Karuhun

Karuhun
(Bagian 23 : Masa Kuliah)


__ADS_3

Dulu, dulu sekali aku pernah berkata pada diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi, bahkan jika Malik mencintai wanita lain dan menikahinya, aku akan tetap berada disisinya, karena sedalam itulah rasa cintaku padanya, tapi setelah semua ini bahkan cintaku tidak benar-benar dalam.


“Malik, kenapa sih kalau pacaran sebentar-sebentar, maksud gue kenapa nggak ada yang serius sih?” Aku bertanya, kami saat ini sedang duduk di kafe kampus, kami masih di tingkat 2 di universitas ini. Jika kelasku sudah berakhir, Malik dan aku akan janjian ketemu di kafe kampus.


“Ya ngapain lama-lama, kalau udah selesai urusannya, yaudah selesai juga hubungannya.”


“Maksudnya apa sih Malik? Emang kalau berhubungan selalu soal manfaat? bagaimana dengan perasaanmu?”


“Perasaan tidak penting Sera, yang penting urusan terselesaikan.”


Saat Malik menjawab itu, aku merasa bahwa dia orang yang licik, setiap berhubungan selalu soal memanfaatkan, tapi entah kenapa hati ini tidak bisa pergi kemanapun selain menatap hatinya.


“Kalau ada seorang wanita yang mencintaimu dengan tulus, lalu mampu memberikan apapun yang dia punya, apakah kau akan tetap tega meninggalkannya?” Aku tidak sedang mengutarakan hatiku, aku sedang bertanya jika kondisinya dia tahu perasaanku.


“Aku akan tetap meninggalkannya, karena .... “ Malik menggantung jawabannya.


“Apa?”


“Bawel ah nanya-nanya mulu. Pokoknya cuma Seira yang nggak akan pernah Malik tinggalin, sekarang bisa kita pesan kopi lagi?”


Aku berbunga-bunga? Tidak sama sekali, karena moto itu adalah untuk persahabatan, tentu saja dia tidak akan meninggalkanku, sahabatnya, aku akan selalu di sampingnya apapun yang terjadi.


“Malik, aku ambil kopi kita ya, udah jadi tuh.” Aku ke kasir dan mengambil kopinya, sebelum aku kembali ke meja, mbak pelayan kafenya memberiku secarik kertas dan roti yang paling mahal, Croissant Coklat Assorted, ku baca kertasnya, lagi-lagi dari wanita bodoh yang berharap Malik suka padanya.


“Nih.” Aku mengantarkan kopi dan rotinya.


“Aku nggak pesen roti, Ser.”


“Biasa, penggemar. nih nomor HP sama namanya, orangnya duduk di meja situ tuh.” Aku menunjuk ke arah kanan posisi di depan kami. Seorang perempuan yang riasannya cukup tebal, berpakaian mini melambaikan tangan pada Malik, sebenarnya tuh cewek mau kuliah apa mau dangdutan sih!


“Gila mbak-mbak kece, gokil!” Aku menggoda Malik, walau diantara godaanku ada rasa pedih di dalamnya.


“Mbak.” Malik memanggil pelayan restoran.


“Mau ada tambahan pesanan?” Mbak pelayan bersiap dengan pensil dan kertas di tangan.

__ADS_1


“Ini mbak buat mbaknya aja.” Pelayan menerima rotinya dan bingung.


“Iya bawa aja, lain kali ingetin muka saya ya, kalau ada yang nulis begini nih,” Malik menunjukan kertas berisi nomor telepon dan nama wanita itu, “jangan terima, bilang kalau saya alergi roti dan coklat.” Malik serius saat mengatakannya.


Aku langsung melihat ke arah perempuan yang memberi roti, dia terlihat kikuk dan malu karena Malik jelas mengembalikan rotinya.


“Kejam amat lu.” Aku menegurnya, dia asik dengan laptop.


“Kan lu tau gue alergi coklat dan semua susu, bikin emosi aja, perempuan kok gitu amat, jaga harga dirilah, ngapain dia kasih-kasih roti.”


Ini salah satu alasanku tidak pernah berani mengutarakan hatiku padanya, selain karena tidak ingin kehilangan Malik, aku juga tahu bahwa dia benci perempuan yang blak-blakan dalam menyatakan ketertarikan, aku bukannya diam saja dan pasrah dengan perasaanku, aku hanya sedang menunggu saat yang tepat, saat Malik merasa bahwa tidak ada satupun wanita yang mampu berdiri tegak bersamanya sepertiku.


“Malik, Erika kemaren telepon, katanya kamu ninggalin dia pas lagi nonton, kamu lari gitu dari bioskop.” Aku ingat Erika kekasih Malik saat ini kemarin curhat, walau aku tidak suka dengan Erika atau siapapun pacar Malik, aku tetap akan berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka, karena aku ingin terlihat sebagai sahabat yang baik di mata Malik.


“Lagian dia nonton kayak orang sakau, nyender mulu, males aku.” Malik tidak suka wanita yang manja dan kekanak-kanakan.


“Sorry ya.” Aku meminta maaf karena tadi Erika sms aku dan menanyakan Malik dimana, aku memberitahunya, kasian juga dari kemarin dia menanyakan Malik.


“Yah kamu kasih tau dia kita disini?” Malik terlihat marah.


“Malik, aku ....”


“Sera, lu cabut gue juga cabut. Jangan coba-coba.” Malik memang begitu, keras sekali kalau sudah tidak ingin berhubungan dengan wanita.


Erika adalah anak pejabat yang juga ketua yayasan kampus ini, semenjak mereka berpacaran jujur aku merasa apapun urusan beasiswaku di kampus ini serasa lebih mudah, mulai dari dana beasiswa yang bertambah tiap semesternya dan yang terakhir pemberian uang saku, padahal dalam program beasiswa tidak pernah ada uang saku di kampus ini, mungkin Malik meminta Erika membantuku dengan berbicara ke ayahnya yang ketua yayasan.


Bukan hanya sekali ini aku merasa Malik membantuku melalui perempuan-perempuannya, dulu SMP, SMA dan sekarang kuliah, entah perasaanku saja atau memang benar dia menolongku, enak jadi Malik, banyak disukai jadi semua serasa mudah.


“Ser, nggak apa-apa, lu disini aja, gue cuma perlu ngobrol sebentar sama Malik.”


“Ok Erika, gue duduk disana ya.” Aku melipir, Malik melihat ke arahku dengan tatapan marah.


Aku tidak bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka, tepatnya omongan Erika karena kebanyakan dia yang bicara, Malik hanya terlihat menggeleng dan mengangkat bahu sesekali, yang aku bisa dengar hanya, Erika meminta maaf berulang.


Sadar karena usahanya percuma, Erika akhirnya menyerah dan kelaur kafe sambil berusaha mengusap air matanya. Aku kembali lagi ke bangku Malik.

__ADS_1


“Kenapa dia? kenapa kalian?”


“Penasaran?”


“Dih ogah banget!” aku bergidik pura-pura tidak perduli.


“Kan aku udah bilang aku nggak suka apa aja, dia pasti nanya-nanya ke kamu dan kamu jawab polos, iya kan?” Malik menuduhku bersekongkol.


“Lagu lama Malik.” Aku nyengir kuda.


“Kasih apa dia pas nanya-nanya tentang aku?”


“Mayan, laptop bekas dia yang katanya udah nggak kepake, gue sih bilang pinjem, eh dia suruh pake aja, wah alamat mesti balikin nih.” Malik tahu bahwa dari dulu memang aku selalu mendapat imbalan dari menjual informasi tentangnya, justru dia yang mengajarkanku untuk mendapatkan keuntungan dari informasi yang kuberikan, dia memang lelaki licik yang seksi.


“Dasar matre, temen dijual aja terus.” Malik protes.


“Trus, kenapa? Jangan ngalihin pembicaraan deh.”


“Ya, dia kan udah tau apa yang nggak aku suka dari, trus kenapa sekarang dia lakuin itu semua, nggak mau berubah ya cut!” Dasar playboy!


“Malik, nanti kalau ketemu perempuan yang bener-bener kamu cinta apa yang bakal kamu lakuin?”


“Memberikan seluruh yang aku punya untuk membahagiakannya.” Duh Gusti, so sweet banget si Malik.


“Trus kalau dia nggak suka kamu, maksudnya kamu kena karma gitu.”


“Aku tidak perduli, karena cinta memang begitu bukan? Tidak harus di sisinya tapi aku akan bertahan, jika memang itu cinta yang besar, akan kuat, meski cinta tak bersama.”


Aku merasa sedih dengan pandangan Malik akan cinta, aku merasa bahwa dia sedang membicarakanku, bagaimana cintaku bertepuk sebelah tangan padanya.


_________________________


Catatan Penulis :


Untuk yang menunggu untuk mengetahui keadaan Malik saat ini, sabar ya, next part aku lanjutin, sekarang kita flshback dulu ke masa di mana Seira dan Malik masih kuliah tingkat dua.

__ADS_1


Semoga suka dan jangan lupa like ya, bantu penulis supaya semangat berkarya.


__ADS_2