop karena tidak sesuai ekspektasi kalian, ya jangan di hina dina, karena kan sebenarnya semua tergantung imajinasi kalian saja. Aku pakai Public figur yang menurut aku paling dekat dengan wajah dan sikap masing-masing karakter.


**MALIK RAINAN : **Pria yang tinggi dengan hidung mancung dan mata yang dalam\, tubuhnya tidak atletis cenderung kurus karena sibuk melakukan penaklukan Karuhun\, sehingga tubuhnya tidak terawat\, tapi sangat manis dan klimis.






 


**SEIRA ADAM HANIDA : **Wanita cantik\, energik\, tinggi tapi tidak terlalu putih\, terkesan tomboy tapi sebenarnya memiliki hati yang lembut\, wajahnya cenderung persegi\, memiliki rahang yang tegas dan jidad yang mendominasi\, dari keseluruhan ciri-cirinya maka aku merasa Mbak Sabai yang cantik ini lah yang paling dekat dengan karakter Seira.





 


 


 


 


 


 


 


 


PRAMUDYA AKSARA : Lelaki tegap dada bidang, tubuh atletis, dengan wajah sangat tegas, tapi sorot mata yang begitu lembut, aku merasa Kakang Arifin Putra sangat mendekati karakter Pram.



 



 




Sekali lagi jgn lupa VOTE, LIKE DAN COMENT YA, btw Karuhun sudah lulus kontrak loh, makasih buat kalian yang selalu dukung aku, aku akan berusaha lebih baik lagi dan lagi setiap harinya, supaya kalian tidak kecewa dengan tulisanku yang receh ini.


Terima Kasih dari Author yang cengeng.

__ADS_1


__ADS_2