
“Jangan main-main ya, Mas nggak suka kamu terlalu dekat dengan dunia begitu, kayak ayah. Nggak bagus itu.” Mas Ridho sedikit marah.
“Iya Bos, tenang Bos.” Aku terpaksa berbohong karena aku memang tidak bisa berkata yang sejujurnya, Mas Ridho tahu sama dengan mama tau, maka mama akan stress dan aku semakin berat menjalani perang ini, kebohongan bahwa aku kerja bersama Pram saja sudah cukup, bahkan Mas Ridho dan Seina tidak tahu tentang Malik dan aku yang sudah kembali bersama.
“Aku serius loh Seira!” Mas Ridho jarang sekali memanggil namaku sendiri karena memang biasanya dia membahasaiku dengan sebutan Mbak agar Seina kecil dulu terbiasa memanggilku Mbak.
“Iya Mas, Astagfirullah.” Aku juga mulai marah, dia memarahiku seperti anak kecil, aku malu dilihat semua warga, tapi aku tidak bisa membalasnya, bagaimanapun dia menjaga diriku jauh lebih baik dari Ayahku sendiri. Dia menjaga kami semua, Ibu, aku dan Seina sangat bersyukur memiliki Mas Ridho.
“Soal Malik gimana?” Ini nih yang aku agak ga suka, dia membahas Malik.
“Mas bisa kita bicara secara pribadi aja? Banyak orang nih.” Aku memperingatkannya, dia sepertinya tidak sadar.
“Oh ya ok. Yuk ke kamar aja.”
“Seina ikut!” Adikku langsung berlari mengejar kami.
Kami sudah di kamar Ayah, aku sedikit ingat wangi ayah, kamar ini masih memiliki wangi yang sama dengan yang aku cium puluhan tahun lalu, saat ayah masih bersama kami.
“Jadi?” Mas Ridho menagih janji cerita padaku, karena ini sudah di tempat yang jauh lebih pribadi.
“Kemarin Mas sama Seina nyampe bareng Pak Hanif?” Aku mencoba mengalihkannya dengan halus.
“Iya, bareng beneran bareng. Kamu tahu kan kalau Seina magang di Perusahaan Malik?” Mas Ridho bertanya.
“Tau dong, Malik cerita.”
“Iya, trus tiap dua minggu sekali mereka pulang bareng gitu ke rumah, kamu tanya sendiri lah ke adikmu.” Sepertinya Pak Hnif membuat pergerakan yang nyata dengan adikku, adikku ini jauh lebih tangguh dariku, dia sulit ditaklukan, makanya belum pernah pacaran.
“Ih apa sih Mas, kok aku, Mbak dulu aja gimana hubungan Mbak sama Kak Malik? soalnya Mas Anif ga pernah cerita.”
“Bentar deh, Mas Anif? Uuhhh kyut banget.” Aku meledek adikku dai terlihat malu.
“Udah janga nngalihin pembicaraan, kamu sama Malik gimana?” Mas Ridho bertanya, sepertinya jurus ngelesku nggak bertahan lama.
“Kami … kami kembali Mas.”
“Apa!” Mereka berdua berteriak.
“Jangan kasih tau mama dulu ya, yang lain juga, siapapun nggak boleh ada yang tahu, karena ini bahaya Mas, Mas tahu kan siapa pria yang harus aku nikahi, kalau ini sampai ketahuan mereka, aku bisa siding oleh Tetua.” Aku meminta Mas Ridho mengerti, Mas Ridho memang pernah mendengat tentang Tetua, dan betapa berkuasanya mereka, tapi hanya sejuah itu saja yang harus dia tahu saat ini.
“Mbak, kamu bahagia?” Kakakku bertanya, dia kembali memanggilku dengan lembut.
“Aku bahagia Mas, sangan bahagia.” Aku mengatakannya dengan lantang.
“Lalu bagaimana dengan Pram? Kamu bahagia diatas penderitaannya Mbak.” Mas Ridho sedikit berat mengatakannya, aku melihat suara yang goyang saat dia mengatakan itu.
“Aku tahu, tapi Pram justru yang menyatukan kami Mas.” Aku menjelaskan kembali.
“Dia orang baik, aku tidak bilang bahwa Malik oang jahat, tapi Pram berbeda, dia tulus, orang tuanya bahkan secara intens dateng ke rumah Mama, untuk mendekati Mama dan membuat hubunganmu dan Pram direstui, karena orangtua Pram tahu bahwa Mama tidak setuju hubunganmu dengan Pram.”
“Pram baik karena orangtuanya pun baik Mas, tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku tidak bisa berpaling dari Malik Mas, Pram tahu itu makanya dia yang membawa Malik kembali padaku.”
“Jangan sampai Pram terluka dalam Mbak, kau harus meninggalkannya cepat atau lambat, pasti sakit untuknya melihatmu bersama lelaki lain.”
“Aku ingin Pram bahagia Mas, tapi aku tidak bisa mengusirnya karena tetap di sisiku walau aku bersama pria lain itu adalah pilihannya, aku tidak bisa memaksanya pergi atau tetap tetap tinggal Mas.” Aku memberi Kakakku pengertian.
“Queen, jadwalnya buat pagar Ghaib, semua warga sudah siap.”
Dari luar Pram memanggilku, dia memang selalu bisa menyelamatkanku dalam keadaan urgent apapun, seperti keadaan seperti ini, dimana kakakku menuntut sesuatu diluar dari apa yang aku bisa lakukan, lebih baik dia suruh aku untuk mengusir Jin, daripada disuruh untuk mengusir Pram.
“Iya Pram.” Aku lalu berpamitan pada kakakku dan Seina.
“Pram, udah pada ngumpul dimana?” Aku bertanya.
“Seperti yang kamu suruh tadi pagi, mereka berkumpul di perbatasan desa.” Pram mengatakannya, Malik saat ini pulang ke Ibukota dulu, dia bilang dia akan mengunjungi keluarganya sementara waktu bersama dengan Pak Hanif, mengingat memang sudah lama juga Malik tidak bertemu dengan ayah ibunya.
__ADS_1
Malik mempercayakanku pada Pram, aku tahu di lubuk hati Malik dia sangat menghormati Pram, lelaki yang dengan besar hati meletakkan cintanya sendiri untuk kebahagiaan perempuan yang Pram cinta, walau perempuan itu telah bersama lelaki lain.
“Jadi kita akan melakukan apa Queen?” Pram bertanya setelah kami sudah di perbatasan desa.
“Kita buat garis lingkar yang jelas menggunakan air ini.” Aku memberikan air yang kubawa.
“Air apa ini?” Pram bertanya.
“Air dari sungai yang mengalir di Keajaan Hutan Selatan.” Aku tersenyum.
“Kau sempat bawa ini? Luar biasa.”
“Iya, entah kenapa perasaanku kuat bahwa kita butuh ini, makanya kemaren aku minta Nyai Jasmine membawakannya untukku, ketika kita naik ke gunung untuk mengembalikan jantung Tini, Nyai Jasmine ambil air ini dari kerajaan.”
“Kau memang luar biasa Queen.”
“Memang.” Aku menyombongkan diri, Pram tertawa karena melihatku terlihat senang.
“Pram ayo kita minta warga untuk menyiram air ini.” Aku memberi mereka air dari kendi kecil-kecil dan meminta warga untuk membuat garis dengan cara mengalirkanya dari kendi secara perlahan.
Saat proses mengalirkan air tersebut aku mengikuti mereka dengan langkah ganjil, ketika langkah genap, aku menyuruh mereka berhenti sejenak memegang tanahnya dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga tanah ini.
Begitu garis dari air membentuk lingkaran sempurna yang membatasi antara desa ini dengan desa lain, ada sedikir kilatan cahaya yang keluar dari lingkaran itu.
Aku memang mengumpulkan para pemuda desa untuk membangun pagar ghaib ini, karena aku ingin para pemuda mengajarkan kepada anak cucu mereka secara turun temurun, caranya sudah kuajarkan, lalu bagaimana dengan airnya, airnya tetap kan tertutu sempurna karena sudah membuat lingkaran di desa ini otomatis, keberkahan dari Kerajaan Hutan Selatan akan terbawa sampai desa Ayah ini.
“Queen, kenapa air Kerajaan Hutan Selatan? Bukankah kau banyak mengunjungi daerah, seperti Puncak Gunung Desa Pejuang atau hutan tempat Nyai Jasmine sempat tinggal.”
“Karena Puncak Gunung Tanah Pejuang pun di bangun dengan air dan semua kebutuhan material pembuatan rumah penduduk yang terkesan sangat damai dan tenang itu dari Kerajaan Hutan Selatan Pram, Raja Bapati membantu penuh Mang Nariman dan keluarga sebelumnya, dimulai sejak kematian Ayi Nusia, untuk membantu tanah itu menjadi sebuah desa yang tinggi peradabannya, tidak heran biarpun berada di puncak gunung tapi Desa itu menjadi begitu modern, kau lihat sendiri bukan? Dan tidak semua orang bisa kesana, karena penjagaan dari sumber yang berasal dari kerajaan Hutan Selatan.:
“Wow, aku tidak tahu itu Queen.”
“Ya, karna kau mungkin terbiasa dengan daerah seperti itu, mengingat dari lahir kau dididik untuk menjadi Kharisma Jagat Agung, jadi melihat daerah Ghaib dengan peradaban tinggi tentu bukan ha lasing, sehingga kau tidak penasaran apa yang membuat desa itu bisa menjadi desa yang hebat.”
“Hmm, anggap aku nggak denger apa-apa ya.” Aku tersenyum kepadanya dan dia tertawa.
“Queen lalu bagaimana jika garis ini terputus suatu saat nanti, katakanlah jika ada yang memiliki kemampuan yang hebat dan mampu memutus garis ini dan kembali membaut Desa ini menjadi tercekam lagi?”
“Ini dia salah satu keuntungan memilih air dari Kerajaan Hutan Selatan Pram, ketika garis ini putus, sinyal ini akan terdengar sampai Kerajaan Hutan Selatan dan semua tempat yang memiliki material yang berasal dari Kerajaan tersebut, semacam sinyal permintaan tolong Pram.”
“Oh, maksudmu kayak alarm Ghaib, yak an?”
“Nah itu, seperti itu Pram. Nah seperti yang kamu katakana kalau terputus dan sudah di tolong jika ada masalah, lalu bagaimana dengan garis yang terputus ini? Begini jawabannya, sebenarnya garis ini memiliki kekuatan pada puncaknya hanya pada tahun-tahun ganjil, sedang tahun genap, kekuatannya akan melemah, artinya harus ada yang ke Kerajaan Hutan Selatan untuk meminta air kembali, aku sudah meminta ijin ini kepada Raja Bapati, agar Mang Engkus dan anak muda yang dia percaya, untuk datang ke sana, mengambil air tersebut, tapi Raja hanya member ijin sampai depan gerbangnya saja untuk manusia asing utusan desa ini, Raja Bapati takut kalau orang itu masuk ke Kerajaan dan melihat betapa makmurnya kerajaan itu, maka dia akan terlena dan menjadi tidak ingin pulang, maka ijin hanya diberikan sampai gerbang masuk saja.”
“Queen, kau tahu, aku bertemu banyak orang di luar sana, baik di negeri ini, maupun negeri orang, aku tidak pernah melihat wanita yang pemikitannya jauh kedepan sepertimu, kau sudah memikirkan kalau menggunkan air ini maka ada kemungkinan garisnya harus dirapatkan, dan mengutus pemuda ke sana pasti bahaya, maka selalu ada win-win solution darimu, sungguh beruntung Malik.”
“Pram, maaf kan aku ya.” Aku menunduk.
“Jangan meminta maaf kalau kau tidak bisa memberi kata cinta Queen, itu menyakitkan. Bahkan akan lebih menyakitkan jika kau bersamaku tapi tidak mencintaiku, maka melihatmu seperti ini bagiku kebahagianku sendiri.” Pram menatapku dengan lekat.
“Pram … makan yuk, laper.” Aku membuat suasana lebih mencair, dan seluruh pemuda sudah bubar untuk beristirahat, desa ini kembali tenang dan damai.
“Makan di mana? Mau makan malam romantis denganku?”
“Terus aja Pram.”
“Ya siapa tau ada yang kena, makanya aku terus berusaha.”
“Pram!”
Dia pun terbahak-bahak, lalu kami mengunjungi salah satu warteg di dekat sini dan makan dengan lahap, suasana desa memang selalu bisa membuatku tenang dan merasa lapar terus.
…
[Mami Papimu apa kabar?] Malik menelponku dan aku bertanya tentang Mami Papinya.
__ADS_1
[Sehat Ser, tadi aku di rumah seharian, sekarang di markasku, kangen sama markas yang sepi ini karena Pasukan kan ikut kamu. Papi tanya kamu di mana, aku bilang lagi liburan di rumah Almarhum Ayahnya, Papi bilang kapan-kapan kamu main.]
[Iya, salamin balik ya Malik, jangan lupa bilang kalau aku juga ingin ke sana, soal keberadaan kita selama 2 tahun terakhir Papi nggak tanya?]
[Tanya Ser, aku jawab kalau kita sedang mengerjakan proyek listrik dengan banyak desa yang tertinggal, Papi bilang itu proyek bagus.] Malik tertawa.
[Anak durhaka, masa Papinya dibohongin tertawa.]
[Daripada aku bilang kita ke tempat-tempat Ghaib dengan peradaban tinggi, yang ada kita di suruh pulang terus nikah … sorry.]
Malik meminta maaf karena menyinggung soal perpisahan.
[Malik … apa kau tersiksa bersamaku?]
[Kok kau bertanya begitu?]
[Aku hanya merasa bahwa, aku membaut pria-pria di sisiku menderita, kamu, Pram, kalian menderita karena aku.]
[Hei Queen, kok ngomong gitu, apa Mas Ridho ngomong yang aneh-aneh?]
[Bentar deh, ini Malik kan? Bukan Pram?] Aku tertawa karena Malik rese meledek panggilanku.
[Bukan ini Malik kok, cintanya Sera.]
[Kamu kebanyakan gaul sama Pram nih, jadi gombal.] Malik tertawa dari sebrang sana.
[Ridho ngomong apa?]
[Kok kamu langsung suspect kakakku sih?] Aku mau menutupinya saja.
[Hanif bilang Mas Ridho kurang bersahabat begitu ketemu Hanif di sana kemarin Ser, terkesan nggak suka kalau kakakku ikut membantu di desa itu.]
[Iya, Mas Ridho bilang aku tidak boleh membuat Pram menderita, seharusnya aku mengusir Pram dan tidak berhubungan lagi dengan Pram.]
[Dia tidak salah karena mungkin menurutnya Pram baik dan tulus, tapi kita tidak bisa memaksa Pram pergi darimu Ser, itu pilihannya, kita hanya bisa selalu mendoakannya mendapatkan wanita yang mungkin bisa menyentuh hatinya.]
[Kamu benar Malik, bagaimana denganmu? Kau tidak keberatan Pram selalu bersama kita? Kau tidak cemburu?]
[Aku … tentu saja aku cemburu.]
[Maaf Malik.] nada suaraku turun.
[Tapi, Pram adalah bagian dari dirimu yang tidak bisa aku hapus dari hidupmu, dia bahkan dengan baiknya member kesempatan kepada kita berdua untuk bersama, dia melakukan yang terbaik untukmu, aku kalau jadi dia, mungkin tidak bisa melakukan yang dia lakukan untukmu, melepaskanmu adalah hal paling terakhir yang akan aku lakukan, jika aku mati saja.]
[Malik! jangan bicara kematian dulu ya, mari kita fokus lagi pada peperangan yang di depan mata.]
[Nah itu Ser, fokus saja pada perang kita, jangan fikirkan yang lain, yang lain hanya melihat dari luar, kita bertiga yang merasakan dan tau prosesnya, kamu ….]
[Halo, Malik, halo.] Suara telepon genggamku gresek, seperti ada gangguan, padahal jaringan bagus.
[Malik, Malik, halo …. ]
[Se … Se … Ser! Lari!!!] Tuuuttt, telepon terputus.
Ada apa dengan Malik? Kenapa telepon putus tiba-tiba, kenapa dia suruh aku lari, kenapa suaranya tadi terdengar lemah, kenapa suaranya terbata-bata, apa yang terjadi dengannya, apa Mudha Praya menyerang markas Malik, Tuhan lindungi Malikku.
Aku harus segera ke sana, aku harus menolongnya, aku tidak perduli walau dia tadi bilang aku untuk lari.
_________________________________________________
Catatan Penulis :
Hmm, detik-detik menuju ending semakin dekat guys, semoga aku bisa memberi tulisan yang baik kepada kalian pembaca Karuhun yang selalu setia membaca ya, jangan lupa untuk COMENT, LIKE dan VOTE, dukung terus Karuhun sampai akhir.
Salam sayang dari Mukakanvas/RPs Author Karuhun.
__ADS_1