
Waktu sudah malam, kami membakar api ungun di pantai, senang sekali rasanya, malam ini terasa tenang, tidak ada yang datang untuk mengajak berkelahi, nanti sekitar jam 1 malam aku akan mengajak semua yang ada di sini untuk memulai perburuan, tapi sekarang baru jam 7 malam, kami bisa bersantai sejenak, menikmati makan malam, dengan ikan bakar yang tadi Malik tangkap dan tentu saja satu teko kopi hitam, Malik terlihat lahap sekali, sungguh aku merasa baru benar-benar mengenal lelaki ini. Lelaki yang katanya mencintaiku sejak dari belasan tahun lalu. Percayalah, cintaku pun, sebesar cintanya.
“Ser ada yang datang.” Malik bersiap.
“Tenang, mereka manusia, tidak ada hawa jahat yang aku rasakan. Lagian kalau memang makhluk jahat mereka akan terpental, karena aku membuat lingkaran penjagaan di sepanjang gubuk kita sampai pantai ini.” Beberapa orang itu mendekati kami.
“Tolong kami, tolong.” Ternyata mereka terdiri dari 3 orang perempuan, penampilan mereka lusuh sekali, seperti orang yang tersesat. Pakaiannya pun khas orang yang hendak berpetualang, dengan jaket parasut, tas gunung dan sepatu gunung, mereka pasti orang yang tersesat lagi.
“Duduk dulu, minum ini.” Aku memberi mereka air putih yang memang aku suling dari air pantai, di Hutan ini tentu tidak ada warung untuk membeli air galon, para Jin membuat sulingan agar pasokan air untuk kami bisa terpenuhi.
Mereka menenggak air minum yang aku berikan dengan sangat kasar, mereka kehausan.
“Ini makan juga.” Aku membagi beberapa ikan bakar kepada mereka, kalau melihat penampilan mereka tentu saja mereka pasti juga kelaparan. Benar saja, begitu ikan bakarnya aku berikan, mereka lahap sekali, seperti sudah berhari-hari tidak ketemu makanan. Aku membiarkan mereka makan dulu sampai kenyang.
Sementara Malik menyiapkan lagi ikan bakar untukku, karena aku memang belum mulai makan.
“Nih Ser, kamu makan dulu.” Malik menyodorkan ikan bakar padaku.
“Aku boleh minta lagi kak?” Seorang perempuan yang parasnya paling cantik menurutku, berkata dengan lumayan tak tau malu, dia menunjuk ikan bakar milikku.
“Tidak, kau sudah punya cukup tenaga, bakar sendiri ikannya kalau mau lagi, jangan terbiasa mengambil yang bukan hakmu.” Aku menatapnya tajam, berani sekali dia dengan terang-terangan meminta ikan pemberian Malik.
“I-iya maaf Kak,” aku akan bakar lagi, dia lalu mengambil ikannya dan kebingungan setelah itu. “ini bagaimana membakarnya Kak?” Wanita itu mendekati Malik. Ternyata pesonanya tidak pernah pudar di manapun dia berada.
“Kau bodoh, masa membakar begini saja tidak bisa, pantas kalian tersesat.” Malik lalu mengambil sebuah kayu untuk di tancap ke ikannya, setelah itu dia memberikan kayu yang sudah menancap ikan kepada gadis cantik itu dengan wajah angkuh.
“Ok perkenalkan nama kalian.” Aku membuka percakapan dengan ketiga perempuan yang sudah kenyang ini, raut mereka sudah kembali normal.
“Saya Tiara, dia Sifa dan Nissa.” Gadis yang paling cantik memperkenalakan diri mereka, jadi sia bernama Tiara, tatap matanya tidak berhenti ke arah Malik.
“Kenapa kalian bisa ada di sini?” Aku bertanya lagi.
“Kami … “ Sifa yang kebetulan duduk di sampingku dengan raut muka yang lebih kalem berbiacara. “kami mengikuti seorang pria, dia orang yang baik, kami kira begitu pada awalnya, lalu mereka membawa kami berkeliling, kami … “ dia tercekat saat mengatakannya. “kami lalu mabuk bersama dan saat bangun kami sudah berada di tengah hutan ini bersama beberapa pria yang tidak kami kenal, kami diikat, lalu mereka …. “ Sifa tidak sanggup mengatakannya lagi.
“Mereka mabuk dan berusaha memperkosa kami, tapi karena mereka mabuk akhirnya kami berhasil kabur.” Tiara menuntaskan cerita mereka.
__ADS_1
“Sekarang kemana pria-pria itu?” Aku bertanya.
“Entahlah kami kabur dan tersesar, sudah sekitar 2 hari.” Tiara menjawab.
“Kami akan mengantarkanmu besok pagi sekali, ini sudah terlalu malam, kaliana tidurlah di gubukku, istirahat, besok pagi akan aku bangunkan.”
Lalu mereka bertiga masuk ke dalam gubuk kami.
“Aku merasa ada yang janggal.” Malik mengatakannya padaku.
“Mereka berbohong, mengirimkan 3 bocah kecil, apa mereka fikir bisa mengelabuiku?” Aku tersenyum licik, Malik menatapku dengan bingung.
“Tenang saja, aku tahu siapa mereka sebenarnya.” Aku mengajak Malik untuk tidur, Malik tidur di luar bilik menggunakan Sleeping Bag, aku di dalam. Seperti itu lah selama ini kami hidup.
…
Jam 2 pagi, aku mendengar suara kaki melangkah dari belakangku, aku pura-pura tidur saat dia melewatiku.
Tidak lama terdengar pintu gubuk dibuka, aku masih diam. Lalu aku memanggil Panglima, dia ada di depanku dan aku perintahkan melalui mata untuk mengikuti wanita yang barusan keluar.
“Apa yang dia lakukan?” aku bertanya, posisiku masih dalam keadaan tidur membelakangi dua gadis yang sepertinya terlelap.
“Dia mendekati wajah Malik, dia membacakan sesuatu pada telinganya, ajian pelet! Pangima kaget karena wanita ini ternyata …. “
Wanita bodoh! Aku bangun dan keluar, sebelumnya aku menidurkan 2 temannya dengan cara melempar mereka ke dunia bayangan.
“Kau fikir bisa membuatnya jatuh cinta secara instant denganmu?” Aku memergokinya, dia kaget karena aku sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Mereka menyuruhmu untuk menyelidikiku tapi malah kepincut sama Malik?” Aku bertanya.
“Kau wanita yang cukup cerdas juga ya, sepertinya aku meremehkanmu.” Dia membuat kuda-kuda, sepertinya dia Kharisma Jagat dari tingkat yang cukup tinggi.
“Jangan menantangku, Ayahmu pun bukan tandinganku, apalagi kau bocah ingusan.” Aku menghina.
“Kita buktikan saja.” Pada detik itu Malik terbangun.
__ADS_1
“Ada apa ini?” Dia bertanya.
“Serang dia sayang!” Wanita itu dengan percaya diri mengatakannya kepada Malik, aku tertawa.
“Ser, mau aku ikut atau kau akan menanganinya sendiri?” Malik bertanya.
Tiara terlihat kaget karena ajian peletnya nggak mempan, dia tidak tahu, walau Malik bukan Kharisma Jagat, tapi dia bukan orang biasa, dia lelaki yang sudah memiliki ilmu tinggi walau tidak setinggi Pram.
Aku berlari ke arah Tiara, mencekik lehernya, dia kaget karena aku melakukan gerakan tiba-tiba. Lalu menempeleng kepalanya, keluarlah Karuhun dari tubuhnya, bentuknya ular.
Setelah itu aku mengejar Karuhunnya yang mencoba lari, aku menyusuri pantai karna ular itu cukup cepat, lalu aku mencoba mendengar lebih tajam lagi, ada suara berdesis dari balik batu, aku berlari kearah itu dan menangkap buntut ular yang mencoba kabur lagi, menarik tubuhnya dan menangkap kepalanya yang sudah siap menyergapku dengan taring dan bisa ghaibnya. Setelah mengankap kepalanya, aku memotong lehernya menjadi dua dengan Kujang, Karuhunnya mati dengan mengenaskan.
Aku kembali ke gubuk, Tiara terlihat lemas.
“Aku sudah menghabisi Karuhunmu, kau kan mengaku bahwa kau tersesat, maka tidak akan ada yang sadar kalau sesuatu terjadi padamu bukan?” Aku tersenyum, dia menangis karena tidak tahu siapa lawannya, dia lupa bahwa aku berada berpuluh-puluh tingkat diatasnya, mungkin ini semacam tes dari Tetua, mereka ingin mengatahui seberapa besarnya kekuatanku.
“Lepaskan aku Ayi.” Dia memohon kepadaku.
“Tidak, kau akan menjadi sanderaku, kau akan kukirim untuk bergabung dengan kedua temanmu ke dunia bayangan, aku tidak akan membiarkanmu mati, karena itu tindakan illegal, tapi aku tidak bisa melepasmu juga, karena kau pasti akan memberitahu soal Malik dan aku yang berada di sini, dan membuat Tetua tau bahwa aku dan Pram tidak menikah, kau akan leyap dari dunia ini, tinggal lah di dunia bayangan sampai aku selesai dengan rencananku.” Lalu aku melemarnya ke dunia bayangan.
“Mereka licik sekali, mengirim orang sepele untuk memantau kita.” Malik geram.
“Itu yang paling aku takutkan, mereka memanfaatkan kelemahanku, mereka fikir aku akan kalah dari orang-orang lemah kiriman mereka, aku adalah orang yang ditinggalkan dari kecil, aku tahu rasanya kehilangan, makanya aku akan menjaga baik-baik apa yang aku miliki saat ini, aku tidak ingin kehilanganmu lagi Malik, apa pun resikonya, aku akan bertahan untuk kita, untuk anak cucuk kita kelak.” Aku menitikkan air mata, Malik memelukku dengan hangat dan mengecup kepalaku.
Cukup bersamamu Malik, cukup rasanya. Walau berat aku tidak akan pernah melepasmu lagi.
________________________________
Catatan Penulis :
Mereka unyu bangetttt.
Maaf ya Author tidak bisa up tiap hari, karena kadang memang nggak sempet pegang laptop untuk nulis, terima kasih untuk para pembacaku.
Salam penulis
__ADS_1