Karuhun

Karuhun
Bagian 34 : Pramudya Aksara III


__ADS_3

POV Pram (Jodoh Seira)


“Jadi Gus Daria adalah orang suruhan tetua untuk membereskan masalah di daerah ini?”


“Bisa dikatakan begitu.”


“Ok, jadi apa hubungan sumur kering itu dengan kedatangan Gus dan juga kematian mendadak di daerah ini?” Kami masih di kediaman Gus Daria semua pasien sudah di pulangkan terlebih dahulu.


“Apakah Tuan sudah menyelidiki ke sebelas korban?”


“Sudah, tidak ada relasi antara satu korban dengan korban yang lain.” Aku menjawab.


“Bagaimana dengan peta lokasi rumah korban?” Gus Daria membuka peta yang dia buat sendiri, goresan petanya begitu akurat.


“Belum, saya tidak menyelidiki relasi tempat tinggal korban.”


“Baik jika Tuan memperbolehkan, saya akan menjelaskan relasinya, tapi setelah ini Tuan harus menghabisi pelakunya dengan senjata Tuan.” Gus Daria berkata.


“Baik, saya akan langsung menghabisi pelaku tanpa pandang bulu.”


“Lihat ini.” Gus Daria menarik garis dari sebuah sumur dekat tempat tinggalnya dengan tempat tinggal para korban, dari garis tersebut aku bisa melihat bahwa setiap rumah korban sumber mata airnya melewati sumur tersebut, bisa dibilang bahwa setiap air yang digunakan untuk minum dan kebutuhan sehari-hari mereka saluran airnya melewati sumur tersebut.


“Ok, lalu apa hubungannya antara sumur kering tersebut dengan kematian mendadak para korban?”


“11 korban yang merupakan ibu hamil meminum air yang melewati sumur tersebut, disini relasinya.”


“Lalu kalau sesimple itu jawabannya, bagaimana dengan anggota keluarga mereka yang lain yang minum dari sumber air yang sama? Kenapa mereka tidak mati juga?”


“Karena mereka bukan target.”


“Maksudnya target kali ini adalah ibu hamil? Tapi bukankah para korban tersebut sangat bervariasi, ada yang hamil muda, hamil pertengahan dan hamil tua, jenis kelamin calon anak pun tidak seragam, umur ibu hamil random satu-satunya persamaan adalah … sebentar, jadi maksud Gus Daria persamaan yang saya cari-cari selama ini ya kehamilan tersebut? Mereka sama-sama hamil! Itu saja?”


“Betul Tuan, terkadang kita mencari sampai jauh tapi ternyata ada di depan mata bukan?”


“Ok, apa asumsi Gus tentang ini.”


“Apakah Tuan sudah mengetahui sejarah terjadinya daerah ini hingga terbagi menjadi beberapa kampung?” Gus Daria bertanya.


“Sudah, dulu sekali daerah Batubojo ini hanya terdiri dari satu kampung utama yang dipimpin oleh seorang raja yang lalim, lalu adiknya yang memiliki kemampuan lebih baik dalam bidang peperangan memberontak dan terjadilah kudeta, hingga akhirnya daerah ini terbagi menjadi 2 kampung, Batubojo dan wetanbojo, setelah penjajahan kampung ini bergabung dengan negeri sebagai satu kesatuan negara yang dipimpin oleh presiden.”


“Sudah hanya sampai disitu tuan?” Gus bertanya lagi.


“Betul hanya sampai disitu.”


“Maka Tuan belum membaca ini.” Gus Daria memberikanku sebuah buku, buku yang bertuliskan ‘kitab doa nyai bojo’.


“Nyai Bojo? Bukankah dia adalah Jin penunggu aliran sungai yang membuat orang-orang jaman dahulu memujanya sebagai dewi mata air?”


“Betul, tapi pada jaman dimana daerah ini dibagi menjadi 2 kampung, dia diusir oleh raja yang baik dan seorang Kharisma Jagat, dia di kunci di sumur yang seharusnya menjadi sumur mati ini, tapi karena aliran sungai yang mengering tiba-tiba sumur ini dibuka supaya air yang berasal dari bawah sumur ini bisa mengalir kembali.”


“Baiklah, jadi dia kembali memiliki pengikut?” Aku bertanya, karena Nyai Bojo jin fasik yang suka dipuja dan menganggap dirinya dewa. Biasanya pengikutnya adalah orang-orang bodoh yang tidak meyakini agamanya, sehingga berpaling dari Tuhan Yang Maha Esa.


“Tidak ada pengikutnya di sini, semua orang sudah mengerti agama dengan baik, bahwa menyekutukan Tuhan artinya tiada maaf, tapi dia mencelakai penduduk yang sedang hamil, dimana perempuan hamil memiliki kondisi lemah, baik fisik maupun keimanan, dipengaruhi dengan mimpi-mimpi yang membuat 11 korban itu ketakutan, akhirnya percaya bahwa takhyul-takhyul yang menjaga mereka bukan Tuhan, 11 korban tersebut akhirnya masuk jebakan dan berhasil membuat 11 korban itu berakhir tragis karena percaya selain Tuhan.”

__ADS_1


“Aku akan menghabisinya.” Aku geram sekali karena Nyai Bojo itu membuat janin menjadi korban.


“Memang hanya senjata Tuan yang mampu menghabisinya, tapi bolehkah saya bergabung membantu Tuan menghabisi Nyai Bojo?” Gus Daria bertanya.


“Tuan, terlalu beresiko mengajaknya, Tuan tahu bukan seperti apa para tetua?” Jagog memperingatkanku, karuhun utamaku mampu tidak terlihat oleh para tetua, karena karuhun seorang Kharisma Jagat Agung adalah karuhun terpilih dengan tingkat kekuatan yang paling tinggi.


“Kita tidak punya pilihan Jagog, karena hanya dia yang tau cara memancing si Nyai Bojo keluar.” Aku mengingatkannya, bahwa memang kami saling membutuhkan terlepas dari ketakutan karuhunku memang menjadi ketakutanku juga.


“Baik Gus, kita akan bersama-sama menghabisinya malam ini, tapi syaratku satu, kita akan benar-benar menghabisinya.” Lalu kulihat Gus Daria mengangguk dan setelah aku berpamitan bersama pasukanku, setidaknya pertarungan tadi bisa jadi latihan untuk pasukanku.



Saat ini kami sudah di lokasi, tempat di mana sumur itu berada, kami bersembunyi dan memanggil seorang perempuan hamil untuk berpura-pura minum dari sumur itu, sementara dia dijaga oleh Jagog yang memang tidak terlihat oleh siapapun selain aku, aku hanya memastikan bahwa perempuan itu aman, perempuan itu juga seorang Kharisma Jagat jadi berhubungan dengan makhluk ghaib bukan hal yang aneh, walau saat ini dia sedang hamil dan kondisi terlemahnya adalah saat hamil.


“Selamat malam Neng.” Aku melihat seorang nenek muncul entah dari mana, dia menyapa perempuan hamil tersebut, kami bersiap.


“Darimana mau kemana Neng.” Nenek jadi-jadian itu kembali menyapa.


“Dari Wetanbojo Nek, mau ke rumah Abah di sana, tapi kecapean, mau ambil air disumur ini dulu.” Wanita itu menjawab tanpa rasa takut dan berusaha menimba air dari sumur.


“Minum ini saja, ini air kendi. Nenek dari sawah mau pulang kemalaman.” Nenek itu menawarkan minum dari air kendinya.


“Baik Nek.” Lalu saat wanita hamil itu hendak meminum, nenek itu memegang perutnya.


“Sudah 7 bulan ya?” Nenek itu bertanya, kulihat wanita itu tidak meminum airnya, dia hanya berpuira-pura, pintar sekali.


“Betul nek, tahu dari mana?”


“Bagaimana mungkin janin lepas hanya karena sujud Nek.” Wanita itu memancingnya kembali, kami tidak bisa menyerang sebelum memastikan bahwa dia memang Iblis jahanam yang lepas dari ikatan yang telah disimpul ratusan tahun lalu.


“Bukankah saat kau sujud  perutmu terasa seperti mau lepas?” Dia mencoba meyakinkan.


“Tidak, seperti biasa saja, ini kehamilanku yang ke 8 Nek, dan semua anakku saat hamil selalu diajak sujud.” Wanita itu mulai memprovokasinya, aku tidak salah membawanya ke sini.


“Jadi selama 8 kehamilan, kau tidak pernah merasakan janin lepas?” Nenek itu masih bertanya, kulihat tangannya masih memegang perut wanita itu.


“Mau merasakan bagaimana rasanya janin lepas!” Nenek itu mencengkram perut wanita hamil itu, sementara aku, Gus Daria dan para pasukan langsung keluar karena kami sudah yakin dialah si iblis betina itu.


Sesaat setelah dia mencengkram perut wanita hamil itu, kulihat wanita hamil itu mengeluarkan karembo berem yang memang telah kuberikan padanya untuk berjaga-jaga saja pada kemungkinan di mana kami tidak bisa menggapainya, seketika si iblis betina itu kepanasan karena karembo berem memang senjata yang sangat ampuh.


Seluruh pasukan mencoba menangkapnya, tapi dia terbang melesat kedalam hutan, Batubojo memang dikelilingi hutan baik di area sebelum masuk maupun setelah masuk, hutan dijaga keasriannya sebagai salah satu sumber pendapatan pariwisata di sini.


Dia  terbang diantara pepohonan, aku berlari mengejarnya, seluruh pasukan kami pun terbang mengejarnya, aku menyabet-nyabet karembo berem milikku yang sudah kuambil dari wanita hamil itu.


Sementara Gus Daria hanya mengikuti kami, seluruh pasukan berada di belakangnya.


“Nyai Bojo!” Aku mengeluarkan senjata utamaku dan menyematkan karembo berem pada leherku. Ketika ku gunakan maka senjata itu memekakkan telinga dan menggetarkan seluruh hutan.


Aku menyabet Nyai Bojo yang kaget dengan suara senjata utamaku, dia jatuh sekali sabet, dan langsung kuikat dengan karembo berem.


Kusabet dia berkali-kali dengan senjata utamaku, wajahnya babak belur.


“Apa yang kau lakukan dengan 11 korbanmu disini dan banyak lagi di Wetanbojo?” Aku membentaknya, dia telentang dengan seluruh badan terikat karembo beremku.

__ADS_1


“Mereka memujaku, aku hanya mengambil bagian perjanjianku dengan mereka.” Dia menjawab, aku menyabetnya lagi dengan senjataku.


“Iblis laknat pembohong, apa kau mau membohongi Kharisma Jagat Agung?” Aku membentaknya lagi.


“Sakit tuan sakit.” Dia merubah tubuhnya seperti nenek-nenek tadi. Dia mencoba menipuku.


“Kau fikir aku kasihan melihat tubuh rentamu?” Aku memegang lehernya dan bersiap membunuhnya, karena aku tidak perlu penjelasan.


Aku mencengkram lehernya bersiap untuk menghabisi, lalu kulihat pasukanku diserang oleh pasukan yang lebih banyak lagi, pasukan siapa ini, aku melihat mereka semua memakai selendang berwarna hitam, sialan! Jagog benar.


“Jagog!” Aku memanggilnya, dia berdiri dibelakangku.


“Ada 20 tetua Tuan, kita tidak akan bisa menghadapinya sendiri, mereka akan kembali memfitnahmu, mereka pasti ingin Nyai Bojo.” Jagog dan aku salign membelakangi, ya kalau boleh jujur aku tidak akan mampu menghadapi para tetua ini, aku lagi-lagi harus menyerah, aku benar-benar tidak berdaya.


“Baiklah, bawa iblis betina ini, jangan sampai lepas lagi, dan kau Gus Daria, katakan pada para tetua bahwa ini kali ke-2 kalian menipuku, selanjutnya akan kubuat perhitungan.” Aku melepaskan karembo berem yang mengikat Nyai Bojo dan pergi bersama pasukanku meninggalkan hutan Batubojo serta kisah akan kematian mendadak di kampung ini. Setidaknya tugasku sudah selesai.



“Tuan, kau sudah tau bukan bahwa tetua akan datang” Jagog bertanya ketika kami dalam perjalanan kembali ke Ibukota.


“Tentu saja, kau fikir aku bodoh? Kau lupa aku adalah Kharisma Jagat Agung?”


“Aku hanya tidak suka cara mereka memanfaatkan senjata utamamu Tuan.”


“Itukan yang mereka tidak punya? Kekuasaan, mereka selalu memaksa mengambil kekuasaan atas nama tetua.”


“Tuan kau tidak ingin membalas dendam?”  Jagog bertanya.


Aku memang geram sekali dengan para tetua, ini kali kedua tangkapanku dicuri mereka, entah mereka gunakan jin-jin iblis itu untuk apa? Aku tidak ingin perduli, tapi jujur aku takut kalau mereka menggunakan jin-jin curian mereka untuk kekuasaan saja.


Mereka memang tidak menghargai status Kharisma Jagat Agungku karena ketidakmampuanku menemukan Ayi Mahogra, mereka menganggapku sebagai pimpinan yang pincang karena tidak mampu mempertemukan mereka dengan Ayi Mahogra, tapi kenapa aku membiarkan mereka mencuri Nyai Bojo, karena dari awal aku tahu tujuan Gus Daria dan para tetua. Aku hanya memilih jalan win-win solution dimana aku bisa membuat dalang dari kasus kematian masal lenyap, tujuanku hanya satu, bahwa tidak ada lagi korban, dan penyelidikanku kemarin buntu, aku butuh bantuan Gus Daria untuk menemukan dalangnya, makanya aku memilih jalur ini, walau aku tahu aku dikelabui.


“Aku akan membalas mereka suatu saat nanti, percayalah. Begitu aku menikah dengan ratuku, mereka akan kuberi pelajaran satu persatu, sehingga mereka tidak memiliki kekuasaan yang mutlak lagi di tanah sunda. Aku akan membalas mereka.” Aku mengepalkan tangan.


Aku akan kembali ke ibukota karena kudengar ratuku sedang dalam masalah, aku akan memperlihatkan diriku ratuku, apapun kondisimu aku hanya ingin bersamamu menjalankan tugas kita sebagai pemimpin dari kharisma jagat tanah Pasundan.


______________________________


Keterangan :


Karembo : Selendang


Berem : Merah


Karembo Berem : Selendang Merah (buat yang nggak tau


Catatan Penulis :


Ada yang penasaran sama senjata utama Pramudya Aksara? Senjata yang kalau dikeluarkan dan disabet bisa membuat alam ghaib dan alam nyata bergetar? Atau udah ada yang bisa nebak? Part selanjutnya ya, akan di beritahu apa senjata utama Prramudya Aksara yang legend itu.


Yang nunggu kelanjutan cinta segitiga antara Malik, Seira dan Pram part selanjutnya akan aku ceritakan kembali ya kisah mereka, yang sabar jangan pundung.


Kira-kira Seira akan berlabuh kemana ya? Malik cinta dari kecilnya atau Pram cinta tanpa syaratnya?

__ADS_1


__ADS_2