Karuhun

Karuhun
Bagian 64 : Kerajaan Hutan Selatan


__ADS_3

“Kita bisa dibilang sebagai orang yang paling dicari ya?” Malik bertanya, kami sedang menunggu pagi, setelah pertarungan dengan tiga wanita itu kami tidak bisa tidur lagi.


“Ya, paling dicari.” Aku tertawa.


“Apakah berat denganku Ser? Karena setelah bersamakulah, mereka mencarimu, saat bersama Pram, mereka bahkan tidak mendekatimu sama sekali.


“Tidak berat, makanya jika bersamaku kau tidak boleh ada keraguan.”


“Aku tidak pernah ragu, aku hanya ingin mengetahui perasaanmu, apakah kau …. “


“Menyesal? Itu lah yang aku katakan, jangan ragu padaku, aku tahu kau tidak pernah ragu akan dirimu, tapi kau selalu ragu padaku, kau tidak yakin aku mampu. Makanya kau merasa berat.”


“Maafkan aku.”


“Tidak masalah selama tanganmu masih menggenggam, aku tidak akan pernah melepasmu juga. Seperti sebelumnya, kita tidak pernah salling melepas walau terpisah jauh.”


“Terima kasih.” Malik tersenyum kembali, entahlah mengapa, bersama Malik memang jauh lebih bahaya, karena aku mendobrak adat, tapi saat bersamanya aku merasa lebih kuat, merasa lebih lepas, merasa tidak memiliki bahaya yang bisa membuatku merasa terancam karena ada dia, walau secara kekuatan Malik jauh di bawah Pram, tapi hatiku tidak bisa berbohong, dia adalah pemiliknya.


“Jadi akan kemana kita hari ini?” Malik bertanya.


“Kita akan mulai ekspansi besar di kerajaan, hati-hati, disana banyak yang bisa membuat kita tertipu, termasuk kenikmatan dunia, disana kau boleh makan, boleh melihat apapun, tapi jangan pernah lakukan satu hal …. “ aku menjawabnya.


“Apa?”


“Disukai oleh para wanita penduduk kerajaan itu.”


“Ok tentu saja, aku tidak akan menyukai mereka, tapi kalau mereka menyukaiku, aku harus apa” Malik bertanya.


“Kau harus menikah dengan mereka, karena mereka pasti mendapat apa yang mereka mau. Dan tujuanku untuk menaklukan kerajaan itu akan menjadi pembantaian karena pernikahanmu.”


Malik tertawa karena mungkin gemas melihat aku yang sedang cemburu.


….


Mereka akhirnya berjalan menuju Kerajaan Hutan Selatan, kerajaan ini hampir tertutup sempurna kisahnya, tidak ada yang tahu soal kerajaan ini, kecuali orang-orang yang memilki hubungan dengan kerajaan ini.


Mang Nariman memberitahu lokasi pastinya padaku, kekayaan kerajaan ini bisa dibilang sangat banyak, hingga bisa membantu pembangunan Desa Tanah Pejuang yang ada di puncak gunung Butir-Butir. Dari kekayaan kerajaan ini lah, Mang Nariman bisa membangun Tanah Pejuang menjadi tempat yang lebih maju dan lebih kaya dari kota di bawahnya, ladang yang subur dan tentu saja tekhnologi yang lebih maju, hanya perbedaannya, Tanah Pejuang itu berisi manusia istimewa, sedang Kerajaan Hutan Selatan berisi Jin yang tidak kasat mata.


Aku sudah mengirim utusan untuk memberitahukan kedatangan kami, aku mengirim Jasmine untuk bertemu dengan rajanya, Jasmine lalu mengirimkan kabar bahwa kami bisa datang untuk bernegosiasi terlebih dahulu.


“Ayi, mereka sudah menunggu.” Kami sudah sampai di gerbang Kerajaan, kalau manusia biasa melihat, tentu ini hanya deretan pohon layaknya hutan biasa, tapi jika mereka yang memiliki mata batin tingkat tinggi akan melihat gerbang yang megah, terbuat dari emas yang berkilau sepanjang ratusan meter, gerbang ini menandakan wilayah kekuasaan Raja Hutan Selatan, gerbang ini mengitari daerah kekuasaannya, dan semua bagiannya terbuat dari emas yang sangat berkilau, sunggu menyilaukan mata.


Pintu gerbang dibuka, gerbang ini memiliki pintu yang amat besar dan megah, gaya pintu dan pagar gerbang ini seperti gerbang kastil di kerjaan Inggris, aku dan Malik pernah sekali ke Inggris, kami sempat sebentar mengunjungi Istana Windsor, gerbangnya terlihat sangat besa, tapi ketika kita masuk, maka akan menyadari bahwa bangunan kerajaan berpuluh-puluh kali lipat besarnya.

__ADS_1


Namun setelah melewati gerbang, kami tidak langsung sampai pada bangunan kerajaan, kami akan melewati rumah penduduk dan beberapa pasar.


Ya, pasar, tempat menjual barnag-barang yang kau butuhkan, seperti pasar pada umumnya, tapi mata uang mereka sepertinya bukan uang, aku melihat mereka menukar semua barang dengan sesuatu yang di balut kain berwarna putih, aku tidak yakin apa isinya.


“Raja di kerajaan ini sangat pintar, pandai dan cekatan, hati-hati, karena tidak akan mudah berdiskusi dengannya.” Jasmine mengapit tanganku dan berbisik.


“Nyai, menurutmu berapa persen kemungkinan dia akan menerima tawaranku?” Aku bertanya, aku memang memanggil Jasmine dengan sebutan Nyai.


“Hmm, semua tergantung dirimu, apakah kau mau menerima syaratnya? Ya, kau tahu bahwa mereka pasti menginginkan syarat yang luar biasa menyebalkan.”


“Apa dia sudah memberikan syaratnya?” Aku bertanya.


“Belum, dia bilang ingin bertemu denganmu secara pribadi dan menyarankan syarat itu.”


“Baiklah.”


Setelah berjalan kaki cukup lama, sekitar setengah jam, kami pun sampai di gedung kerjaan, gedung ini seperti layaknya kastil, dengan benteng sebagai pertahanan awalnya, Kerajaan ini terletak di sebrang sungai yang sangat panjang, sehingga ada jembatan besar yang kokoh, setelah jembatan itu, baru kita akan masuk ke gerbang benteng, benteng yang cukup kelam, penjaganya semua terlihat seperti manusia, hanya tinggi dan besar, mereka semua berseragam, aku tidak ingin di sepelekan, makanya aku juga membawa seluruh pasukanku yang jumlahnya hampir seribu, aku tidak ingin terlihat sebagai seorang yang kerdil di mata raja kaya raya ini.


“Ayi Mahogra sudah membuat janji dengan Raja Bapati Rudes Delapan, ini undangannya.” Jasmine menunjukan sebuah selampe berwarna putih yang berhiaskan emas di setiap sudutnya.


“Baik, bukakan gerbang, Tamu Raja sudah datang.” Penjaga yang badannya tinggi dan besar ini berteriak, ketika dia berteriak suaranya menggema.


Rupaya mereka menyediakan kereta kencana untuk kedatangan kami, aku, Malik dan Jasmine naik, seluruh pasukanku di tahan di dalam pintu gerbang, katanya untuk keamanan, tidak boleh ada pasukan lain selain kerajaan ini masuk ke areal kerajaan, itu protokolnya.


Setelah menaiki kereta kencana, kami melewati hutan yang cukup panjang, luasnya sekitar beberapa hektar, barulah gedung kerajaan terlihat, di sana penjaganya jauh lebih manusia, dengan tinggi yang semampai dan wajah yang rupawan, jujur aku merasa seperti sedang di lokasi syuting film-film drama dengan pemain yang tampan-tampan, jujur mereka semua tampan!


“Ayi, fokus, jaga pandangan, dunia itu fana.” Jasmine meledekku yang terlihat terperanjat dengan ketampanan para penjaga kerajaan ini.


“Nyai, jangan konyol, yang tampan itu ada di sampingku.” Aku mencoba mencari alasan, karena Malik terlihat kesal.


“Oh, lalu kenapa tadi sampai melotot gitu?” Malik marah.


“Ok, kalian berdua fokus ya.” Aku mencoba mengendalikan keadaan lagi.


“Kau yang tidak fokus!” Jasmine dan Malik berkata bersamaan, aku menutup wajahku karena malu, maafkan aku Tuhan karena tidak mampu menahan mata ini.


“Sudah di pintu gerbang kerjaan Ayi, ayo kita turun.” Jasmine menuntunku untuk turun, aku ikut turun.


“Kita akan berjalan berapa lama lagi? Sungguh jauh sekali perjalanan ini.” Aku mengeluh.


“Kita akan segera tiba, itu pintu singgasananya. Oh Ya, tahan mata ya.”


Ada sekitar 10 penjaga menjaga pintu dimana raja menempatkan singgasananya, ruangan yang selalu dia gunakan untuk bertemu tamu, setelah di perbolehkan masuk, aku dan semua orang yang aku bawa masuk ke dalam.

__ADS_1


Saat sudah masuk kami bertemu beberapa pelayan perempuan yang membawa baki berisi kain berwarna emas, lalu mereka menyodorkannya padaku.


“Apa ini?” Aku bertanya.


“Ini mantel bertudung, kau harus gunakan ini untuk menutup rambut dan wajahmu, kau tidak diperbolehkan menampakkan wajah pada Raja, kecuali kau dayang-dayangnya.”


“Serius!” Aku bingung.


“Pastikan tudungnya menutupi rambut dan wajahmu dengan sempurna, karena itu mantelnya lebar dan besar, jangan sampai wajahmu terlihat.”


“Kenapa? Kau saja tidak pakai mantel.”  Aku protes.


“Aku bukan manusia, Ikuti saja!” Jasmine terlihat serius.


“Ok Nyai.” Aku memang menurutinya seperti ibuku sendiri, dia selalu baik dan tahu yang terbaik untukku.


“Raja Bapati, saya sudah datang dengan Ayi Mahogra Kharisma Jagat Tanah Pasundan, setelahnya beliaulah yang akan menyampaikan maksud kedatangannya.


“Baik, silahkan katakan.” Suara raja menggema dan cukup lembut.


“Tujuan saya datang ke sini adalah untuk persekutuan, saya sudah menyertakan surat peperangan yang akan saya lakukan dalam waktu beberapa bulan ini, suratnya pasti sudah anda baca mengenai strategi dan juga musuh saya. Sekarang, saya hanya memiliki sekitar 1000 pasukan, dan musuh saya memiliki 6 sampai 7 kali lipatnya dari pasukan saya, untuk itu saya mengajukan persekutuan.” Aku menjelaskan kedantanganku.


“Baiklah, apa untungnya bagi saya, karena ikut peperangan sungguh hal yang pasti akan merugikan bagi saya, jadi apa untungnya saya ikut perang dengan anda.” Raja Bapati bertanya.


“Untungnya adalah, kau akan menjadi salah satu makhluk yang menjunjung tinggi kembalinya sebuah tatanan agama yang Tuhan inginkan, untuk itu kau akan menjadi sejarah dan tentu saja, menjadi hamba yang taat.”


“Saya ingin mengajukan syarat.”


“Silahkan, tapi saya tidak akan membuat perjanjian, karena saya tidak suka perjanjian dengan Jin.” Aku member batasan padanya.


“Baiklah, syaratku mudah dan kau tidak hanya akan mendapatkan apa yang kau inginkan, kau jug akan bergelimang harta.” Raja itu member jeda pada perkataannya.


“Katakan.” Aku masih menunduk dan mengcover wajah dan tubuhku dengan mantel berwarna emas.


“Menikahlah denganku.” Raja itu mengatakannya sembari berdiri, aku bisa melihatnya walau sedang menunduk.


Malik terlihat marah, aku memegang tangannya, menahan amarahnya.


“Raja Bapati, aku …. “


_____________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Jangan lupoa Coment, Like dan Vote ya.


__ADS_2